Seputar Dakwah Kultural dan Haruskah Meninggalkan Jargon Islam Berkemajuan

Gambar Seputar Dakwah Kultural dan Haruskah Meninggalkan Jargon Islam Berkemajuan
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Perbincangan atau semacam kerinduan atau mungkin juga kebingungan terhadap dakwah kultural masih saja ada. Beberapa waktu yang lalu Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Aisyiyah mengadakan seminar tentang pengembangan dakwah kultural. Beberapa saat sebelumnya saya diminta berbicara dalam sebuah Forum Mubalighot Pimpinan Cabang Aisyiyah tentang dakwah kultural. Dalam forum mubalighot itu saya menemukan (kembali) adanya salah kaprah memahami dakwah kultural. Banyak yang beranggapan bahwa dakwah kultural selalu berkaitan dengan penggunaan seni tradisional dalam dakwah, sebuah pandangan yang saya anggap salah kaprah.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang dakwah kultural, ada baiknya kita tengok bagaimana pandangan resmi Muhammadiyah tentang dakwah kultural. Dalam tanfidz Muhammadiyah tahun 2004, pemikiran dakwah kultural (2004:20) dinyatakan tentang konsep dakwah secara umum yaitu “Upaya untuk mengajak seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) agar memeluk dan mengamalkan Islam atau mewujudkan ajaran Islam ke dalam kehidupan yang nyata “. Sedang yang dimaksud dakwah kultural adalah “Upaya menanamkan nilai-nilai Islam dalam seluruh dimensi kehidupan dengan memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk budaya secara luas dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam kaitan ini tidak benar jika dakwah kultural meligitimasi hal-hal yang bertentangan dengan Manhaj pemikiran Muhammadiyah, termasuk dalam menghadapi gejala syirik, bid’ah dan khurafat, (Dakwah Kultural Muhammadiyah terbitan tahun 2004).

A. Salah Kaprah dan Su’uzhon Budaya

Kultur atau budaya tidak hanya berkaitan dengan kesenian, apalagi kesenian tradisional. Dakwah menggunakan kesenian tradisional bisa saja menjadi salah satu bentuk dakwah kultural, tapi adalah salah kalau memahami dakwah kultural harus menggunakan kesenian tradisional. Apalagi kesenian bermuatan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Dilihat dari sisi bahasa, pengertian dakwah kultural merupakan gabungan antara kata “dakwah” dan kata “kultural”. Penggabungan itu bisa bermakna sifat, yaitu dakwah yang bersifat budaya. Tapi bisa juga penggabungan itu bermakna metode, yaitu dakwah dengan metode budaya. Jika kultural merupakan suatu metode maka ia berarti dakwah untuk melakukan penyadaran mengubah budaya lama yang berbeda dengan dakwah struktural yang mengarah pada perubahan kebijakan pemerintah. Sedang jika kultural dianggap sebagai sifat maka dakwah itu memiliki memakai budaya sebagai alat untuk menyampaikan gagasannya, baik seni kontemporer maupun tradisional.

Untuk selanjutnya saya lebih memahami dakwah kultural sebagai usaha untuk mengubah budaya masyarakat, dari yang kufur menuju yang islami, dari yang dzalim menuju yang adil, dan dari yang buruk menuju yang indah. Dengan pengertian tersebut maka salah satu tugas dakwah kultural yang penting adalah melakukan identifikasi karakter budaya, mana yang bertentangan dan mana sesuai yang dengan ajaran islam, serta mana yang akan dijadikan prioritas untuk digarap.

Perlu dipahami bahwa ketika seseorang da’i ingin mengidentikasi karakter budaya seringkali terjebak menggunakan praduga (zhon) budaya ketimbang dalam melakukan identifikasi. Bukan hanya identifikasi mana yang islami dan mana yang tidak islami, tapi juga praduga budaya yang membuat salah menentukan prioritas budaya mana dulu yang harus diubah dan mana yang tak perlu diubah. Praduga yang menyesatkan (su’uzhoon) ini biasanya karena orang tidak mau meneliti bagaimana sebenarnya budaya itu ada dan apa maksudnya. Belum tahu apa sebenarnya sudah langsung men-cap kufur, bid’ah, musyrik, dan sebagainya.

B. Terbentuknya Budaya: Cara, Acara dan Upacara

Budaya pada awalnya hanyalah “cara” sebagai sebuah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Perubahan dari cara menjadi acara, ketika cara itu telah memiliki alokasi waktu yang dijadwalkan, apalagi jika dilakukan secara rutin maka orang tak lagi menyadari bahwa acara itu pada awalnya hanyalah cara. Sebagai contoh acara jamasan kraton, pada awalnya itu adalah cara penguasa Kraton untuk membersihkan pusaka atau kereta kencana yang dimilikinya. Untuk pertimbangan birokrasi yang memakai penanggalan jawa mereka menyeragamkan menjadi acara jamasan setiap tanggal 1 muharam. Di situ “cara” membersihkan senjata berubah menjadi “acara” jamasan.

Contoh lain adalah tradisi sekolah yang asal katanya berasal dari bahasa latin skhole, scola, scolae atau skhola yang memiliki arti waktu luang atau waktu senggang. Hal itu karena pada mulanya sekolah hanyalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Dengan demikian pada mulanya sekolah yang hanya sekedar “cara” mengisi waktu luang (dan juga akhirnya menjadi suatu cara untuk belajar), setelah dijadwalkan dan dirutinkan maka jadilah sekolah menjadi suatu acara. Orang tidak banyak yang ingat lagi bahwa pada awalnya sekolah hanyalah suatu cara bukan acara, apalagi kegiatan wajib.

Selanjutnya tak jarang acara berubah menjadi upacara tatkala ada penegasan pentingnya penularan nilai dalam acara tersebut. Di masyarakat kita upacara tradisi yang tidak berkaitan dengan ibadah atau keyakinan agama pada awalnya hanyalah acara yang kemudian dikemas menjadi lebih tertata untuk proses “sekedar” penegasan makna atau semata-mata untuk kepentingan edukasi (pendidikan keluarga atau masyarakat). Salah satu contohnya upacara “lamaran” yang pada mulanya adalah sekedar acara khitbah. Upacara “lamaran” dibuat agar ada penegasan makna bagi calon mempelai bahwa pernikahan adalah persoalan yang sangat penting.

Dalam bentuk skala yang lebih luas upacara merayakan tahun baru Islam di Kraton Yogyakarta pun terjadi dari cara, acara dan menjadi upacara. Pada mulanya acara malam satu suro (tanggal 1 muharam) di Kraton Ngayogyokarto itu adalah cara penguasa Kraton untuk melakukan konsolidasi abdi dalem (pasukan dan birokrat kerajaan) setiap menjelang tahun baru islam. Para abdi dalem yang ditandai bendera kesatuannya diajak mubeng (berjalan keliling) beteng Kraton untuk mengenal dan menegaskan batas-batas benteng pertahanan Kraton Yogyakarta. Dalam perkembangannya karena dijadwalkan dan dirutinkan maka cara itu menjadi acara setiap malam tahun baru Islam di Kraton Ngayogyokarto. Proses pemberangkatannya para abdi dalem ini pun dilakukan dengan sebuah upacara “militer” ala Kraton Yogyakarta, sebagai penegasan makna disiplin aparat Kraton. Sebagai kelengkapan upacara sebelum peberangkatan keliling beteng pertahanan itu para abdi dalem diajak mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang tafsirnya diuraikan dalam bentuk tembang bahasa jawa bertempat di Keben Kraton yang semuanya bermakna edukasi. Perjalanan mubeng beteng dilakukan dengan hening, tidak dengan hura-hura selayaknya pesta tahun baru. Adapun masalahnya sekarang, ada warga di luar abdi dalem yang ikut-ikutan mubeng beteng dengan pemahaman yang entah dari mana asalnya mengangap bahwa mereka yang ikut mubeng beteng dengan cara hening (mbisu) akan bisa terkabul segala keinginannya. Pemahaman mitis seperti ini adalah warisan budaya agraris yang perlu diluruskan.

Contoh lain fungsi edukasi adalah pada acara tumpengan. Pada awalnya tumpengan adalah cara untuk bersedekah yang selanjutnya jadi acara dan kemudian jadi upacara. Ketika menjadi upacara, acara tumpengan dilakukan untuk melakukan pendidikan masyarakat lewat “buku ajar” bernama tumpeng. Perlu diingat dulu buku bacaan itu barang mewah dan tak semua orang bisa memilikinya, serta tak ada sekolah untuk mendidik masyarakat dan karena itu upacara seperti tumpengan ini pada dasarnya menjadi media pendidikan masyarakat. Cara mendidik masyarakat dengan “buku ajar” itu dilakukan sebelum tumpeng dipotong dan dibagikan, yaitu melalui seorang guru yang menjelaskan makna-makna simbolik dari tumpeng yang pada intinya hidup itu harus selalu ingat Allah sebagaimana tumpeng yang selalu menunjuk ke atas. Namun masalahnya sekarang, tumpeng di masa kini bukan lagi “buku ajar” karena sudah banyak buku cetakan yang memuat pelajaran agama secara lebih detail termasuk memuat teks dalil-dalilnya, juga karena tak banyak guru yang bisa mengajar dengan buku ajar berupa tumpeng.

Dalam batasan tertentu, upacara ternyata memiliki potensi untuk dipasarkan sebagai komoditas pariwisata. Alhasil meskipun berbagai upacara telah kehilangan fungsinya sebagai penegas makna dan mendidik masyarakat namun tetap dipertahankan dikarenakan bisa menarik wisatawan. Parahnya ada yang dalam tradisi masa lalu hanya berkembang sebatas menjadi acara karena tak memiliki makna yang perlu ditegaskan, untuk kepentingan pariwisata, kemudian dipaksakan menjadi upacara.

Kader-kader Muhammadiyah tentu saja tak perlu ikut dan sebaiknya menghimbau warga Muhammadiyah untuk tidak perlu ikut-ikutan keliling beteng pada malam satu suro karena tradisi itu sebenarnya untuk para abdi dalem yang terikat dengan tradisi birokrasi Kraton. Demikian juga warga Muhammadiyah tak perlu ikut-ikutan mengadakan tumpengan karena telah tersedia media pendidikan masyarakat yang jauh lebih efektif seperti sekolah dan pengajian-pengajian. Tapi kader-kader Muhammadiyah perlu untuk melakukan pencerdasan agar masyarakat tidak ikut-ikutan pada apa yang tidak mereka pahami. Juga perlu meluruskan pemahaman-pemahaman yang telah melenceng dari nilai-nilai Islam.

Selain meluruskan pemahaman-pemahaman yang telah melenceng dari budaya warisan masa lalu atau tradisional itu, ada tugas dakwah kultural yang sungguh amat penting. Yaitu dakwah kultural dalam kultur masyarakat industri lanjut yang nyata-nyata ada di depan mata. Kader-kader Muhammadiyah perlu memikirkan bagaimana dakwah kultural dalam kultur masyarakat industri lanjut sekarang ini.

C. Kultur Industri Lanjut

Industrialisasi awal melahirkan masyarakat yang kompleks, masyarakat tidak lagi homogen (sekedar petani saja). Hal itu ditandai dengan munculnya kelas sosial baru yang lepas dari pertanian, yaitu kaum pedagang, terdidik, dan buruh, yang mereka itu membawa perubahan budaya. Oleh kelas baru yang heterogen itu berjanjen, shalawatan, dan pujian digantikan oleh sandiwara, nyanyian dan olahraga. Pesantren pun digantikan dengan sekolah. Melalui terbentuknya kelas baru itulah HW, Tapak Suci, drum band, dan semacamnya menjadi pintu masuk kader Muhammadiyah. Dalam tahap industri awal, Muhammadiyah bergerak cepat yang salah satunya karena Muhammadiyah mengusung simbol kemajuan. Dalam masyarakat berbudaya industri awal ini simbolnya adalah kemajuan, yaitu melepaskan budaya agraris masuk kepada budaya industri awal.

Dalam kultur masyarakat industri lanjut, simbol kemajuan diragukan. Cita-cita kemajuan itu digantikan oleh post-modernisme atau modernisme lanjut yang meragukan segalanya. Prof. Kuntowijoyo dalam makalahnya sebagai sumbangan Mukhtamar Muhammadiyah yang disampaikan pada tangal 15 Juni 1995 mengatakan bahwa jawaban untuk pertanyaan apakah yang tepat sebagai pengganti simbol “Islam berkemajuan” dalam bidang kebudayaan bukanlah hal yang sedehana. Tetapi beliau meringkas usulannya dengan “Islam dan Kebijakan Kenabian” yang dalam bahasa saya bisa dirumuskan menjadi “Islam Bil Hikmah”.

Tanda-tanda adanya tahap industri lanjut ini dengan posmodernnya ialah ditolaknya kerangka besar. Muhammadiyah mewakili Islam sebagai kerangka besar diisadari atau tidak sedikit banyak mengalami penolakan, kecuali dalam fungsi-fungsi yang langsung berhubungan dengan masyarakat dan dirasakan manfaatnya. Orang bisa menerima dan menyalurkan sedekahnya kepada Lazismu atau Panti asuhan Muhammadiyah tanpa dia merasa perlu memiliki NBM. Orang bisa saja menyekolahkan anaknya ke sekolah Muhammadiyah tanpa harus merasa sebagai anggota Muhammadiyah. Orang bisa menyimpan uangnya di Baitul Mal milik Muhammadiyah tanpa perlu masuk menjadi anggota Muhammadiyah. Orang tak peduli masjid itu ada plakat milik Muhammadiyah atau tidak selama dia bisa khusyuk beribadah di dalamnya.

Apa yang terjadi itu sejalan dengan fenomena disebut dengan “the End of History”. Persoalan yang menjadi perhatian dari manusia secara umum bukan lagi apa ideologinya, namun bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan seperti kerusakan lingkungan, fenomena korupsi, kemiskinan, dan sebagainya. Menguatnya intelektualisme pun menjadi arus budaya baru dimana ilmu pengetahuan dan teknologi seakan ditempatkan menggantikan agama sebagai “petunjuk” dalam masyarakat luas yang memunculkan arus balik dalam skala terbatas berupa fundamentalisme dengan berbagai bentuknya. Dari yang hanya mementingkan teks, sampai terorisme; dari agama politis sampai yang apolitis, dari yang sekedar menolak gejala peradaban modern sampai yang akan kembali ke masa lampau. Terhadap sekian banyak bentuk ini, dakwah membutuhkan kebijaksanaan memahami objek dakwahnya. Dengan demikian jargon “Islam Bil Hikmah” rasanya tepat untuk menjadi simbol dakwah Muhammadiyah dalam kultur industri tingkat lanjut.

D. Metode Dakwah Kultural dan Pentingnya Islam Bil Hikmah

Secara sederhana metode dakwah kultural terdiri dari 3 (tiga) langkah, yaitu: 1) Mengidentifikasi karakter budaya untuk menemukan fokus dakwah 2) Memahami karakter objek dakwah untuk menentukan pendekatan dakwah yang tepat 3) Mengubah budaya yang tidak islami menjadi islami sesuai karakter objek dakwah.

Dalam tahap awal dakwah kultural ini identifikasi karakter budaya juga berarti mencari fokus dakwah yang konkret. Sebagai contoh jika identikasi itu menemukan masalah tiadanya kultur masyarakat yang hafal al-Qur’an maka bisa saja fokus dalam sebuah ranting salah satunya membuat jamaah penghafal al-Qur’an. Jika identifikasi karakter budaya di sebuah PDM adalah munculnya karakter budaya masyarakat yang korup, maka dakwah kultural bisa menjadi dakwah penyadaran para perilaku anti korupsi. Demikian seterusnya, yang dalam menjalankanya tidak akan lepas dari simbol besar “Islam dan Kebijakan Kenabian” jika memang kita telah sepakat menyadari pentingnya.

Tahap kedua memahami karakter objek dakwah untuk menentukan pendekatan yang tepat. Dalam manhaj tarjih Muhammadiyah dikenal 3 jenis pendekatan, yaitu burhani, bayani, dan irfani. Dalam Putusan Tarjih tahun 2000 di Jakarta dijelaskan bahwa pendekatan dalam ijtihad Muhammadiyah menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Dengan pemahaman karakter objek dakwah yang baik maka bisa ditentukan berapa porsi yang tepat untuk pendekatan burhani, bayani, dan irfaninya, dalam ijtihad dakwah yang dijalankan. Pendekatan bayani menggunakan nas-nas syariah. Penggunaan burhani menggunakan ilmu pengetahuan yang berkembang, seperti dalam ijtihad mengenai hisab. Pendekatan irfani berdasarkan kepada kepekaan nurani dan ketajaman intuisi batin.

Selanjutnya dalam tahap ketiga adalah tahap aksi, mengubah budaya yang tidak islami menjadi islami sesuai karakter objek dakwah. Kunci dalam tahap yang ketiga ini adalah senantiasa menjaga keikhlasan, sabar dengan terus menjaga konsistensi dakwah, serta kemauan belajar sehingga terus bisa memperbaiki kesalahan dan menyempurnakan dakwahnya.

Sebagai penutup tulisan ini, saya tegaskan kembali pentingnya jargon Islam Bil Hikmah, namun bukan untuk menanggalkan atau meninggalkan jargon Islam Berkemajuan di Muhammadiyah. Sebab suka atau tidak suka jargon Islam Berkemajuan telah mengakar kuat menjadi semangat abad pertama gerakan Muhammadiyah yang tak bisa begitu saja ditanggalkan atau ditinggalkan. Semangat Islam Bil Hikmah bisa dipandang sebagai kelanjutan atau tahap lanjut dari Islam berkemajuan, yang nantinya akan selalu ada orang-orang yang menganggap penting untuk diperjuangkan dalam Mukhtamar Muhammadiyah sebagaimana saran Kuntowijoyo. Sebab semangat Islam Bil Hikmah itu pada dasarnya merupakan kebutuhan kultural Muhammadiyah dalam masyarakat industri tingkat lanjut.

Sejalan dengan itu maka tak salah jika Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta telah berani memfasilitasi Forum Bina Akhlak Kepemimpinan Muhammadiyah bernama Baitul Hikmah. Demikian mudah akan temukan benang merah antara akhlak kepemimpinan yang dikembangkan dalam Baitul Hikmah dengan semangat Islam Bil Hikmah. Harapannya dalam perjalanan nanti Baitul Hikmah ini benar-benar bisa melahirkan pimpinan-pimpinan Muhammadiyah yang dikaruniai hikmah seperti yang terkandung dalam firman Allah: “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. al-Baqarah [2]: 269).

Kader-kader Muhammadiyah tentu saja tak perlu ikut dan sebaiknya menghimbau warga Muhammadiyah untuk tidak perlu ikut-ikutan keliling beteng pada malam satu suro karena tradisi itu sebenarnya untuk para abdi dalem yang terikat dengan tradisi birokrasi Kraton
Kader-kader Muhammadiyah tentu saja tak perlu ikut dan sebaiknya menghimbau warga Muhammadiyah untuk tidak perlu ikut-ikutan keliling beteng pada malam satu suro karena tradisi itu sebenarnya untuk para abdi dalem yang terikat dengan tradisi birokrasi Kraton (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait