Sumpah Ulama Nusantara

Gambar Sumpah Ulama Nusantara
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Para ulama nusantara tak habis-habisnya mendapat gugatan, kenapa bangsanya yang konon religius ini memiliki negeri yang angka korupsinya yang sedemikian tinggi. Kalau berkat penyadaran para ulama tersebut sekarang ini jamaah haji dari tahun ke tahun bertambah jumlahnya, sampai harus antri bertahun-tahun untuk bisa berangkat, namun kenapa tak juga bisa menghilangkan kejahatan sosial itu. Bahkan dana haji pun rawan dijadikan salah satu menu korupsi. “Lantas, apa saja kerja para ulama itu?” begitu salah satu bunyi gugatannya.

Gugatan kepada para ulama nusantara sama halnya dengan logika keheranan dalam sebuah pertanyaan, kenapa walaupun tempat-tempat ibadah banyak didirikan di nusantara tetapi korupsi dan kejahatan lainnya tak kunjung reda? Ribuan masjid (juga gereja, vihara, kelenteng, dan pura) berdiri dimana-mana, tetapi kenapa korupsi dan kejahatan lainnya justru merajalela? Apakah masjid-masjid itu justriu menjadi sarang para koruptor dan penjahat? Ah, tentu tidak.

1. Bangsa Religius Versus Bangsa Pasar

Masjid itu tak lain adalah “tempat” para hamba bersujud kepada Allah, merendahkan dan menghilangkan eksistensi diri, di hadapan Allah. Masjid menunjuk keberadaan hanyalah Allah saja yang eksis, manusia dan semua selain-Nya bukan apa-apa. Karena itu keberadaan masjid juga bukan ditentukan oleh adanya oleh adanya mihrab, mimbar, sajadah, dan barang-barang dalam bangunan yang sering kita sebut masjid itu, namun ada tidaknya sujud di dalamnya.

Karena itu secara hakikat, ketika guru mengajar murid-muridnya di sekolah dalam rangka bersujud kepada Allah maka sekolah itu otomatis menjadi masjid baginya. Jika seorang lelaki menikahi janda tua dan miskin demi persujudan kepada Allah maka rumah tangganya pun menjadi masjid baginya. Jika seseorang dermawan membangun rumah bagi orang-orang jompo demi persujudan kepada Allah, maka rumah jomponya itu pun menjadi masjid baginya. Juga ketika seorang Walikota melayani warganya dalam rangka bersujud kepada Allah maka wilayah kota tumbuh menjadi masjid yang sangat kokoh baginya. Demikian pula ketika seorang pedagang berjualan di pasar demi persujudannya kepada Allah maka pasar itu menjadi masjid baginya. Maka dimanapun ada hamba yang merealisasikan persujudannya kepada Allah, maka otomatis ia tengah mendirikan masjid. Itulah ide globalisasi dalam dimensi religius, bahwa sesungguhnya seluruh bumi Allah adalah Masjid. Coba kita renungkan, apakah mungkin globalisasi seperti ini bisa melahirkan mentalitas korup?

Yang pasti, globalisasi yang selama ini  kita dengar pastilah bukan globalisasi seperti yang saya kemukakan di atas. Globalisasi yang ada tak lain adalah fenomena pengglobalan pasar yang digerakkan oleh motif pasar, yaitu mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilmya. Dalam globalisasi ini, pasar yang sesungguhnya hanyalah fenomena pinggiran akhirnya menjadi pusat kehidupan manusia. Apa yang terjadi pada globalisasi itu mewakili ideology neoliberalisme yang menempatkan kebebasan menjadi (hanya) berintikan kebebasan pasar. Neoliberalisme tidak ada kaitannnya dengan liberasi manusia, sebab yang ada di kepala kaum neoliberal hanyalah gagasan sempit untuk melakukan pembebasan pasar dari rambu-rambu (proteksi) negara.

Dalam skala nasional, globalisasi di negara dunia ketiga melahirkan berbagai dampak buruk yang memberatkan masyarakat. Dengan menglobalnya pasar, bukan hanya pasar yang menjadi pasar. Masjid menjadi pasar, rumah sakit menjadi pasar, kantor-kantor pemerintah menjadi pasar, DPR, menjadi pasar, media public menjadi pasar, dan sekolah pun tak bisa menghindarkan diri menjadi pasar. Dalam pasar-pasar itu bahasa yang digunakan adalah bahasa jual beli.

Dengan demikian salahlah tuduhan kepada para ulama yang menyebut bangsa ini bangsa religius, karena nyata-nyata bangsa ini adalah bangsa pasar. Dan sebagaimana kenyataannya sebuah pasar, segala bentuk penipuan baik lewat iklan maupun bujukan sangat mungkin terjadi. Di pasar bertemulah konsumen dan produsen—yang kadang diperantarai oleh para pedagang. Produsen sebisa mungkin merayu konsumen untuk membeli barangnya dengan harga setinggi-tingginya. Sedang konsumen sebisa mungkin membujuk produsen melepaskan barangnya dengan harga semurah mungkin. Di situlah tindakan saling tipu berjalan, yang dalam teori ekonomi disebut pencarian kesetimbangan.

Kejahatan di pasar—baik itu manipulasi, korupsi, atau eksploitasi—sangat mungkin terjadi kalau tidak ada penegakan hukum yang baik. Tanpa penegakan hukum secara benar segala kejahatan akan tumbuh subur di pasar. Premanisme, baik yang berbaju aparat dan sipil, akan menjadi sistem yang menopang kejahatan di pasar tersebut. Dalam kondisi pasar seperti itulah, para ulama nusantara mengajak-ajak kembali ke masjid. Mengajak manusia dari berbagai lapisan untuk berduyun-duyun bersujud kepada Allah. Mereka utus muadzin mengumandangkan hayya alash-sholaah, hayya alal falaah. Mengajak sholat, mengajak pada kemenangan.

2. Filosofi Sholat dan Revolusi Sistemik

Filososi sholat mengajarkan perlunya seorang bersuci mengajarkan perlunya seorang bersuci sebelum sholat. Tidak hanya kaki tangannya, tapi telinga, mulut , kepalanya. Akan tidak sah orang yang sholat hanya membersihkan kaki dan tangannya saja. Juga tidak sah mereka yang sholat dengan sebelumnya hanya membersihkan kepalanya saja. Segala bentuk penyucian itu adalah simbol dari revolusi sistemik yang menyuci konsepsi dan sistem keimaman yang dijalankan dalam mengatur kehidupan.

Lebih jauh lagi berkaitan dengan wudhu, jika menjadi imam, seseorang  perlu memahami hakikat terdalam dari wudhu ialah jihad akbar mensucikan diri dari nafsu kedirian. Sebagai imam, wudhunya harus bisa menghilangkan keakuan dalam diri. Wudhu meleburkan eksistensi diri sehingga yang eksis dalam hidupnya hanyalah Allah SWT.

Setelah wudhu seseorang baru bisa menjalankan sholat secara sah. Adapun yang disebut sholat adalah serangkaian tindakan membentuk huruf ADAM (Alif, Dal, Mim) dan MUHAMMAD (Mim, Ha, Mim, Dal) yang dimulai dengan meng-Akbar-kan Allah, menyerukan takbiratul ihram, serta diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri. Gerakan sholat tersebut bisa bermakna evolusi spiritual dari Adam sampai Muhammad, yaitu evolusi manusia mencapai kualitas keterpujian.

Seruan akan kebesaran Allah untuk memulai sholat tentu bukan tanpa maksud, demikian pula dengan ucapan salam di akhir sholat. Jika seseorang manusia tidak memahami ketakterhinggaan dari Akbar-Nya Allah dan justru terjebak ego keiblisan, maka sebagaimana dihembuskan pada Adam as sehingga ia harus turun dari surga. Hingga akhirnya salam menjadi penutup dari proses akhir evolusi spiritual yang diucapkan pada mereka-mereka yang ada di golongan kanan maupun di golongan kiri. Maknanya tak lain adalah lahirnya rahmat bagi semesta alam yang tidak hanya bagi golongan kanan tetapi juga untuk golongan kiri. Itulah gagasan rahmatan lil ‘alamin yang terkandung dalam ajakan sholat para ulama nusantara.

3. Sumpah Ulama Nusantara

Berbicara para ulama nusantara, Kuntowijoyo mencatat perubahan sosial budaya yang menyangkut peran ulama di Indonesia. Dalam era pra-industrial peran ulama adalah sebagai kyai yang menjadi tokoh kharismatik. Dalam era semi-industrial peran terpenting dari ulama adalah sebagai guru yang mengajarkan ilmu kepada umat. Sedang dalam era industrial peran terpenting dari ulama adalah menjadi mitra yang mendampingi umat mendapatkan ilmu.

Seorang kyai menyebarkan ilmu melalui komunikasi lisan, sehingga memungkinkan hubungan yang sangat dekat antara kyai-santri. Hubungan yang dekat tersebut memberi peran sosial yang besar pada kyai. Selain sebagai guru agama, umat melihat kyai juga sebagai dokter (yang memberikan cara mengobati penyakit), hakim (yang menyelesaikan perkara-perkara konflik masyarakat), dan konsultan. Peran kyai ini menyangkut dari urusan perkawinan, musim tanam, dan dimintai restu bila bepergian.

Pada tahun 1905, Kyai Ahmad Dahlan mengenalkan tabligh, bepergian untuk menyebar agama. Ia mengajarkan agama di Kauman Surakarta. Di Yogyakarta pun Kyai Dahlan tidak hanya mengajar agama di Kauman, di berbagai tempat Kyai Dahlan menyampaikan pengajian. Dengan itu Kyai dahlan mengenalkan hal baru dan menempatkan ia sebagai ulama yang bertindak sebagai guru ketimbang sebagai kyai. Kalau kyai akan tinggal di pesantren dan tidak mencari murid. Muridlah yang harus datang kepada kyai dan bukan sebaliknya. Selanjutnya pada tahun 1908 dikenalkan kepada umat buku terjemah al-Qur’an berbahasa Jawa. Dan pada tahun 1915 mulai diterbitkan dalam huruf dan bahasa Jawa majalah Suwara Muhammadiyah. Maka mulailah tradisi baru: ulama menulis karangan. Sehingga media komunikasi ulama dengan umat pun bergeser dari lisan ke tulisan yang mewakili era semi-industrial.

Sementara komunikasi lisan dan tulis masih berjalan, ada perubahan penting dalam komunikasi sosial, yaitu munculnya elektronika yang menjadi ciri era industrial. Munculnya elektronika mengubah kecenderungan pola hubungan antara ulama dan umat. Hubunghan antara ulama dan umat menjadi hubungan antara elite dan massa. Ulama di era industrial ada di mana-mana, menjadi seluruh ilmu pengetahuan menjadi bagian dari ilmu agama. Mereka ada di kampus, kantor pemerintah, LSM, pabrik, barak-barak tentara, sehingga tak ada organisasi yang mengklaim. Lebih jauh lagi, ketika pola komunikasi elektronik melakukan revolusi sedemikian rupa dengan kehadiran berbagai media sosial yang siapa saja bisa sangat cepat menyebarkan pesan-pesan secara instan, maka sumber-sumber keilmuan menjadi bisa siapa saja. Dalam hal ini ulama memiliki peran sebagai mitra yang mendampingi umat di berbagai media sosial untuk mengembangkan kecerdasan bermedsos sehingga bisa menentukan mana berita asli dan yang hoax serta bisa menentukan mana berita berbahaya, berita sampah, dan berita yang bermanfaat. Berita yang berbahaya adalah berita yang menimbulkan kejahatan dan perpecahan. Berita sampah adalah berita yang tak ada gunanya atau hanya akan menghabiskan waktu saja, seperti berita gossip-gossip artis, tokoh dan berita yang tak memiliki kaitan dengan kehidupan nyata kita. Sedang berita bermanfaat jika ia memberi pelajaran bagi perbaikan hidup kita. Ulama yang menjalankan tugas itu tentu bukan seorang kyai dan guru, tetapi menjadi mitra atau fasilitator yang mendampingi umat berbagi dan mendapatkan ilmu.

Di era industrial, era yang mendorong globalisasi sehingga pasar dari fenomena pinggiran menjadi pusat kehidupan manusia, tentu saja masih banyak ulama yang berperan sebagai kyai dan guru. Itu sama maknanya dengan kenyataan bahwa di era industrial tetap saja ada yang memiliki kultur pra-industrial dan semi industrial. Ketika secara umum era industrial diterima secara nasional sebagai kenyataan sosial, tetap saja ada yang dengan sadar karena alasan-alasan tertentu atau tanpa sadar mempertahankan kultur yang tidak menjadi ciri dari era industrial yang menjadikan bangsa kita menjadi bangsa pasar. Karena itu ketika kita menyebut para ulama nusantara, maka yang kita sebut itu bisa seorang kyai, guru (ustadz), atau fasilitator yang mendampingi umat.

Perlu saya tegaskan bahwa ulama nusantara di sini bukanlah ulama yang akan mendeklarasikan Islam nusantara, sebab keislaman mereka tak memiliki sekat wilayah dan kebangsaan. Islam mereka adalah Islam ahlus sunnah wal jamaah, yang berdasar al-Qur’an dan al-hadits, sama halnya dengan yang diyakini mayoritas kaum muslimin seluruh dunia. Ke-nusantara-an mereka bermakna kesadaran akan ruang dan waktu saja, bukan subtansi apalagi esensi ajaran. Kenusantaraan mereka adalah bahasa dan wujud metoda gerakan bil hikmah. Jika mereka mendeklarasikan diri, maka yang mereka deklarasikan adalah sebuah sumpah:

Sumpah Ulama Nusantara

Kami ulama yang tinggal di nusantara, mengaku:

  1. Beridentitas satu, identitas rahmatan lil ‘alamin
  2. Berbahasa satu, bahasa ilmu pengetahuan
  3. Bertanah air satu, tanah air yang penuh kebaikan dan ampunan Tuhan
Perlu saya tegaskan bahwa ulama nusantara di sini bukanlah ulama yang akan mendeklarasikan Islam nusantara, sebab keislaman mereka tak memiliki sekat wilayah dan kebangsaan. Islam mereka adalah Islam ahlus sunnah wal jamaah, yang berdasar al-Qur’an dan al-hadits, sama halnya dengan yang diyakini mayoritas kaum muslimin seluruh dunia.
Perlu saya tegaskan bahwa ulama nusantara di sini bukanlah ulama yang akan mendeklarasikan Islam nusantara, sebab keislaman mereka tak memiliki sekat wilayah dan kebangsaan. Islam mereka adalah Islam ahlus sunnah wal jamaah, yang berdasar al-Qur’an dan al-hadits, sama halnya dengan yang diyakini mayoritas kaum muslimin seluruh dunia (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...