Waktu dan Bacaan Dalam Shalat Jum’at

Dalam tulisan sebelumnya telah di sampaikan bahwa pelaksanaan khutbah tidaklah bertele-tele atau terlalu panjang, atau shalat jum’at dua raka’at lebih lama dari khutbahnya. Kita dapat melihat dalam keterangan hadits Rasulullah saw. Yang menerangkan tentang suatu hal yang bijaksana bagi seorang khatib adalah memendekkan khutbah dan memanjangkan shalatnya. Ketentuan-ketentuannya sebagai berikut :

  1. Khutbah yang disampaikan oleh khatib hendaklah tidak terlalu lama (panjang). Atau dengan kata lain shalatnya hendaklah lebih lama dari khutbahnya.

عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا (رواه مسلم وأحمد)

Artinya : Dari ‘Ammar Ibnu Yasir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesunggunguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang tentang agama. Oleh karena itu panjangkanlah shalat dan persingkatlah khutbah; sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik (HR Muslim dan Ahmad).

  1. Kemudian lakukanlah shalat dua rakaat dan diupayakan dalam pelaksanaannya lebih lama dari khutbahnya.

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ صَلاَةُ السَّفَرِ رَكْعَتَانِ وَصَلاَةُ اْلأَضْحَى رَكْعَتَانِ وَصَلاَةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلاَةُ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه النسائى وابن ماجه وأحمد)

Artinya : Dari ‘Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Shalat safar adalah dua rakaat, shalat Idul Adha dua rakaat, shalat Idul Fitri dua rakaat, dan shalat Juamat dua rakaat berdasarkan ucapan Muhammad saw (HR an-Nasi, Ibnu Majah, Ahmad).

  1. Bacaan surat yang biasa dibaca oleh Nabi saw. pada shalat Jum’at adalah surat al-A’la dan al-Ghasyiyah atau surat al-Jum’ah dan al-Munafiqun.

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِي الّصَلاَتَيْنِ (رواه مسلم والترمذلى والنسائى وأبو داود وأحمد)

Artinya : Dari an-Nu‘man Ibnu Basyir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah saw dalam shalat dua hari raya dan shalat Jumat membaca sabbihisma rabbikal-a‘la dan hal ataaka hadiitsul-ghaasyiyah. An-Nu‘man berkata lagi: apabila shalat hari raya dan shalat Jumat jatuh pada hari yang sama, beliau juga membaca kedua surat itu dalam kedua shalat dimaksud (HR Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ab­ Dawud dan ahmad).

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ الم تَنْزِيلُ وَ هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ وَفِي صَلاَةِ الْجُمُعَةِ بِسُورَةِ الْجُمُعَةِ وَالْمُنَافِقِينَ (رواه مسلم والنسائى وأحمد)

Artinya : Dari Ibnu ‘Abbas (diriwayatkan) bahwa Rasulullah saw pada hari Jumat dalam shalat subuh membaca Aliflaammiim. Tanzilu … dann Hal ataa ‘alal-insaani; dan dalam shalat Jumat membaca surat al-Jumu‘ah dan surat al-Munafiqin (HR Muslim, an-Nasa’i, dan Ahmad).

  1. Setelah selesai melaksanakan shalat Jum’at dan dzikir, kemudian lakukanlah shalat sunnat setelah shalat Jum’at 2 raka’at atau 4 raka’at,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ(رواه أحمد)

Artinya : Dari Ibnu ‘Umar (diriwayatkan bahwa) ia berkata: adalah Rasulullah saw mengerjakan shalat shalat (sunnat) dua rakaat di rumahnya sesudah shalat Jumat  (HR Ahmad).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا (رواه مسلم)

Artinya : Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda: Apabila seseorang kamu melakukan shalat Jumat, maka hendaklah ia mengerjakan shalat (sunnat) empat rakaat sesudahnya (HR Muslim).

Shalat Jum’at pada Hari Raya

Apabila hari raya (Idul Fithri atau Idul Adha) jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melakukn shalat id boleh tetap melakukan shalat Jum’at atau melakukan shalat Dzuhur sebagai ganti dari shalat Jum’at.

عَنْ إِيَاسِ بْنِ أَبِي رَمْلَةَ الشَّامِيِّ قَالَ شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ وَهُوَ يَسْأَلُ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ قَالَ أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِي يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ (رواه النسائى وابن ماجه وأبو داود)

Artinya : Dari Iyaas Ibnu Abi Ramlah asy-Syami (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya menyaksikan Mu‘awiyah Ibnu Abi Sufyan ketika bertanya kepada Zaid Ibnu Tsabit, katanya: Apakah engkau pernah menghadiri shalat dua gari raya bersama Rasululah saw di mana kedua hari raya itu jatuh pada hari Jumat? Zaid menjawab: Ya. Mu‘awiyah bertanya lagi: Bagaimana tindakan Rasulullah? Zaid menjawab: Beliau shalat Jumat, kemudian memberi rukhsah (dispensasi) untuk tidak menghadiri Jumat di mana beliau bersabda: Barang siapa yang mau shalat (Jumat), silahkan shalat (HR an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ab­ Dawud).

Yang menerangkan tentang suatu hal yang bijaksana bagi seorang khatib adalah memendekkan khutbah dan memanjangkan shalatnya
Yang menerangkan tentang suatu hal yang bijaksana bagi seorang khatib adalah memendekkan khutbah dan memanjangkan shalatnya (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2013 dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait