Sekolah Muhammadiyah harus mencetak alumni yang paham al Quran

Berikut wawancara Fuad dari redaksi Majalah Mentari dengan Ghofar Ismail, S.Ag., MA selaku ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PDM Kota Yogyakarta.

Ghofar Ismail, S.Ag., MA. (berbaju hitam sebelah kanan gambar)
Ghofar Ismail, S.Ag., MA. (berbaju hitam sebelah kanan gambar). Sumber gambar : klik disini.

Apa latar belakang program tahfidz al Quran di sekolah Muhammadiyah?

Program ini bernama bustanul qur’an, taman al Qur’an sebagai sarana pendidikan al-Quran kepada seluruh siswa yang ada di Sekolah/Madrasah Muhammadiyah di kota Yogyakarta, baik tingkat SD/MI, SMP/MTS dan SMA, MA serta SMK. Program ini bukan hanya tahfidz, tapi meliputi 4 kompetensi yg disebut 4 T; tilawah, tahsin, tahfid dan tafhim.

Sebagai sebuah gerakan dakwah Islam yg bersumber dari al Quran dan Hadis, Muhammadiyah memiliki kepentingan serius terhadap kader dan generasi penerusnya yang dekat, cinta dan paham terhadap al Qur’an. Lembaga Pendidikan Muhammadiyah harus memiliki keberpihakan dan keterpanggilan pada keilmuan yang berlandaskan dan berjiwa al Qur’an. Sekolah Muhammadiyah harus dpt mencetak kader dan alumni yang paham dan terus menebarkan al Quran. Itulah sebenarnya model pendidikan yang dikehendaki KHA. Dahlan ketika mengintegrasikan sistem pesantren dan sekolah umum.

Saat ini integrasi itu perlu diperjelas dan dipertegas, agar menghasilkan kader yg memiliki kemampuan maksimal mengenai islam dan al Quran

Bagaimana rencana rangkaian pelaksanaanya?

Sebenarnya pembelajaran al Quran di sekolah/madrasah Muhammadiyah sudah ada dan masuk dalam pelajaran ISMUBA. Cuma kompetensi al Quran nya belum terukur dan terprogram sebagai bagian dari celupan (sibghah) sekaligus keunggulan. Pembelajaran al Quran baru pada tingkat tilawah (kemampuan membaca), tahsin, tahfid dan tafhim sebagian sudah ada tapi terbatas dan belum terprogram dan terkelola dengan baik.

Oleh karena itu, kehadiran program ini sebagai pelengkap dan penyempurna apa yg sudah ada. Tentu saja, pelaksanannya membutuhkan tahapan-tahapan yg terencana agar berhasil. Mulai dari tahap percontohan, pemantapan dan penyempurnaan

Apa target yang akan dicapai?

Target kegiatan ini adalah agar kemampuan siswa terhadap al Quran terukur dan terstandar. Seluruh siswa di sekolah/madrasah muhammadiyah harus dapat membaca al Qur’an dg baik, lancar, benar tajwidnya hingga paham gharib. Memiliki hafalan minimal untuk SD/MI 2 juz, SMP/MTs 1 juz dan SMA, MA dan SMK 1 juz. Memiliki kemampuan menerjemah al Qur’an minimal juz Amma. Dg kemampuan menerjemah 1 juz siswa akan bisa mengembangkan pd juz-juz yg lain, karakter lafad dan kalimat dalam al Quran itu hampir sama dan diulang-ulang

Bagaimana prospek gerakan tahfidz di sekolah Muhammadiyah?

Kita harus optimis dalam pendidikan al Quran ini. Dengan program ini, yg akan meningkat kompetensi al Quran nya bukan hanya siswa, tapi juga seluruh guru dan bahkan warga Muhammadiyah. Karena pendidikan ini butuh 5 jam perminggu, dan membutuhkan asatidz yg banyak, guru ISMUBA saja tdk cukup. Selain guru umum, juga diharapkan dari bapak2 muhammadiyah, ibu2 aisyiyah dan pemuda serta pemudi untuk ikut terlibat. Berarti program ini akan menghafal al Qur’an semua kita.

Sepuluh tahun yang akan datang Muhammadiyah tidak akan kesulitan mencari kader al Quran dan imam masjid yang bagus bacaan al Qur’an nya.

Apa urgensi program tersebut bagi pendidikan Muhammadiyah?

Jelas program bustanul Quran ini sangat penting bagi Muhammadiyah. Selama ini kita mengeluhkan akhlak siswa kita, mengeluhkan kepribadian generasi kita, mengeluhkan bacaan imam shalat kita. Namun kita belum bergerak untuk memberi solusi. Bustanul Qur’an ini bagian dari solusi. Selain itu pendidikan muhammadiyah harus tegas keberpihakannya terhadap sumber ajaran al Quran. Al Quran harus menjadi denyut nadi, basis ilmu dan kemampuan riil dari sekolah/madrasah Muhammadiyah. Tanpa ini pendidikan Muhammadiyah tdk akan bermakna. Tanpa ini pendidikan Muhammadiyah hanya akan ikut melahirkan orang pintar tanpa basis karakter yg jelas. Tanpa ini, Muhammadiyah hanya akan ikut andil dalam bagian permasalahan bangsa. Pentingnya al Qur’an ini hrs menjadi kesadaran kolektif seluruh pimpinan, warga dan AUM. Lalu secara bertahap mewujudkannya

Bagaimana ketersediaan SDM para hafidznya?

Program ini akan berhasil dengan baik bila didukung banyak faktor, di antaranya yg terpenting adalah ketersediaan asatidz/pengajar. Pengajar tidak bisa dicari, apalagi ditunggu, mereka haruss dibentuk dan diadakan. Karena itu kami membuat sebuah badan, yaitu Badan Sertifikasi al Quran. Badan ini bertanggung jawab menguji kemampuan al Qur’an pada seluruh guru Muhammadiyah. Kemudian kemampuan guru tersebut akan ditingkatkan sesuai standar dg berbagai bentuk; pendidikan, pelatihan, daurah, halaqah dan lainnya. Selain guru, juga warga Muhammadiyah, karena kebutuhan program ini terhadap SDM sangat banyak. Mereka semua berusaha mendapat 3 sertifikat: 1. Sertifikat mengajar tilawah dan tahsin al Qur’an. Bila ustadz tersebut blm dpt sertifikat ini berarti dia blm kompeten tuk mengajar tilawah dan tahsin; 2. Sertifikat tahfid. Pengajar hrs memiliki tahfid minimal 2 juz dan akan terus ditingkatkan dg berbagai cara dan kegiatan; dan 3. Sertifikat tafhim. Pengajar hrs mimiliki kemampuan menerjemah al Quran dengan benar.  Ketiga sertifikat tsb secara terus menerus disusun bertahap harus dimiliki guru dan warga Muhammadiyah, agar kita tdk kehabisan tenaga guru al Quran. Dan itu semua akan ditangani oleh Badan Sertifikasi al Qur’an.

Bagaimana kerjasama dengan pihak lain?

Untuk menjalankan program ini, LP2 tidak mungkin sendirian, bahkan LP2 hanya inisiator awal saja yang akan menjalankan program ini adalah Sekolah/Madrasah dan Majelis Dikdasmen, juga Badan Sertifikasi al Qur’an.  Selain itu pihak luar yg akan banyak membantu adalah UMMI Foundation dan AMM Kotagede. Alhamdulillah mereka siap mensupport kegiatan ini. Saat ini Badan sedang menyusun buku untuk kompetensi tilawah dan membuat sistem pendidikan, pelatihan dan daurahnya. Setelah ini baru menyusun buku metode tahfidz dan tafhimnya

Apa peran LPP dalam program ini?

Sebenarnya pembelajaran al Quran di sekolah/madrasah adalah bagian dari kurikulum dan itu merupakan tanggung jawab sekolah dan dikdasmen. LP2 adalah lembaga pengembangan pesantren yg hanya berkewajiban mengembangkan pesantren. Di kota ini hanya ada 1 pesantren yg riil yaitu makhad tahfid Ibnu Juraimi.

Karena ini LP2 dalam program al Quran ini hanya membuat konsep, mengantarkan pelaksanaan awal, membentuk perangkat yang dibutuhkan. Setelah itu maka tugas LP2 sudah selesai dan mengembalikan sepenuhnya kepada dikdasmen. Bahkan sejak awal LP2 bergerak bersama dikdasmen, karena LP2 hanya thinktank. LP2 tidak punya amal usaha. Maka seluruh program yg ditawarkan harus dalam koordinasi dikdasmen, majelis yg bertanggung jawab tehradap merah dan kuningnya pendidikan.


Daftar Laporan Khusus “Tahfidzisasi Sekolah Muhammadiyah“.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait