Talbis Iblis terhadap para Mubaligh

Talbis (تَلْبِيْسُ ُ ) secara bahasa artinya pemalsuan, sedangkan secara istilah berarti menampakan kebathilan dalam bentuk kebaikan. (tentang makna Talbis baca kitabnya Abul Faraj Abdurrahman Al Baghdadi atau  Ibnul Jauzi “Talbis Iblis”). Kata Talbis terdapat dalam firman Allah swt :

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya  : “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah / 2 : 42).

Talbis merupakan tipu muslihat iblis dalam menyesatkan manusia sehingga manusia   mengikuti hawa nafsunya dan terjerumus dalam kubang kesesatan dan kemaksiatan. Iblis merupakan makhluk Allah SWT yang tidak pernah rela melihat manusia berada dalam kebaikan dan kebenaran, ketaatan dan ketakwaan kepada Allah. Sekecil apapun kebaikan dan kebenaran itu, iblis tidak akan pernah rela menyaksikan manusia berada di dalamnya. Karenanya, iblis senantiasa berusaha mengerahkan segala kemampuan dan membuat berbagai tipu daya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar, menjadikan yang haq adalah batil dalam pandangan mereka, dan sebaliknya menjadikan yang batil adalah haq, mencampuradukan antara kebenaran dan kesesatan, membuatnya indah sebuah kejahatan, menjadikannya pahit sebuah ketaatan, dan seterusnya sampai akhirnya manusia itu benar-benar jauh dari jalan Allah dan menjadi pengikut setia Iblis.

Allah SWT berfirman :

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴿١٦﴾ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Artinya  : “Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’râf / 7 : 16-17).

Tidak ada manusia yang luput dari tipu muslihat Iblis termasuk seorang mubaligh. Mubaligh yang mengemban amanah agama untuk amar ma’ruf nahi munkar berpotensi terjerat godaan iblis jika mubaligh tidak berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilakunya. Beberapa talbis iblis kepada para Mubaligh adalah sebagai berikut :

Pertama : iblis mendorong mubaligh untuk giat dalam berdakwah tapi melupakan dirinya untuk berbuat baik.

Peran seorang mubaligh sangat dibutuhkan di tengah-tengah umat karena menjadi garda terdepan dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Dakwah yang dilakukannya  selalu menebar kebaikan dan mengajak manusia agar selalu mengikuti syariat agama. Meskipun demikian masih banyak kita jumpai perilaku para mubaligh yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang selalu mereka ajarkan kepada jamaahnya. Mubaligh selalu menganjurkan kepada umat untuk selalu berbuat baik namun dia tidak berbuat baik. Mubaligh menganjurkan untuk shalat berjamaah di masjid namun dia jarang ke masjid. Mubaligh menganjurkan untuk silaturahmi tapi dia tidak melakukanya bahkan lingkungan tempat tinggalnya tidak kenal terhadap dirinya. Mubaligh menganjurkan jamaahnya untuk tidak mudah marah namun dirinya justru menjadi seorang yang tempramental dan mudah marah. Allah swt. berfirman :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Artinya  : “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir ?” (QS. Al baqarah / 2 : 42).

Kondisi tersebut berarti talbis iblis telah masuk ke dalam diri seorang mubaligh. Jika perilaku mubaligh seperti itu maka mubaligh tidak lagi menjadi panutan umat dan jangan disalahkan jika umat  menyematkan gelar mubaligh dengan sebutan jarkoni alias isoh ngajar ora isoh ngalkoni. Dari Usamah bin Zaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

Artinya  : “Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang kebaikan dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya.” (HR. Bukhari – Muslim).

Kedua : iblis menggoda kepada para mubaligh dengan menganggap dirinya paling suci dibandingkan yang lainya.

Iblis sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia dalam keburukan. Tipu dayanya membuat sesuatu yang sejatinya salah, seolah terlihat menjadi benar. Diantara tipu daya tersebut ialah dengan membuat para mubaligh merasa dirinya suci dan merasa aman dari dosa.

Allah ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Artinya  : “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Diaah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS. An Najm : 32).

Iblis sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia dalam keburukan
Iblis sebagai musuh yang nyata bagi manusia, tidak pernah kehabisan cara untuk menjerumuskan manusia dalam keburukan (Sumber gambar : klik disini)

Mengenai ayat ini, Al hafizh Ibnu Hajar Al – ‘Asqalani menerangkan bahwa haram hukunnya bagi orang-orang yang beriman untuk menceritakan dan mengabarkan kepada orang-orang akan dirinya yang merasa suci dengan bentuk suka memuji-memuji dirinya sendiri (Tafsir Ibnu Katsir). Kebiasaan merasa diri suci merupakan perbuatan Yahudi dan Nasrani yang jelas-jelas dicela oleh Allah ta’ala, Allah SWT berfirman :

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً

Artinya  : “Dan mereka berkata, ‘kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali selama beberapa hari saja” (QS. Al Baqarah : 80).

Sifat sombong orang Yahudi dan Nasrani yang mengaku dirinya paling suci bahkan, saking merasa sucinya, mereka bahkan merasa bahwa hanya merekalah yang paling layak dan berhak masuk surga. Allah SWT berfirman :

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى

Artinya  : “Dan mereka berkata, Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang yahudi dan nasrani” (QS. Al Baqarah : 111).

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Barangsiapa diberikan musibah berupa sikap berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci, maka ketahuilah sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya dan paling besar kecacatannya.” (Prof. Yuhanar Ilyas, Lc.MA. Kuliah Ahlak ). Jika sifat sombong dan takabur  ini muncul yakni  merasa dirinya paling shalih dan menganggap orang lain semuanya  salah, kemudian merasa diri paling dekat dengan Allah dan dicintai-Nya, sedangkan yang lain dianggap orang-orang yang jauh dan tidak dicintai oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Dan biasanya, pada puncaknya dia merasa dosa-dosanya diampuni, sedangkan dosa orang lain tidak akan diampuni, berarti seorang mubaligh telah terkena talbisnya Iblis la’natulahi ‘alih.

Semoga para mubaligh Muhammadiyah bisa terhindar dari takbis iblis ini sehingga bisa menjadi uswah hasanah bagi umat. Mubaligh Muhammadiyah bisa menjadi panutan bukan tontonan, mahir dalam berdakwah bukan mahir dalam bertingkah dan bikin masalah. Amin.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 6 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaMeneguhkan Etos Kerja
Artikel BerikutnyaKecakapan Hidup

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait