Strategi Perjuangan Muhammadiyah (3)

Gambar Strategi Perjuangan Muhammadiyah (3)
Muhammad Wiharto, S.Sy, S.Pd.I, M.A
Sekretaris I PDM Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta periode 2015 - 2020

Langkah-langkah Strategi

Sebagaimana diuraikan di muka, langkah-langkah (khusus) dari strategi perjuangan Muhammadiyah yang perlu dipilih antara lain strategi Konsolidasi Organisasi, Kaderisasi, Kepemimpinan, Gerakan Tajdid, Gerakan Dakwah, Gerakan Keluarga Saikinah, Gerakan Jamaah dan  Dakwah Jamaah, Gerakan Kebudayaan, Gerakan Ekonomi, Partisipasi Politik, dan Gerakan Keilmuan (Harakat al-‘Ilm).

  1. Konsolidasi Organisasi
    1. Strategi Konsolidasi Organisasi diarahkan pada terciptanya struktur dan fungsi organisasi serta kepemimpinan Muhammadiyah dengan segenap Majlis, Badan, Lembaga, Organisasi Otonom (Ortom), dan Amal Usaha Persyarikatan yang mantap dan mendukung gerak Persyarikatan dalam mencapai tujuannya (Kepu­tusan Muktamar Muhammadiyah Ke-42).
    2. Strategi Konsolidasi Organisasi merupakan strategi pendukung yang sangat pen­ting untuk terciptanya kemantapan gerak Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Makruf Nahi Miinkar dalam mencapai tujuannya.
    3. Tahapan Strategi Konsolidasi dilaksanakan aterus-menerus melalui pentahapan lima tahunan baik yang bersifat reformasi (refungsionalsasi dan pengembang­an) organisasi dengan segenap unit komponennya maupun yang bersifat pening­katan serta pemantapan struktur dan fungsi sebagai alat gerakan yang handal.
    4. Dalam pelaksanaan Strategi Konsolidasi Organisasi hendaknya didukung oleh kesatuan personil (anggota maupun pimpinan menyangkut wawasan, pemikiran, sikap, dan tingkahlaku), di samping daya dukung saran, prasarana, dan fasilitas.
    5. Dalam menjalankan Konsolidasi Organisasi haruslah simultan dan tidak mengandalkan semata-mata pendekatan birokrasi-administratif belaka tetap juga, kon­solidasi yang bersifat gerakan perjuangan di mana nilai-nilai dan norma-norma dasar yang menjadi misi dan landasan gerak Muhammadiyah (yaitu Islam dan  cita-citanya) menjiwai serta mewarnai gerakan.
  2. Kaderisasi
    1. Kaderisasi merupakan faktor strategis dalam gerak persyarikatan yang menghu­bungkan antara gerakan dengan subyek penggerak dalam mewujudkan tujuan, dan yang menjaga kesinambungai (kontinuitas) gerakan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan di mana selalu terpelihara misi, nilai, dan identitas gerakan.
    2. Sasaran dan arah utama kaderisasi adalah terbentuknya kader-kader, (anggota inti) Persyarikatan yang memiliki kesamaan wawasan, pemikiran, sikap dan integritas dalam menggerakkan Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar menuju tujuannya.
    3. Strategi kadenrisasi dalam Muhammadiyah ditujukan pada terbentuknya Kader Muhammadiyah yang utuh dengan pengembangan yang bersifat khusus sebagai Kader Persyarikatan dan yang bersifat umum sebagai Kader Ummat dan Kader Bangsa sesuai dengan misi dan kepribadian Muhammadiyah.
    4. Arah pembinaan kader dalam strategi kaderisasi difokuskan pada pembiman idealisme (ideologi) organisasi dan kepemimpinan yang disertai pengembangan wawasan dan profesi sebagai kemampuan lanjutan.
    5. Sasaran strategi kaderisasi Muhammadiyah adalah anggota Organisasi Otonom Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), siswa dan mahasiswa di lingkungan Sekolah/Perguruan Muhammadiyah, dan anggota keluarga-keluarga Muhamma­diyah yang dibina dan dikembangkan sesuai dengan konsep sistem kaderisasi Muhammadiyah.
    6. Konsekuensi dari penerapan strategi kaderisasi adalah adanya seleksi dan pem­binaan integritas dalam bermuhammadiyah yang pelaksanaannya berjalan melalui sistem dan proses tertentu sesuai dengan kebijakan Persyarikatan.
    7. Pembinaan kader dalam strategi kaderisasi tidak akan mengarah pada eksklu­sivitas yang sempit karena di dalamnya ditanamkan kesadaran dan komitmen pada perjuangan Muhammadiyah dalam mengemban misi Islam di tengah-tengah kehidupan, di samping telah menjadi ciri khas atau kepribadian Muhammadiyah Yang senantiasa rnemiliki komitmen pada gerakan dakwah amar makruf nahi munkar dan ukhuwah Islamiyah sesuai dengan Kepribadian dan Khitahnya.
  3. Kepemimpinan
    1. Kepemimpinan Muhammadiyah merupakah faktor subyektif dan dinamis dalam menggerakkan Muhammadiyah mencapai tujuannya yang dilaksanakan berdasar sistem kolektif kolegial di mulai dari tingkat Pimpinan Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang, sampai ke Pimpinan Ranting Muhammadiyah
    2. Faktor kualitas kepemimpinan dalam Muhammadiyah bersifat utuh dan menyatu meliputi faktor idealisme yakni komitmen dan integritas pada misi dan cita-cita (ideologi) Muhammadiyah, akhlak yakni kepribadian dan keteladanan tingkah­ laku sebagai pimpinan Muhammadiyah, wawasan pemikiran yakni keluasan pandangan dan intelektualitas sebagai pimpinan Muhammadiyah, dan skill atau kemampuan teknis yang merupakan kualitas pendukung kepemimpinan. Karenanya dalam menjalankan kepemimpinannya para pimpinan Muhamma­diyah harus senantiasa memiliki kualitas idealisme dan akhlak kepemimpinan, di samping kapasitas pemikiran dan skill atau profesi di mana dua faktor pertama mendasari dua faktor yang disebut terakhir.
    3. Kepemimpinan Muhammadiyah secara umum (pada level umum) diarahkan pada kepemimpinan yang bersifat gerakan, bukan kepemimpinan yang bersifat biro­kratis-administratif.
    4. Dalam pembinaan dan pengembangan kepemimpinan Persyarikatan perlu di­kembangkan semakin meningkatnya partisipasi, dinamika, fungsi, dan peran ke­pemimpinan di tingkat Ranting, Cabang, dan Daerah sehingga tidak terpusat pada kepemimpinan di tingkat Pusat dan Wilayah dengan tetap berada dalam satu ima­mah Kepemimpinan Persyarikatan.
    5. Dalam menjalankan kepemimpinan Persyarikatan, perlu ditegakkan disiplin kepe­mimpinan sehingga terpelihara kesatuan kepemimpinan sesuai dengan kepriba­dian kepemimpinan Muhammadiyah.
    6. Recruitmen dan regenerasi dalam kepemimpinan Muhammadiyah diintegrasi­kan dengan kaderisasi Muhamammadiyah.
  4. Gerakan Tajdid
    1. Tajdid dalam pandangan dan konteks gerakan Muhammadiyah adalah kembali kepada ajaran Islam yang asli-murni (Konsep Kepribadian Muhammadiyah). Dengan kembali kepada ajaran Islam asli-murni Muhammadiyah memahami dan mengamalkan Islam berdasarkan al-Quran dan Sunnah Rasul dengan menggu­nakan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam secara menyeluruh (komprehensif) baik di bidang aqidah akhlaq, ibadah, maupun mu’amalat du­nyawiyah (Konsep Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah). Pemahaman dan  pengamalan ajaran Islam sebagaimana dimaksudkan tadi terkait langsung dengan gerakan Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar baik pada level perseorangan maupun masyarakat (Konsep Kepribadian Muhammadiyah) untuk terwujudnya masyarakat utama, yang adil dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata’ala (AD Muham­madiyah Bab II pasal 3). Maka konsep dan gerakan tajdid Muhammadiyah de­ngan “kembali kepada ajaran Islam yang asli-murni” tersebut tidak hanya bersifat pemurnian (purifikasi) semata-mata, akan tetapi sekaligus, merupakan upaya menterjemahkan Islam ke dalam kehidupan nyata (Keputusan Muktamar Tarjih 1989 di Malang) yakni mengamalkan Islam dalam realitas konkret kehidupan yang senantiasa berubah dan dinamik (Konsep Khittah Perjuangan Muhamma­diyah) sesuai dengan pemahaman dan keyakinan Muhammadiyah. Orientasi dan  sikap pemahaman dalam memahami dan  mengamalkan ajaran Islam seperti itulah yang antara lain telah membawa keberhasilan gerakan Muhammadiyah sejak Kyai Haji Ahmad Dahlan sampai saat ini.
    2. Muhammadiyah dalam menetapkan tuntunan yang berhubungan dengan masalah agama, baik bagi kehidupan perseorangan ataupun bagi kehidupan gerakan, adalah dengan dasar-dasar seperti tcrsebut dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, yang dilakukan dengan musyawarah oleh para ahlinya, yakni dengan cara yang sudah lazim disebut “tarjih” yaitu membanding-ban­dingkin pendapat-pendapat dalam musyawarah dan kemudian mengambil mana yang mempunyai atasan yang lebih kuat (Lihat: Penjelasan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah point. 8.6.). Dengan demikian dalam pengem­bangan konsepsi tajdid pun hendaknya dilakukan melalui musyawarah oleh para ahlinya untuk diambil pendapat yang paling kuat. Karena itu, untuk menghindari ragam pandangan/pendapat yang mengarah pada pertentangan dan  perpecahan, hendaknya perbincangan dan  pengambilan keputusan tentang konsepsi tajdid dan  hal-hal mendasar seputar pemikiran Muhammadiyah hendaknya melalui mu­syawarah dan tidak bersifat perseorangan.
    3. Jika dipandang perlu adanya tinjauan dan/atau pengembangan konsepsi atau pemikiran mendasar seputar pemikiran-pemikiran Muhammadiyah dan gerak­annya dalam konteks Tajdid Fil Islam di tengah tuntutan kehidupan moderen dewasa ini sebagaimana selalu berkembang di lingkungan hendaknya dicari upaya rekonseptualisasi dan  rekonstruksi pemikiran sesuai dengan sistem yang berlaku di Muhammadiyah seperti melalui jalan Musyawarah di atas.
  5. Gerakan Dakwah
    1. Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar me­laksanakan dakwahnya kepada yang telah berislam dan yang belum berislam, baik perseorangan maupun masyarakat (Kepribadian Muhammadiyah). Karena itu, dakwah yang dilaksanakan Muhammadiyah pada dasarnya bersifat menyeluruh pada seluruh aspek kehidupan (sosial, ekonomi, politik, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan aspek-aspek kehidupan penting lainnya) dan ditujukan pada seluruh lapisan masyarakat baik pada level individual, kelompok, maupun masyarakat di tingkat makro.
    2. Dakwah Muhammadiyah tidak semata-mata gerakan komunikasi untuk menyampaikan pesan dakwah (tabligh atau “da’wah bi al-lisan al-maqal”, tetapi sekaligus merupakan gerakan perubahan sosial untuk merubah keadaan ke arah yang lebih baik (“da’wah bi al-lisan al-hal”) sesuai misi Ajaran Islam. Dua pendekatan dakwah tersebut harus diintegrasikan sehingga merupakan kekuatan dalam pelaksanaan dakwah oleh Muhammadiyah.
    3. Beberapa langkah strategis yang perlu dikembangkan dalam gerakan dakwah Muhammadiyah :
      1. Melakukan pendekatan dakwah secara terencana yang berorientasi pada pe­mecahan masalah yang dihadapi umat dakwah dan umat ijabah.
      2. Mengintegrasikan dakwah dalam makna tabligh (sempit) dengan dakwah “multi dialog” dalam berbagai aspek kehidupan, dengan kata lain meng­integrasikan da’wah bi al-lisan al-maqal dengan da’wah bi al-lisan al-hal.
      3. Melakukan perimbangan antara dakwah berskala “massal” dengan dakwah berskala “personal” atau dakwah “kelompok” yang lebih dialogis.
      4. Perlunya perbedaan pendekatan, perencanaan, dan pengelolaan dakwah untuk umat ijabah dan umat dakwah.
      5. Perlu lebih memperhatikan dan mengembangkan fungsi-fungsi perencanaan dan pengelolaan dakwah oleh lembaga-lembaga dakwah yang ada, khususnya Majlis Tabligh.
      6. Melakukan pengkajian/penelitian tentang objek dan lingkungan dakwah sehingga diperoleh strategi yang tepat dalam melaksanakan dakwah.
      7. Pengembangan mekanisme pengorganisasian dakwah yang lebih profesional dengan pemilahan tugas yang jelas antar subjek dakwah (da’i, perencana, dan pengelola kegiatan dakwah).
      8. Pengembangan nilai-nilai saintifik Islam dalam kehidupah objektif manusia, alam, dan sejarah.
      9. Mengembangkan pengkajian Islam dari sudut pandang filsafati untuk meng­akomodasikan kecenderungan perkembangan pemikiran atau faham sekula­risme dan nativisme. Serta mengembangkan nilai-nilai ruhaniah/spiritual Islam sebagai santunan bagi kebutuhan spiritual dan rasa aman masyarakat mo­deren.
      10. Melakukan pendekatan yang positif-konstruktif terhadap objek dakwah, masyarakat “abangan” dengan menghilangkan jarak psikologis maupun budaya yang ada.
      11. Sebagaimana didukung oleh dasar hukum yang berlaku di Indonesia, perlu mendudukkan kegiatan salibisasi sebagai masalah bersama dalam gerakan dakwah Islam dengan berbagai langkah strategia.
      12. Mengembangkan sistem informasi yang mampu menjangkau secara luas dan menumbuhkan komunikasi yang efektif.
      13. Pembentukan “laboratorium dakwah” sebagai dapur analisis dan perenca­naan kegiatan dan pengembangan dakwah
    4. Merumuskan dan melaksanakan strategi dakwah pada era informasi, dan Industrialisai serta mendayagunakan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah sebagai media/sarana dakwah bagi kepentingan strategi dakwah tersebut sebagaimana dimanatkan oleh Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1990.
    5. Melaksanakan Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah sesuai tuntunan yang berlaku sebagai “pilot proyek” dakwah Muhammadiyah di tingkat “akar rumput” masyarakat di tingkat basic (merupakan strategi tersendiri).
Data AUM
Muhammadiyah saat ini sudah sangat berkembang ditandainya degan memiliki ribuan amal usaha

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Manhaj Bulan 1 Tahun 2014 , dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...