Wanita Bekerja di Luar Rumah

PERTANYAAN

Mohon dijelaskan bagaimana hukum wanita bekerja di luar rumah menurut Muhammadiyah ? Dan apakah ada ketentuan-ketentuan menurut syar’i pekerjaan yang dibolehkan ?

JAWABAN

Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan kepada kami, sebelum menjawab pertanyaan saudara, kita mengetahui bersama bahwa kehidupan manusia akan berlangsung dengan baik dan bahagia bila terpenuhi kebutuhan-kebutuhan  hidupnya.  Untuk  itu ia harus bekerja, dan Allah SWT telah menyediakan segala sesuatunya di bumi berupa kekayaan alam yang dapat diolah dan dikelola sehingga dapat dinikmati oleh manusia.

Setiap manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup jasmaninya akan selalu bekerja dan bebas memilih jenis pekerjaan sesuai profesinya dengan tujuan yang sama yaitu  tujuan ekonomis. Di samping memenuhi kebutuhan jasmani, bekerja juga sebagai media untuk mengaplikasikan ilmu yang dipelajari, sehingga akan bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan masyarakat. Bekerja juga sebagai perantara untuk menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi yang telah diamanahkan kepada manusia.

Sebagai khalifah di muka bumi, laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama untuk beramal shalih, berbuat baik, dan melakukan aktifitas kebaikan. Meskipun mempunyai kesamaan dalam beramal shalih, wanita mempunyai kedudukan yang mulia dalam rumah tangga. Sebagai ibu dari anak-anak, tempat rasa kasih dan sayang, tempat belajar pertama kali bagi anak-anak, dan selalu ditunggu akan belaian kasih sayang. Maka dalam Islam peran ibu dalam rumah tangga sangat urgen, sehingga bekerja di rumah dan mengurus rumah tangga menjadi kewajiban. Sedangkan suami sebagai kepala rumah tangga wajib mencari nafkah untuk keluarga.

Dalam perkembangannya, peran wanita di dunia publik semakin luas dengan adanya arus emansipasi wanita yang mendorong terbukanya lapangan kerja bagi wanita. Banyak para wanita bekerja di luar rumah sama seperti laki-laki. Bahkan jumlah pekerja wanita lebih banyak dari laki-laki, apalagi pimpinan-pimpinan perusahaan lebih memilih pegawai wanita dengan pertimbangan tidak banyak protes dan melakukan demo atau lebih mudah diatur. Sehingga kadang-kadang banyak yang melalaikan tugas pokok sebagai ibu bagi anak-anaknya. Padahal kedudukan hukum bagi wanita bekerja di luar rumah itu tidak wajib, dan harus seijin suami.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, dan mempunyai amal usaha pendidikan maupun rumah sakit, telah membuat pedoman dan ketentuan dalam mengatur pegawai wanita agar dalam bekerja sesuai ketentuan-ketentuan syar’i. Di antara ketentuan-ketentuan yang harus dipertimbangkan adalah sebagai berikut

a. Jenis pekerjaannya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Pertama, sesuai harkat, martabat dan kodrat wanita, karena ia tidak sama dengan kaum laki-laki baik dari segi kekuatan fisik maupun emosionalnya dan di samping itu dalam hal soal mencari nafkah adalah menjadi tanggung jawab lelaki atau suami sedangkan si istri hanya membantu sesuai firman Allah SWT.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى  (3 :63)

Artinya : Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (Q.S. Ali ‘Imran / 3 : 36)

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ (4 : 34)

Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita, oleh karena itu Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki)atas sebahagian yang lain (Wanita) (Q.S. An Nisaa’ / 4 : 34)

وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ . (رواه البخاري ومسلم)

Artinya : Janganlah kamu memberatkan mereka dengan sesuatu yang bukan ahlinya (HR. Bukhori dan Muslim).

Kedua, tidak berdampak negatif (Fitnah).

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً (8 : 25)

Artinya : Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. (Q.S. Al Anfaal / 8 : 25)

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنْ الْقَتْلِ (2 : 191)

Artinya : Dan fitnah itu lebih dahsyat bahayannya dari pembunuhan.(Q.S. Al Baqarah / 2 : 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنْ الْقَتْلِ  (2 : 217)

Artinya : Dan fitnah itu lebih besar dari pembunuhan.(Q.S. Al-Baqarah / 2 : 217)

b. Yang berstatus bersuami, harus mendapat izin suami

عَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، اَلإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ (رواه البخاري)

Artinya : Dari Abdullah Ibnu Umar (dilaporkan bahwa) ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu (yang menjadi pemimpin itu) bertanggung jawab atas yang dipimpin, penguasa adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya, seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas anggota keluarga yang dipimpinnya, dan seorang wanita adalah di dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya … (HR Bukhari).

c. Waktu hendaklah dihindari malam hari, karena :

Pertama, amat rawan fitnah.

Kedua, terbengkalainya urusan rumah tangga yang  banyak  dilakukan malam hari.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ (2 : 223)

Artinya : Isteri-isterinya adalah (seperti) tanah ladang bagimu, maka datangilah tanah ladangmu itu, bagaiman saja kamu kehendaki.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ (رواه البخاري)

Artinya : Dari Abu Hurairah (dilaporkan bahwa) ia berkata: Nabi saw bersabda: Apabila semalaman wanita menjauhi tempat tidur suaminya, ia akan dilaknat oleh Malaikat hingga pagi. (HR Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ (رواه البخاري) .

Artinya : Dari Abu Hurairah (dilaporkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila seorang suami menajak isterinya ke tempat tidur dan ia menolak sehingga suami mendongkol kepadanya semalaman, maka Malaikat melaknat sang isteri sampai pagi. (HR Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ وَلاَ تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ . (رواه البخاري) .

Artinya : Dari Abu Hurairah (dilaporkan) bahwa Rasulullah saw bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa ketika suaminya ada di rumah kecuali dengan izinnya, dan juga (tidak halal) ia mengizinkan memasuki rumahnya kecualiu atas izin suaminya; dan belanja yang dikeluarkannya tanpa perintah suaminya, maka separohnya harus dikembalikan kepada suaminya. (HR Bukhari).

Kesimpulan

  1. Berdasarkan pertimbangan di atas, menurut Muhammadiyah bahwa hukum wanita bekerja di luar rumah dibolehkan, dengan syarat harus sesuai kodratnya sebagai wanita dan menghindari adanya fitnah. Sedangkan bagi yang sudah menikah wajib mendapat izin suami.
  2. Seorang wanita yang sudah berumah tangga tidak boleh melalaikan kewajiban utama, yaitu mengurus keluarga dan menghindari bekerja di malam hari, agar urusan rumah tanggga yang banyak dimalam hari yang menjadi hak anak dan suami tidak terabaikan.
  3. Apabila suami dan istri sama-sama bekerja di luar rumah, semua hal yang berkaitan dengan urusan keluarga harus dimusyawarahkan dengan baik dan selalu mengutamakan kemaslahatan, agar tidak menimbulkan keretakan rumah tangga dan menimbulkan dampak negative pada anak-anak.

Hukum wanita bekerja di luar rumah dibolehkan dengan syarat harus sesuai kodratnya sebagai wanita
Hukum wanita bekerja di luar rumah dibolehkan dengan syarat harus sesuai kodratnya sebagai wanita (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2016 dan diuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait