Tuntutan Shalat Jum’at (Bagian 1)

Meskipun ibadah shalat jum’at menjadi kewajiban yang rutin dilaksanakan setiap seminggu sekali, banyak persoalan-persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat, terutama warga Muhammadiyah. Adanya libur hari ahad bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah, sehingga tidak dapat mengamalkan persiapan sebelum shalat jum’at, kesibukan di kantor, tempat kerja dan aktifitas lainnya yang harus dilakukan karena tuntutan pekerjaan. Waktu dimulainya pelaksanaan shalat jum’at, apakah harus pada pukul 12.00 wib yang lazim dilakukan di masjid-masjid Yogyakarta atau menyesuaikan waktu masuk shalat dhuhur.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang muncul tersebut, pada pembahasan di rubrik Tarjih perlu mengangkat kembali tentang tuntunan melaksanakan shalat jum’at. Paling tidak materi ini dapat menjadi referensi sekaligus sebagai pedoman warga Muhammadiyah, sehingga dapat mengetahui tuntunan sebenarnya tentang pelaksanaan shalat jum’at.

(A) Dasar Kewajiban Jumat

Setiap muslim yang mukallaf diwajibkan melaksanakan shalat jum’at dan dasar kewajiban shalat Jumat tersebut adalah,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ [الجمعة : ٩]

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman apabila (kalian) diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka segeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui [QS  Al-Jumu‘ah/62 : 9]

(B) Persiapan Sebelum Shalat  Jum’at

Sebelum menghadiri shalat Jum’at dituntunkan agar melakukan hal-hal berikut :

(1) Mandi (seperti mandi janabah), memakai pakaian yang terbaik dan mengenakan wangi-wangian jika ada, berdasarkan hadis.

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عتهما أّنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ الْجُمْعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ [رواه البخارى والترمذى وابن ماجه وأحمد]

Artinya : Dari Abdillah bin Umar ra (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian akan mendatangi shalat Jum’at maka hendaklah ia mandi [HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad]

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِىِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهَ عَلَيْه ِوَسَلَّم مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ اْلجُمْعَةِ وَتَطَهَّرَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرثُمَّ ادَّهَنَ أَوْ مَسَّ مِنْ طِيْبٍ ثُمَّ رَاحَ فَلَمْ يُفَرِّق بَيْنَ اثْنَيْنِ فَصَلَّى مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ إِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ أَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمْعَةِ اْلأُخْرَى [رواه البخارى والنسلئى وأحمد]

Artinya: Dari Salman al-Farisi (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: Barang Siapa mandi pada hari Jum‘at dan membersihkan diri sedemikian rupa, kemudian memakai atau mengenakan wangi-wangian, kemudian berangkat, lalu kemudian tidak menggeser antara dua orang untuk menyela di antara keduanya, lalu mengerjakan shalat, kemudian ketika imam muncul untuk berkhutbah ia tenang mendengarkan khutbah, maka diampuni dosanya antara hari Jumat itu dengan Jumat berikutnya [HR al-Bukhari, an-Nasa’i dan Ahmad]

(2) Hendaklah bersegera pergi ke masjid, dan berangkat dengan tenang

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ [رواه الجماعة إلا ابن ماجه]

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. (diriwayatkan bahwa) Rasulullah saw bersabda: Barang Siapa mandi pada hari Jum‘at seperti mandi janabah kemudian berangkat ke tempat shalat Jumat, maka ia mendapat pahala seakan-akan ia berkurban seekor unta; dan barang siapa berangkat dalam waktu yang kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor lembu; dan barang siapa berangkat dalam waktu yang ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor domba bertanduk; barang siapa berangkat dalam waktu yang keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam betina; dan barang siapa berangkat dalam waktu yang kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir telur. Jika imam telah muncul, maka Malaikat hadir pula untuk mendengarkan khutbahnya [HR Jama‘ah selain Ibn Majah]

عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ اْغتَسَلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَلَبِسَ ثِياَبَهُ وَمَسَّ طِيْباً إِنْ كاَنَ عِنْدَهُ ثُمَّ مَشَى إِلىَ الْجُمُعَةِ وَعَلَيْهِ السَّكِيْنَةُ  وًلمَ ْيَتَخَطَّ أَحَداًَ وًلمَ ْيُؤْذِهِ وَرَكَعَ مَا قُضِىَ لَهُ ثُمَّ انْتَظَرَ حَتَّى يَنْصَرِفَ اْلإماَمُ غُفِرَ لَهُ ماَ بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ   [رواه أحمد]

Artinya: Barang Siapa mandi pada hari Jum‘at dan memamakai pakaiannya serta mengenakan wangi-wangian jika ada kemudian berjalan ke tempat shalat Jumat dengan tenang dan [sesampainya di mesjid] tidak melangkahi dan tidak mengganggu seseorang serta melakukan shalat (sunnat) sesanggupnya lalu kemudian menanti sampai imam selesai shalat Jumat, maka diampuni dosa-dosanya yang dilakukan di antara dua Jumat. [HR Ahmad].

(3) Setelah tiba di masjid, hendaklah melakukan shalat tahiyatul masjid dua rakaat (meskipun khatib sudah berkhutbah) kemudian dilanjutkan dengan shalat sekemampuannya (jika tidak terlambat datang).

1- عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ لَهُ يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ثُمَّ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا [رواه البخارى ومسلم والترمذى وأبو داود والنسائى وأحمد]

Artinya: Dari Jabir Ibnu ‘Abdullah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Sulaik al-Gathafani datang pada hari Jumat ketika Rasulullah saw sedang berkhutbah, lalu ia duduk. Maka Rasulullah saw berkata kepadanya: Wahai Sulaik, berdirilah dan kerjakan shalat dua rakaat dan percepatlah. Kemudian beliau bersabda: Apabila seseorang kamu datang ke shalat Jumat ketika imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua rakaat dan hendalklah dipercepat. [HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad]

2- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ [رواه مسلم والترمذى وأبو داود وابن ماجه وأحمد]

Artinya: Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw (diriwayatkan bahwa) ia bersabda: Barang siapa mandi, kemudia mendatangi shalat Jumat, lalu mengerjakan shalat (sunnat) seberapa kemampuannya, lalu tenang mendengarkan khutbah sampai imam selesai berkhutbah, kemudian mengerjakan shalat Jumat bersama imam, diampuni dosa-dosanya antara hari Jumat itu dan Jumat berikutnya serta tambahan tiga hari. [HR Muslim, at-Tirmidzi, Ab­ Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad]

(4) Orang yang datang terlambat, hendaklah tidak menggangu anggota jamaah yang sudah datang lebih awal, berdasarkan hadis,

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَمَسَّ مِنْ طِيبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ ثُمَّ خَرَجَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَسْجِدَ فَيَرْكَعَ إِنْ بَدَا لَهُ وَلَمْ يُؤْذِ أَحَدًا ثُمَّ أَنْصَتَ إِذَا خَرَجَ إِمَامُهُ حَتَّى يُصَلِّيَ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ [رواه أحمد]

Artinya: Dari Abu Ayyub al-Anshari (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barang siapa mandi pada hari Jumat dan mengenakan wangi-wangian bila ada, dan memakai pakaiann yang terbaik, kemudiaqnn keluar dengan tenang hingga sampai ke mesjid, lalu mengerjakan shalat (suannat) jika ia mengingininya, dan ia tidak mengganggu orang lain kemudian tenang mendengarkan khutbah imam sejak ia datang hingga mengerjakan shalat (Jumat), maka yang demikian itu menjadi pembebas dosanya antara hari Jumat itu dan Jumat berikutnya [HR  Ahmad]

(5) Apabila khatib sudah mulai menyampaikan khutbahnya, hendaklah setiap jamaah diam dengan penuh kekhusyukan sembari memperhatikan khutbah dengan sungguh-sungguh (tidak berbicara, bercanda atau mengganggu konsentrasi) sampai khatib selesai khutbahnya, berdasarkan hadist Ahmad tersebut pada angka 4 di atas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait