Sentuhan dan Semangat Dakwah Muballigh Muhammadiyah

Surahmat An-Nashih, S.Ag
Oleh : Surahmat An-Nashih, S.Ag (Korps Muballigh Muhammadiyah Kota Yogyakarta)

Tidur atau tepatnya tertidur ketika mendengarkan khutbah adalah kesalahan, itu bisa dipahami. Yang menjadi pertanyaan, kesalahan itu dialamatkan kepada siapa? Jama’ah yang tidur ataukah khatib yang berkhutbah?

Pada umumnya jama’ah selalu diposisikan sebagai fihak yang bersalah. Buktinya peringatan (seruan) yang lazim adalah “Jangan tidur saat mendengarkan khutbah”. Tidak dianggap lazim jika ada seruan “Jangan menidurkan jama’ah saat berkhutbah”. Maka, sudah saatnyalah kita para khatib membuat seruan yang kedua itu untuk diri sendiri. Artinya khutbah kita harus mampu (1) menggugah perhatian dan (2) menggugah hati para jama’ah.

Wacana muhasabah tersebut khithabnya tertuju pada muballigh secara umum, bukan hanya para khatib. Khuthbah dan khithabah jangan hanya fokus pada visi, misi dan isi; namun juga bersenyawa dengan etika, retorika dan sistematika. Berapa banyak khutbah yang konteks dan kontennya bagus tapi justru ditinggal ngelempus? Berapa sering taushiyah yang disambi “ceramah” oleh jama’ah? Lalu mengapa hal itu terjadi? Jawabannya bisa dievaluasi dari pendekatan yang diterapakan pada khuthbah (khutbah: Jum’at, ‘Idain, Khusyufain, dan Nikah) dan khithabah (ceramah, sesorah, taushiyah, dsb).

Dalam konteks ikhtiar menyentuh hati setiap muballigh harus melakukan pendekatan sentuhan. Artinya, muballigh harus mampu menyentuh hati jama’ahnya. Dalam hal ini ada tiga sentuhan kunci yang harus dioptimalkan, yaitu sentuhan: (1) etika, (2) retorika dan (3) sistematika. Pendekatan tersebut difokuskan pada terkondisinya komunikasi da’wah (tabligh) yang efektif, sebagaimana prinsip metodologis yang dipesankan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam: Yassiruu walaa tu’assiruu wabasysyiruu walaa tunaffiruu (Mudahkanlah dan jangan menyulitkan, gembirakanlah dan jangan menyebabkan orang lari menjauh–Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Sentuhan Etika

Pada edisi yang lampau penulis telah membahas tentang sentuhan etika ini. Pada prinsipnya, etika merupakan bentuk sederhana dari akhlaq. Dikatakan demikian karena etika menekankan keindahan budi secara formalitas, sedangkan akhlak menekankan keindahan yang otentitas lahir batin. Terkait sentuhan etika, paling kurang seorang muballigh memiliki etika yang diharapkan citra keindahannya memuncak di hati jama’ah, demi menyentuh hati mereka. Artinya seorang muballigh harus menyelami lokalitas budaya secara damai.

Janganlah seorang muballigh bersikap kaku dan tanpa kompromi dengan budaya. Misalnya enggan memakai: peci, atau kopiah, kupluk, sorban, udheng; alias cuma gundhulan saja, padahal ia berceramah pada masyarakat yang berkultur santri tradisional. Ia berdalih memakai peci dan sebagainya itu hukumnya hanya mubah, jadi suka-suka apakah ingin pakai atau tidak. Padahal, yang mubah itu bisa menjadi sunnah ketika ditinjau dari kewajiban menghormati orang lain yang mayoritas. Sebaliknya, yang mubah itu mendekati makruh jika tidak berkopiah justru berpotensi menurunkan penerimaan atau simpati jama’ah. Jadi, poinnya adalah bagaimana melunakkan hati jama’ah.

Dalam konteks sentuhan etika, performance muballigh Muhammadiyah tidak boleh hanya sebatas formalitas etika. Totalitas memainkan etika sampai memasuki dimensi akhlaq adalah mencerminkan kepribadian muballigh Muhammadiyah. Ia tidak terjebak pada popularitas dengan lipstik pencitraan. Ia sangat sadar dan sabar menjalani kerja da’wah itu sebagai bagian integral dari iman; yakni aqidah batiniah yang terbukti pada aktivitas lahiriah.

Dengan kesadaran iman, muballigh Muhammadiyah memiliki alasan yang jelas dalam berpenampilan. Ia berpeci karena memuliakan dan bukan semata untuk dimuliakan; demikian pula saat ia memakai: kopiah, kupluk, sorban atau udheng. Ia berkata dan bertindak penuh simpatik karena menyayangi jama’ah, bukan semata untuk disayangi. Dan sebagainya dan seterusnya. ‘Alaa kulli haal, etika lahiriah Muballigh Muhammadiyah adalah cermin akhlaq Islamnya.

Sentuhan Retorika

Selain sebagai (1) ilmu, retorika adalah (2) seni berbicara di hadapan publik. Dalam hal ini seorang muballigh harus mampu menguasai jama’ah, baik secara teoritik (ilmu) maupun secara praktik (seni). Ia beum terlalu cukup “hanya” bermodal akhlak yang indah namun tidak dengan lisan yang fashih. Sebab daya pikat akhlaq akan membawa pada sasara ketika pemilik akhalaq (muballigh) berkomunikai dengan retorika yang berkualitas.

Sangat disayangkan jika seorang muballigh yang sangat tawa’dhu tapi justru retorikanya bikin ngantuk. Tentu saja sangat disayangkan; sebab materinya yang bagus lagi penting dengan berbagai penjelasan yang mendetail justru tak membekas di hati jama’ah, lantaran jama’ah yang terlelap. Tentu kita tidak bisa serta-merta menvonis bahwa jama’ahnya tidak niat, atau menuntut mereka bermujahadah membuka mata dan hati. Ingat, tulisan ini sedang mengajak kita untuk “mengalah” mengevaluasi diri ketimbang menvonis jama’ah.

Sentuhan Sistematika

Sistematika berkenaan dengan struktur materi, baik yang bersifat tertulis maupun tidak tertulis. Tak jarang seorang muballigh harus berbicara dengan membaca teks, tak jarang pula tanpa teks, namun sering pula perpaduan dari keduanya. Selain etika dan retorika da’wah yang berkualitas, sistematika penyajian materi juga harus terstruktur berkualitas. Sangat disayangkan jika etika dan retorika yang bagus namun tetap mendapat feedback yang rendah justru karena buruknya sistematika penyajian.

Muballigh Muhammadiyah bukanlah tukang ceramah yang berbicaranya seperti air bah namun alurnya menyebar liar buta muara, tidak terstruktur. Muballigh Muhammadiyah identik dengan manajemen yang rapi, termasuk dalam mempersiapkan, menyajikan dan mengevaluasi sajian (materi). Muballigh Muhammadiyah bukanlah sekedar penceramah yang bisa menghibur dengan lelucon namun tidak membekaskan struktur pesan di benak jama’ah. Muballigh Muhammadiyah alah muballigh yang kaya akan sentuhan etika, retorika, dan sistematika di dalam da’wahnya.

Muballigh Muhammadiyah bukanlah tukang ceramah yang berbicaranya seperti air bah namun alurnya menyebar liar buta muara, tidak terstruktur
Muballigh Muhammadiyah bukanlah tukang ceramah yang berbicaranya seperti air bah namun alurnya menyebar liar buta muara, tidak terstruktur (Sumber gambar : klik disini)

Semangat Pengkaderan Maballigh

Sebagai gerakan da’wah, semangat pengkaderan muballigh tidak boleh mati di tubuh persyarikatan, bahkan harus hidup. Hidupnya bergantung kepada para insan Muhammadiyah sendiri, yang diyakini atau tidak setiap insan Muhammadiyah adalah muballigh. Jika seorang muballigh tidak mempedulikan pengkaderan muballigh maka sama artinya tidak mempedulikan diri sendiri, dan ia bersama para insan yang miskin kepedulian lainnya telah membunuh masyarakat yang lebih luas. Tentu kita ingin jika pembunuhan massal itu terjadi di Muhammadiyah.

Dalam konteks berMuhammadiyah, semangat pengkaderan muballigh (“SPM”) terkait erat dengan Sistem Perkaderan Muhammadiyah (SPM). Artinya, pengkaderan muballigh dalam Muhammadiyah tidak berhenti pada terlahir atau terbinanya muballigh yang berkualitas dari sisi etika, retorika dan sistematika; lebih dari itu muballigh yang ber-Muhammadiyah secara ideologi, secara praktek, secara karya dan secara apapun. Pokoke Muhammadiyah. Maka sangat wajar jika Muballigh Muhammadiyah itu (1) disyaratkan memiliki Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah, (2) menjadi anggota Korps muballigh Muhammadiyah (KMM), (3) mengikuti Baitul Arqom Muballigh (BAM), (4) berpartisipasi aktif dalam program Layanan Muballigh Jaga (LMJ) 24 Jam, dan (4) mengikuti berbagai aktivitas da’wah persyarikatan yang lainnya; terlebih di Bulan Suci Ramadhan.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaTangga Perekat Pernikahan
Artikel BerikutnyaCeria Athfal Mudema Jogja

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait