Tata Kelola Teknologi Informasi dalam Pendidikan

Gambar Tata Kelola Teknologi Informasi dalam Pendidikan
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Andai teknologi automotif memiliki kecepatan yang sama dengan perkembangan teknologi informasi (TI), niscaya biaya parkir kendaraan bermotor akan lebih mahal dari harga kendaraannya sendiri. Demikian ungkapan yang fenomenal dari penemu windows, Bill Gates. Ucapan beliau bukan tanpa dasar. Dalam TI boleh dikatakan hampir setiap detik ditemukan hal-hal terbaru yang menjanjikan lebih ringkas namun berdaya guna yang dahsyat.

Kalau boleh dibandingkan dengan teknologi yang lain, TI ibarat deret ukur. Sedangkan teknologi yang lain hanya menyandang deret hitung. Deret ukur atau deret geometri adalah urutan bilangan di mana bilangan berikutnya merupakan perkalian dari bilangan sebelumnya.

Perhatikan barisan berikut : 2, 4, 8, 16, 32. Barisan tersebut merupakan deret ukur. Baris yang ke-5 adalah angka 32.

Perhatikan lagi barisan berikut : 2, 4, 6, 8, 10. Barisan tersebut merupakan deret hitung. Baris yang ke-5 adalah angka 10.

Bila kedua barisan tersebut merupakan bilangan bulat, maka perbedaannya cukup jauh pada baris ke-5. Deret geometri kecepatannya tiga kali lipat dari deret hitung. Itulah gambaran riil perbedaan TI dengan teknologi lainnya. Meskipun secara kronologis, TI datangnya belakangan. Teknologi industri muncul pada pertengahan tahun 1700 an. Teknologi komunikasi baru lahir sekitar tahun 1900 an.

Namun demikian revolusi TI mampu menyapu bersih tugas-tugas yang diemban oleh teknologi sebelumnya. Sekarang, teknologi apa yang tidak tersentuh TI?

Karena karakter TI yang demikian besar manfaatnya, bukan berarti diterima apa adanya tanpa melalui penyaringan. Pendidikan dianggap sangat tepat untuk memfilter kehadiran TI. Melalui pendidikan, diharapkan optimalisasi daya TI menjadi lebih bermanfaat. TI harus dikelola dengan benar. Manajemen TI mestinya menjadi lokomotif untuk membawa gerbong manajemen lain agar pendidikan dapat digapai dengan mudah.

Dalam sebuah lembaga pendidikan, manajemen siswa, manajemen kurikulum, manajemen administrasi, sudah jamak kita dengar dan dilakukan. Ada anggapan bahwa TI belum masanya untuk digarap dengan serius. Mereka lebih mementingkan manajemen yang sudah ada. TI masih diasumsikan milik pribadi. Inilah pandangan yang picik. Sebuah anggapan yang menyalahi kodrat manusia. Karena sesungguhnya manusia sangat senang pada hal-hal yang baru.

Kehadiran TI di sekolah harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Tata kelola TI sama dan sebangun dihadapan manajemen yang lain. Menganak tirikan manajemen TI, akan berakibat layanan informasi menjadi tersumbat. Sekolah sangat membutuhkan layanan informasi yang cepat dan akurat untuk mendukung transfer data.

Memang benar, tata kelola TI tidak hanya sekedar yang penting bisa beli. Cara seperti ini hanya memperlakukan TI seperti barang mati. Daya gunanya bersifat statis. Pengelolaan TI bukan hanya transfer yang bersifat kebendaan. TI juga meliputi sistim kerja, dan budaya. Dua hal inilah yang menjadikan tidak mudah dalam mengelola persoalan yang dihadapi.

Bila kita telusuri lebih jauh, pengelolaan tidak hanya sekedar sistim kerja, tapi juga keamanan. Ada 4 nilai yang melekat dalam menata TI.

Pertama, Perencanaan dan Pengorganisasian (Plan and organize)

Perencanaan dan pengorganisasian dalam bidang TI berbeda dengan bidang yang lain. Nilai yang tergandung dalam TI akan membawa implikasi terhadap bidang lainnya. Teknologi ini memiliki  ciri dan sifat tersendiri.

Perencanaan TI tidak hanya sekedar cara mengelola hard ware. Di dalam TI sebagaimana teknologi komputer, ada unsur lain yaitu : soft ware dan brain ware. Bahkan perlu juga memahami perkembangan karakteristik jaringannya. Soft ware dan hardware saling berhubungan erat. Keduanya saling terkait. Laju aplikasi TI yang demikian pesat harus diimbangi dengan kemampuan brain ware yang mumpuni. Butuh SDM yang handal dan memiliki motivasi yang tinggi terhadap perkembangan TI.

Setelah perencanaan, dibutuhkan pula pembagian tugas berdasarkan kompetensi. The righ man and the righ place, adalah pepatah yang pas. Sekolah bukan hanya membutuhkan SDM yang kompeten, namun perlu juga mengelola organisasi modern. Karena kekuatan sebuah lembaga tergantung pada sumber daya manusia dan sumber daya organisasi.

Kedua, Pengadaan dan Implementasi (Acquire and Implement)

Nilai investasi hendaklah sebanding dengan segi manfaat. Buat apa investasi besar tapi kurang bermanfaat, bahkan cenderung madharat. Atau investasi besar, tetapi segi faedahnya tidak berlangsung lama. Ingat, sifat dasar TI bosan dengan waktu. Hari ini modern belum tentu esok masih dikatakan modern.

Dengan perencanaan yang terukur antara pengadaan dan implementasi, maka akan menempatkan TI sebagagai mana fungsinya. Meminimalkan kesia-siaan.

Implementasi juga harus diukur dengan hasil yang hendak dicapai dalam pendidikan sesuai dengan visi dan misi sekolah. Visi dapat dicapai dengan misi yang realistis. Melaksanakan misi hendaknya dilakukan dengan program-program terukur. Perencanaan implementasi yang tepat akan menempatkan TI sebagaimana mestinya. Yaitu sebagai alat bantu.

Ketiga, Pengantaran dan Dukungan (Deliver and Support)

Saat ini, sangat lucu manakala ada barang tidak terhubung dengan user. Dengan dukungan TI yang fleksibel, mestinya user dapat memanfaatkan barang tersebut menjadi alat pembelajaran. Bahkan dengan sebuah hand phone yang sederhana, orang dapat memanfaatkan barang yang jaraknya jauh menjadi sebuah dokumen untuk saling berbagi lewat TI.

Dengan daya dukung yang kuat, TI bisa dimanfaatkan secara optimal. Dukungan bukan hanya berupa perkakas yang lengkap. Namun dukungan bisa datang dari rekan kerja atau orang lain. Support yang berupa dorongan, motivasi, himbauan sangat membantu dalam menyelesaikan masalah lewat TI.

Kisah kesuksesan google yang sebelumnya bernama googlo, berawal dari sebuah garasi yang tidak terpakai. Namun karena komitmen yang kuat, saling mendukung, tim perancang google bisa menuai keberhasilan seperti yang kita rasakan.

Keempat, Pengawasan dan Evaluasi (Monitor and Evaluate)

Fungsi manajemen tidak hanya terbatas pada nilai investasi dan cara-cara penggunaan. Fungsi yang lain seperti pengawan juga penting untuk mendapat perhatian dalam pengelolaan TI di sekolah. Pengawasan perlu dilakukan dalam alur perencanaan, proses dan hasil kegiatan. Dalam pelaksanaan kegiatan, pengawasan atau supervisi menjadi kata kunci untuk memperoleh keberhasilan. Karena dengan pengawasan, temuan kesalahan atau kekeliruan terhindar dari kefatalan.

Di akhir kegiatan, ada sebuah moment yang patut untuk dilakukan yaitu evaluasi. Dengan penilaian yang obyektif, yang sebelumnya telah ditetapkan ketercapaian indikator, evaluasi menjadi bagian yang sangat vital. Evaluasi hendaknya menjadi data untuk diolah, agar keputusan untuk melaksanakan langkah berikutnya menjadi akurat. Melakukan evaluasi yang teratur, akan menghasilkan produk yang unggul.

Pemanfaatan IT di sekolah Muhammadiyah tidak boleh dianak tirikan lagi
Pemanfaatan IT di sekolah Muhammadiyah tidak boleh dianak tirikan lagi (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 7 Tahun 2014, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait