pdmjogja.org – Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA., menjelaskan cara bersyukur yang benar menurut Islam agar mendatangkan rezeki berlimpah. Bersyukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hati dan tindakan yang mencerminkan pengakuan atas nikmat Allah SWT. Berikut poin-poin penting dari penjelasannya:
1. Bersyukur dengan Ucapan “Alhamdulillah”
Bersyukur dimulai dengan mengucapkan Alhamdulillah setiap menerima nikmat, seperti kesehatan, rezeki, keluarga, atau keberhasilan. Dalam Al-Qur’an, Alhamdulillah merupakan perintah untuk segera memuji Allah tanpa menunda. Ustadz Adi menjelaskan bahwa Alhamdulillah mengandung unsur mubtada (permulaan) yang menunjukkan urgensi bersyukur segera setelah menerima nikmat, sesuai tafsir dari ulama seperti Sufyan ibn Uyainah dan Rabi’ah ibn Al-Jurj.
2. Dedikasikan Syukur Hanya kepada Allah
Syukur harus murni ditujukan kepada Allah tanpa mencampurkan peran diri sendiri atau pihak lain. Dalam Al-Qur’an, penggunaan alif lam pada Alhamdulillah menunjukkan sifat makrifah (khusus untuk Allah) dan istighraq (menyeluruh untuk segala nikmat). Misalnya, ketika anak berhasil menghafal Al-Qur’an atau mendapat prestasi, orang tua harus mengatakan, “Ini anugerah dari Allah,” bukan membanggakan usaha pribadi.
3. Gunakan Nikmat Sesuai Ketentuan Allah
Syukur sejati tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan dengan menggunakan nikmat sesuai fungsinya. Misalnya:
- Mata: Digunakan untuk melihat kebenaran dan menghindari yang haram.
- Telinga: Mendengar kebaikan dan menjauhi ghibah.
- Rumah: Dijadikan tempat ibadah, zikir, dan menciptakan suasana sakinah (ketenangan), sebagaimana Al-Qur’an menyebut rumah sebagai maskan (tempat ketenangan, QS. Ar-Rum: 21).
- Harta: Digunakan untuk sedekah, infak, atau kebaikan, bukan untuk hal yang sia-sia seperti judi atau konsumsi berlebihan.
Ustadz Adi menegaskan bahwa nikmat yang tidak digunakan sesuai syariat menunjukkan kurangnya rasa syukur, yang dapat menghambat tambahan rezeki.
4. Janji Allah: Bersyukur Mendatangkan Tambahan Nikmat
Allah berfirman dalam QS. Ibrahim: 7, “Lain syakartum laazidannakum” (Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu). Syukur yang benar—dengan ucapan, hati, dan tindakan—akan memicu limpahan rahmat dan rezeki dari Allah. Sebaliknya, ketidaksyukuran, seperti merasa nikmat adalah hasil usaha sendiri (contohnya sikap Qarun), dapat menimbulkan kerugian di dunia dan akhirat.
5. Hindari Sikap Tidak Bersyukur
Ketidaksyukuran tercermin dari perilaku seperti:
- Mengeluh atas nikmat yang sudah dimiliki, seperti rumah yang tidak harmonis meski mewah.
- Menggunakan nikmat untuk maksiat, seperti harta untuk judi atau mata untuk melihat yang haram.
- Menganggap nikmat sebagai hasil usaha sendiri tanpa mengakui peran Allah.
Cara Praktis Bersyukur
- Ucapan Zikir: Ucapkan Alhamdulillah dengan penuh kesadaran setiap menerima nikmat, baik besar maupun kecil.
- Ciptakan Suasana Rumah yang Penuh Zikir: Putar bacaan Al-Qur’an di rumah untuk menciptakan suasana sakinah dan mendekatkan keluarga kepada Allah.
- Gunakan Nikmat untuk Kebaikan: Alokasikan harta untuk sedekah, gunakan tubuh untuk ibadah, dan manfaatkan waktu untuk hal-hal produktif.
- Tadabbur Al-Qur’an: Pelajari makna nikmat dan fungsinya melalui ayat-ayat Al-Qur’an untuk meningkatkan kesadaran syukur.
Bersyukur yang benar menurut Islam melibatkan ucapan Alhamdulillah, pengakuan bahwa segala nikmat dari Allah, dan penggunaan nikmat sesuai syariat. Dengan syukur yang tulus, Allah menjanjikan tambahan nikmat dan keberkahan hidup. Kajian ini mengajak umat Islam untuk menjadikan syukur sebagai gaya hidup agar rezeki semakin berlimpah dan hidup penuh ketenangan.
Disarikan dari Ustad Adi Hidayat
PDM Kota Yogyakarta PDM Kota Yogyakarta