Tangga Perekat Pernikahan

Gambar Tangga Perekat Pernikahan
Ari Susanto, S.E.I, M.E
Ketua DPD IMM DIY 2016/2018, Anggota MPI PDM Kota Yogyakarta, Peneliti LSM PUNDI Yogyakarta

Adalah Prof. Quraish Shihab yang merangkai tingkatan tali perekat pernikahan yaitu Cinta, mawaddah, rahmah dan amanah Allah. Ia menggambarkan bahwa ketika cinta telah pupus dan mawaddah putus, masih ada tali rahmah, dan kalau pun ini tidak tersisa, masih ada amanah. Dalam agama Islam setiap muslim hendak memiliki sifat amanah, karena Al-Qur’an memerintahkan :

“pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak menyayangi sesuai, tetapi Allah menjadikan kepadanya (di balik itu) kebaikan yang banyak.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 19)

Mawaddah seperti apa yang diutarakan oleh Prof Quraish Shihab bahwa mawaddah tersusun dari huruf m-w-d-d yang maknanya berkisar pada kelapangan dan kekosongan. Adanya kelapangan dada membuat hubungan akan terus bertahan, apa lagi jika jiwa bersih dari sifat buruk. Kalau tingkatan cinta dalam perkawinan bisa dengan mudah hilang seperti saat ketika cinta tergores dan mengakibatkan hatinya kesal maka akan meng-akibatkan cintanya pudar bahkan putus. Tetapi lain halnya pasangan yang memiliki dan bersemai dalam hatinya dengan sifat mawaddah, tidak lagi akan memutuskan hubungan, seperti yang bisa terjadi pada orang yang bercinta. Ini disebabkan karena hatinya begitu lapang dan kosong dari keburukan sehingga pintu-pintunya pun telah ter-tutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin (yang mungkin datang dari pasangannya).

Rahmah adalah kondisi psikologis yang muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan sehingga mendorong yang bersangkutan untuk memberdayakannya. Karena itu dalam kehidupan keluarga, masing-masing suami dan istri akan bersungguh-sungguh bahkan bersusah payah demi mendatangkan kebaikan lagi bagi pasangannya serta menolak segala yang mengganggu dan mengeruhkannya.

Al-Qur’an menggaris bawahi, bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga dengan kesadaran itu hendaklah kita saling mengisi satu sama lain untuk menciptakan tatanan kehidupan yang lebih baik. Begitu pula dalam hubungan perkawinan, pasangan memiliki kelebihan dan kekurangan, namun dengan demi-kian menjadi sempurna dan saling melengkapi. karena betapapun hebatnya seseorang, ia pasti memiliki kelemahan, dan betapa lemahnya seseorang, pasti ada juga unsur kekuatannya. Suami dan istri tidak luput dari keadaan demikian, sehingga suami dan istri harus berusaha untuk saling melengkapi.

“Istri-istrimu (para suami) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakian untuk meraka.” (QS Al-Baqarah [2]: 187)

Ayat ini tidak hanya mengisyaratkan bahwa suami-istri saling membutuhkan sebagai kebutuhan manusia pada pakaian, tetapi juga berarti bah-wa suami istri —yang akan masing-masing menurut kodratnya memiliki kekurangan— harus dapat berfungsi “menutup kekurangan pasangan”. Sebagaimana pakaian menutup aurat (kekurang-an) pakaiannya.

Pernikahan adalah amanah, digarisbawahi oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, “Kalian menerima istri berdasarkan amanah Allah”. Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain desertai dengan rasa aman dari pemberiannya karena kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu, akan dipelihara dengan baik, serta keberadaannya aman di tangan yang diberi amanat itu.

Istri adalah amanah dipelukan suami, suami pun amanah dipangkuan istri. Tidak mungkin orang tua dan keluarga masing-masing akan merestui perkawinan tanpa adanya rasa percaya dan aman itu. Suami —demikian juga istri— tidak akan menjalin hubungan tanpa rasa aman dan percaya kepada pasangannya.

Istri adalah amanah dipelukan suami, suami pun amanah dipangkuan istri
Istri adalah amanah dipelukan suami, suami pun amanah dipangkuan istri (Sumber gambar : klik disini)

Kesediaan seorang istri untuk hidup bersama dengan seorang lelaki, meninggalkan orang-tua dan keluarga yang membesarkannya, dan “meng-ganti” semua itu dengan penuh kerelaan untuk hi-dup bersama lelaki “asing” yang menjadi suami-nya, serta bersedia membuka rahasianya yang pa-ling dalam. Semua itu merupakan hal yang sung-guh mustahil, kecuali jika ia merasa yakin bahwa kebahagiaannya bersama suami akan lebih besar di banding dengan kebahagiaannya dengan ibu bapak, dan pembelaan suami terhadapnya tidak sedikit dari yang dituangkan istri kepada suami-nya dan itulah yang dinamainya Al-Qur’an mitsaqan ghalizha (perjanjian yang amat kokoh) (QS Al-Nisâ’ [4]: 21).

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaArah Gerakan Ekonomi Muhammadiyah
Artikel BerikutnyaDistribusi Bagi Hasil

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait