Visi dan Misi Organisasi

Gambar Visi dan Misi Organisasi
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Setiap organisasi pasti memiliki visi, misi dan tujuan. Tanpa 3 kata tersebut bukanlah organisasi. Mereka hanya segerombolan orang yang sekedar ngobrol atau bermain tanpa arah. Organisasi dibentuk pasti memiliki maksud dan tujuan. Hendak konsentrasi pada bidang apa organisasi itu didirikan. Politik, sosial, budaya atau yang lainnya. Masing-masing memiliki pondasi untuk menjadi sebuah organisasi yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Visi, misi dan tujuan memiliki satu rangkaian yang tak terputus. Memiliki jiwa yang organik antara satu dengan lainnya. Visi merupakan sebuah impian, misi menterjemahkan dari impian, dan tujuan adalah target dari visi dan misi yang hendak dicapai.

Secara garis besar visi adalah angan-angan yang diujudkan dalam bentuk kalimat untuk mencapai tujuan. Karena sebuah impian, maka rangkain kalimat yang dibentukpun sebisa mungkin sempurna atau mendekati idealisme. Sebagai contoh, visi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah : Terbentuknya Insan serta Ekosistem Pendidikan dan Kebudayaan yang Berkarakter dengan Berlandaskan Gotong Royong.

Kalimat tersebut memiliki arti dari sebuah impian agar semua Insan dan ekosistem yang mendukungnya memiliki nilai karakter. Kita semua tahu bahwa membentuk satu orang saja agar memiliki karakter bukanlah pekerjaan yang mudah. Karakter dibentukpun bukan seketika sebagaimana seorang pesulap. Namun karakter diciptakan sejak lahir. Bahkan ada petuah yang sudah dibuktikan kebenarannya, bahwa karakter dibentuk sejak anak masih dalam kandungan. Sehingga untuk membentuk manusia atau insan yang berkarakter menjadi kewajiban setiap orang.

Karena visi adalah sebuah angan-angan, bukan berarti visi merupakan sebuah kalimat lepas tanpa arah. Bagaimanapun juga visi harus terukur sesuai dengan kemampuan pengelola. Minimal ada 3 (tiga) kriteria yang bisa menjadi parameter bagi sebuah organisasi. Pertama, menyatakan cita-cita atau keinginan. Visi merupakan cita-cita luhur yang akan digapai dalam sebuah organisasi. Dalam realita, cita-cita bisa tercapai ataupun tidak tercapai, sebagaimana anak kecil yang memiliki cita-cita tertentu, namun setelah dewasa tak jua digenggam cita-cita tersebut. Meskipun dalam perjalanan sering kali meleset dari keinginan, minimal sebuah organisasi telah memiliki usaha untuk mencapai tujuan.

Kedua, realistis sesuai dengan kompetensi organisasi. Lihat dulu potensi yang dimiliki oleh organisasi. Pandang dulu pengurus dan anggotanya. Apakah lingkungan juga turut serta mendukung lajunya organisasi? Dengan melihat kedalam terlebih dahulu, visi yang akan dibangun bisa terukur sesuai dengan kemampuan. Beberapa organisasi kandas di jalan hanya karena tidak mampu menyeimbangkan antara keinginan dan realita yang dimiliki.

Ketiga, Dapat ditelusuri tingkat pencapaiannya. Muhammadiyah yang sudah berumur satu abad lebih (menurut hitungan hijriyah), mungkin belum seberapa pencapaiannya bila di merujuk pada visinya. Namun demikian Muhammadiyah telah berhasil menelorkan ribuan amal usaha, melahirkan tokoh-tokoh panutan, mengisi kegiatan yang tidak dilakukan oleh pemerintah maupun organisasi lain. Hasil-hasil itulah yang dapat dijadikan rujukan bahwa Muhammadiyah berhasil mencapai tahap-tahap tertentu untuk menilai ketercapaian.

Setelah visi dibentuk dengan segala pendukungnya, visi  itu dibuat turunannya menjadi kata kerja untuk direalisasikan meskipun masih dalam bentuk yang global. Kalau dahulu ada sebuah istilah membumikan Al-Qur’an, artinya bahwa ayat-ayat yang bermakna ukhrawi, samawi dikupas untuk direalisasikan dalam bentuk kerja. Membumi, artinya berpijak pada akar realitas masyarakat yang sebenarnya. Seorang penyampai firman Allah harus berbaik sangka bahwa ada sebagian umat yang memang belum mengetahui ajaran Islam yang sesungguhnya, yang memang diajarkan oleh Rasulullah. Dengan demikian Ia tidak akan menyampaikan perintah dan larangan ajaran Islam melainkan sesuai dengan porsinya. Ia juga tidak akan memberikan himbauan yang bernada sentiment, menyulut kebencian, namun ia akan bertutur kata yang lembut penuh dengan hikmah. Sesuai dengan yang ia hadapi yaitu masyarakat.

Tugas misi membumikan visi. Misi harus mampu menterjemahkan menjadi kata kerja yang dapat diukur dengan kemampuan yang dimiliki. Bila pada visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa dijadikan contoh, maka misi lembaga tersebut sudah mengarah teknis pelaksanaan, seperti : Mewujudkan Pelaku Pendidikan dan Kebudayaan yang kuat. Pelaku disini adalah siapa saja yang terlibat untuk melakukan pendidikan dan kebudayaan dalam hal ini adalah semua elemen masyarakat tanpa kecuali. Sedangkan kuat masih bersifat multi tafsir, makanya istilah kuat dijabarkan dalam bentuk tujuan dan strateginya. Arti kuat dalam ranah misi bisa diartikan kuat iman, intelektual, fisik dan semua bagian yang menjadikan semua kuat.

Misi yang lain adalah mewujudkan pembelajaran yang bermutu. Pembelajaran tidak hanya aktifitas di sekolah atau kampus. Pembelajaran dapat juga berlangsung di pondok, kelompok kerja, keilmuan, ketrampilan dan lain-lain. Bermutu juga tidak mempunyai skala yang pasti. Arti bermutu seperti minum air garam. Semakin diteguk semakin haus. Semakin bermutu sebuah komunitas pendidikan makin luas cakrawala yang hendak dicapai.

Misi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan hendak kemana kaki bisa melangkah. Jalan yang terpampang telah tampak di muka. Hanya, dengan apa jalan itu akan dilangkahi. Bila kecepatan yang akan dicari maka pakailah kendaraan bermotor. Bila akan menikmati detail panorama, bersepeda atau jalan kaki menjadi pilihannya. Tinggal bagaimana sebuah organisasi itu akan dibentuk dan bergerak.

Misi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan hendak kemana kaki bisa melangkah
Misi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan hendak kemana kaki bisa melangkah

Ada 4 (empat) muatan untuk menyusun sebuah misi. Pertama, sesuaikan misi dengan bentuk organisasi. Bila organisasi profesi, bergeraklah dalam bidang profesinya. Jangan menjadikan organisasi profesi menjadi organisasi politik. Wilayah permainannya adalah peningkatan kompetensi sesuai dengan profesinya.  Kedua, merespon konsumen. Organisasi masyarakat (ormas) bergeraknya adalah pemberdayaan pengurus dan anggotanya. Bagaimana agar kedua elemen tersebut menjadi berdaya, maka organisasi melakukan langkah-langkah sesuai dengan karakter organisasi tersebut. Bila pemberdayaan anggota dengan sistim organisasi perusahaan, maka yang terjadi hanyalah nilai tambah yang diukur dengan budget. Padahal ormas tidak sekedar itu. Anggota perlu peningkatan kualitas intelektual, spiritual, mental yang tidak bisa diukur dengan nilai finansial.

Ketiga, merefleksikan nilai dasar.  Selama Muhammadiyah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah Rasul, selama itu pula Muhammadiyah tetap ada dan bermanfaat. Itu salah satu indikator dari sebuah misi. Organisasi harus punya landasan dasar, mengapa organisasi itu dibentuk. Meningkatkan kesejahteraan guru, adalah salah satu misi Persatuan Guru Indonesia (PGRI). Selama kesejahteraan guru belum tercapai, PGRI tetap akan terus berupaya memperjuangkan.

Keempat, memiliki nilai keunggulan dan berkelanjutan. Setiap organisasi memiliki ciri khas tersendiri. Keunggulan ini harus dirawat dan ditingkat kualitasnya. Keunggulan yang tidak dirawat akan surut dengan sendirinya. Ikatan Guru Indonesia (IGI) memiliki keunggulan dalam bidang peningkatan kompetensi guru. Sebagaimana Tujuan Pendidikan Indonesia, yaitu peningkatan mutu pendidik. IGI membidik peluang tersebut menjadi unggulan dalam misinya. Keunggulan harus dipoles, dievaluasi, diperbaiki sehingga berkelanjutan. Keberadaan organisasi akan dirasakan manfaatnya sepanjang waktu, baik oleh anggota maupun masyarakat.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait