Transformasi Pendidikan Muhammadiyah di Era Revolusi Industri Baru

Gambar Transformasi Pendidikan Muhammadiyah di Era Revolusi Industri Baru
Fuad Hasyim, S.S, M.A
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Yogyakarta, Dosen Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia, Pimpinan Redaksi Majalah Mentari

IKHTISAR

Muhammadiyah telah menapaki usianya ke-107 tahun. Sungguh, tidak ada satupun organisasi di negara ini yang masih sesegar dan sedinamis Muhammadiyah dalam kurun usia setua ini. Hal ini adalah bukti, bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang sehat dan bervisi visi kuat dalam mengabdi sepanjang hayatnya. Dalam rentang masa itu, Muhammadiyah telah banyak mengecap asam dan garam kehidupan berbangsa dan negara. Alhasil, Muhammadiyah kian tumbuh dewasa dan kokoh menghadapi dinamika drama kehidupan ini. Dengan segudang pengalaman tersebut, pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa ini pun semakin besar pada semua lini kehidupan, yang barangkali tidak mampu disentuh oleh penguasa negeri ini.

A. PENDAHULUUAN

Tema Milad Muhammadiyah pada tahun yang lalu, yaitu “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, telah meneguhkan kembali apa yang telah diperjuangkan Muhammadiyah kepada bangsa dan negara selama ini. Di tengah kehidupan dunia yang semakin pragmatis, Muhammadiyah seakan mengingatkan agar manusia senantiasa sadar untuk  menggunakan akal budi dan mampu berperan sebagai khalifah bagi kemakmuran bumi. Tida hanya itu, pendayagunaan akal budi juga menjadi ciri generasi yang cerdas untuk mampu mengantisipan tantangan masa depan yang tidak dapat diprediksikan. Sekaligus, dengan akal budi, umat diharapkan tidak terjebak pada narasi- narasi perpecahan yang dihembuskan oleh segelintir kelompok yang dikuasi oleh nafsu, harta dan kuasa.

Komitmen tersebut telah menunjukkan bahwa Muhammadiyah selalu sadar untuk berpijak pada amanat para pendiri bangsa, para founding fathers yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan pijakan yang kokoh tersebut, Muhammadiyah tidak akan lalai, bahkan hanyut dalam irama zaman yang menyesatkan. Hal inilah yang banyak dilupakan oleh para putra bangsa, karena tidak sedikit diantara mereka yang menjadi budak kekuasaan dengan menggadaikan persaudaraan, cita luhur, dan kemuliaan agama. Maka jadilah, setiap tutur kata dan tindakan mereka hanyalah suara sumbang dari orang yang mabuk dengan nafsu kuasa.

Jika realitas ini terus kita pertahankan maka kebangkrutan bangsa hanyalah soal waktu. Padahal, masa depan dunia sedang tumbuh dengan revolusi industri yang terus berubah. Satu era yang menuntut pribadi yang adaptif, solid, dan memiliki akhlak yang mulia. Jika tidak, maka kita harus siap untuk karam ditelan gelombang zaman yang tidak pernah bisa perhitungkan. Dalam konteks inilah, Muhammdiyah memiliki tekad kuat pada pengembangan kualitas bangsa dengan mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan, ekonomi, kesehatan dan pelayanan sosial lainnya. Inilah saatnya kita berfikir untuk memberi, bukan menuntut, apalagi mengemis demi sejumput syahwat dunia.

B. TRANSFORMASI TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN

Saat ini, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dengan kehadiran teknologi informasi digital, maka industri pun berubah dengan sangat cepat. Informasi bisa didapat di mana saja dan kapan saja dari berbagai belahan dunia. Melalui sebuah gawai telefon pintar, manusia dapat melakukan apa yang mereka suka; nonton video, bayar tagihan, pesan tiket, beli makan, bahkan belajar atau kursus secara daring. Sebagian besar kelompok masyarakat yang memanfaatkan kemajuan tersebut adalah anak muda yang akan menjadi penentu masa depan sebuah bangsa.

Inilah relevansinya, kenapa Muhammadiyah menggugah kembali pentingnya semangat “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Secara internal, Muhammadiyah juga tengah melakukan refleksi atas “kecerdasan” diri dalam menghadapi arus perubahan tersebut. Terlebih pada sektor- sektor yang selama ini menjadi perhatian Muhammmadiyah, yaitu: dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pelayanan sosial.

Pada sektor pendidikan, aspek internal Muhammadiyah harus melakukan pembenahan sistem, infrastruktur, dan kurikulum pendidikan. Wacana “Merdeka Belajar” yang didengungkan menteri pendidikan dan kebudayaan adalah isyarat perubahan yang sedang diusung oleh sang menteri. Ini harus disambut oleh Muhammadiyah untuk mereposisi dan mentransformasi pendidikan yang lebih dinamis, merdeka, luwes, progresif  tetapi bermutu.

Masa Depan Pendidikan yang Membebaskan dan Mencerdaskan

Wacana “Merdeka Belajar” yang digaungkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim cukup menghentak dunia pendidikan kita. Banyak orang bertanya, setelah Kurtilas (Kurikulum 2013) belum juga tuntas diimplementasikan oleh semua sekolah, perubahan apalagi yang hendak pemerintah wujudkan? Tidak hanya di basis akar rumput, wakil rakyat di komisi pendidikan pun tidak banyak yang paham akan wacana sang menteri. Dari pemberitaan di media kompas digital dapat kita ketahui bahwa gagasan “Merdeka Belajar” dari mantan bos Gojek itu pada tahap pertama adalah empat kebijakan strategis yang meliputi kebebasan sekolah dalam; melaksanakan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional), UN (Ujian Nasional), Penyederhanaan administrasi RPP (Rencana Pelaksanaan Pembebelajaran), dan sistem Zonasi Sekolah. Semetara pada tahun berkutnya diikuti dengan episode kedua, yaitu “Kampus Merdeka”. Pada fase ini akan meliputi pembukaan program studi baru, sistem akreditasi perguruan tinggi, Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, dan hak belajar tiga semester di luar program studi. Baca (Kasih, 2021,”Mendikbud Nadiem: 8 Program Prioritas Merdeka Belajar di Tahun 2021″,: https://www.kompas.com/edu/read/2021/01/06/065358771/mendikbud-nadiem-8-program-prioritas-merdeka-belajar-di-tahun-2021).

Sekilas, kebijakan tersebut seperti kabar gembira bagi penyelenggara pendidikan. Selama ini, empat hal tersebut memang terbukti menjadi beban yang memasung kreatifitas sekolah dalam mengembangkan pendidikan sesuai dengan potensi tiap satuan pendidikan. Namun pertanyaannya, apakah mengusung kebebasan belajar akan berdampak pada mutu pendidikan yang mencerdaskan? Atau justru sebaliknya?

Terobosan yang dilakukan oleh Mendikbud tersebut berangkat dari kesadaran akan tantangan masa depan yang terus berubah. Perubahan tersebut berdampak pada perubahan kebutuhan SDM di masa akan datang. Berkali-kali menteri Nadiem menyampaikan adanya kesenjangan yang lebar antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan di dunia industri. Hal ini menyiratkan tidak pahamnya para penyelenggara pendidikan akan perubahan-perubahan yang terjadi di industri masa kini.

Kita telah menyaksikan saat ini, bahwa Era teknologi informasi telah menhadirkan revolusi industri baru yang penuh dengan disrupsi. Perubahan- perubahan telah menggulung logika dan narasi industri lama. Dalam ranah pendidikan, perubahan ini juga menciptakan disrupsi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Terkait hal itu, Khoiruddin Bashori menegaskan bahwa revolusi industri baru di era milenial telah menciptakan tatanan kehidupan yang interconnected, terbuka, dan penuh dengan kompetisi. Realitas ini memberikan tantangan baru bagi lembaga pendidikan dalam menciptakan generasi baru berbasis teknologi, tetapi  juga karakter positif yang kuat.

“Menghadapi hal demikian, memang dibutuhkan karakter yang kuat dalam menyelesaikan semua masalah dan rintangan. Kalau tidak, dalam persaingan pasti akan runtuh. Di satu sisi, kalau karakter sebagai wirausahawan sudah terbangun, namun tidak mau menggunakan alatnya, maka ia tidak akan berani bersaing”. Ungkap Khoirudin Bashori, Pegiat Pendidikan Muhammadiyah.

Memenangkan kehidupan di era disrupsi tidaklah sekadar penguasaan teknologi. Hal ini karena perkembangan teknologi telah menciptakan perubahan nilai kehidupan bermasyarakat. Tantangan kehidupan di era industri baru tentu akan semakin berat. Hal ini ditandai dengan berkurangnya interaksi antarmanusia. Peran manusia telah tergantikan oleh mesin berbasis digital. Sementara, pergeseran nilai juga terjadi dengan orientasi hidupan manusia yang semakin condong pada dimensi keduniaan. Kompetensi yang dibutuhkan tentu saja kompetensi paripurna.

Dengan merujuk pada pembukaan UUD 1945, kita semestinnya sadar bahwa salah satu tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Demikian halnya dengan pendidikan kita juga harus mampu mewujudkan kehidupan berbangsa yang cerdas, yang mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang dibawa oleh zaman. Dalam pidato Milad Muhammadiyah ke-107, Ketua Umum PP. Muhammadiyah menegaskan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas utama Pemerintahan Indonesia. Cerdas berarti sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir, mengerti, dan tajam pikiran; serta sempurna pertumbuhan tubuhnya menjadi sehan dan kuat. Secara universal, mecerdaskan memiliki dimensi individu, sosial dan budaya. Yakni terciptanya peradaban maju dan tercerahkan.

Dengan demikian, tantangan pendidikan nasional kita adalah menciptakan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas unggul, manusia Indonesia yang berkaraktier utama dan berkecerdasan tinggi. Lantas, pendidikan seperti apakah yang kiranya mampu mewujudkan generasi ungguk tersebut? Apakah pendidikan “merdeka” ala menteri pendidikan adalah jawabannya?

Muhammadiyah adalah salah satu insitusi penyelenggara pendidikan terbesar di Indonesia. Konon, lembaga pendidikan tinggi yang dimiliki Muhammadiyah jauh lebih banyak dibanding milik negara. Jadi, tidak perlu dibandingkan dengan lembaga swasta lain dari segi jumlah sekolah dan perguran tinggi yang dimiliki.

Namun demikian, Muhammadiyah harus reflektif dan jujur, berapa lembaga pendidikan Muhammadiyah yang telah siap menghadapi era industri baru yang disruptif. Kecuali itu, apakah pendidikan berbasis agama masih relevan dengan semangat industri di masa akan datang? Menjawab pertanyaan itu, Khoiruddin Bashori meyakini bahwa pendidikan yang memiliki porsi besar dalam pendidikan agama justru merupakan kekuatan dan nilai tambah. Dengan catatan, sejauh konten keagamaan yang diajarkan harus sarat dengan nilai- nilai yang berlaku di tengah masyarakat saat sekarang.

Nilai- nilai agama yang kontekstual tersebut akan memberikan kekuatan pada setiap individu. Salah satu contoh nilai yang harus diajarkan dalam pendidikan agama adalah produktifitas yang diambild ari sifat Allah yang maha pencipta. “Kalau semangat berkreasi ini diendorse sejak kecil maka orang yang tidak berkarya pasti tidak bisa tidur.  Dengan demikian, semangat berkarya harusnya menjadi tujuan hidup karena ini sejalan dengan ajaran islam untuk bermanfaat bagi orang lain. Jadi agama sangat dibutuhkan asal diajarkan dengan relevan. Kita juga tahu peran manusia sebagai khalifah adalah memakmurkan dunia, bagaimana memakmurkan kalau tidak mencipta sampai kapanpun.” Ujar Pak Irud.

C. PENUTUP

Untuk menghadapi cepatnya perubahan era baru yang tidak dapat diprediksikan ini, Muhammadiyah perlu menetapkan arah visi baru pendidikannya. Namun, arah tersebut harus berpijak pada khittah perjuangan dakwah Muhammadiyah. Sekolah atau madrasah Muhammadiyah harus berorientasi pada learning outcome dan bukan hanya sekedar learning output. Kembali kepada kittah dimaknai bahwa PBM di sekolah/madrasah sebagai amal soleh setiap guru dan karyawan di sekolah Muhammadiyah. Oleh karena itu setiap guru wajib memberikan PBM dimana para siswa itu adalah anak kandung dakwah serta akademiknya.

UPDATE

Transformasi Pendidikan Muhammadiyah di Era Revolusi Industri Baru

IKHTISAR Muhammadiyah telah menapaki usianya ke-107 tahun. Sungguh, tidak ada satupun organisasi di negara ini yang masih sesegar dan sedinamis...

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan dan anggota,...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan rasul yang...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di kala amanah...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk ketika menghadapi lingkungan...