Value Keluarga

Keluarga adalah pondasi dalam membangun bangsa ini. Keluarga kuat akan membuat bangsa ini pun kuat, begitupun sebaliknya, saat keluarga lemah maka bangsa ini pun akan lemah. Keluarga menurupakan organisasi terkecil di dalam lingkup kebangsaan menjadi penopang utama dalam keberadaannya membangun bangsa ini. Fondasi dan dasar-dasar yang kuat adalah awal pendidikan dalam keluarga, dasar kokoh dalam menapaki kehidupan yang lebih berat, dan luas bagi perjalanan anak-anak manusia berikutnya.

Keluarga merupakan barier atau garda terdepan yang memberikan pendidikan, perlindungan, kenyamanan, dukungan, dan hal hal positif lainnya terhadap perkembangan seorang individu. Keluarga merupakan awal dari lahirnya sosok individu yang baik maupun yang tidak baik. Pembinaan oleh keluarga dilakukan terus menerus sepanjang jalur kehidupan individu dalam keluarga tersebut. Pendidikan dari keluarga diberikan mulai dari budi pekerti, tata krama, agama, kehidupan sosial, dan lainnya untuk mencapai generasi yang berkualitas dengan penuh tanggungjawab, memiliki perilaku positif dan berdampak baik pada masyarakat, dan mampu menjadi penerus yang baik (www.Dosenpsikologi.com).

Realitas kekinian tentang keluarga sudah tidak lagi mampu membentuk dirinya menjadi keluarga yang kuat sehingga fakta yang terjadi pondasi bangsa ini pun menjadi lemah. Generasi-generasi yang dilahirkan dari keluarga yang hilang fungsinya tidak cukup kuat untuk membentuk sebuah kepribadian yang dapat membangun bangsa.

Fenomena yang marak terjadi beberapa tahun terakhir di Yogyakarta adalah aksi kenakalan remaja berujung kekerasan. Aksi itu tak jarang memakan korban jiwa. Para pelaku menyebutnya klithih, dari istilah Jawa untuk menunjukkan kegiatan mencari-cari atau mengkais-kais sesuatu di jalanan. Aksi klithih yang melibatkan pelajar itu dinilai tidak lepas dari faktor orangtua dan keluarga. Dosen Sosiologi Kriminal UGM Suprapto menjelaskan fenomena klithih ini terjadi karena sumbangsih orang tua dan keluarga dalam menjaga fungsi keluarga yang kurang maksimal.

Menjelaskan fenomena klithih ini terjadi karena sumbangsih orang tua dan keluarga dalam menjaga fungsi keluarga yang kurang maksimal
Menjelaskan fenomena klithih ini terjadi karena sumbangsih orang tua dan keluarga dalam menjaga fungsi keluarga yang kurang maksimal (Sumber gambar : klik disini)

Suprapto menambahkan bahwa saat ini sisi internal fungsi keluarga menipis. Fungsi keluarga dalam hal sosialisasi, pendidikan, budaya, nilai dan norma. Dengan kondisi seperti itu sangat dimungkinkan menjadi salah memilih tempat dan salah memilih lingkungan (Liputan6, 2017).

Fenomena lainnya yang secara umum dialami generasi kita sekarang ini adalah tentang pergaulan bebas, bullying, terjerat dalam narkotika, dan lain sebagainya adalah peran dan fungsi keluarga yang hilang dalam membentuk kepribadian anak. Ketika kita mencoba memahami mengenai peran dan fungsi keluarga, menurut seorang sosiolog, Friedman, mengatakan bahwa fungsi keluarga dibagi menjadi 5 yaitu:

Fungsi Efektif. Friedman menganggap bahwa keluarga turut berperan serta dalam membentuk kepribadian seorang karena keluarga merupakan lingkup kecil yang mengajarkan berbagai hal. Nilai yang diajarkan dalam keluarga akan membantu seseorang dalam mempersiapkan dirinya sebelum berinteraksi dengan masyarakat luas. Anggota kelurga mengembangkan gambaran diri yang fositif, peran dijalankan dengan baik, dan penuh rasa sayang.

Fungsi sosialisasi. Keluarga adalah tempat terbaik untuk seseorang dalam belajar melakukan interaksi sosial dan mengembangkan peran dan tugasnya di lingkungan tersebut. Proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu menghasilkan interaksi sosial, dan individu tersebut melaksanakan perannya dalam lingkungan sosial. Keluarga merupakan tempat individu melaksanakan sosialisasi dengan anggota kelurga dan belajar disiplin, norma budaya, dan perilaku melalui interaksi dalam keluarga, sehigga individu mampu berperan didalam masyarakat.

Fungsi reproduksi. Fungsi keluarga adalah untuk melestarikan keturunan karena keluarga selalu memiliki rencana untuk menciptakan generasi penerus untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

Fungis Ekonomi. Fungsi keluarga adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti makanan, pakaian, perumahan, dan lain-lain. Secara finansial, keluarga harus bisa memenuhi kebutuhan setiap anggotanya dengan mencari penghasilan.

Fungsi Perawatan. Fungsi perawatan adalah keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlidungan, dan asuhan kesehatan. Kemampuan keluarga melakukan asuhan keperawatan atau pemeliharaan kesehatan memengaruhi status kesehatan keluarga dan individu. Menjaga kesehatan setiap anggotanya adalah agar mereka dapat memikul peran dan tugasnya di lingkungan keluarga dan masyarakat umum.

Fungsi keluarga sebagai motor pembangun nilai dalam diri individu, yang dapat membentuk sebuah kepribadian pada diri mereka, dapat kita lakukan dengan membuat value keluarga yang kita terapkan dalam keseharian. Value keluarga adalah nilai-nilai yang kita sepakati dan dijalankan bersama oleh anggota keluarga.

Salah satu value yang penulis dapatkan dari orangtua semenjak kecil adalah nilai anti korupsi/anti berbohong dan anti mengambil barang milik orang lain sekecil apapun; hal ini diterapkan untuk ibu sendiri, ayah, dan anak-anaknya. Ibu saya sering mengatakan dan diulang dalam berbagai kesempatan, “Nak, sedikitpun jangan pernah membawa ke rumah ini barang orang lain yang diambil tanpa izin, bahkan jika hanya sehelai daun. Jika kamu nanti mengambilnya, kembalikan segera tanpa penunggu waktu.”

Suatu hari, kami sebagai anak-anak pernah main di kebun wortel tetangga yang sudah dipanen.  Sebagai anak kecil, kami memunguti sisa-sisa wortel yang ada di kebun itu untuk dibawa ke rumah. Kami melaporkan kepada ibu bahwa kami bawa wortel ini untuk ibu. Seketika beliau menanyakan, “Apakah sudah izin ke pak tani?” kami jawab belum. Setelah itu beliau meminta kami untuk meminta izin atau wortel tersebut dikembalikan lagi ke tempatnya. “Sekecil apapun, jangan ada barang haram masuk ke rumah ini.”

Ketika penulis masih anak-anak sebenarnya belum memahami yang beliau sampaikan, penulis hanya menuruti saja, namun ternyata, nilai yang beliau tanamkan ini berdampak saat kami telah menginjak usia sekolah hingga saat ini. Kami berusaha terhindar dari prilaku menyontek, berbohong, apalagi mengambil barang milik orang lain. Begitupun yang pernah dilakukan Rasulullah SAW terhadap putrinya, Fatimah, beliau pernah mengatakan bahwa jika Fatimah mencuri, maka beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Inilah salah satu contoh bahwa fungsi keluarga membentuk kepribadian anggota keluarganya melalui value yang dibangun dalam keluarga tersebut.

Value keluarga dapat kita terapkan dalam keluarga dengan melakukan langkah di bawah ini:

Buatlah value keluarga bersama-sama. Value yang dibuat oleh anggota keluarga dan disepakati bersama akan menjadikan setiap anggota keluarga merasa bertanggungjawab untuk melaksanakannya. Value yang dibangun misalkan dapat kita bangun: Melibatkan Allah dalam segala hal, saling melayani anggota keluarga dan menunjukan sikap kasih sayang, dan membudayakan ilmu dalam kehidupan. Membuat value secara bersama-sama juga akan membudayakan keluarga yang senang bermusyawarah.

Buatlah komitmen bersama untuk melaksanakannya. Dalam melaksanakan value, semua anggota keluarga wajib melaksanakannya. Orangtua sebagai role model harus menjadi yang pertama melaksanakannya agar dapat dilihat oleh anggota keluarga lainnya. Misalkan, saat memiliki value “melibatkan Allah dalam segala hal” maka orangtua harus mencontohkan berdoa saat akan pergi bekerja (keluar rumah), shalat tepat waktu dan berhenti beraktivitas saat kumandang adzan, membaca Al-Qur’an setiap hari dan mengamalkannya, dan lain sebagainya. Value tidak akan terbangun dengan baik saat role model keluarga bertolak belakang dalam berprilaku keseharian.

Saling mengingatkan. Dalam melaksanakan value biasanya memerlukan pengondisian kebiasaan baru yang sebelumnya belum pernah dilaksanakan. Tidak heran biasanya ada anggota keluarga lupa melaksanakannya. Oleh karenanya penting bagi keluarga untuk saling mengingatkan satu sama lain untuk membangun value tersebut secara bersama-sama.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaNilai Kepribadian
Artikel BerikutnyaPenyakit Kulit, Obati atau Abaikan ?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait