Sinergi Muhammadiyah dan Aisyiah Menanggulangi Tuberkulosis

Seperti halnya Muhammadiyah, Aisyiah sebagai ortom khususnya, juga memiliki kependulian yang kuat terhadap gerakan sosial di bidang kesehatan. Sebagai manifestasi, Aisyiah juga mendirikan Amal Usaha berupa klinik-klinik kesehatan yang tersebar ke barbagai daerah di Indonesia. Kecuali itu, Aisyiah juga memiliki program-program untuk meningkatkan pemberdayaan dan kualitas kesehatan masyarakat. Gerakan kesehatan yang dikembangkan memiliki fokus pada perempuan, bayi, dan anak yang berbasis pada pelayanan kesehatan dan komunitas.

Wujud gerakan yang selama ini dilakukan antara lain berupa peningkatan upaya penurunan angka kematian ibu melahirkan melalui berbagai kegiatan dan meningkatkan upaya penurunan angka kematian bayi dan balita dengan prioritas program seperti imunisasi, ASI ekskluisf, IMD, pemberian gizi seimbang, dan tumbuh kembang anak.

Salah satu program unggulan di bidang kesehatan yang saat ini dijalankan oleh Aisyiah adalah Community TB Care Aisyiah. Kegiatan ini adalah program penanggulangan Tuberkulosis berbasis masyarakat yang menjadi bagian dari program Majelis Kesehatan Aisyiah di bawah pembinan PP. Aisyiah. Melalui program ini Aisyiah hendak berperan dalam pembangunan kesehatan manusia di Indonesia dan pencapaian target MDGs no. 6 yakni penurunan angka penyebaran penyakit menular.

Menurut Rahmawati, Koordinator Program SSR Kota Yogyakarta, program Community TB Care Aisyiah bermula pada tahun 2002 yang saat itu masih berperan sebagai iplementing unit dari Principle Recipient organisasi donor Global Fund yaitu Kementrian Kesehatan sebagai penerima utama. Program ini dilakukan di  31 propinnsi wilayah Aisyiah. ”Tahun 2005 Aisyiah dan pemerintah dalam hal ini, kementrian kesehatan mendapat dana dari Global Fund. Pemerintah berperan dalam pembenahan fasilitas kesehatan, sementara PP Aisyiah fokus pada dukungan komunitas masyarakat. Di kota Jogja sendiri, program ini pernah dibuka pada tahun 2005. Namun sejak 2009 sampai 2012 program tersebut dipindah ke Sleman. Pada tahun 2016, program ini  dikelola olah Wilayah, dan tahun 2017 dibuka lagi di kota Jogja. Program ini pernah mencakup 33 provinsi, namun saat ini hanya 25 provinsi dan 160 kabupaten dan kota.” Ungkap mbak Rahma, panggilan akrabnya.

Pada tahap awal, kegiatannya meliputi advokasi kepada para pengambil kebijakan di Pimpinan Muhammadiyah-Aisyiah; advokasi terhadap pihak-pihak terkait dalam program untuk mengendalikan TB, serta pelatihan DOTS bagi tenaga kesehatan dalam usaha kesehatan Muhammadiyah-Aisyiah. Pada perkembangannya, kegiatan-kegiatan dari program tersebut menjadi lebih spesifik dengan memperluas jaringa advokasi melalui pelatihan bagi kader muballigh dan ader untuk memperkuat kader kesehatan Aisyiah di tingkat desa. Pada fase ini, kegiatan berfokus pada pencapaian target dan memberikan pengalaman baru bagi Aisyiah-Muhammadiyah sebagai organisasi yang berbasis agama, melalui pelatihan kader Komunitas dan muballigh tentang pengendalian penyakit TB. “Kami sebagai SSR mempunyai kader yang tersebar di semua kecamatan di Jogja. Kader ini terjun langsung di masyarakat. Kita melakukan sosiaisasi, terhadap temuan kita lakukan screening. Para kader tersebut sudah dibekali pengetahuan yang cukup melalui pelatiha teori maupun praktik selama hampir satu minggu.” Ungkap Rahmawati.

Sejak tahun 2009, Aisyiah terpilih menjadi mitra Global Fund sebagai penanggung jawab utama penerima dana (Principle Recipient) mewakili kelompok-kelompok kemasyarakatan. Program tersebut bernama Community TB Care ‘Aisyiah. Pada kesempatan tersebut Aisyiah mengkoordinir 23 penerima dana sekunder (SR) yang melibatkan 16 PW Aisyiah, dan 6 mitra NGO, yakni PKPU, TB Care Yarsi, LKC, LKNU, Perdhaki NTT, dan KMP Sidobinangun. Hingga periode 2014-2016, Aisyiah dipercaya menjadi penerima donor utama (PR)  melalui program tersebut  yang bergerak di 12 propinsi di 48 kabupaten dan bermitra dengan beberapa NGO sebagai penerima dana sekunder (SR).

Sejak tahun 2016, dengan skema pendanaan baru, Aisyiah kembali menjadi mitra Global Fund di Indonesia dalam penanggulangan TB dan HIV mewakili CSO. Dengan program tersebut, pada tahun 2016 Aisyiah telah mengelola program yang tersebar di 18 propinsi, 75 kabupaten  dengan membawahi seluruh kegiatan CSO. Adapun untuk tahun 2017, program ini dijalankan di 25 propinsi 75 kabupaten. Secara program, dengan skema baru pendanaan (NFM) Aisyiah tidak lagi hanya fokus pada penanggulangan TB dan TB MDR, tetapi juga pendampingan TB HIV. Sehingga saat ini program tersebut berkembang menjadi Community TB-HIV Care ‘Aisyiah.

Pada level daerah, program tersebut dilakukan oleh unit bernama SSR (Sub-Sub Recipient) dengan PD Aisyiah sebagai pengelolanya. PD Aisyiah Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang membuka program tersebut pada tahun 2017. Menurut penuturan Rahmawati, pada tahun 2005, Jogja pernah membuka program tersebut yang kemudian dihentikan pada thaun 2012. “Sejak periode 2009 sampai 2012 program tersebut dipindah ke Sleman. Pada tahun 2016, program ini  dikelola olah Wilayah, dan tahun 2017 dibuka lagi di kota Jogja. Di DIY sendiri semua kabupaten dan kota membuka program tersebut. Kota Jogja yang dikelola oleh PDA baru mulai per januari bersama dengan Kulonprogo, Gunung Kidul dan Bantul.” Imbuh Rahma.

Deklarasi Penanggulangan dan Pencegahan TB di Kota Yogyakarta saat TB Day 2017
Deklarasi Penanggulangan dan Pencegahan TB di Kota Yogyakarta saat TB Day 2017

Kota Jogja dengan kondisi kependudukan yang cukup padat dengan kerentanan terhadap penyakit Tuberkukosis yang cukup tinggi, khususnya di kawasan bantaran sungai, merupakan daerah yang membutuhkan perhatian yang besar. Data telah menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun tingkat kasus TB pun terus meningkat. Hingga saat ini tidak ada satu kelurahan pun di kota Jogja yang terbebas dari kasus TB. Hal inilah yang mendorong Muhammadiyah Kota Jogja melalui Majelis Pelayanan Kesehatan Umat, memandang perlu untuk mendukung program PD Aisyiah sebagai SSR program tersebut. “kita tawarkan program kerjasama karena MPKU juga punya program tersebut. Jadi kita ingin memperkuat gerakan ini dengan Aisyiah sebagai koordinatornya. Dengan demikian Aisyiah dan Muhamadiyah bisa eksis di permukaan, bahwa kita peduli dan mendukung pemerintah secara nyata. Sebab itu pula kemarin kita deklarasikan peduli TB.” Ungkap Edi Sukoco, ketua MPKU Kota Jogja.

Dengan sinergi tersebut, program yang kembali dibuka di Kota Jogja tersebut diharapkan mampu berjalan dengan lebih efektif. Fokus yang akan dikerjakan melalui sinergi Aisyiah dan Muhammadiyah kedepan, menurut Rahmawati, adalah penguatan komunitas dan mengoptimalkan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat “Sosialisasi terus menerus agar masyarakat semakin sadar dan stigma negatif terhadap penderita berkurang. Stigma seperti kumuh dan miskin harus berkurang karena pada dasarnya semua kalangan bisa terkena, ini karena persebarannya sangat cepat dan mudah, khususnya TB paru.” Imbuh Rahma.


Daftar Laporan Khusus “Sinergi Muhammadiyah dan Aisyiah Menanggulangi Tuberkulosis”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait