Tuntunan Walimatul `Ursy

Gambar Tuntunan Walimatul `Ursy
Wahyu Wijayanta, S.Sy, S.Pd.I
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015

Program Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta di samping memperdalam kajian-kajian hukum Islam juga melakukan sosialisasi hasil munas tarjih maupun  musyawarah tarjih  tingkat wilayah.  Hal ini dimaksudkan agar keputusan-keputusan maupun fatwa-fatwa yang dikeluarkan dapat menjadi pedoman dalam mengaplikasikan ajaran agama Islam sesuai paham Muhammadiyah.

Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Majelis Tarjih Daerah kota Yogyakarta dalam akhir bulan februari adalah sosialisasi hasil musyawarah tarjih yang diadakan oleh majelis tarjih wilayah tentang walimatul `ursy. Dalam kegiatan kajian rutin majelis tarjih pada hari rabu minggu kelima di bulan Februari, telah menghadirkan nara sumber dari tarjih wilayah untuk mensosialisasikan tentang pedoman walimatul `ursy.

Majelis Tarjih dan Tajdid PDM kota Yogyakarta sangat berkepentingan untuk membahas dan mensosialisasikan pedoman tentang walimatul `ursy dengan tujuan agar warga Muhammadiyah yang akan meyelenggarakan acara hajatan pernikahan atau walimatul `ursy akan lebih Islami serta melakukan ittiba’ rasul.

Walimah adalah makanan yang dihidangkan pada saat acara pernikahan. Seringkali secara lengkap dinamai walimatul `ursy yang artinya jamuan makan yang diadakan khusus dalam resepsi jamuan makan pernikahan.

Perintah menyelenggarakan walimah atau walimatul `ursy berdasarkan beberapa hadits berikut ini :

(1) Hadits dari Anas bin Malik r.a :

صحيح البخارى – (ج 17 / ص 233)

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ – هُوَ ابْنُ زَيْدٍ – عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَثَرَ صُفْرَةٍ قَالَ « مَا هَذَا.

قَالَ إِنِّى تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ . قَالَ « بَارَكَ اللَّهُ لَكَ ، أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ »

Artinya : “Bahwasanya Nabi SAW warna bekas wangian pengantin di tubuh Abdurrahman bin Auf, lalu beliau bertanya ; Apakah ini? Abdurrahman menjawab : wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru saja menikahi seorang wanita dengan mahar seharga lima dirham emas. Rasulullah bersabda: Semoga Allah memberkahimu dan rayakanlah walaupun dengan seekor kambing.”.

(2) Hadits dari Buraidah :

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّؤَاسِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبِي ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ بْنِ سُلَيْطٍ ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : لَمَّا خَطَبَ عَلِيٌّ فَاطِمَةَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّهُ لاَ بُدَّ لِلْعُرْسِ مِنْ وَلِيمَةٍ

Artinya : “Ketika Ali datang untuk melamar Fatimah, bersabdalah Rasulullah SAW : ”Sesungguhnya untuk perkawinan haruslah ada walimah.”.” (HR. Ahmad).

Mayoritas ulama menyatakan hukum walimah adalah sunnah muakkadah. Disamping itu dalam menyelenggarakan walimah tidak harus dengan menyembelih kambing sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik, akan tetapi hidangan walimah dapat berbentuk makanan yang lain sesuai dengan kemampuan shahibul hajat.

Sayyid Sabiq dalam fiqhuss Sunnah menyatakan bahwa Nabi menyelenggarakan walimah pernikahannya dengan Zaenab setelah dukhul, ia mengutip hadits riwayat Bukhari dari Anas, namun ia tidak menyertakan hadits yang dimaksud. Sedangkan As Subkhi juga menyatakan bahwa Nabi melaksanakan walimah  pada pernikahan dengan Zaenab ba’da dukhul

Menurut beliau waktu penyelenggara walimah didasarkan pada kebiasaan daerah atau masyarakat setempat, yang penting masih dalam rangkaian pernikahan untuk supaya mendapatkan persaksian dan do’a dari orang lain atau masyarakat.

Hal – Hal yang Dituntunkan dalam Menyelenggarakan Walimah

(1) Mempercepat penyelenggaraan walimah setelah pernikahan dilangsungkan

Dalam pernikahan dengan siti Zaenab misalnya Rasulullah menyelenggarakan walimah setelah menikah, sebagian ulama mengatakan ba’da dukhul :

Hadits dari Anas r.a : “Setelah Nabi menikahi Zaenab, Ummu Sulaim memberikan makanan (berupa campuran dari kurma samin dan tepung bernama bis) dalam talam terbuat dari batu. Lalu Anas berkata, bahwa rasulullah bersabda: “Pergilah kamu (Anas) dan undanglah yang kamu temui dari kaum muslimin.”maka aku undang orang-orang yang aku temui untuk (memenuhi undangan) Nabi, kemudian mulai berdatanganlah merek dan mereka makan lalu mereka keluar. Nabi meletakkan tangannya pada makanan itu dan berdoa. Beliau berucap menurut kehendak Allah apa yang akan beliau ucapkan, sedang aku tidak meninggalkan seorangpun yang aku jumpai untuk aku undang untuknya, sehingga mereka makan dan merasa kenyang … “ (HR. Muslim).

(2) Menyelenggarakan walimah sesuai dengan kemampuan (tidak tabdzir)

Berdasarkan hadits Nabi dari Abu Hurairah r.a :

حَدَّثَنَا بَهْزٌ ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُوا ، وَاشْرَبُوا ، وَتَصَدَّقُوا ، وَالْبَسُوا ، فِي غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلاَ سَرَفٍ ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَى عَبْدِهِ.

Artinya : “Makanlah, minumlah, bershadaqahlah, dan berpakaianlah dengan cara tidak sombong dan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah suka melihat nikmat Nya dipakai hamba Nya.” (HR. Ahmad).

(3) Menghidangkan makanan dan minuman yang halal dan baik

Hendaklah menghidangkan makanan yang halal dan baik, dan tidak menghidangkan makanan yang syubhat terlebih makanan yang haram. Sebagaimana firman Allah :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya : “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan, karena setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (Qs. Al-Baqarah / 2 : 168).

(4) Mengundang orang- orang sholeh terutama dari kerabat

Saat menyelenggarakan walimah hendaklah mengundang orang-orang shaleh dari kerabat, kenalan/sahabat, dan tetangga baik yang kaya maupun yang miskin. Dalam hadits dari Abu Said al Khudriy Rasulullah bersabda :

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، حَدَّثَنَا حَيْوَةُ ، أَخْبَرَنَا سَالِمُ بْنُ غَيْلاَنَ ، أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ قَيْسٍ التُّجِيبِيَّ ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ ، أَوْ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لاَ تَصْحَبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا ، وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ.

Artinya : “Janganlah kalian berteman kecuali dengan orang mukmin, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR. Ahmad).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah mengecam walimah yang tidak mengundang fuqara dan masakin :

صحيح البخارى – (ج 17 / ص 271)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

Artinya : “Makanan yang paling buruk adalah makanan walimah, dimana yang diundang hanya orang kaya saja sementara orang miskin tidak diundang”. (HR. Bukhari Muslim).

(5) Menghormati tamu undangan

Setiap tamu yang datang harus dihormati dan diperlakukan secara baik dengan tidak membedakan status social diantara mereka.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ عَنْ أَبِى حَصِينٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, janganlah menyakiti tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya memuliakan tamu. (HR. Bukhari Muslim).

(6) Memisahkan tempat duduk tamu pria dan wanita jika dikhawatirkan adanya fitnah

Apabila dikhawatirkan terjadinya ikhtilath yang dapat memunculkan fitnah maka hendaklah memisahkan tempat duduk tamu pria dan tamu wanita atau memasang hijab. Dalam putusan Majelis Tarjih Sidoarjo dikatakan bahwa hijab itu bisa berujud tabir maupun tidak berujud tabir dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi, waktu dan tempat.

(7) Tidak bermegah-megahan/berlebih-lebihan

Hendaklah tidak bermegah-megahan yang mengarah kepada pemborosan dan pemubaziran. Sebagaimana firman Allah :

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا  (الإسراء/29)

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (israf) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”.(QS. Al-Isra 29)

Walimatul `Ursy
Walimatul `Ursy

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2014, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...