Tiga Model Penyantunan Muhammadiyah dan Industrialisasi Tahap Lanjut

Gambar Tiga Model Penyantunan Muhammadiyah dan Industrialisasi Tahap Lanjut
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Ada 3 ciri perjuangan Muhammadiyah, yaitu Muhammadiyah adalah gerakan Islam, Muhammadiyah adalah gerakan dak­wah Islam amar ma’ruf nahi munkar, dan Muhammadiyah adalah gerakan tajdid. Ciri perjuangan pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, banyak tampil dalam berbagai terbitan buku-buku dan majalah Muhammadiyah. Ciri perjuangan kedua, Muhammadiyah sebagai gerakan dak­wah Islam amar ma’ruf nahi munkar, memunculkan semangat penyantunan Muhammadiyah. Selanjutnya ciri perjuangan ketiga, Muhammadiyah sebagai gerakan Tajdid, memunculkan dua istilah yang mewakili tajdid Muhammadiyah, yaitu purifikasi (purification) berupa pemurnian agama dan reformasi (reformation) berupa pembaharuan. Adapun tulisan ini selanjutnya akan lebih mengupas penyantunan Muhammadiyah sebagai wujud dari ketiga ciri perjuangan itu, dan dimaksudkan sebagai kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Kader Muhammadiyah Peka Yang IPM”.

A. Penyantunan

Konsep penyantunan ini mengandung makna melibatkan diri pada usaha-usaha meringankan beban orang lain. Bahasa yang digunakan pada masa-masa awal Muhammadiyah ialah Penolong Kesengsaraan Oemoem yang disingkat PKO. Dalam perjalanannya praktik Penolong Kesengsaraan Oemoem ini bukan sekedar membuat rumah sakit, tapi  berbagai bentuk penyantunan yang berguna untuk meringankan beban orang lain. Bentuk penyantunan Muhammadiyah tersebut sampai sekarang dijalankan dengan tiga model, yaitu: 1. (Sekedar) memberi; 2. Mendidik; dan 3. Memberdayakan.

1. (Sekedar) Memberi

Model pertama penyantunan dalam Muhammadiyah untuk meringankan beban orang lain dalam bentuk aktivitas (sekedar) memberi. Melalui semangat bersedekah, infak, dan zakat, model ini dijalankan secara oleh warga dan pimpinan Muhammadiyah secara luas. Model ini adalah bentuk paling gampang dari penyantunan dan bisa dilakukan oleh siapa pun termasuk orang awam. Syarat terlaksananya penyantunan ini hanya satu, yaitu kemauan. Tanpa adanya kemauan, orang yang punya banyak kelebihan harta pun tak akan mau memberi kepada orang yang kekurangan. Namun, dengan adanya kemauan maka semangat bersedekah atau memberi bisa dijalankan meski yang bersangkutan kekurangan secara materi. Sebab meski tak ada barang yang bisa kita berikan, dalam Islam cukup dengan memberi senyuman merupakan kebaikan yang bisa diberikan kepada orang. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu terhadap saudaramu” (HR. Muslim)

Dalam skala tertentu penyantunan model (sekedar) memberi seperti ini memungkinkan munculnya kritikan. Kritik pertama adalah pada masalah pembelanjaan bantuan, bahwa dalam kenyataannya bantuan seperti itu seringkali tidak melahirkan semangat berproduksi dari warga yang disantuni, namun banyak dari uang santunan tersebut justru lari untuk melakukan konsumsi. Selanjutnya kritik lebih lanjut adalah munculnya potensi ketergantungan. Pada kenyataannya jika tidak terprogram secara baik, bantuan seperti ini bisa menimbulkan bahaya karena membuat penerima bisa selalu “njagakne” bantuan atau menjadi tergantung dengan bantuan.

Lepas akan adanya kritik tersebut dan berbagai kritikan lain, sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah terus melakukan pembaharuan model penyantunan yang pertama ini. Muhammadiyah menata cara penyantunan terhadap fakir miskin dan anak yatim, serta memperbaharui cara pengelolaan zakat fitrah dan zakat harta ben­da agar lebih tepat sasaran. Muhammadiyah mendirikan panti-panti asuhan dan pada akhirnya membuat LAZISMU untuk penyaluran zakat, infaq, dan shodaqoh secara lebih terorganisir. Hingga kini tulang punggung dari model penyantunan ini dalam gerakan Muhammadiyah adalah pada LAZISMU, panti asuhan, Posko Bencana MDMC, dan masjid-masjid Muhammadiyah melalui program-program bantuan.

2. Mendidik

Model penyantunan kedua yang dilakukan di Muhammadiyah untuk meringankan beban orang lain ialah dengan mendidik. Dalam hal ini, mendidik adalah sebuah usaha untuk mengubah pola hidup orang-orang yang dididik agar dapat memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dengan sebaik-baiknya untuk mengatasi masalah-masalahnya. Tanpa pendidikan (atau pengetahuan) seringkali orang tidak bisa memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk mengatasi masalahnya. Sebagai contoh, penduduk di Kasongan Bantul pada awalnya membuat produk gerabah hanya berfungsi untuk keperluan rumah tangga sehingga penghasilan mereka sangat minim. Baru ketika mereka dididik untuk mengembangkan gerabah sebagai barang seni maka pendapatan mereka pun menjadi lebih besar.

Seringkali penyantunan model kedua ini dihubungkan dengan modernisasi, yaitu upaya untuk mengubah pola hidup trdisional menjadi pola hidup sesuai zaman modern dengan memanfaatkan teknologi modern. Sekilas yang demikian bermakna kemajuan, namun dalam pandangan kritis modernisasi ini bisa dilihat sebagai upaya penaklukkan barat melalui penyeragaman budaya. Usaha-usaha mensosialisasikan kehidupan berteknologi tinggi bisa jadi cara barat untuk menjual teknologi mereka yang sudah kadaluwarsa sehingga proses industrialisasi kita terus ketinggalan dan tak pernah bisa bersaing karena di negara asalnya teknologi itu sudah digantikan oleh yang lebih canggih. Sebagai contoh mesin-mesin tenun kain yang masuk ke Indonesia pada awal alih teknologi pertekstian dulu, menggantikkan ATBM (alat tenun bukan mesin), adalah teknologi yang di luar negeri sudah ditinggalkan. Alhasil industri tekstil kita kalah bersaing, bahkan di pasar-pasar tekstil negeri sendiri.

Adanya pandangan kritis terhadap model penyantunan kedua ini menimbulkan kesadaran di kalangan Muhammadiyah untuk tidak begitu saja menerima ilmu pengetahuan terutama berkaitan dengan teknologi dari barat. Diterimanya kearifan tradisional sebagai sebuah ilmu yang mungkin dikembangkan dalam pendidikan di Muhammadiyah merupakan salah satu kesadaran tersebut. Contoh pratisnya antara lain seperti apa yang dilakukan oleh MPM PP Muhammadiyah dalam mengembangkan pola pertanian organik yang ramah lingkungan melalui komunitas-komunitas petani binaannya. Di Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta kesadaran itu telah muncul, pelatihan pembuatan kue kering oleh MPM PDM Kota Yogyakarta sudah mengenalkan kue berbahan Mokaf yaitu tepung yang berasal dari ketela.

3. Memberdayakan

Model penyantunan ketiga yang dilakukan oleh Muhammadiyah untuk meringankan beban orang lain ialah dengan memberdayakan. Model penyantunan ini  berangkat dari kesadaran bahwa seringkali persoalan yang timbul itu bukan karena faktor pribadi orang yang bermasalah tetapi karena faktor-faktor dari luar. Sebagai contoh seorang petani yang tetap miskin dan tidak bisa berkembang itu tidak mesti karena ia malas atau tak berpendidikan. Bisa jadi karena ada kekuatan di luar dirinya yang memain-mainkan harga pupuk, ketersediaan bibit unggul, atau pemasaran hasil pertanian.

Kunci pemberdayaan adalah penyadaran hak hidup dan berkembang sekelompok orang yang tidak boleh diambil oleh orang atau kelompok lain yang lebih berkuasa, baik kekuasan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Cara-cara pemberdayaan bisa berupa pengorganisasian, pelatihan advokasi menuntut hak, pembuatan jaringan kerja, dan pengembangan prosedur kerja alternatif. Tujuan pemberdayaan adalah penguatan orang atau kelompok untuk bisa mandiri atau berdikari.

Meskipun pemberdayaan ini kesannya pemahaman hak berhadapan dengan orang lain, namun tak melupakan pendidikan dalam artian pelatihan untuk penguatan pribadi. Tentu ada perbedaan pendidikan dalam pemberdayaan yaitu pelatihan itu dengan mendidik pada cara kedua di atas. Mendidik pada cara kedua merupakan usaha untuk mengubah pola hidup untuk menyesuaikan dengan arus zaman (misalnya pendidikan di zaman modern diartikan modernisasi yaitu mengubah pola hidup tradisional menjadi pola hidup modern), sehingga mereka yang dididik merasa perlu modal baru (berupa teknologi yang harus dibeli) untuk memenuhi prosedur kerja baru. Karena itu seiring dengan pendidikan itu dimasukkan gagasan pentingnya hutang atau kredit untuk membeli teknologi dan menjalankan prosedur kerja baru sebagaimana dididikkan.

Pendidikan dalam pemberdayaan dimulai dengan pemahaman modal-modal yang dimiliki untuk bisa kuat secara mandiri. Pemberdayaan tidak mesti mengubah pola hidup dari tradisional ke modern, namun bisa saja berupa pengembangan yang tradisional itu sehingga bisa lebih bersaing ketimbang yang modern. Kalau mendidik dilakukan dengan mengajarkan pengetahuan kepada objek didik oleh orang luar, sedang pemberdayaan dilakukan dengan memunculkan manusia-manusia pembelajar yang terus belajar untuk memahami kekuatan dirinya dan terus menguatkan diri untuk secara mandiri. Kalau dalam pendidikan fasilitator dari orang luar berfungsi sebagai guru, maka dalam pemberdayaan fasilitator dari orang luar berfungsi sebagai mitra.

Pelatihan pembuatan kue berbahan Mokaf sesungguhnya sudah bisa masuk kategori pemberdayaan karena telah menawarkan prosedur alternatif menggunakan bahan yang ada di sekitarnya. Penggunaan kue dengan bahan gandum sangat tergantung dengan impor gandum dari negara lain, sementara mokaf berasal dari hasil pertanian negeri kita sendiri dan dihasilkan oleh petani-petani kita sendiri. Lebih-lebih lagi jika para pembuat kue bisa diorganisir untuk lebih punya daya dobrak dalam mensosialisasikan pentingnya bahan yang berasal dari ketela itu, serta membentuk koperasi produsen mokaf maka pemberdayaan ini akan lebih menguatkan lagi.

Pengorganisasian adalah salah satu hal yang penting dalam pemberdayaan. Ketika berbicara pengorganisasian ini tak perlu masuk pada romantisme pendirian Syarikat Dagang  Islam (SDI), meski SDI itu merupakan suatu contoh penting proses pemberdayaan pedagang pribumi. Sebab romantisme zaman bergerak (meminjam istilah Takashi Shiraishi) itu justru akan memberi beban ideologis yang terlalu besar bagi upaya penyantunan ini sehingga mengurangi semangat pemberdayaannya.

Pengorganisasian dalam pemberdayaan ini sesungguhnya bisa masuk melalui koperasi yang diakui oleh pemerintah sebagai badan usaha mewakili perekonomian rakyat. Berbagai fasilitas pemerintah untuk koperasi bisa dimanfaatkan untuk model penyantunan Muhammadiyah ini, asal dilakukan secara profesional dan bisa dipertanggungjawabkan. Banyak sekali koperasi sekarang ini hanyalah koperasi papan nama, karena hanya tinggal papan namanya saja. Beberapa koperasi di Muhammadiyah dan Aisyiyah alhamdulillah masih banyak yang berjalan, meski banyak yang kurang efektif gerakannya.

Pengorganisasian di tingkat ranting Muhammadiyah, bisa dikaitkan dengan Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah. Sebagai contoh pemberdayaan tukang becak di PRM Nitikan dikumpulkan menjadi suatu jamaah berbasis profesi dengan tempat mangkal di Nitikan. Namun sebenarnya basis jamaahnya tidak melulu profesi, tapi juga bisa berbasis hobi. Pemberdayaan berbasis hobi bisa dikembangkan dengan melahirkan pasar kaget. Misalnya klub senam atau jalan sehat disinergikan dengan mengumpulkan pedagang-pedagang kecil di lokasi kegiatan sehingga menimbulkan efek pemberdayaan.

B. Industrialisasi Tahap Lanjut

Kalau dalam masa industrialisasi awal Muhammadiyah keluar dari budaya agraris dengan semboyan “Islam Berkemajuan” maka pertanyaannya, semboyan apa yang cocok untuk Muhammadiyah di zaman yang telah keluar dari industrialisasi awal dan bergerak pada industrialisasi tahap lanjut? Begitu pertanyaan Profesor Kuntowijoyo pada tahun 1995 menjelang Mukhtamar Muhammadiyah dilaksanakan.

Kuntowijoyo menawarkan beberapa pekerjaan pokok yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah untuk menjawab tantangan zaman industrialisasi tahap lanjut. Salah satunya adalah konkretisasi, yaitu upaya penerjemahan ajaran-ajaran Islam tentang akhlak yang dirasakan terlalu abstrak menjadi lebih konkret. Dengan kata lain bahasa agama harus diterjemahkan dalam bahasa kehidupan sehari-hari. Tentu saja, menurut Kuntowijoyo, pekerjaan ini mengandung resiko sebab bagaimana Islam yang abadi dan universal dapat terkait dengan masalah yang sementara dan setempat? Itu berarti Islam akan jadi agama yang terlibat, agama yang memihak, dan agama yang menjadi alat? Tetapi itulah resiko, memang Islam adalah agama yang terlibat dalam pertarungan yang ma’ruf dan yang munkar, Islam adalah agama yang memihak pada nur, dan Islam adalah senjata ideologis orang mukmin.

Disadari atau tidak, masuknya Muhammadiyah dalam gelanggang perjuangan anti korupsi adalah wujud menjalankan pekerjaan konkretisasi tersebut. Pembentukan Satgas Muda Jogja Anti Korupsi di PDM Kota Yogyakarta yang setiap bulan menggelar Forum Muraqabah keliling PCPM/PCNA menyebarkan Islam yang konkret melawan korupsi lewat mimbar ceramah bakda shalat asyar di Masjid-Masjid Muhammadiyah. Nama Muraqabah sendiri adalah semangat mengingatkan kepada kita semua bahwa Allah selalu mengawasi apa-apa yang kita lakukan. Meskipun baru pada tahap awal, tetapi dengan niat yang ikhlas dan kesungguhan dari anak-anak muda yang terlibat di dalam gerakan anti korupsi ini, kita punya harapan yang besar. Semoga setelah ini semakin banyak pekerjaan konkretisasi ini yang bisa dilakukan oleh kader-kader Muhammadiyah lebih lanjut.

Konsep penyantunan ini mengandung makna melibatkan diri pada usaha-usaha meringankan beban orang lain
Konsep penyantunan ini mengandung makna melibatkan diri pada usaha-usaha meringankan beban orang lain (Sumber gambar : Instagram @pdmjogja)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah PDM Kota Yogyakarta Bulan 2 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait