Ulama Muda Membangun Bangsa, Sepercik Hikmah dari Kongres Ulama Muda Muhammadiyah

Penulis : Aulia Abdan Idza Shalla
Penulis : Aulia Abdan Idza Shalla (Anggota Bidang Tabligh PDPM Kota Yogyakarta, Tenaga pendidik di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta)

Generasi terbaik adalah generasi yang mampu menumbuhkan tunas-tunas baru dan tunas itu mampu menjadi kokoh dan mengokohkan”. Setidaknya itulah sedikit makna yang dapat diambil dari al-Qur’an surat al-Fath ayat ke 29. Ayat yang membahas tentang generasi terbaik (Rasulullah SAW dan para pengikutnya) itu memberikan peringatan kepada semua untuk memperhatikan dan menyiapkan secara serius generasi selanjutnya. Bukankah segala yang baik semestinya dilestarikan ?

Bangsa Indonesia tercinta ini, dilahirkan dan dibesarkan oleh para ulama, yang berdasarkan fakta sejarah tidak dapat dipisahkan dari kata “muda”. Mr. Kasman Singodimedjo, KH. Wahid Hasyim, Mohammad Natsir, Bung Karno dan Bung Hatta –para ulama muda pada bidangnya masing-masing sekaligus para pelopor yang membidani lahirnya bangsa ini-, adalah bukti yang tak terbantahkan dan bahwa generasi sebelum mereka telah berhasil mempersiapkan kemerdekaan bangsa ini melalui sistem kaderisasi yang benar-benar unggul dan tidak main-main.

Agaknya para ulama generasi sebelumnya sudah sama paham dan dengan seksama memperhatikan friman Allah swt berikut ini:

…وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًاالآية

Artinya  : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah…”

Para Ulama –rahimahumullahu– sadar betul bahwa tanggungjawab regenerasi ada pada pundak mereka, maka mereka tidak mau tinggal diam. Mereka tidak menghendaki anak-anak mereka menjadi generasi yang lemah dan diam membisu atas segala kelaliman yang terjadi di depan mata. Di samping munculnya kesadaran bahwa kejayaan dan kemakmuran ummat Islam di Indonesia tak akan terwujud tanpa diawali dengan kemerdekaan. Oleh karena itu, tidak ada kata istirahat sebelum bangsa ini terbebas dari penjajahan dan ketidakadilan.

Semua orang sekarang dapat merasakan dan menikmati kemerdekaan itu dengan penuh kebanggaan. Kebanggaan akan kejayaan para pendahulu. Namun terkadang, mereka terlenakan dan lupa, bahwa generasi terbaik yang memerdekakan bangsa ini, telah meninggalkan tugas yang jauh lebih berat yaitu membangun bangsa sehingga menjadi sejahtera, adil dan makmur, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur dalam istilah Muhammadiyah. Yang nampaknya, situasi saat ini justru sedang menjauh dari cita-cita luhur itu.

Menyadari fakta sejarah tersebut, sekaligus memperhatikan fenomena saat ini, semangat regenerasi para ulama harus digelorakan. Dan hampir mustahil membangkitkannya kecuali melalui gerakan yang massive dan terorganisir dengan baik. Usaha tersebut, kini sedang dirintis. Melalui kongres Ulama Muda (KUMM) yang pertama. Pemuda Muhammadiyah menyadari sinyal-sinyal kegentingan tersebut. Dengan segenap potensi yang ada, mengumpulkannya dalam satu wadah, Pemuda Muhammadiyah melalui KUMM membuat langkah yang strategis, merespon dan mengawal gerak langkah bangsa ini, termasuk yang terdekat adalah momentum pemilihan para pemimpin di berbagai jenjang dan penjuru daerah di Indonesia (keputusan tentang ini dapat dilihat pada hasil kongres poin pertama yaitu membahas dan menentukan sikap terhadap politik uang/suap bahwa politik uang/suap adalah haram dan setiap hasil yang diperoleh darinya dan juga turunannya yang lain adalah haram).

Kongres Ulama Muda Muhammadiyah
Dengan segenap potensi yang ada, mengumpulkannya dalam satu wadah, Pemuda Muhammadiyah melalui KUMM membuat langkah yang strategis, merespon dan mengawal gerak langkah bangsa ini (Sumber gambar : klik disini)

Para pemuda yang dalam dada mereka tertanam keimanan-ketauhidan yang kokoh, pengetahuan dan ke-faqih-an dalam agama, ketajaman af’idah dan kesadaran akan keorganisasian yang kuat ini, datang dari penjuru negeri, bersatu dan bahu membahu mencoba turut andil dalam memikirkan nasib bangsa ini kedepan. Para pemuda inilah yang diharapkan pada masa mendatang, menjadi pemimpin dan ulama pada bidang masing-masing, yang kemudian nantinya turut serta dalam menyiapkan kader-kader penerus bangsa dan persyarikatan.

Diskursus tentang kaderisasi adalah satu hal yang serius dan urgent. Bahkan seorang Nabi pun khawatir tidak mempunyai seorang penerus. Nabi Zakariyya as. pernah bersimpuh memohon kepada Allah agar ia dianugerahi seorang penerus. Maka setelah menunggu puluhan tahun lamanya disertai sabar dan tawakkal yang mengkristal, Allah anugerahkan kepadanya penerus yang suci dan mampu memikul segala beban para pendahulunya yaitu Nabi Yusuf as. Dalam al-Qur’an surat Maryam ayat ke 5-7, Allah swt berfirman:

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِن وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا. يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا. يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا

Artinya  : “Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.”

Melindungi ulama dari gangguan eksternal itu sungguh penting, namun tidak kalah penting adalah melahirkan ulama-ulama berkemajuan yang faqih dan mahir memahami problematika ummat dan bangsa masa kini. “Mati satu tumbuh seribu” begitulah seharusnya prinsip yang dipegang. Jika para ulama yang benar-benar faqih telah menipis jumlahnya, maka barangkali tepat apa yang tercantum dalam Hadis berikut ini:

إنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ

Artinya  : “Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit (zaman Nabi SAW dan para sahabat﴿, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani, Musnad Asy-Syamiyyin: 1225; Mu’jam al-Kabir: 3111).

Hadis tersebut tentu bukan bermasud mendiskreditkan para penceramah. Titik tekannya ada pada sedikitnya ulama yang faqih. Ada tiga faktor kehancuran suatu bangsa dalam hadis di atas. Faktor pertama, menunjukkan hilangnya panutan dan pegangan hidup masyarakat. Faktor kedua, merepresentasikan krisis ekonomi dalam masyarakat. Dan faktor ketiga, menggambarkan tipisnya ilmu di tengah-tengah kehidupan. Faktor pertama ini lah yang akan memicu munculnya faktor-faktor berikutnya, dan sungguh menakjubkan (baca: memprihatinkan) semua faktor tersebut sekarang benar-benar wujud. Oleh karena itu, sepenggal kalimat terakhir dalam hadis tersebut juga merupakan inti yang mempunyai dua kandungan makna. Pertama, makna tersurat bahwa pada masa itu, orang yang berilmu lebih baik dari orang yang hanya beramal. Karena beramal tanpa ilmu pada masa itu sama saja dengan tidak beramal (amalnya sia-sia sebab tidak sesuai dengan ajaran Nabi SAW). Kedua, makna tersirat bahwa untuk membangun peradaban yang utama pada masa itu, haruslah dimulai dengan ilmu dan melalui orang-orang yang berilmu (ulama).

Apabila generasi saat ini mampu setidak-tidaknya turut serta mendorong lahirnya ulama-ulama faqih masa depan, apabila ulama-ulama itu telah mendapat tempat yang utama dalam mengawal langkah-pergerakan bangsa ini, maka yakinlah faktor-faktor kehancuran yang tercantum dalam hadis di atas akan sirna. Sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera, adil dan makmur, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Kader Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Ulama Muda Membangun Bangsa, Sepercik Hikmah dari Kongres Ulama Muda Muhammadiyah
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...