Taubat yang Diterima & Ditolak [Madarijus Salikin]

Allah Maha Penerima Taubat, dan oleh karenanya akan menerima taubat siapa pun yang bertaubat. Tetapi, sebagaimana doa, taubat pun ada yang tertolak. Para ulama saling berbeda pendapat, apakah di antara berbagai macam dosa, ada dosa yang taubatnya tidak diterima ataukah taubat dari dosa apa pun diterima?

Allah SWT sendiri di dalam kitab suci al-Quran menyatakan bahwa ‘Dia’ adalah Tuhan yang Maha Penyayang, sehingga Dia akan menerima taubat orang-orang yang melakukan pelanggaran terhadap pelanggaran terhadap – larangan-larangan-Nya.

Secara garis besar, semua bentuk pelanggaran tersebut akan diampuni oleh Allah SWT selama memenuhi tiga persyaratan, yaitu berhenti dari perbuatan jahat, menyesali sungguh-sungguh perbuatan yang dilakukan, dan tidak akan mengulanginya pada masa yang akan datang.

Di dalam Surah An-Nisa, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan, kemudian segera bertaubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

“Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, ”Saya benar-benar bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) dari orang-orang yang meninggal sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan azab yang pedih.” Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam QS an-Nisa’/4 : 18,

 “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” [QS an-Nisa’/4 : 18]

Ayat di atas paling tidak mengandung tiga perkara. Satu perkara berkaitan dengan diterimanya taubat dan dua perkara lainnya berkaitan dengan taubat yang ditolak.

Pertama, mereka yang diterima taubatnya adalah yang melakukan kejahatan, lalu menyadari kejahatannya dan segera bertaubat.

Mayoritas para ahli tafsir menegaskan bahwa arti segera di dalam kalimat tersebut berarti secepatnya bertaubat setelah melakukan kejahatan sebab orang yang cerdas adalah mereka yang segera bertaubat setelah melakukan kejahatan, tidak mengakhirkannya karena dapat menyebabkan hatinya bertambah keruh, jiwa menjadi lemah, dan dipermainkan hawa nafsu, disamping setiap orang tidak mengetahui kapan ajalnya tiba.

Kedua, Allah SWT tidak menerima taubat seorang hamba yang dilakukan menjelang ajal tiba. Mereka yang terbiasa bergelimang dosa tanpa penyesalan dan kemauan bertaubat selama hidupnya memanfaatkan kesempatan (bertaubat) dalam kesempitan (datangnya ajal), namun Allah SWT menolaknya dengan alasan taubatnya dilakukan dalam kondisi darurat, bukan dalam kondisi normal dan banyak pilihan.

Allah SWT mengulang beberapa kali firman-Nya dalam kasus tersebut, salah satunya berkaitan dengan Fir’aun,

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: ”Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang- orangyang berserah diri (kepada Allah)”. [QS Yunus/10 : 90]

taubat

Ketiga, mereka yang tidak diterima taubatnya adalah orang-orang yang telah mati dalam kekafiran atau tidak membawa keimanan. Hal tersebut karena kematian berarti penutupan pintu harapan perbaikan disamping kekafiran berarti peniadaan eksistensi Tuhan.

Dalam ayat tentang kekafiran (kemusyrikan), Allah SWT berfirman,

 “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang memersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesatsejauh-jauhnya. ” [QS an-Nisa’/4 : 116]

Maka senyampang Allah SWT masih memberikan umur dan kesehatan, hendaknya seorang mukmin menyegerakan diri menuju ampunan Allah dengan bertaubat dan meminta maaf kepada sesama sebelum pintu taubat benar-benar tertutup baginya. Hal tersebut karena menyegerakan taubat merupakan salah satu karakter orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana firman-Nya,

”Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS Ali ‘Imran/3 : 133]

Mayoritas ulama menyatakan, bahwa taubat harus dilakukan untuk setiap dosa, oleh siapa pun yang ingin mendapatkan maghfirah dari Allah. Setiap dosa memungkinkan untuk dimintakan ampunan dengan bertaubat. Ada juga sebagian ulama yang mengatakan, bahwa taubat ‘sang pembunuh’, baik pribadi maupun kolektif tidak akan pernah diterima oleh Allah. Inilah pendapat ulama, termasuk pendapat Abdullah bin Abbas dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal. Bahkan Abdullah bin Abbas harus berdebat dengan rekan-rekannya, yang mengatakan, “Bukankah Allah telah befirman dalam QS al-Furqan/25 : 68-70, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan ‘dia’ akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang- orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka dar itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Abdullah bin Abbas menyanggah, bahwa ”ayat ini berkaitan dengan perbuatan di masa Jahiliyah“. Pasalnya, ada beberapa orang musyrik yang dulu pernah melakukan tindak pembunuhan dan juga pernah berzina. Lalu mereka menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihiwa Sallam, seraya berkata, “Apa yang engkau serukan itu benar-benar bagus. Andaikan saja engkau memberitahukan kepada kami tentang suatu tebusan dari apa yang pernah kami lakukan”. Maka turunlah ayat ini. Jadi, ayat ini berkenaan dengan diri mereka. Sementara dalam QS an-Nisa’ telah disebutkan firman Allah,

 ‘Dan, barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah (nereka) Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya’.

Kesimpulan sederhananya, “jika seseorang mengetahui (memahami) Islam dan syariatnya, lalu dia membunuh dengan sengaja, maka balasannya adalah (nereka) Jahannam.”

Menurut para ulama ini, karena membunuh orang Orang yang beriman secara sengaja tidak bisa diterima dan tidak ada cara untuk meminta pembebasan darinya, apalagi mengembalikan nyawanya. Taubat dari hak manusia tidak dianggap sah kecuali dengan salah satu dari dua cara ini. Sementara keduanya tidak bisa lagi dilakukan oleh pembunuh. Berbeda dengan harta, yang sekalipun pemiliknya sudah meninggal dunia, maka orang yang merampasnya masih bisa menyampaikan manfaat harta itu kepada pemiliknya yang sudah meninggal, dengan cara menshadaqahkannya.

Mereka juga berkata, “Kami tidak menolak pendapat bahwa syirik itu lebih besar dosanya daripada tindak pidana pembunuhan, dan taubat dari syirik itu masih bisa dilakukan. Tetapi taubat dari syirik ini berkait dengan hak Allah, dan memohon ampunan dari-Nya masih memungkinkan. Tetapi terkait dengan hak manusia, maka taubatnya tergantung pada pengembalian hak itu atau meminta pembebasan darinya.”

Sementara itu, mayoritas ulama yang berpendapat bahwa taubat dari dosa apa pun bisa diterima, berhujjah (berargumentasi) dengan firman Allah,

“Dan, sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih kemudian tetap di jalan yang benar.” [QS Thaha/20 : 82]

Jika pembunuh itu bertaubat, beriman dan beramal shalih, maka Allah akan mengampuni dosanya. Juga telah disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihiwa Sallam, tentang orang yang pernah membunuh seratus orang kemudian bertaubat, dan ternyata taubatnya itu diterima. Ada beberapa hadits lain yang menyatakan hal yang sama.

Mengenai QS an-Nisa’/4 : 93, yang menyatakan bahwa orang yang membunuh orang yang beriman secara sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahannam, banyak nash (teks) lain yang senada dan yang di dalamnya disebutkan ancaman seperti itu, seperti firman-Nya,

“Dan, barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan melanggar ketentuan- ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkan-Nya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.” [QS an-Nisa’/4 : 14]

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pun – dalam hal ini – bersabda,

 “Barangsiapa membunuh dirinya dengan sepotong besi, maka dengan besi yang tergenggam di tangannya itulah dia akan menikam perutnya dalam neraka Jahanam secara terus-menerus dan dia akan dikekalkan di dalamnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan meminum racun maka dia akan merasai racun itu dalam neraka Jahanam secara terus-menerus dan dia akan dikekalkan di dalam neraka tersebut untuk selama-lamanya. Begitu juga, barangsiapa membunuh dirinya dengan terjun dari puncak gunung, maka dia akan terjun ke dalam neraka Jahanam secara terus-menerus untuk membunuh dirinya dan dia akan dikekalkan dalam neraka tersebut untuk selama- lamanya.” [HR Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim, juz I, hal. 72, hadits no. 313]

Manusia saling berbeda tentang nash semacam ini. Di antara mereka ada yang mengartikannya menurut zhahirnya, bahwa pelakunya akan kekal di dalam neraka. Ini merupakan pendapat golongan Khawarij dan Mu’tazilah. Dalam hal ini pun mereka juga saling berbeda pendapat. Khawarij mengatakan, mereka itu sama dengan orang kafir, karena yang kekal di dalam neraka hanya orang kafir. Mu’tazilah berpendapat, mereka bukan orang-orang kafir, tetapi orang-orang fasik yang juga kekal di dalam neraka, jika mereka tidak bertaubat. Golongan lain berpendapat, siapa yang melakukannya yakin tentang pengharamannya, maka dia tidak mendapat ancaman ini (kekal di dalam neraka), sekalipun dia tetap mendapat ancaman masuk neraka.

Kemudian ada perbedaan pendapat tentang pembunuh yang bertaubat dan dia menyerahkan diri untuk dijatuhi hukuman setimpal (qishash). Apakah pada hari kiamat korbannya masih memunyai hak untuk menuntut atas dirinya?

Satu golongan berpendapat, pembunuh itu tidak lagi memunyai dosa yang haras ditanggungnya di hadapan korban pada hari kiamat, sebab memang hukum qishashlah yang harus diterapkan kepadanya. Hukuman merupakan tebusan bagi pelakunya. Dengan cara itu seakan-akan dia telah memenuhi hak warisan korban terhadap ahli warisnya dengan cara mengorbankan dirinya. Sebab tidak ada bedanya apakah seseorang memenuhi hak orang lain lewat dirinya atau wakilnya.

Golongan lain berpendapat, korban telah dizalimi dan kehilangan hak- haknya. Sementara dia juga tidak tahu apa yang terjadi setelah dia dizalimi, sekalipun kemarahan ahli warisnya dapat dipadamkan. Tetapi manfaat apa yang diperoleh korban? Hak dalam pidana pembunuhan itu ada tiga macam: Hak Allah, hak korban dan hak waris. Hak Allah tidak terpenuhi kecuali dengan taubat. Hak ahli waris bisa terpenuhi dengan meminta pelaksanaan hukuman sehubungan pembunuhan itu. Ada tiga pilihan untuk ini: Pelaksanaan qishash, ampunan tanpa disertai tebusan harta, dan tebusan harta. Sekalipun ahli waris sudah menerima tebusan dari pembunuh, hak korban belum terpenuhi secara total. Sebab bagaimana mungkin haknya sudah terpenuhi, jika ini merupakan salah satu dari tiga cara pemenuhan hak? Andaikata korban dapat berkata, “Janganlah kalian membunuhnya, karena aku akan menuntutnya sesuai dengan hakku pada hari kiamat”, namun nyatanya mereka membunuhnya, apakah dengan begitu hak korban dianggap gugur?

Setelah mencermati perdebatan ini, Ibnu Qayyim Jauziyah, menyatakan bahwa yang rajih (kuat) dalam masalah ini — menurut pendapat beliau — Wallahu Alam (Allah lebih mengetahui mana yang benar), jika pembunuh bertaubat sebagai pemenuhan terhadap hak Allah, dan dengan suka rela dia menyerahkan dirinya kepada ahli waris, agar dengan begitu dia dapat memenuhi hak korban, maka ‘dua hak’ telah dia penuhi. Kini tinggal hak korban yang belum terpenuhi, yang tentunya Allah tidak akan menyia- nyiakannya. Namun ampunan Allah yang diberikan kepada pembunuh sudah dianggap sebagai pengganti dari hak korban, sebab apa yang dialaminya juga tidak bisa dihalangi dengan membunuh pembunuhnya.

Taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nasuha) sudah cukup untuk menghapus dosa di masa lampau dan hal ini menjadi pengganti dari kezalimannya, sehingga dia tidak dijatuhi hukuman karena kesempurnaan taubatnya. Hal ini seperti orang kafir yang pernah memerangi Allah dan Rasul- Nya serta membunuh orang Muslim. Namun jika kemudian dia masuk Islam dan pengakuan keislamnya ‘diamalkan dengan sebenar-benarnya, maka Allah akan memberikan pengganti kepada korban yang dibunuhnya dan mengampuni orang kafir yang masuk Islam itu, karena keislamannya. Dia tidak dihukum karena pernah membunuh orang yang beragama Islam secara zalim. Jadi, ‘taubat’ yang menghapus dosa sebelumnya, termasuk juga para pembunuh yang dengan sengaja telah melakukan pembunuhan (sekalipun), menurut pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ‘sama’ seperti Islam yang menghapus dosa seseorang sebelum masuk Islam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait