Tuntunan Wakaf

Gambar Tuntunan Wakaf
Wahyu Wijayanta, S.Sy, S.Pd.I
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015

Sebagai organisasi gerakan Islam, gerakan dakwah dan gerakan tajdid, Muhammadiyah sejak awal telah memperjuangkan gerakan untuk berwakaf sebagai bentuk gerakan tajdid untuk melakukan perubahan terhadap kehidupan umat Islam di Indonesia. Ketika K.H. Ahmad Dahlan pertama kali melakukan gerakan amaliah dari surat al-ma’un, dengan menyantuni yatim piatu, fakir miskin dan anak terlantar telah memberi contoh dengan mewakafkan  harta bendanya untuk menunjang gerakan tersebut. Rumah beliau sebagai tempat untuk belajar, tabungan dan sebagian harta benda untuk pembiayaan pendidikan yang beliau dirikan, termasuk salah satu bentuk wakaf yang menjadi semangat gerakan Muhammadiyah.

Dengan suri tauladan dari pendiri gerakan Muhammadiyah tersebut, kini Muhammadiyah memiliki amal usaha yang berkembang dengan pesat baik bidang pendidikan, kesehatan maupun lainnya. Dalam ketentuan yang tertulis di HPT bahwa sesungguhnya semua AUM yang dikelola oleh Muhammadiyah merupakan wakaf dari umat yang dipercayakan kepada Muhammadiyah.

Dalam rubrik mentari edisi ini, akan kita bahas pedoman wakaf yang dapat pembaca lihat dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah dalam “Kitab Wakaf”.

Pengertian dan Dalil

Wakaf, dalam bahasa arab berarti habs (menahan) artinya menahan harta yang memberikan manfaatnya dijalan Allah. Dari pengertian itu kemudian dibuatlah rumusan pengertian wakaf menurut istilah, yaitu “perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadat atau kerpeluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam” (Kompilasi Hukum Islam, Buku III, Bab I, Pasal 215).

Adapun dalil-dalil sebagai anjuran melakukan wakaf antara lain adalah:

  1. Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 92:

لـَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ وَ مَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْئٍ فَاِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيْمٌ

Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran / 3 : 92)

  1. Hadits riwayat Muslim dari Ibnu ‘Umar ra :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّى أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِى مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُنِى بِهِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا ». قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُبْتَاعُ وَلاَ يُورَثُ وَلاَ يُوهَبُ. قَالَ فَتَصَدَّقَ عُمَرُ فِى الْفُقَرَاءِ وَفِى الْقُرْبَى وَفِى الرِّقَابِ وَفِى سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ (رواه مسلم)

Artinya : “Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, dia berkata: Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu dia datang kepada Nabi saw untuk meminta pertimbangan tentang tanah itu, kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhya aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, dimana aku tidak mendapatkan harta yang lebih berharga bagiku selain dari padanya; maka apakah yang hendak engkau perintahkan  kepadaku sehubungan dengannya? Rasulullah saw berkata kepada Umar: Jika engkau suka tahanlah tanah itu dan engkau sedekahkan manfaatnya. Lalu Umar pun menyedekahkan manfaat tanah itu dengan syarat tanah itu tidak akan dijual, tidak akan dihibahkan dan tidak akan diwariskan. Tanah itu dia wakafkan kepada orang-orang fakir kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, Ibnu sabil, dan tamu, dan tidak ada halangan bagi orang yang mengurusnya untuk memakan sebagian darinya dengan cara yang ma’ruf dan memakannya tanpa menganggap bahwa tanah itu miliknya sendiri.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, II: 13-14)

Ketentuan – ketentuan Wakaf

1. Orang yang berwakaf akan mendapat pahala jariyah (pahala yang tidak akan putus)

Hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا مَات الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم)

Artinya : “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga, yaitu: Sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akan kepadanya.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, II: 14)

2. Barang yang diwakafkan tidak berhak untuk diambil kembali kecuali sebagai orang lain yang hanya berhak menggunakannya saja. Berdasar pada dalil di atas (HR. Muslim, Shahih Muslim, II: 13-14).

3. Barang yang sudah diwakafkan tidak boleh dijual, diberikan dan tidak boleh diwariskan. Dapat dilohat pada  (HR. Muslim, Shahih Muslim, II: 13-14)

4. Tidak diperkenankan memberi batas waktu terhadap barang yang sudah diwakafkan, tetapi diperbolehkan menentukan kepada seseorang atau golongan atau masjid dengan mempertimbangkan kemaslahatan benda wakaf. Berdasar (HR. Muslim, Shahih Muslim, II: 13-14)

5. Tidak boleh mewakafkan barang yang semata-mata menjadi larangan Allah atau yang menimbulkan fitnah.

6. Batas maksimal barang yang diwakafkan adalah sepertiga dari harta kekeyaan yang dimiliki.

لِحَدِيْثِ سَعْد بْنِ وَقَّاصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا ذُو مَالٍ وَلاَ يَرِثُنِي إِلاَّ ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي ؟ قَالَ: لاَ. قُلْتُ : أَفَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ؟ قَالَ : لاَ. قُلْتُ: أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثِهِ ؟ قَالَ: الثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya : Menilik hadits Sa’ad bin abi waqash r.a, bahwa ia menanyakan: “Hai Rasulullah, aku seorang yang mempunyai harta benda, warisku hanya seorang anak perempuan, bolehkah aku sedekahkan dua-pertiga harta bendaku?”.  Nabi saw. menjawab: “Jangan!. Aku bertanya pula: ” Bolehkah aku sedekahkan separuh dari harta bendaku?”.  Nabi saw. menjawab: “Jangan!. Aku bertanya lagi: “. Bolehkah aku sedekahkan sepertiganya?”. Jawab Nabi saw.: “Sepertiga itu sudah banyak; sesungguhnya jika engkau tinggalkan ahli warismu menjadi orang berkecukupan itu lebih baik dari pada engkau tinggalkan mereka menjadi orang miskin yang meminta-minta kepada orang”. (HR. Bukhari dan Muslim).

7. Nadlir sebagai orang atau anggota badan atau penguasa waqaf, wajib memelihara barang wakaf sesuai dengan maksud orang yang berwaqaf, serta mempergunakan sebagaimana mestinya, dengan kepada Allah dan berusaha memperbanyak faedah dari barang waqaf tersebut.

8. Dibolehkan bagi waqif,  kalau barang waqaf itu sudah lapuk atau rusak dipergunakan untk lainnya yang serupa atau dijual dan dibelikan barang lain untuk meneruskan waqafnya.

9. Kalau seseorang menerima uang untuk waqaf atau mendapati barang waqaf yang tidak tertentu, yang berwaqaf (waqifnya) tidak menentukan, hendaklah wakif mempergunakan sebagai ‘amal jariyah yang sebaik-baiknya, jangan sampai benda-benda waqaf  itu tertimbun menjadi kanaz (timbunan) yang terkutuk.

10. Diperbolehkan, wakif yang mengurus dan menjaga barang-barang waqaf itu diberikan gaji yang diambilkan dari hasil yang didapat dari waqaf itu, atau diikhtiarkan sumber bantuan lainnya.

Program Wakaf
Menabung Pahala Ayo Berwakaf (Sumber gambar : Klik disini)

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...