Siwabudda Bukan Agama Tetapi Kualitas Rohani

Apakah Majapahit Sebuah Kasultanan?

Gambar Siwabudda Bukan Agama Tetapi Kualitas Rohani
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Dalam Naskah Wangsakerta (naskah ini banyak dipertanyakan keabsahannya oleh para Sejarawan) yang ditulis pada abad ke-17 M pada Pustaka Rajyarajyai Bhumi Nusantara, menyebutkan bahwa Raden Wijaya adalah putra dari Pasangan Rakryan Jayadarma dari kerajaan Sunda yang menikah dengan Dyah Lembu Tal atau Dyah Singamurti, Putri dari Mahisa Campaka dari kerajaan Singashari. Sedang Rakryan Jayadarma itu disebutkan sebagai Prabu Darmasiksa yang bergelar Prabu Sanghyang Wisnu. Dengan gelar Prabu Darmasiksa itu yang secara sederhana bisa diartikan sebagai Raja Titisan Wisnu itu maka bisakah itu ditafsirkan bahwa Raden Wijaya adalah keturunan Dewa Wisnu dan berarti dia beragama Hindu?

Saya ingin mengajak memahaminya dengan epistemologi atau filsafat ilmu dari nenek moyang kita. Membaca prasasti, manuskrip, atau naskah-naskah kuno lainnya itu tidak bisa dengan cara pandang atau filsafat ilmu para filolog Belanda. Lalu bagaimana memahami gelar Prabu Sanghyang Wisnu dalam epistemologi nenek moyang kita.

Saja ajak anda berkunjung ke perpustakaan saya untuk membuka buku Baboning Kitab Primbon yang memuat berbagai naskah kuno untuk bisa memahami cara berpikir nenek moyang kita. Salah satu yang tertulis dalam buku itu tertulis Serat Sunan Prawata (Raja Demak ke-4), yang diantaranya menyebutkan:

Siyang dalu amba samadhi ing kalbu

Ngesti Wisnu Kresna

Tuwin Sang Hyang Sidajati

Ingsun gayuh campur tunggal lawan kita

Gih punika amba sebut gama putus

Ran Agama Budha

Tegese anganggep budi

Jatinipun Budha Islam padha uga

Sang Hyang Wisnu Arab tegesipun Rasul

Yen Kresna Muhammad

Allah Sang Hyang Sidajati

Mung bedane tembung Arab lawan Jawa.

Artinya sebagai berikut:

Siang malam hamba selalu khusyuk dalam kalbu

Mengharapkan Wisnu-Kresna

Serta Sang Hyang Sidajati

Kiranya dapat menyatu dengan-Mu

Itulah yang hamba sebut sebagai agama terakhir

Disebut juga sebagai Budha

Artinya memuliakan budi pekerti

Maka sesungguhnya Budha adalah Islam

Sang Hyang Wisnu dalam bahasa Arab disebut Rasul

Sedangkan Kresna adalah Muhammad

Allah disebut Sang Hyang Sidajati

Hanya perbedaan antara bahasa Arab dan bahasa Jawa

Simaklah Serat Sunan Prawata di atas, maka terbukalah cara berpikir nenek moyang kita memahami tokoh-tokoh di dunia pewayangan. Memang seharusnya memahami budaya nenek moyang kita, dengan cara berpikir nenek moyang kita sendiri. Bukan menafsirkan budaya nenek moyang kita dengan cara berpikir peneliti-peneliti Belanda. Dengan itu kita bisa memahami bahwa nenek moyang kita adalah sosok yang historis dan keturunan sosok yang historis juga, bukan mitologis. Rasul yang dalam istilah Sansekerta disebut Wisnu, adalah sosok yang historis sebagaimana disebutkan dalam kitab suci. Dengan cara pandang itu pula kita pun bisa memahami, kenapa koin mata uang emas di zaman Majapahit di satu sisinya ada tulisan laa ilaaha illallaah muhammad Rasulullah dan sisi sebaliknya bergambar Semar dan Kresna.

Dua sisi mata uang koin Majapahit itu pada dasarnya sama, di sisi yang satu menyebut laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullaah dengan huruf arab dan di sisi sebaliknya menunjukkan simbol Rasulullah dalam bahasa Sansekerta. Lalu, apa maksud gambar Semar? Sebutan Semar itu adalah Badranaya yang berasal dari kata Bebadra = membangun sarana dari dasar, dan Naya = Nayaka = utusan mengrasul. Sehingga secara filosofis arti dari Badranaya itu adalah mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia, atau dengan istilah lain sebagai rahmatan lil ‘alamin. Sedang Semar berasal dari kata Sa Ma Ra atau As Ma Ra yang artinya si-pecinta. Oleh karena itu si pembawa rahmat juga si pecinta. Maka gambar Kresna dan Semar bermakna Muhammad penebar rahmat juga cinta.

Hal demikian menunjukkan bahwa cara pandang Serat Sunan Prawata, yang tentu saja ditulis setelah periode Majapahit, berkesesuaian dengan artefak pada masa Majapahit berupa mata uang koin Majapahit sebagaimana uraian di atas. Dengan itu kita bisa paham kenapa ada uang logam Majapahit satu sisi baliknya tulisan laa Ilaaha illallaah Muhammad Rasulullah dan sisi baliknya bergambar Semar dan Kresna. Artinya, koin logam itu adalah salah satu data yang mendukung cara berpikir Serat tersebut.

Mungkin timbul pertanyaan, kalau kekuasaan di jawa memiliki hubungan dengan Islam, kenapa gelar raja-rajanya menggunakan bahasa Sansekerta? Kenapa tidak menggunakan bahasa ibrani atau arab? Tentu saja dalam Islam diajarkan metode para Rasul sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya: “Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim : 4).

Jadi penggunaan bahasa sansekerta dan atau kawi dalam gelar raja-raja Majapahit tidak menunjukkan kehinduan mereka sebagaimana disebutkan oleh sang Arkeolog di di depan. Sebagai contoh gelar Raja Kasultanan Islam Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu Hamengku Buwana, itu tidak berarti Kasultanan Ngayogyakarta itu Kerajaan Hindu. Demikian juga gelar Paku Buwana di Kasunanan Surakarta.

Seperti yang pernah kami sampaikan sebelumnya bahwa bahasa Sansekerta sudah digunakan jauh sebelum Majapahit ada. Bahasa Sansekerta adalah bahasa yang digunakan untuk menyebutkan hal-hal luhur dan agung, tinggi, suci, dan mulia. Karena gelar Raja adalah hal yang dianggap agung, maka wajar kalau gelar itu menggunakan bahasa Sansekerta. Dan sekali lagi perlu ditegaskan, itu tidak berarti Raja itu beragama Hindu dan Kerajaannya adalah Kerajaan Hindu.

Demikian pula dalam membaca prasasti, penggunaan bahasa Sansekerta dalam penulisan prasasti tidak menunjukkan bahwa kerajaan atau penulisnya beragama Hindu. Termasuk adanya kata “siwabudda” yang tertulis di prasasti, misalnya Prasasti Singasari atau prasasti Gajahmada, itu tidak menunjukkan penulisnya beragama sinkretis siwa (yang diartikan Hindu) dan budha. Penggalan pembuka Prasasti Singasari atau prasasti Gajahmada: “pāduka bhaāra sang lumah ring śiwa buddha” bermakna “Paduka Bathara beliau ini sangat dermawan disebut siwabudda”. Kata siwabudda tidak merujuk pada agama yang dianut, tetapi pada sebutan atau semacam pencapaian rohani yang diakui sebagai sebutan oleh pembuat prasasti.

Demikian pula dalam membaca prasasti, penggunaan bahasa Sansekerta dalam penulisan prasasti tidak menunjukkan bahwa kerajaan atau penulisnya beragama Hindu
Demikian pula dalam membaca prasasti, penggunaan bahasa Sansekerta dalam penulisan prasasti tidak menunjukkan bahwa kerajaan atau penulisnya beragama Hindu (Sumber gambar : klik disini)

Pengartian Siwabudda sebagai sinkretisme antara agama Siwa (Hindu) dan Budha ini menurut Prof. Jacob Sumardjo membingungkan orang India, karena di India keduanya terpisah. Demikian juga tidak ada data berupa artefak maupun manuskrip terpercaya tegas mendukung secara jelas adanya agama sinkretis seperti ini. Artinya, meskipun banyak para sejarahwan menolak kalau Majapahit disebut sebagai Kerajaan Islam tetapi mereka juga tidak memiliki bukti adanya agama Sinkretis. Tafsir sebagaian mereka tentang “kasogatan” yang sering menjadi justifikasi pendapat mereka tentang kebudhaan kerajaan majapat telah saya jawab di bab “Apa Kata Kasogatan adalah Bukti Majapahit Beragama Buddha?”. Dan di bagian ini, saya luruskan bahwa mengartikan Siwabudda sebagai sinkretisme agama Siwa dan Budha tidak didukung data yang memadai.

Sejalan dengan konsep Dewaraja maka kata siwabudda dalam Prasasti Singosasri adalah suatu bentuk sebutan untuk “Raja Gung Binathara”. Profesor Jacobus Sumardjo (2002) dalam buku “Arkeologi Budaya Indonesia” terbitan Qalam halaman 37 menyejajarkan kata siwabudda ini dengan kata khalifatullah. Karenanya jika konsisten pada hal itu maka pak Jacob Sumardjo seharusnya bisa menjelaskan kepada orang India yang heran menganggap adanya penyatuan agama Hindu-Saiwa dan Budha-Mahayana-Wajrayana di Jawa, padahal di India dipisah. Sebab, tak pernah ada sinkretisme Hindu Budha di Nuswantara. Dan ini artinya prasasti Singasari pun berkesesuaian, atau minimal tidak bertentangan, dengan cara pandang Serat Sunan Prawata. Bahwa dalam cara pandang nenek moyang kita, yang disebut budha oleh nenek moyang kita itu bukan agama tetapi artinya memuliakan budi pekerti atau berakhlak mulia. Karena itu siwabudda bisa dimaknai menjadi berarti khalifatullah yang berakhlak mulia atau Raja Gung Binathara yang berbudi luhur.

Pengertian tersebut mengungkap cara berpikir nenek moyang kita seperti halnya yang tersebar dalam berbagai prasasti. Kita jadi bisa memahami kalau nenek moyang kita dalam Prasasti Mula Malurung menuliskan bahwa pendiri kerajaan Singasari itu adalah Bathara Siwa. Kerajaan Singasari yang historis ini tentu tidak didirikan oleh dewa dari dunia pewayangan Jawa. Penulisan Bathara Siwa sebagai pendiri Kerajaan Singasari dalam prasasti tersebut menunjukkan bahwa pendiri kerajaan Singasari adalah seorang khalifatullah atau Raja Gung Binathara.

Lalu, bagaimana jika ada seorang raja bergelar Prabu Sanghyang Wisnu seperti Prabu Darmasiksa, nenek moyang Raden Wijaya dari Pasundan itu? Dalam buku Kasultanan Majapahit, mas Herman pun membabar makna dari kata Wishnu. Wishnu berasal dari kata waishnawa, artinya “yang diturunkan”. Dalam bahasa Arab wishnu = waishnawa = Rasul. Kesimpulan ini sesuai dengan batu Roseta Sunan Prawata di atas. Maka dari nomenklatur tersebut secara langsung bisa disimpulkan Prabu Darmasiksa seorang keturunan Rasul.  Secara istilah nama Darmasiksa itu menunjukkan seorang yang mengajarkan laku prihatin.

Selanjutnya perlu penegasan bahwa secara bahasa pe­nyim­pulan Sunan Prawoto (raja keem­pat Demak) di atas bahwa Buddha ar­tinya memu­lia­­kan budi pekerti itu tidak ber­ten­tangan de­ngan makna bahasa Kawi. Kata Buddha dalam istilah Kawi memang sama de­ngan buda dan bu­di, yang bisa diartikan berbudi luhur atau menge­depankan akhlak mulia. Sedang dalam istilah sansekerta, Buddha artinya telah men­dapat pe­nerangan sempurna. Makna itu sama dengan ka­ta Makrifat dalam istilah tasawuf.

Dalam istilah Kawi juga, Siwa berarti kesejah­teraan atau kemakmuran. Sebagai kualitas pen­capaian maka berarti mereka yang dijuluki Siwa adalah sosok yang mendatangkan kesejahteraan atau kemakmuran. Dengan demikian secara ba­hasa kualitas yang disebut Siwabuddha adalah  pencapaian rohani yang dianggap mampu mela­hirkan kemakmuran karena budi-pekertinya yang luhur atau karena kemulian akhlaknya.

Pe­ngertian di atas mengantarkan pada pema­haman bahwa seorang raja yang mendapat gelar Si­wabud­dha maka dia adalah Raja Gung Bi­nathara atau Khalifatullah yang mampu mela­hirkan kemak­muran karena kemuliaan akh­laknya. Sedang makna Siwabud­dhaloka dalam Pupuh 43 Gatra ke-5 Na­gara Krtagama berarti sorga yang dicapai karena kemulian akhlak yang mampu melahirkan kemakmuran atau kesejah­teraan. Pengertian di atas menujukkan bahwa menerjemahkan Siwabud­dha sebagai Hindu dan Buddha ter­lihat betul sangat dipaksakan. Sebab konsekuen­sinya harus mengartikan Siwabud­dhaloka seba­gai Sorga Hindu dan Buddha, sebuah pengertian yang tak memiliki dukungan arkeologis sama sekali.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...