Sentuhan Etika Dalam Pendekatan Dakwah Yang Berkemajuan

Surahmat An-Nashih, S.Ag
Oleh : Surahmat An-Nashih, S.Ag (Korps Muballigh Muhammadiyah Kota Yogyakarta)

Sebuah Fragmen

Kotbah kok gundhulan, suk neh ra sah dinggo!” tandas sesepuh kampung. Ketua takmir, para pengurus masjid, para panitia dan sejumlah peserta rapat evaluasi rutin bulanan pelaksanaan khuthbah dan khithabah di masjid itu terdiam dan bahkan bungkam. Malam yang baru pukul 20.32 itu menjadi senyap dan nyaris lengang. Lalu seperti adat-nya, pendapat sesepuh kampung itu menjadi vonis dan keputusan rapat. Pokoke Ustadz Fulan tidak lagi dipakai alias dicoret dari daftar khatib dan muballgh masjid tersebut. Ending cerita, pada esok harinya seorang seksi humas masjid menyampaikan surat resmi penghentian jadwal ke rumah Ustadz Fulan yang jauhnya sejarak 35 menit perjalanan motor.

Wajibnya Sentuhan Etika

Fragmen tersebut mengilustrasikan apa yang mungkin telah, sedang dan akan terjadi di sekitar kita. Intinya, bahwa sekedar gundhulan alias tidak berpenutup kepala ketika berkhutbah ternyata bisa menjadi masalah ataupun dipermasalahkan. Terlepas dari perdebatan siapa yang paling benar dalam kasus tersebut – fihak muballigh sebagai pelayan umat ataukah fihak masjid sebagai user – justru yang penting ditegaskan adalah bahwa etika merupakan foktor penting bagi suksesnya kerja dan pelayanan da’wah. Jangan dianggap sepele. Sudah saatnya kita sebagai khatib dan muballigh bermuhasabah mengevaluasi diri sebelum dievaluasi oleh umat, haasibuuu anfisakum qabla antuhaasabbuu.

Betapapun posisi etika tidak sentral di dalam da’wah namun keberadaannya hampir mutlak. Visi, misi dan isi da’wah bisa terjunjung atau malah terjungkal, hal itu bisa ditelisik dari etika yang ditampilkan muballigh sebagai juru da’wahnya. Lebih lengkap lagi jika diperdalam ada tidaknya kesenyawaan antara etika tersebut dengan retorika dan sistematika da’wah. Tak jarang retorika dan sistematika yang bagus justru ternodai oleh “sepotong” etika yang buruk. Padahal jamak berlaku bahwa setitik nila merusak susu sebelanga sehingga wajib bagi muballigh menjaga etika didalam seluruh kerja da’wahnya, yakni menjaganya sepotong demi sepotong dari totalitas etika. Wajib bagi muballigh untuk menjadikan sentuhan etika sebagai pendekatan (approach) dari kegiatan khuthbah (khutbah) dan khithabah (ceramah, sesorah, taushiyah, dsb) demi sempurnanya seluruh kewajiaban da’wah, sebagaimana ditegaskan dalam qa’idah fiqhiyah: maa laa yatimmul waajibu illaa bihii fahuwa waajib (sesuatu yang berakibat tidak sempurnanya yang wajib maka sesuatu itu hukumnya wajib).

Ilustrasi Etika Dalam Dakwah
Ilustrasi : Etika Dalam Dakwah ( Sumber Gambar : Klik Disini )

Sentuhan Etika

Etika merupakan bentuk sederhana dari akhlaq. Dikatakan demikian karena etika menekankan keindahan budi secara formalitas, sedangkan akhlak menekankan keindahan yang otentitasnya bersifat lahir batin. Terkait sentuhan etika, setidaknya seorang muballigh bersikap sadar etika yang diharapkan citra keindahannya memuncak di hati jama’ah, demi menyentuh hati mereka. Artinya seorang muballigh harus menyelami lokalitas budaya secara damai. Janganlah seorang muballigh itu bersikap kaku dan tanpa kompromi dengan budaya. Misalnya (masih di soal tutup kepala), janganlah seorang muballigh enggan memakai: peci, atau kopiah, kupluk, sorban, ataupun udheng; alias cuma gundhulan, sedangkan ia berceramah kepada masyarakat yang berkultur santri tradisional. Ia berdalih memakai peci dan sebagainya itu hukumnya hanya mubah, jadi suka-suka apakah ingin pakai atau tidak. Padahal, yang mubah itu bisa mendekati sunnah ketika ditinjau dari kewajiban menghormati orang lain yang mayoritas. Sebaliknya, yang mubah itu mendekati makruh jika tidak berkopiah justru berpotensi menurunkan penerimaan atau simpati jama’ah.

Dalam konteks formalitas-akhlaq ternyata etika itu unik. Dikatakan unik karena ia muncul dari lokalitas budaya. Disini kita masih mengambil contoh tutup kepala. Jika kita bertabligh di kalangan Muhammadiyah tidak perlu terlalu serius memikirkan peci;  memakai peci bagus, tidak memakai juga tak masalah. Lain halnya bertabligh di masyarakat berkultur santri tradisional; memakai peci bagus, tapi tidak memakai alias gundhulan adalah tercela betapapun belum tentu dicela dalam koridor akhlaq. Nah, dari kedua perbedaan ini ada satu kesamaan etika yang bisa dipatuhi yakni memakai peci itu bagus. Kebagusannya meliputi lokalitas budaya yang terbatas, yang lebih luas atau bahkan yang sangat luas.

Menyelami lokalitas budaya merupakan kewajiban muslim, istimewanya da’i dan muballigh. Demi menyampaikan visi, misi dan isi da’wah maka hal tersebut – yakni menyelami lokalitas budaya – menjadi nyaris mutlak, sejalan dengan qa’idah fiqhiyah: al-‘aadatu muhakkamah (lokalitas budaya menjadi referensi hukum syara’). Itu artinya, seorang muballigh harus peka terhadap hal-hal yang mubah namun sudah menjadi ma’ruf (norma-norma) di suatu masyarakat.

Lebih tegas tentang lokalitas budaya, secara fiqih ia disebut dengan ‘aadah atau ‘urf. Dalam Bahasa Indonesia ‘aadah diterjemahkan dengan “kebiasaan”. Ia seakar dengan lafazh ‘aadata’aadu yang artinya “membilang” atau “mengulang”. Dapat difahami bahwa ‘aadah yang di-Indonesiakan menjadi “adat” itu adalah kebiasaan (baik individu atau kelompok) yang diulang-ulang sampai menjadi “kesepakatan umum” dengan lokalitas tertentu. Ada adat yang lokalitasnya terbatas dan ada juga yang luas. Semakin meluas lokalitasnya maka semakin banyak dikenal dan diterima oleh masyarakatnya, maka adat juga disebut ‘urf. Sebagaimana ‘aadah, dalam Bahasa Indonesia ‘urf diterjemahkan dengan “kebiasaan”. Ia seakar dengan ‘arafa – ya’rifu  yang artinya “mengetahui”. Adat disebut dengan ‘urf karena “kesepakatan umum” tersebut sudah diketahui oleh masyarakat (dengan lokalitas tertentu). Selanjutnya “item-item kesepakatan” itu  disebut ma’ruf (norma), yang lafazh aslinya adalah ma’ruuf dengan makna tekstual “diketahui”  atau “dikenal”. Norma-norma disebut ma’ruf karena legalitasnya sudah diketahui atau dikenal oleh masyarakat umum (meskipun secara tak tertulis). Pada titik inilah adat-kebiasaan dengan sejumlah “kepingan” normanya menjadi kesatuan yang disebut budaya (tamaddun). Maka menjadi keharusan bagi muballigh untuk sadar dan sabar dalam hal menyelami lokalitas budaya tersebut secara damai, menangkap ikan tanpa mengeruhkan air.

Kembali pada sentuhan etika, performance muballigh Muhammadiyah tidak boleh hanya sebatas formalitas etika. Totalitas memainkan etika harus sampai pada dimensi akhlaq yang mencerminkan kepribadian muslim – ciri khas muballigh Muhammadiyah. Ia tidak terjebak pada popularitas dengan lipstik pencitraan. Ia sangat fokus dan yakin menjalani kerja da’wah itu sebagai bagian integral dari iman; yakni aqidah batiniah yang terbukti pada aktivitas lahiriah. Ia berpeci karena memuliakan dan bukan untuk dimuliakan. Demikian halnya saat ia memakai: kopiah, kupluk, sorban atau udheng; itu semuanya demi memuliakan. Kemudian ia bertutur kata dan bertindak penuh simpatik karena menyayangi jama’ah, bukan untuk disayangi. Dimuliakan dan disayangi hanyalah bonus dari kebaikan yang dilakukan. ‘Alaa kulli haal, etika lahiriah Muballigh Muhammadiyah adalah cermin akhlaq Islamnya.

Da’wah Yang Berkemajuan

Berkemajuan artinya senantiasa mengikuti ajaran Agama Islam dan sejalan dengan kehendak (perkembangan) jaman. Dalam konteks ini adalah ber-Islam sesuai dengan lokalitas budaya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam: Ittaqillaaha haytsumaa kunta wa atbi’issayyiatal hasanatu tamhuhaa wa khaaliqinnaasa bikhuluqin hasan (Bertaqwalah kamu kepada Allah Ta’ala [kapanpun dan] dimanapun kamu berada, ikutilah [tutupilah] keburukan itu dengan kebaikan niscaya menghapuskannya dan pergaulilah masyarakat dengan akhlak yang indah){HR Ahmad dan At-Tirmidzi}. Inilah fokus dari da’wah yang berkemajuan; visi, misi dan isinya tersentral ke sana. Inilah da’wah yang sering disebut da’wah kultural, sehingga sentuhan etika menjadi pendekatan yang sangat relevan dan urgen, bahkan nyaris mutlak. Semoga kita fokus padanya dan kepada-Nya. Nasrun minallaah.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait