Sedekah Menumbuhkan Perekonomian ?

Penulis : Muhammad Majid Himawan, SE
Penulis : Muhammad Majid Himawan, SE (Mahasiswa Magister Studi Islam UII Konsentrasi Ekonomi Islam, Ketua PK IMM Fak Syariah dan Hukum UIN sunan kalijaga 2013/2014)

Sebagai bangsa yang besar kita selalu mengharapkan negara kita mencapai kemajuan dalam bidang apapun tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Ekonomi menjadi pembahasan sangat penting karena segala sesuatu yang dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari tak lepas dari unsur ekonomi. Sebagai ilustrasi manusia membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, makan dapat diperoleh saat manusia mendapatkan upah dari bekerja proses dari pemenuhan kebutuhan tersebut adalah proses kegiatan ekonomi.

Ekonomi yang tumbuh dengan baik mempengaruhi tingkat kemiskinan suatu negara, semakin meningkat pertumbuhan seharusnya angka kemiskinan semakin dapat ditekan. Menurut data Badan Pusat Statistik negara Indonesia per Maret 2017 jumlah penduduk yang masih di bawah garis kemiskinan adalah 10,64% dari jumlah total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut jika dihitung mencapai 27,77 juta jiwa (BPS 2017). Angka yang cukup besar dan menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi negara maupun kita semua yang memiliki keinginan untuk mensejahterakan kehidupan negara.

Lantas, bagaimana Islam memandang kemiskinan dan adakah solusi yang ditawarkan ?. jika boleh mengutip kata Buya Syafi’i “Islam itu anti kemiskinan tetapi pro (peduli) pada orang miskin” maksudnya ialah Islam mengajarkan kita untuk berusaha (ihitiar) untuk menjadi insan yang berkecukupan atau mampu. Seperti perintah bertebaran di muka bumi (bekerja) dalam surat (al-Jumu’ah ayat 9-11). Namun di sisi lain Islam juga mengajarkan sikap welas asih atau menyayangi orang miskin seperti dalam surat (al-Ma’un ayat 1-7). Serta perintah zakat dalam al-Quran surat (al-Baqarah ayat 83).

Islam telah jelas menempatkan posisinya sebagai sebuah solusi dalam segala permasalahan manusia. Salah satu instrumen ajaran dalam Islam adalah bersedekah. Seperti dalam kandungan ayat al-Quran berikut ini: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus benih. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki: dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” (QS al-Baqarah ayat 261).

Surat al-Baqarah ayat 261 menjelaskan bagaimana Allah melipatgandakan ganjaran manusia yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Jika kita memahami sedekah sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah swt maka sedekah tersebut akan menjadi nilai pahala serta menjadi nilai ekonomis yang mampu mensejahterakan sesama. Sedekah akan menjadi baik apabila didapat dari rizki yang halal (baik) yang kemudian disalurkan dengan niat karena Allah semata dan dilakukan dengan cara yang baik pula. Bahakan dalam sebuah hadist disebutkan bahwa “sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api” (HR. Tirmidzi). Begitu bermanfaatnya sedekah tersebut apabila diamalkan, baik oleh pemberi maupun penerimanya.

Peran sedekah sebagai alat dalam mencapai kesejahteraan umat sendiri bukan sesuatu yang utopis. Menurut Al-Jurjani pengertian sedekah adalah segala pemberian yang dengan kita mengharapkan pahala dari Allah swt. Pemberian yang dimaksud dapat diartikan secara luas, baik itu pemberian yang berupa harta maupun pemberian yang berupa perbuatan atau sikap baik (Gusfahmi 2007).  Dari pengertian tersebut kita dapat memaknai bahwa segala hal yang kita miliki dapat kita sedekahkan dalam bentuk apapun dan pada waktu kapanpun.

Apabila kita menganalogikan bahwa senyum adalah sebuah sedekah, dengan ilustrasi ada seorang ayah mensedekahkan senyumnya kepada seorang supir taksi yang muram akibat belum mendapat pelanggan, dan akibat senyum tersebut merubah suasana hati sang supir taksi menjadi bergembira dan bersemangat dalam melakukan pekerjaannya, dikemudian waktu supir taksi yang suasana hatinya tadi sudah gembira melihat seorang anak SD yang tidak bisa pulang karena kehilangan uang saku nya, karena rasa ingin menolong supir taksi tersebut mengantar anak tersebut pulang tanpa biaya apapun sampai kerumah, ternyata anak SD tersebut adalah anak seorang ayah yang telah menyedekahkan senyumnya kepada sang supir taksi tadi. Dari ilustrasi tersebuat apabila sang ayah tidak mensedekahkan senyumnya bisa jadi suasan hati sang supir taksi tidak berubah dan bisa jadi pula anaknnya tidak tertolong karena suasana hati sang supir yang masih muram.

Sedekah kepada fakir miskin
Peran sedekah sebagai alat dalam mencapai kesejahteraan umat sendiri bukan sesuatu yang utopis (Sumber gambar : klik disini)

Begitulah perumpamaan sedekah, kebaikan tersebuat akan mengalir pada diri kita, lalu bagaimana korelsinya dengan pertumbuhan ekonomi tadi?. Apabila kita asumsikan sedekah dengan alat berupa uang, jika penduduk Muslim di Indonesia ini sekitar 200 juta jiwa, katakanlah yang berpenghasilan 100 juta jiwa per orang bersedekah tiap bulan 5000 rupiah maka dalam satu tahun mencapai 6 Triliun, angka yang sungguh fantastis yang apabila angka tersebut dapat dikelola oleh pemerintah atau lembaga filantropi yang terkait dengan pemberdayaan umat (masyarakat) akan membantu menumbuhkan perekonomian negara dengan baik.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2017 sebesar 5,01 % (BPS 2017), jika dilihat dari sebab terjadinya adalah belanja pemerintah pusat serta transfer ke daerah meningkat. Di sisi global, membaiknya perekonomian dunia yang berimbas pada sejumlah harga komoditas yang secara otomatis membuat kinerja perdagangan kian subur. Investasi pun menjadi catatan positif dalam pergerakan pertumbuahn ekonomi.

Angka kemiskinan akan dapat ditekan apabila adanya daya beli masyarakat, selain itu investasi juga menjadi amat penting dilakukan dalam upaya penanganan tersebut. Tentunya investasi dari dana sedekah tersebut tidak digunakan dalam hal yang melanggar syariat agama Islam, investasi dilaksanakan harus sesuai dengan aturan Islam dilihat dari aspek ke halalannya, apabila sedekah tadi berjalan baik maka pemerintah tidak bergantung pada pajak semata, pengamalan ajaran agama Islam akan sangat membantu kita dalam mensejahterakan bangsa ini.

Konsep pensejahteraan tersebut baru dilihat dalam satu instrumen, belum lagi zakat, infaq, wakaf, hibah dan lain sebagainnya yang pasti apabila itu diamalkan dengan baik akan menumbuhkan perekonomian umat. Sayangnya pemahaman serta kesadaran masyarakat dalam melaksanakan ajaran agama belum terimplementasikan secara menyeluruh, hal ini menjadi tugas seluruh elemen terkait termasuk pemerintah, Ormas keagamaan (Muhammadiyah, NU dll), lembaga filantropi dan para kaum akademisi untuk minimal melakukan upaya penyadaran umat.

Edukasi serta sosialisasi amat perlu dilakukan baik dalam forum pengajian, seminar, diskusi dan kegiatan lain. Hal ini juga harus dibarengi dengan manajemen pengelolaan yang disiapkan secara baik serta SDM (sumber daya manusia) pengelola yang “digenjot” pemahamannya akan sistem pengelolaan tersebut. Jika hal tersebut mampu dijalankan dengan baik, maka bukan suatu hal mustahil melalui gerakan kesadaran bersedekah akan menumbuhkan perekonomian demi tercapainnya kesejahteraan masyarakat (kemaslahatan umat).

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 1 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Sedekah Menumbuhkan Perekonomian ?
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE