Tanah Wakaf Belum Dimanfaatkan

Gambar Tanah Wakaf Belum Dimanfaatkan
Wahyu Wijayanta, S.Sy, S.Pd.I
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015

PERTANYAAN : Terdapat tanah wakaf yang letaknya di DIY belum termanfaatkan dengan baik / masih terlantar. Bagaiman hukum tanah wakaf yang tidak dimanfaatkan dengan baik / belum termanfaatkan tersebut ?

Pertanyaan tentang status hukum tanah wakaf yang belum termanfaatkan dengan baik/ masih terlantar, merupakan masalah yang kadang kita temui di sekitar tempat tinggal kita. Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita harus melihat sebenarnya tujuan dan essensi dalam perwakafan itu sendiri. Tanggapan yang ada di fatwa tarjih dengan pertanyaan yang hampir sama seputar tentang pemanfaatan tanah wakaf dapat kita perhatikan, yaitu :

Essensi dalam perwakafan adalah :

حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ اِنْتِفَاعُهُ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ

Artinya : Menahan suatu benda sehingga memungkinkan untuk diambil manfaatnya dengan masih tetap zat (materi) bendanya. (Wahbah az-Zuhailī, al-Washāyā wal Waqfu fīl Fiqhil Islāmī, Dārul Fikr, Damaskus, tt., hal. 154).

Berdasarkan essensi yang dikemukakan oleh Wahbah az-Zuhaili di atas, maka wakif sebagai pihak yang diberi amanah untuk mengelola tanah wakaf harus :

  1. Menjaga benda wakaf baik keberadaan, keselamatan, dan kelestariannya.

Harta wakaf adalah harta yang pemilikannya menjadi hak Allah.  Umar ibnul Khaththab pernah berfatwa:

إِنِّي أَنْزَلْتُ نَفْسِي مِنْ مَالِ اللهِ مِنْزِلَةَ وَالِيِ الْيَتِيْمِ

Artinya : “Sungguh saya menempatkan diri saya terhadap harta Allah sebagai kedudukan wali seorang anak yatim.” (‘Abdurrahmān as-Suyūthī, al-Asybāh wan-Nazhā’ir fil Fūrū‘, Dārul Fikri, tt, hal. 83)

Umar menempatkan diri sebagai pengelola harta anak yatim yang merupakan harta Allah, sehingga harta anak yatim dalam Islam harus dijaga secara baik dan tidak melakukan tindakan terhadap harta tersebut, kecuali menguntungkan bagi anak yatim tersebut.

Dalam al-Qur’ān Allah berfirman:

وَلاَ تَقْرَبُوْا مَالَ اْليَتِيْمِ إِلاَّ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ (المائدة: 152)

Artinya : “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.” (Q.S. Al-Māidah / 5 : 152)

Dari ayat di atas dapat dipahamkan bahwa adanya ketentuan tidak boleh melakukan tindakan terhadap harta anak yatim yang dapat berakibat merugikan, bahkan sebaliknya harus yang dapat mendatangkan keuntungan. Demikian halnya terhadap harta wakaf – sebagai harta milik Allah – tidak boleh melakukan tindakan baik secara aktif maupun pasif, misalnya dengan tidak melakukan pengurusan, sehingga berakibat hilang atau berkurangnya benda wakaf.

Dalam pedoman Himpunan Putusan Tarjih disebutkan bahwa terhadap benda wakaf, pada dasarnya tidak boleh dipindahkan pemilikannya kepada seseorang atau sekelompok orang tertentu. Dalam hadits riwayat dari Ibnu ‘Umar r.a. ditegaskan:

… أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلاَ يُوْرَثُ وَلاَ يُوْهَبُ (متفق عليه)

Artinya : “(Benda yang diwakafkan) tidak boleh dijual, diwariskan, dan dihibahkan.” (Muttafaq ‘Alaih)

Terhadap benda wakaf yang berupa tanah, Majelis Wakaf PDM Kota Yogyakarta telah melakukan usaha secara konkrit untuk menjaga benda wakaf dengan menguruskan penerbitan sertifikat tanah wakaf.

  1. Benda wakaf harus dimanfaatkan seoptimal mungkin

Dalam pemanfaatan benda wakaf, adakalanya telah ditentukan oleh wakif, misalnya untuk masjid, rumah sakit, sekolah, dan sebagainya. Jika wakif dalam ikrar wakaf telah menetapkan tujuan dalam pemanfaatan benda yang diwakafkan, maka pada dasarnya bagi nadzir tidak ada pilihan lain kecuali harus mewujudkan yang ditentukan oleh wakif. Dalam qā‘idah fiqhiyyah disebutkan:

شَرْطُ اْلوَاقِفِ كَنَصِّ الشَّارِعِ

Artinya : “Syarat yang ditetapkan oleh wakif kedudukannya sama dengan ketetapan syara‘.”

Dari kaidah di atas dapat dipahami bahwa kewajiban mentaati persyaratan yang telah ditetapkan oleh wakif sama dengan kewajiban mentaati ketetapan Allah. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan tujuan wakaf yang diikrarkan oleh wakif, kurang bahkan dipandang tidak menyentuh kepentingan umat di saat dan di tempat tanah wakaf itu berada. Keadaan seperti ini dapat berakibat tanah wakaf tidak dapat dimanfaatkan bahkan mungkin menjadi terlantar. Sebagai sontoh, dalam suatu lingkungan masyarakat muslim telah dibangun masjid yang cukup representatif bagi kegiatan ibadah dan social keagamaan; kemudian diwakafkan sebidang tanah untuk pembangunan masjid. Maka jika dibangun masjid diduga keras tidak akan makmur atau kurang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Dengan demikian pembangunan masjid di atas tanah wakaf ini dapat dinilai sebagai tindakan yang mubadzir.

Dalam pada itu, jika tanah wakaf tersebut tidak dibangun masjid, dan tanpa digunakan untuk apapun, akan berarti menelantarkan atau menyia-nyiakan harta. Padahal dalam masyarakat tersebut membutuhkan tanah untuk keperluan lain yang mendesak, seperti untuk pendirian balai pengobatan / rumah sakit, gedung sekolah, dan lain-lain yang sejenis.

Dalam hal ini, Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam berpendapat: Perubahan tujuan wakaf dari yang ditetapkan oleh wakif kepada tujuan lain yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dapat dibenarkan, mengingat:

(1) Firman Allah :

… وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا. إِنَّ اْلمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا (الإسراء: 26-27)

Artinya : “… Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. al-Isrā’ / 17 : 26-27)

(2) Hadits :

إِنَّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ اْلمَالِ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai kamu (karena) berita konon kabarnya, banyak ‘ngeyel’ dan menyia-nyiakan harta.”

(3) Qā‘idah Fiqhiyyah :

الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ اْلمَحْظُوْرَاتِ

Artinya : “Keadaan darurat dapat membolehkan yang dilarang.”

(4) Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) disebutkan :

حِفْظًا لِلْمَصْلَحَةِ

Artinya : “Menjaga kemaslahatan.”

Adakalanya pula dalam ikrar wakaf pihak wakif tidak menentukan tujuan pemanfaatan harta yang diwakafkan. Dalam hal ini, nadzir lebih luwes (fleksibel) dalam memanfaatkan harta wakaf tersebut. Sungguhpun demikian, dalam pemanfaatan harta wakaf tersebut harus diupayakan yang paling maslahah bagi umat. Dalam qā‘idah fiqhiyyah disebutkan:

تَصَرُّفُ اْلإِمَامُ عَلَي الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ الرَّاجِحَةِ

Artinya : “Tindakan pemimpin terhadap rakyatnya harus relevan dengan kemaslahatan yang terkuat.”

Untuk mewujudkan tujuan dalam pemanfaatan benda wakaf, baik yang telah ditentukan oleh wakif maupun yang dipandang paling ideal bagi kemaslahatan umat, tidak tertutup kemungkinan terdapat kendala sehingga sulit atau pada suatu waktu belum memungkinkan untuk diwujudkan. Kendala ini bisa jadi sangat kompleks, seperti keterbatasan dana, keterbatasan kemampuan, atau faktor-faktor eksternal yang tidak mudah diatasi dan barangkali juga membutuhkan waktu untuk diproses.

Jika terjadi demikian, yang harus dilakukan adalah sejauh yang mungkin dapat diusahakan. Dalam al-Qur’ān disebutkan:

فَاتَّقُوْا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ (التغابن: 16)

Artinya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (Q.S. at-Taghābun / 64 : 16)

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ (البقرة:286)

Artinya : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakan dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Q.S. al-Baqarah / 2 : 286)

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan :

  1. Hendaknya dilakukan upaya semaksimal mungkin untuk memanfaatkan benda wakaf sesuai dengan ketentuan-ketentuan syari‘ah.
  2. Merupakan perkara dosa bagi seorang wakif yang dengan sengaja menelantarkan atau tidak mengusahakan secara optimal terhadap benda wakaf yang telah diamanahkan kepadanya.
  3. Jika telah dilakukan upaya semaksimal mungkin untuk menjaga dan memanfaatkan harta wakaf, insya Allah tidak berdosa.
Penunjuk tanah wakaf
Tanah wakaf harus dimanfaatkan untuk kepentingan umat (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...