Takwa, Senjata Melawan Godaan Setan dan Nafsu [Minhaajul `Aabidin]

Pendahuluan

Pada pertemuan kali ini, pembahasan kita adalah seputar takwa yang berfungsi sebagai senjata (silah) bagi mukmin untuk melawan godaan setan dan hawa nafsu. Karena setan dan nafsu adalah dua godaan dari empat godaan yang mengitari manusia. Boleh jadi kita bisa terlepas atau minimal mengurangi interaksi dengan dua godaan; dunia dan manusia, dengan berzuhud dan beruzlah, tapi kita tidak bisa menjaga jarak dengan dua godaan ini; setan dan hawa nafsu.

Godaaan setan akan memantau kita setiap waktu dan setiap tempat, allah juga telah mengijinkan mereka untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Sedangkan godaan nafsu akan selalu menempel pada diri kita. Nafsu sebagai identitas kemanusiaan kita, sehingga tidak bisa terlepas dari diri ini selama kita masih hidup. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk mengurartgi atau meiemahkan pengaruh keduanya pada diri seorang mukmin. Cara itu adalah dengan bertakwa. Ya, bertakwa kepada Allah SWT.

Takwa adalah harta berharga, bahkan ia sangat berharga. Kita akan memperoleh keuntungan sangat besar apabila memperoleh takwa ini. Di dalam harta ini ada ilmu pengetahuan, harta spiritual, kecemerlangan dan pahala akhirat berupa surga. Al-Quran juga sudah menegaskan balasan bagi mereka yang bertakwa antara lain dalam QS. Ali Imran: 133.

Manfaat Takwa

Berikut ini adalah kutipan balasan dan pahala bagi mereka yang bertakwa, manfaat serta pentingnya bertakwa;

  1. Orang bertakwa mendapatkan sanjungan dan pujian : “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (Q.S. Ali Imran : 186).
  2. Mendapat penjagaan dan periindungan dari Allah “Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih had, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya dpu daya mereka sedikitpun ddak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan” (Q.S. Ali Imran : 120).
  3. Mendapatkan dukungan dan kemenangan “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (Q.S. AN – Nahl : 128)
  4. Diselamatkan dari kesulitan dan diberi rezeki yang halal “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang dada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya” (Q.S. Ath – Thalaq : 2 – 3).
  5. Diperbaiki amalnya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul- Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” (Q.S. Al – Ahzab : 70 – 71).
  6. Mendapatkan pengampunan dari dosa “dan mengampuni bagimu dosa-dosamu” (Q.S. Al – Ahzab : 71).
  7. Dicintai Allah “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa” (Q.S. At – Taubah : 4).
  8. Diterima amalnya “Berkata Habib. “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa” (Q.S. Al – Maidah : 27).
  9. Mendapatkan kemuliaan dan kehormatan “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu sating kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Q.S. AL – Hujurat : 13).
  10. Mendapatkan kabar gembira di dunia dan akhirat “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat” (Q.S. Yunus : 63 – 64).
  11. Selamat dari api neraka “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut” (Q.S. Maryam : 72). “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu” (S. Al – Lail : 17).
  12. Mendapat anugerah kehidupan yang kekal di daiam surga “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Q.S. Ali Imran : 133).

Dengan penjelasan besarnya balasan bagi orang yang bertakwa ini, maka jagalah takwa untuk terus bersemayam di dalam diri kita, terpancar dalam akidah, ibadah dan akhlak kita.

Dalam hal ibadah, ada tiga keuntungan yang akan diperoleh bagi mereka yang bertakwa;

  1. Mendapatkan taufiq dan bantuan dari Allah. Pemberian ini hanya diberika kepada ahli ibadah yang bertakwa penuh kepada-Nya. Dengan taufiq ini kita bisa berbuat dan beramal. “dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. At-Taubah: 36) .
  2. Diperbaiki amalnya dan disempurnakan kekurangannya (QS. Ai-Ahzab: 71).
  3. Diterima amalnya “Berkata Habii: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. AL-Maidah: 27).

Kehidupan kita dunia bagian dari perjaianan hidup yang semestinya titempuh, perlu bekai yang banyak dan terbaik, maka sebaik-baik bekal adalah taqwa, ambiilah darinya dan tinggaikan seiainnya.

Amir bin Abdul Qais pernah menangis menjelang wafatnya. Padahal ia adalah orang yang rajin melaksanakan shalat sunnah sampai seribu rakaat dalam sehari semalam. Saat mau tidur di suatu malam ia menunjukkan nafsu yang ada dalam dirinya sambil berkata “Wahai tempat berlindungnya semua keburukan. Demi Allah aku tidak rela kepadamu walau sekejap mata”.

Kemudian Amir bin Abdul Qais ini pernah menangis dan ditanya temannya, “apa yang membuatmu menangis?” jawab Amir, “Aku teringan firman Allah bahwa Alah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa” (QS. AL-Maidah: 27).

Karenanya, ketika kita hendak berwasiat maka wasiatkanlah ketakwaan kepada ahli waris, agar mereka menjaga ketakwaan dalam dirinya, sehingga pertolongan Allah selalu menaunginya. Kesungguhan kita dalam bertakwa akan membuka jalan.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” [Al-Ankabut : 69]

Manfaat Takwa

Defini takwa tidak hanya terfokus pada satu redaksi saja, tapi banyak ulama yang mendefinisikan dengan redaksi yang berbeda tapi memiliki satu makna yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Takwa adalah menjaga hati dan segala bentuk perbuatan dosa yang belum engkau lakukan sebelumnya. Perlu adanya tekad kuat untuk tidak melakukan perbuatan dosa, serta kebencian terhadap perbuatan durhaka kepada Allah.

Kata takwa dari bahasa arab at – taqwa yang berasal dari kata al-wiqayah berarti menjaga atau melindungi. Di saat kita melindungi diri dari kemaksiatan dengan tekad kuat dan istiqamah pada jalan ketaatan maka saat itulah ia disifati dengan orang yang bertakwa.

Di dalam al-Quran, kata takwa digunakan untuk mengungkapkan tiga hal;

  1. Takut, memelihara diri dan segan akan sesuatu. “Don peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah” (QS. AL-Baqarah: 281)
  2. Taat dan beribadah. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya” (QS Ali Imran: 102).
  3. Membersihkan hati dari dosa-dosa. “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan” (QS. An-Nur: 52).

Pada ayat di atas Allah menyebutkan tiga hal, yaitu taat, takut dan takwa itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa takwa itu berbeda maknanya dengan taat dan takut tersebut. Tapi melindungi hati dari perbuatan dosa. Dari sini, Imam Ghazali mengungkapkan bahwa takwa ada tiga tingkatan;

  1. takwa dari perbuatan syirik
  2. takwa dari perbuatan bid’ah
  3. takwa dari perbuatan dosa

ketiga tingkatan takwa itu telah disebutkan dalam satu ayat al-Quran.

“Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang- orang yang berbuat kebajikan” [Q.S. Al – Maidah : 93]

Takwa pertama yang digunakan dalam ayat di atas adalah penolakan terhadap syirik, dan kata iman bermakna pengakuan atas keesaan Allah.

Takwa kedua, bermakna penolakan atas perbuatan bid’ah, sedang maksud dari kata iman di sini, yang melekat pada kata takwa, adalah pengakuan terhadap prinsip-prinsip ajaran ahlus sunah wal jamaah.

Takwa ketiga, takwa bermakna menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiaian. Sedangkan kata ihsan yang mengikuti kata takwa bermakna ketabahan, ketaatan, dan berbuat kebajikan. Jadi dalam QS. AL-Maidah: 93 Allah menyebutkan tiga tingkatan takwa. Yaitu;

  • Tauhid, lawan dari syirik
  • Sunnah, lawan dari bid’ah
  • Taat dan berbuat kebaikan sebagai lawan dari dosa.

Di sana masih ada definisi lain dari makna takwa yang lebih luas, yaitu menjauhi perkara-perkara yang halal secara berlebihan. Sebagaimana nabi menyebutkan dalam hadisnya

“orang yang bertakwa disebut muttaqin karena meninggalkan apa-apa yang tidak mengandung dosa lantaran hati-hari dari melakukan sesuatu yang mengandung dosa”

Yakni, karena mereka meninggalkan perkara halal yang berlebihan lantaran takut jatuh pada perkara yang diharamkan lantara berlebihan dalam mengerjakannya.

Dari hadis ini, muncullah defini takwa yang dianggap lebih komprehensif, yaitu “menjauhi yang engkau takuti akan mendatangkan bahaya terhadap agamamu”.

Perbuatan yang bisa membahayakan agama seorang hamba adalah:

  • Perbuatan yang dilarang Allah, disebut dosa.
  • Melakukan sesuatu yang dibolehkan tapi secara berlebihan.

Takwa juga bisa didefinisikan dengan, “menjauhi semua hal yang bisa mendatangkan bahaya terhadap agama, yaitu kemaksiatan dan segala sesuatu yang berlebihan”.

Definisi di atas ini menurut al-Qhazali lebih realistis dan dekat dengan hakikat takwa.

Sedangkan dalam tasawuf takwa bisa didefinisikan sebagai ; “Membersihkan had dari keburukan yang belum pernah engkau lakukan, yang disertai kekuatan tekad untuk meninggalkannya. Sehingga menjadi alat untuk melindungi had dari dosa dan keburukan”.

Keburukan itu ada dua macam;

  1. Keburukan murni, yang sudah jelas dilarang oleh syariat.
  2. Keburukan yang tidak murni, yaitu sesuatu yang dilarang oleh Allah sebagai pendidikan (takdib) bagi hambaNya. Yaitu perkara yang halal tapi berlebihan dalam melaksanakannya. Ini untuk menutup pintu terhadap masuknya keinginan nafsu syahwati.

Pertama, yaitu keburukan murni atau dosa, hukumnya fardlu atau wajib untuk ditinggalkan. Meninggalkan perbuatan ini disebut takwa fardlu.

Kedua, asalnya tidak apa-apa tapi manusia disarankan untuk tidak berlebihan dalam melaksanakannya. Apabila seorang hamba suka menenggelamkan diri dalam perbuatan yang dibolehkan (mubah) maka ia akan dimintai pertanggungjawaban di akherat kelak. Sedangkan meninggalkan perbuatan buruk ini disebut takwa adab.

Hamba yang mampu meninggalkan jenis keburukan pertama disebut muttaqi kelas dua. Sedangkan yang hanya mampu meninggalkan jenis kedua dari perbuatan mubah yang kurang bermanfaat disebut muttaqi utama berada pada derajat takwa yanag tinggi.

Bagi hamba yang mampu meninggalkan kedua jenis keburukan tersebut sekaiigus, maka ia ieiah rnencapai takwa yang sempurna yang disebut dengan sikap wara kamil (waara yang sempurna) dan inilah inti dari agama.

Apabila nafsu selalu memprovokasi kita untuk melakukan perbuatan dosa maka kita harus bisa mengontrolnya dengan sekuat mungkin agar kita jauh dari maksiat bahkan jauh dari perbuatan mubah yang tidak bermanfaat, berarti kita bertakwa. Secara otomatis takwa ini akan menemukan jalannya ke seturuh anggota tubuh bagian luar dan dalam; seperti mata, telinga, iidah, hati, perut, kemaluan dan anggota tubuh lainnya. Allahu A’lam bisshawab

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait