Zakat Sebagai Solusi Permasalahan Umat

Kemiskinan masih menjadi permasalahan terbesar di Indonesia sedangkan upaya pemulihan ekonomi berjalan sangat lambat. Sebagai akibatnya kemiskinan meningkat tajam namun upaya untuk menanggulanginya masih minim dan tidak sebanding dengan lonjakan tingkat kemiskinan yang terjadi. Adapun pengentasan kemiskinan yang telah dicannagkan pemerintah hanya mampu merubah tidak lebih dari 1 % pertahunnya. Hal ini terbukti dari laporan BPS bahwa jumlah penduduk miskin per maret 2011 mencapai 30,02 juta oran (12,49 %) turun 1,00 juta orang (0,84 %) dibandingkan dengan penduduk miskin bulan maret 2010 yang sebebsar 31,02 Juta Orang (13,33 %).

Selama periode maret 2010 – maret 2011 penduduk miskin di daerah perkotaan hanya berkurang sekitar 0,05 juta orang, sementara di daerah pedesaan berkurang sekitar 0,95 Juta Orang. Dari data tersebut kita bisa tahu bahwa persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan pedesaan tidak banyak berubah sampai saat ini.

Kondisi seperti ini sebenarnya merupakan potret dari kemiskinan yang bukan hanya disebakan oleh lemahnya etos kerja tetapi juga disebabkan ketidakadilan system. Jika ini terus dibiarkan akan membahayakan masyarakat luas. Untuk itu, perlu adanya suatu mekanisme yang sanggup mengalirkan kekayaan yang dimiliki kelompok masyarakat berpunya kepada kelompok masyarakat yang tidak mampu.

Mekanisme yang baik dalam usaha mengalirkan harta tersebut diharapkan mampu memangkas mata rantai kemiskinan. Jika melihat kembali sejarah umat islam zaman Nabi Muhammad S.A.W tentu kita kan dapati sebuah system ekonomi yang terbukti mampu mengangkat taraf kesejahteraan masyarakat Mekah dan Madinah saat itu. Sistem dalam konteks ini adalah zakat. Zakat merupakan asas utama ajaran islam yang berfungsi untuk mengalirkan harta kekayaan dari tangan orang kaya ketangan orang miskin.

Yuisuf Qhardawi menegaskan bahwa zakat adalah ibadah Maaliyyah Ijtima`iyyah yang memiliki posisi sangat penting, strategis dan menentukan baik dilihat dari sisi ajaran islam maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat. Keberadaan zakat dianggap sebagai ma`luum minad-din bidh-dharuurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang (Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial, 1994, p.231), Untuk mengetahui mandaat dan pentingnya penerapan system zakat, berikut ini akan dibahas mengenai fungsi zakat sebagai solusi pengentasan kemiskinan umat.

Makna Zakat

dari segi bahasa kata zakat merupakan bentuk dasar (masdar) dari zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik (Mu`jam Wasith Juz 1 p.398). Sesuatu itu zaka, berarti tumbuh dan berkembang dari seseorang itu zaka berarti orang itu baik. dalam losan al – arab pun disebutkan bahwa kata zakat adalah suci, tumbuh, berkah dan terpuji. Semua istilah ini digunakan dalam Al Qur`an dan Hadist. tapi makna yang terkuat menurut wahidi kata dasar zaka berarto bertambah dan tumbuh sehingga bisa dikatakan tanaman itu zaka yang artinya tumbuh. Sedangkan setiap sesuatu yang bertambah disebut zaka artinya bertambah.
Adapun zakat menurut istilah sebagaimana dikatakan Yusuf Qardhawi dalam Hukum Zakat (2010) yaitu “sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang – orang yang berhak” disamping berarti mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri. Hal ini diperjelas lagi oleh Zamakhsyari dalam Al – Fa`iq “Zakat seperti halnya sedekah, berwazan fa`ala dan merupakan kata benda bermakna ganda dipakai untuk pengertian benda tertentu yaitu sejumlah benda yang dizakatkan atau untuk pengertian makna tertentu yang berarti perbuatan menzakatkan itu” (Al – Fa`iq Jili 1 p.536 Cet.1).

Sedangkan Dr. Al – `Arabi dalam Manahij Al – Bahisin Fi Al – Iqtisad Al – Islami memiliki dua makna tentang zakat yakni : pertama, pencucian jiwa dan ini merupakan tujuan ritual spiritual. Kedua, pencucian dan pengembangan harta dan ini merupakan tujuan ekonomis dalam rangka membangun solidaritas sosial.

Manfaat Zakat

Allah SWT mewajibkan umat islam untuk mengeluarkan zakat dengan demikian tegas (Q.S. 2 : 43 dan Q.S. 6 : 141) . Perintah tersebut mengandung hikmah dan manfaat yang demikian besar dan mulai, baik bagi muzakki, mustahiq, bahkan harta benda yang dikeluarkan zakatnya serta seluruh masyarakat secara umum.

Diantara manfaat zakat yaitu sebagai wujud iman kepada Allah SWT, menolong kaum fakir miskin untuk menjadi lebih sejahtera, sebagai pilar bagi para pemberi dan yang diberi zakat. Selain itu kegiatan mengeluarkan zakat juga berfungsi untuk mensucikan jiwa dari sifat kikir, mendidik untuk berinfak dan memberi, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWR, sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah SWT.

Allah SWT memrintahkan umat islam untuk mengeluarkan zakat dari sebagian harta bukan untuk memenuhi kas atau pembendaharaan dan bukan pula sekedar untuk menolong orang yang lemah dan yang mempunyaiu kebutuhan. Akan tetapi tujuan utamanya adalah agar manusia lebih tinggi nilainya daripada harta sehingga ia menggarisbawahi bahwa kegiatan zakat bukanlah dinisbatkan pada benda yang diberikan akan tetapi lebih condong kepada kegiatan atau pekerjaan menzakatkan harta benda itu sendiri.

Sebagaimana disinggung juga oleh Azalurrahman bahwa keberadaan zakat pada akhirnya akan mampu meneguhkan perasaan persaudaraan antara orang kaya dan orang yang tidak punya. Bila kesejahteraan sosial terwujud maka sudah tentu jurang antara kaya dan miskin sedikit demi sedikit akan tertutupi (Afzallurahman, Doktrin Ekonomi Islam, Yogyakarta, Pustaka pelajar, 1996).

Zakat Sebagai Solusi Kemiskinan

Kemiskinan bukanlah permasalahan kesadaran orang kaya akan pentingnya harta zakat. Akan tetapi juga disebabkan oleh krisi mental orang miskin yang malas untuk bangkit yang telah melanda sebagian besar masyarakat muslim saat ini. Jika kita berkaca kembali pada Al Qur`an sebenarnya Allah SWT telah menjelaskan pada umat islam bahwa kemiskinan tidak dating dari sang pencipta akan tetapi kemiskinan datang dari manusia itu sendiri.

Dalam hal ini penyataan Susan George menarik untuk disimak bahwa penyebab utama kemiskinan adalah ketimpangan sosial ekonomi karena adanya sekelompok kecil orang – orang yang hidup mewah diatas penderitaan orang banyak, dan bukannya diakibatkan oleh semata – mata klelebihan jumlah penduduk.

Diantara gambaran Al – Qur`an yang berkitan dengan sifat manusia yang menyebabkan kemiskinan misalnya. Pertama, Q.S. An nahl : 112 yang menceritakan suatu negeri yang diberi rasa lapar dan ketakutan sebagai balasan dari sifat “kufur nikmat” atau tidak mensyukuri nikmat Allah SWT. Kedua, Q.S. Al Ma`rij : 19 – 21 yang menjelaskan tentang mudahnya manusia putus asa dan lemahnya etos kerja.

Zakat merupakan system ekonomi umat islam. Dengan pengelolaan yang baik pada akhirnya zakat akan mampu membangun pertumbuhan ekonomi sekaligus peerataan pendapatan, economic with equity (Ahmad Muflih Saefuddin, Pengelolaan zakat ditinjau dari askpek ekonomi, Bontang, Badan dakwah islamiyah, LNG, 1986, p.99). Selain itu dalam zakat mengandung nilai – nilai sosial, politik, moral dan agama sekaligus. Hal ini dapat dilihat dari segi manfaat yang akan dirasakan baik oleh pemberi maupun penerima zakat.

Zakat ialah kekayaan yang akan menjamin orang yang tidak mampu bekerja, Inilah cara untuk memberi pertolongan kepada mereka yang lemah atau sakit, anak yatim dan mereka yang perlu pertolongan. Prinsip yang terkandung dalam zakat cukuplah sederhana yaitu apabila engkau telah cukup untuk hari ini tolonglah orang lain agar orang menolongmu, apabila esok engkau tidak punya maka tidak perlu engkau bingung.

Disinilah letak perbedaan antara system kapitalisme dengan zakat. Kapitalisme menganjurkan manusia untuk menumpuk – numpuk harta sebanyak mungkin tanpa memperdulikan orang lain. Sedangkan zakat lebih mengedapankan maslahat bersama daripada individu. Untuk itulah pentingnya pemetaan kekayaan agar tidak terjadi ketidakseimbangan kekayaan.

Dengan dijadikannya zakat sebagi instrument pemerataan kekayaan maka harta selanjutnya harus didistribusikan kepada pihak lain, yaitu orang – orang telah ditentukan (Fakir, Miskin, Amil, Mu`alaf, Hamba Sahaya, Gharimin, Fii Sabilillah, Ibnu Sabil) sehinga hal tersebut perlu diatur dalam sebuah mekanisme redistribusi yang jelas. Dalam hal ini zakat berfungsi sebagai instrument yang mengatur aliran redistribusi pendapatan dan kekayaan tersebut. Disinilah tugas pemerintah untuk mengatur penyaluran harta zakat semaksimal mingkin.

Dalam hal zakat ini, oemerintah sedikit lebih bijak dalam mengambil keputusan. Ini terwujud dengan dikeluarkannya undang – undang yang berkaitan dengannya, sekaligus berkjaitan dengan pajak. Undang – undang tersebut adalah undang – undang No.38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat yang didalamnya menyebut antara lain bahwa pengelolaan zakat di Indonesia dilakukan olah BAZ yang dibentuk oleh perintah dan LAZ yang dibentuk oleh masyarakat. Dengan adanya lembaga yang mengatur harta zakat tersebut dengan harapan peerataan bisa dilakukan dan kemiskinan dapat segera diminalisir.

Melihat laporan BPS diatas menunjukkan adanya sinyal positif untuk bangkitnya kesejahteraan umat. Akan tetapi, persentasenya masih sangatlah kecil sehingga sudah saatnya pemerintah tidak memandang sistem zakat dengan sebelah mata dan mulai memaksimalkan kinerja sistem zakat untuk lebih banyak lagi. Dengan kata lain secara sistem zakat sudah unggul dan teruji mampu mengentaskan kemiskinan. Akan tetapi keberhasilan penerapan sistem zakat tergantung pemerintah atau pelaksananya.

Apabila fungsi zakat sebagai instrument enyaluran kekayaan ini dijalankan secara maksimal dengan pembagian yang merata maka persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial dapat diperkecil. Akan tetapi itu merupakan harapan yang masih jauh dari kenyataan. Yang perlu dioptimalkan terlbih dulu adalah menangulangi kemiskinan dengan cara pendekatan yang komprehensif, yaitu upaya perubahan mental dari dalam diri orang – orang miskin serta memberikan pemahaman kepada orang – orang kaya akan kesadaran mengeluarkan zakat. Tentunya harus dibarengi juga dengan manajemen pemerataan zakat secara profesional oleh pemerintah. Dan jika tiga unsur tersebut bisa berhasil barulah kesejahteraan sosial umat akan tercipta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait