Tantangan Penyelenggaraan Program Tahfidz Di Sekolah

Dalam salah satu hadistnya rasulullah pernah bersabda bahwa “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Hadist shahih ini menegaskan bahwa mempelajari dan menghayati al Quran, pada dasarnya, adalah kebutuhan setiap manusia. Selain itu, hadist tersebut juga menegaskan keutamaan al Quran yang harus dipelajari dengan berbagai pendekatan, dibaca hingga dihafalkan, kemudian diamalkan.

Namun demikian, upaya mempelajari dan mengamalkan al Quran tidak mungkin dilakukan seorang diri, apalagi pada usia dini. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah institusi yang memandu, mendukung, serta memotivasi seseorang untuk terus menerus mempelajarinya. Bahkan hingga tahap menghafalkannya. Kiranya, proses mempelajari al Quran dalam sebuah institutsi pendidikan ini bukan persoalan sederhana.

Sekalipun di sebuah institusi pendidikan Islam, termasuk Muhammadiyah, upaya menegakkan program mempelajari al Quran, khususnya tahfidz al Quran tidak serta merta didukung oleh semua komponen institusi pendidikan. Tantangannya tetap saja besar dan kompleks. Berpijak dari pengalaman beberapa program yang telah berjalan di beberapa sekolah, satu hal fundamental untuk mengawali program tersebut adalah tekad dan keberanian yang kuat. Apalagi, jika program yang diinginkan menyangkut eksistensi kurikulum standar sekolah. Terkait hal itu Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Pakel Progam Plus menegaskan perlunya keberanian menerobos pakem kurikulum standar “Pertama dimulai dari keberanian mengeluarkan kebijakan, harus  berani menerjang pakem kurikulum standar. Jika melihat program ini penting, seharusnya, sekolah berani menggambil sikap. Ini penting karena ada pelanggaran kurikulum yang mengatur hanya 2 jam pelajaran untuk pengembangan diri.” Dalam pengamatan reporter di lapangan, SD Muhammadiyah Pakel Program Plus telah menerapkan program tersebut semenjak tahun 1998. Program diterapkan dalam kurikulum intrakulikuler yang berdampak pada tambunya jam pelajaran sekolah. Sehingga, siswa harus mengikuti 48 jam pelajaran setiap pekannya.

Pada mulanya, dengan beban jam pelajaran yang cukup besar tersebut mendapatkan reaksi dari beberapa wali siswa, bahkan tidak semua unsur di sekilah satu pemahaman. Namun seiring berjalannya waktu dan manfaat yang dirasakan oleh para siswa, program ini justru telah menjadi keunggulan SD Muhammadiyah Pakel Program Plus. Menurut penuturan Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Pakel Progam Plus salah satu dampak yang tampak dari program tersebut adalah meningkatnya kepercayaan diri siswanya. “Dampaknya pada pembiasaan sholat dhuha menjadi lebih tertib. Saya kira yang bisa kita lihat pada kepercayaan diri anak- anak. Seperti untuk menjadi imam sholat di lingkungan masyarakat mereka. Lulusan kami menjadi andalan menjadi imam masjid.” Ujar Ibu Menik.

SD Muhammadiyah Pakel Program Plus merupakan salah satu pilot project penyelenggaraan program tahfidz al Quran di sekolah Muhammadiyah yang diinisiasi oleh LPP PDM Kota Yogyakarta. SD Muhammadiyah Pakel Program Plus dapat dikatakan sebagai pioneer program tahfidz al Quran karena telah berjalan sejak tahun 1998. Salah satu kekhasan program yang dikembangakan di sekolah tersebut adalah sistemnya yang diterapkan pada kegiatan intrakulikuler. Konsekwensi sekaligus tantangan terbesar dari konsep tersebut adalah alokasi dana serta komitmen yang tinggi dari guru kelas maupun guru agama. Sistem ini juga menuntut masing- masing guru kelas untuk menguasai target capaian hafalan yang diwajibkan di setiap kelasnya. “Jadi setiap guru dituntut menguasai hafalan setidaknya sesuai dengan target kelas. Walaupun yang lebih penting adalah kemampuan memberikan motivasi. Intinya tim guru harus sepakat dengan program tersebut, selanjutnya mampu menjelaskan kepada wali murid karena kegiatan ini berimbas pada jam pelajaran” Tegas Ibu Menik.

SD Muh Pakel
SD Muhammadiyah Pakel Program Plus dapat dikatakan sebagai pioneer program tahfidz al Quran karena telah berjalan sejak tahun 1998 (Sumber gambar : FB SD Muhammadiyah Pakel)

Penyelenggaraan program pembelajaran al Quran dibagi menjadi empat bagian yakni (1) Program Qiro’ah Wa Kitabah dimana kelas 1 harus selesai Iqra’ Jilid 6 sebagai salah satu syarat naik kelas dan harus sudah wisuda. (2) Program Tahfidz wisuda Juz 30 pada kelas 3 sehingga kelas 6 ditargetkan dapat menghafal minimal 2 juz secara utuh dan berurutan (Juz 29 dan 30), (3)Tahsin atau Pembagusan bacaan Al Qur’an, dan (4) adalah tarjamah ayat al Qur’an dan Do’a. Terkait metode yang dikembangkan, kepala sekolah menuturkan “Anak- anak secara klasikal setoran hapalan kemudian guru mencatat perkembangan masing- masing, dan diakhir tahun akan ada ujian bagi mereka yang belum mememuhi target. Jadi dalam UAS dan UKK terdapat pelajaran tahfidz.” Ujar beliau.

Apa yang dikembangkan oleh SD Muhammadiyah Pakel Program Plus, baik segi sistem dan pendetakannya, memiliki karakteristik yang cukup berbeda dengan sekolah Muhammadiyah lain, dimana sebagian besar diterapkan dalam kegiatan ekstra kulikuler. Dengan demikian, penerapan program tahfidz al Quran memang semestinya dikembangkan sesuai dengan kultur dan kemampuan sekolah masing- masing. Meskipun, tetap dibutuhkan standar mutu konten dan sistem yang dikoordinasi oleh PDM atau PCM. Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa tantangan masing-masing sekolah dalam menerapkan program tersebut nantinya juga akan beragam. Maka dalam hal ini, peran penting persyarikatan untuk membina dan mendukung agar masing-masing sekolah mampu mengatasi tantangan yang mereka hadapi.


Daftar Laporan Khusus “Tahfidzisasi Sekolah Muhammadiyah“.

Reporter : Fuad Hasyim

Liputan ini pernah dimuat di Rubrik Fokus Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Tantangan Penyelenggaraan Program Tahfidz Di Sekolah
Fuad Hasyim, S.S, M.A
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Yogyakarta, Dosen Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia, Pimpinan Redaksi Majalah Mentari

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...