SD Yes, SMP Yes

Ada banyak faktor ketika orang tua siswa SD Muhammadiyah tidak mempercayakan pendidikan anak mereka ke sekolah lanjutan Muhammadiyah. Pertama, bagi alumni dengan predikat berprestasi, mereka meyakini pendidikan di sekolah negeri lebih menjamin keberlanjutan prestasi anak- anak mereka. Kecuali itu, sekolah negeri di tingkat lanjut juga memiliki gengsi yang lebih tinggi dibanding sekolah Muhammadiyah. Alhasil, banyak putra- putri terbaik Muhammadiyah meniti jenjang pendidikan mereka di sekolah negeri. Sekalipun, mereka memiliki keinginan di sekolah Muhammadiyah, namun apa daya, jaminan kelanjutan prestasi putra-putri mereka tidak cukup meyakinkan. Kedua, bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah, sekolah Muhammadiyah identik tingginya biaya pendidikan. Bagi mereka, melanjutkan pendidikan di sekolah negeri adalah pilihat terbaik. Alhasil, sebagian besar sekolah lanjutan Muhammadiyah terisi oleh kategori lulusan “kelas kedua”. Ini sering dijadikan dalih rendahnya daya saing SMP dan SMA Muhammadiyah.

Bukan hendak menafikan capaian prestasi belajar pendidikan kita. Akan tetapi Muhammadiyah membutuhkan brand baru sebagai sekolah yang lebih kompetitif sekaligus terjangkau. Di sinilah pentingnya mengadaptasi sistem pendidikan SD Muhammadiyah favorit ke jenjang SMP hingga SMA. Urgensi pendirian sistem perguruan terpadu ini diamini oleh Pak Rinto. Ia mengaskan bahwa spirit membangun perguruan yang terpadu sudah dilakukan oleh persyarikatan walau baru bersifat fisik. Konsep komplek perguruan Purwo merupakan bentuk strategi ke arah sana. Meskipun pengembangan sistem pendidikannya belum berjalan. “Ini sudah tuntutan zaman. Kalau orang lain begitu maka kita harus begitu. Lihat saja di SDIT sampai SMAIT.” Ujar Pak Rinto.

Sistem perguruan Muhammadiyah berkelanjutan merupakan wacana cukup lama. Bahkan, Majalah Mentari edisi Juli 2015 pernah mengangkat gagasan tersebut. Pada edisi sebelumnya, laporan utama telah mendalami kesiapan Sekolah Dasar Muhammadiyah favorit untuk mendirikan sekolah lanjutannya. Beberapa sekolah SD maupun SMP justru menyambut gembira jika pimpinan betul- betul mengeluarkan kebijakan tersebut. Secara teknis, banyak strategi yang dapat ditempuh sejauh ada komitmen untuk mengawal kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, mandeknya wacana tersebut berada pada level kebijakan pimpinan yang belum fokus mengkaji realisasinya. Pak Rinto menuturkan bahwa pimpinan belum satu suara menyikapi gagasan tersebut. Hal ini wajar karena pemahaman terhadap gagasan baru tidak selalu sama. Pak Rinto menuturkan “Pembicaran di tingkat pimpinan tidak intens. Jika pengin kita fokus bahas itu; apakah membuat sekolah baru atau meningkatkan yang telah ada. Itu semua harus ada putusannya. Tidak hanya omong-omongan, kita sukanya omong- omongan saja. Kita masih suka begitu.”

Sementara itu Bapak Ariswan, Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota, memandang gagasan pendirian sekolah baru dengan sistem pendidikan lanjutan SD Muhammadiyah favorit harus ditinjau secara cermat. Harus ada jaminan bahwa sekolah yang baru tersebut membawa spirit pendidikan berbasis sistem pendidikan Muhammadiyah. Jika tidak, sekolah baru tersebut justru akan jauh dari sistem pendidikan yang telah ada.” Adopsi sistem di SD, misalnya pendirian SMP Muhammadiyah Sapen. Itu harus kita lihat konsep dasar persyarikatan Muhammadiyah di mana? Pendidikan Muhammadiyah sudah punya sistem, nah kalau itu kita lakukan. Jangan- jangan pengembangan ini terkait dengan kepentingan personal di sistem itu dan tidak mengakar pada sistem di Muhammadiyah, saya punya kekhawatiran itu.” Ungkap Dosen MIPA UNY tersebut.

Bagi Pak Ariswan, membangun sekolah baru menuntut waktu yang lama karena prosedur dan persiapan harus matang. Selain itu, dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan. Oleh karena itu, bagi beliau, mensinergikan sekolah yang ada dengan program lanjutan khusus jauh lebih memungkinkan. “Itu perlu pemikiran untuk  mengembangkan sistem yang telah ada, misalnya kita belum bisa menghubungkan kultur dan sistem pendidikan antara SD Muhammadiyah Sapen dengan SMP Muhammadiyah 2. Bagaimana kita buatkan MOU dengan difasilitasi Majelis Dikdasmen untuk meningkatkan kualitasnya sehingga mampu bersaing dengaan SMP unggulan di kota ini.” Ujar mantan Pak Ariswan.

Sedikit berbeda dengan beliau, Pak Rinto cenderung mendorong perlunya sekolah baru dengan melanjutkan brand yang benar- benar baru. Ia memandang perlunya sekolah unggulan yang mengusung sistem pendidikan sebelumnya. Selain itu, ia juga tidak khawatir dengan masuknya  kepentingan dan obsesi individu pada lembaga pendidikan tersebut. Terkait hal tersebut ia berdalih bawah pergantian kepemimpinan di SD Muhammadiyah Sapen tidak menyurutkan prestasi dan kualitas pendidikannya. Hal ini menunjukkan bahwa sistem telah berjalan. “perlu ada idola baru dulu entah apa namanya, kalau di Gunung Kidul ada SMP AL Mujahidin. Begitu sistem ini bagus bisa dipakai untuk SMP yang lain sehingga akan percaya. Atau bisa juga bagi ranking yang tinggi kalau meneruskan sekolah Muh yang tinggi akan mendapat layanan gratis, betul- betul gratis.” Tegas Pak Rinto.

Apapun pilihan pendekatannya, kita telah melihat urgensi gagasan tersebut. Wacana tidak seharusnya mandek pada level kebijakan pimpinan. Tantangan menciptakan lembaga pendidikan yang kompetitif harus menyadarkan kita untuk bergerak dengan lincah. Hingga akhirnya kita menunggu, kapan pimpinan akan mengetuk palu?

Foto siswa SMP Muh 2 Yogya
Ada banyak faktor ketika orang tua siswa SD Muhammadiyah tidak mempercayakan pendidikan anak mereka ke sekolah lanjutan Muhammadiyah (Sumber gambar : klik disini)

Daftar Laporan Khusus “Sistem Terpadu perguruan Muhammadiyah“.

Reporter : Fuad Hasyim

Liputan ini pernah dimuat di Rubrik Fokus Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar SD Yes, SMP Yes
Fuad Hasyim, S.S, M.A
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kota Yogyakarta, Dosen Bahasa Inggris Universitas Islam Indonesia, Pimpinan Redaksi Majalah Mentari

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...