Semangat Kerelawanan dan Tiga Isu Moralitas Kontemporer

Gambar Semangat Kerelawanan dan Tiga Isu Moralitas Kontemporer
H. Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Salah satu kandungan Muqadimmah Anggaran dasar Muhammadiyah yang harus dipegang oleh setiap Pimpinan dan kader Muhammadiyah adalah wajib berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagai ibadah kepada Allah dengan berbuat ihsan dan islah kepada manusia atau masyarakat. Agama Islam sebagai sebagai sumber moral yang dijadikan dasar pegangan dalam gerak langkah untuk kebaikan dan ketentraman masyarakat. Dengan posisi itu maka dalam logika pergerakan sosial atau strategi kebijakan publik, pada dasarnya setiap pimpinan dan kader Muhammadiyah itu adalah seorang relawan kemanusian yang menjadikan Islam sebagai sumber moral kerelawanan.

Secara sederhana saya mendefinisikan kerelawanan adalah semangat yang dimiliki oleh mereka yang memiliki kepedulian pada berbagai persoalaan yang menimpa masyarakat dan selanjutnya semangat itu mendorong munculnya program untuk menjawab berbagai persoalan tersebut. Mereka yang memiliki semangat ini, yaitu kerelawanan, bisa disebut sebagai relawan. Ditinjau secara bahasa, setidaknya ada dua sifat yang melekat dalam kata kerelawanan. Dua  sifat yang melekat pada seorang relawan yang memiliki semangat kerelawanan itu ialah ikhlas dan penyantun kaum yang lemah.

Di luar dua sifat yang melekat secara bahasa di atas, tidaklah salah bila saya memasukkan jujur sebagai suatu sifat tambahan yang melekat pada diri seorang relawan. Meskipun kurang begitu jelas hubungan ke-RELA-wanan dengan jujur, tidak sejelas hubungannya dengan sifat ikhlas dan penyantun kaum yang lemah, namun tampaknya sulit untuk menolak pentingnya sifat jujur dalam semangat kerelawanan. Kejujuran pada apa yang sedang dilakukan menjadi sarana penting untuk melakukan check and balance sehingga seorang relawan jika mengalami kekeliruan tidak terperosok pada kesalahan yang tak habis-habis. Demikianlah tiga sifat utama kerelawanan, yaitu ikhlas, jujur, dan penyantun kaum yang lemah.

1. Kerelawanan Sebagai anti-Tesa Konsep Kemunafikan

Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan ada tiga ciri orang munafik, yaitu: jika berkata dusta, jika berjanji diingkari, dan jika diberi amanat dia khianat. Ketiga sifat itu sangat tidak pantas dimiliki oleh para relawan, bahkan bisa dibilang merupakan anti-tesa dari sifat kerelawanan yang mengedepankan keikhlasan, kejujuran dan penyantunan yang lemah. Sungguh tak layak jika seorang relawan itu suka berdusta, ingkar janji, dan mengingkari amanat.

Tiga sifat utama seorang relawan yang telah disebut di depan, yang menjadi anti-tesa  konsep kemunafikan, adalah ikhlas, jujur dan penyantun kaum yang lemah. Ikhlas, bukan berarti tak boleh sedikitpun menerima materi. Tetapi ikhlas tersebut lebih dimaknai pada bahwa tujuan dari aksi yang dilakukannya bukan, apalagi semata-mata, untuk mencari materi namun memiliki tujuan yang lebih spititual. Dalam islam tujuan ikhlas itu berarti hanya mencari keridlaan Allah semata. Keikhlasan itu membuat tetap istiqomah menyantuni kaum yang lemah, baik ketika hal itu memiliki potensi mendapatkan materi maupun tidak. Program dan aksinya tak berubah oleh tawaran-tawaran materi di sekitar perannya sebagai seorang relawan.

Seorang yang jujur, atau tidak suka berdusta, akan berusaha apa adanya dan tidak mengada-ada dalam menjalankan aksi sehingga ketika ia berjanji maka sebelumnya telah dipikirkan matang-matang kemampuannya untuk menepati janji itu dan ia akan berusaha betul menepatinya. Dengan kejujuran yang apa adanya maka seorang relawan lebih mungkin untuk bisa konsisten memegang amanat menyantuni kaum yang lemah.

2. Sabar Sebagai Paradigma Kerelawanan

Setiap muslim meyakini bahwa sabar merupakan akhlak yang penting dan mulia. Dalam QS. al-Baqarah 153 disebutkan yang artinya kurang lebih: “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. Ada banyak ayat lainnya yang menerangkan penting dan mulianya sabar dalam kehidupan orang-orang beriman.

Sabar pada hakikatnya merupakan suatu pandangan yang penting untuk diyakini oleh para relawan, atau dalam istilah lain kesabaran merupakan suatu paradigma kerelawanan yang sangat penting dalam menyediakan sumber kerangka bagi konsep, hasil, dan prosedur kerelawanan serta memberikan perspektif yang kreatif dan fleksibel. Sebagai paradigma, sabar dapat memberikan inspirasi untuk menyusun konsep dan membantu menemukan arah perubahan yang diinginkan oleh seorang relawan. Selain itu, sebagai paradigma, sabar memberikan prosedur bagaimana menyikapi berbagai kendala yang akan menghadang dalam perjalanan mendapatkan hasil.

Ada 3 (tiga) cobaan yang diberikan oleh Allah kepada para relawan. Dalam QS. al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman yang artinya kurang lebih: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. Ayat tersebut menyebutkan tiga cobaan itu, ialah ketakutan, kelaparan, dan kekurangan (harta, jiwa, dan buah-buahan). Namun ayat tersebut ditutup dengan kabar gembira bagi orang sabar, yang artinya dengan sabar semua cobaan itu dapat teratasi dan orang yang sabar akan mendapat kebahagiaan.

Dalam QS. al-Baqarah ayat 155 di atas menginpirasikan prosedur kerelawanan. Seorang relawan harus melawan ketakutan. Seorang relawan juga harus siap menghadapi kelaparan (kurang kalori/energi). Demikian juga seorang relawan harus siap kekurangan harta untuk meneruskan aksinya. Harus siap mati atau kekurangan jiwa dalam menjalankan aksinya. Tak goyah bila kekurangan buah-buahan (nutrisi) dalam perjalanan kerelawanannya.

3. Ideologi Kerelawanan : Dari Isu Bencana Hingga Isu Moralitas

Untuk mudahnya, ideologi itu kita sederhanakan saja sebagai suatu kerangka berpikir yang bisa membuat seseorang melihat adanya kekurangsempurnaan atau ketidakidealan dalam suatu lingkungan atau sistem serta kemudian memberikan gambaran bagaimana langkah-langkah yang bisa dibuat untuk menyempurnakannya. Ketika seorang Pimpinan atau kader Muhammadiyah bisa melihat adanya ketidakidealan di dalam suatu lingkungan atau sistem maka pada dasarnya ia telah berpikir secara ideologis. Tinggal bagaimana ia membayangkan kerangka aksi atau program yang bisa dibuat untuk menyempurnakan atau menata ketidakidealan itu.

Seringkali isu kerelawanan diidentikkan dengan penanganan hal-hal luar biasa dalam masyarakat, antara lain adanya bencana. Jika kita menengok firman Allah QS. ar-Ruum ayat ke 41 yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”, hal ini menyiratkan dua tindakan dalam mensikapi bencana, yaitu preventif dan kuratif.

Preventif atau pencegahan bisa dilakukan yaitu dengan memperbaiki “kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”. Selain masalah persoalan teknologi dan keilmuan, pencegahan sesungguhnya juga meliputi persoalan moralitas. Sebab diakui atau tidak persoalan tersebut sangat memiliki kaitan dengan aspek bencana.

Pengembangan teknologi dan keilmuan bisa menjadi lahan garap lembaga-lembaga ilmiah, termasuk perguruan-perguruan tinggi yang dimiliki oleh Muhammadiyah, dalam kaitannya dengan pencegahan bencana. Sedang isu moralitas sebagai bagian dari upaya pencegahan bencana itu juga sangat penting untuk oleh para relawan Muhammadiyah. Setidaknya ada tiga isu moralitas kontemporer yang relevan untuk dibicarakan dalam upaya preventif pencegahan bencana tersebut. Tiga isu moralitas yang penting untuk dijawab oleh para relawan itu ialah isu peredaran narkoba, pornografi, dan korupsi. Tiga hal tersebut sesungguhnya menjadi persoalan moralitas yang berdampak besar.

Sebagai contoh kecil dalam kaitannya dengan tiga isu itu ada pada ilustrasi yang berhubungan dengan pengelolaan hutan, yaitu rusaknya hutan yang membuat daerah di sekitarnya potensial terancam bencana. Hutan di Wonosobo menjadi rusak karena mafia narkoba masuk ke penduduk sekitar hutan yang akhirnya mencuri kayu untuk bisa memenuhi rasa ketagihan pada narkoba. Di beberapa daerah luar jawa, didatangkan pelacur-pelacur dari Surabaya kepada penduduk setempat dengan tarif yang hanya bisa mereka bayar jika mereka melakukan pencurian atau penebangan kayu-kayu hutan. Dalam kasus ini, pornografi dipandang sebagai suatu bentuk sosialisasi seks bebas dalam rekayasa global yang memicu munculnya penyakit sosial masyarakat yang massif. Untuk kasus korupsi, gambarannya lebih banyak lagi. Korupsi dari masalah HPH, proses pembuatan kota dari daerah hutan, dana reboisasi, dan semacamnya, telah melahirkan kerusakan hutan yang sangat parah.

Hal di atas hanyalah contoh kecil dari bencana nasional yang melanda bangsa Indonesia akibat persoalan narkoba, pornografi, dan korupsi. Meski juga berimplikasi pada kerusakan alam, namun persoalan narkoba dan pornografi yang lebih luas adalah pada proses penghancuran sumber daya manusia yang dimiliki bangsa ini sehingga tidak lagi mampu membangun dan mengelola negeri  ini secara cerdas dan bermartabat. Tak bisa dibantah, dua persoalan tersebut (narkoba dan pornografi) tidak saja digerakkan oleh aktor-aktor lokal Indonesia namun juga aktor-aktor dari luar. Penggerak peredaran narkoba dan pornografi tidak hanya mengambil keuntungan dari penjualan produk narkoba dan pornografi, tetapi juga keuntungan akibat sumber daya bangsa Indonesia yang lemah sehingga tak bisa mengalahkan mereka dalam berkompetisi. Sementara persoalan korupsi lebih mudah dilihat pada penghancuran sumber daya alam serta fasilitas pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan dan pemberian kesempatan kerja.

Nah sekarang yang terpenting adalah apa yang bisa dikerjakan untuk oleh pimpinan dan kader Muhammadiyah dalam kaitannya dengan tiga isu tersebut. Sebelumnya harus disadari duli bahwa secara tradisional Muhammadiyah itu memiliki 2 infrastruktur gerakan, yaitu struktur organisasi pimpinan dan amal usaha. Pimpinan itu ada berupa organisasi dari Pusat hingga ke Ranting Muhammadiyah tetapi khususnya yang punya akar itu ialah Cabang dan Ranting. Sedang amal usaha bisa berupa masjid, sekolah, panti asuhan, dan sebagainya. Dua infrastruktur gerakan tersebut bisa menggerakkan suatu program yang memberi sumbangan bagi pemecahan masalah ketiga isu tersebut.

Baik di dalam aktivitas amal usaha maupun dalam program majelis dan lembaga bisa menjadi pengejawantahan dari respon atas tiga isu moralitas itu. Aktivitas di daerah, cabang, atau ranting serta di sekolah atau di masjid tersebut bisa berupa penyadaran bahayanya isu tersebut lewat pengajian, pendidikan, workshop, kursus, dan kegiatan lain misalnya berbarengan dengan olah raga atau pentas seni. Lebih jauh sangat mungkin dibentuk pengorganisasian relawan, misalnya Relawan Muhammadiyah Anti-Pornografi, Klub Konselor Narkoba PRM, Satgas Anti-Korupsi, dan sebagainya. Pengorganisasian tersebut di tingkat Ranting bisa sebagai bagian dari praktik Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ) Muhammadiyah.

Persoalan klise dari pengorganisasian ini adalah terbentuknya berbagai kelompok yang akhirnya hanya berhenti pada pembentukan kelompok saja. Hal demikian sebenarnya tidak akan terjadi bila perancang dan penanggung jawab kelompok itu memiliki program dan memahami makna dari konsep “Islam yang Berkemajuan dan Menggembirakan” dalam ber-Muhammadiyah. Rumus ampuh dari konsep itu ialah: 1) Islam, artinya harus selalu ditekankan bahwa apa yang dilakukan itu adalah wujud ibadah seorang Muslim yang mendapat balasan dari Allah SWT sehingga dalam menjalankannya tidak boleh melanggar kaidah keislaman dan justru menjadi Islam sebagai sumber motivasi. 2) Berkemajuan, itu secara sederhana berarti berpandangan maju atau disadari bahwa kegiatan yang dilaksanakan memberi manfaat jauh lebih besar dan mampu mengubah kondisi menjadi lebih baik 3) Menggembirakan, artinya kegiatan yang dilakukan diarahkan untuk memberi kebahagiaan yang lebih besar dan dengan cara-cara yang bisa diterima.

Mereka yang memiliki semangat ini, yaitu kerelawanan, bisa disebut sebagai relawan
Mereka yang memiliki semangat ini, yaitu kerelawanan, bisa disebut sebagai relawan (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2014, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait