As – Sakinah [Madarijus Saalikin]

Dalam beberapa perhelatan, utamanya walimatul ‘ursy, kita sering mendengar kata ‘sakinati (sakinah), yang selalu dikaitkan dengan kata mawaddah dan rahmah, yang oleh para penceramah diterjemahkan dengan ‘ketenangan’, yang terkait dengan cinta dan kasih-sayang.

Sakinah (ketenangan) adalah sebuah ‘keadaan’, yang dalam istilah tasawuf disebut dengan sebutan hal (jamaknya: ahwal). Keadaan ini termasuk tempat persinggahan yang bersifat pemberian, dan bukan sesuatu yang didapat atau sebagai akibat dari sebuah pencarian dan usaha.

Allah telah menyebutkan kata sakinah ini di enam tempat dalam Kitab-Nya, yaitu:

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi Raja, ialah kembalinya tabutkepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.”.” [QS al-Baqarah/2 : 248]

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang – orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” [QS at-Taubah/9 : 26]

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS at-Taubah/9 : 40]

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang – orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS al-Fath/48 : 4].

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenanganyang dekat (waktunya).” [QS al-Fath/48 : 18]

”Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang Mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa.” [QS al-Fath/48: 26]

Jika Syaikhul-Islam — Ibnu Taimiyah — menghadapi masalah yang berat, maka dia membaca ayat-ayat yang di dalamnya terkandung ketenangan. Saya sendiri pernah mencoba membaca ayat-ayat ini untuk mengenyahkan kegundahan di dalam hati. Maka saya bisa merasakan pengaruhnya yang amat besar dalam mendatangkan ketenangan.

Sakinah

Makna sakinah adalah ketenangan dan thuma’ninah yang diturunkan Allah ke dalam hati hamba-Nya ketika mengalami keguncangan dan kegelisahan karena ketakutan yang mencekam. Setelah itu dia tidak lagi merasakannya, karena ketakutan itu sudah disingkirkan, sehingga menambah imannya, kekuatan keyakinan dan keteguhan hatinya. Karena itu

Allah mengabarkan ketenangan yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kepada orang-orang yang beriman ketika mereka dalam keadaan cemas dan gelisah, seperti saat hij rah, yaitu ketika beliau dan Abu Bakar bersembunyi di dalam gua, sementara musuh-musuh beliau ada di atas kepala. Andaikan di antara mereka ada yang melongok ke bawah, tentulah mereka akan melihat beliau dan Abu Bakar. Begitu pula pada saat perang Hunain, karena pasukan Muslimin melarikan diri setelah mendapatkan gempuran serangan musuh. Sebagian di antara mereka tidak mempedulikan nasib sebagian yang lain. Begitu pula saat perjanjian Hudaibiyah, ketika hati mereka dirasuki perasaan cemas dan gelisah atas sikap orang-orang kafir, yang memaksakan syarat-syarat perjanjian yang haras diterima orang-orang Muslim.

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “Setiap sakinah yang disebutkan di dalam al-Qur’an berarti thuma’ninah atau ketenangan, kecuali yang disebutkan di dalam QS al-Baqarah.”

Al-Harawi — dalam kitab Manazilus-Sairin – berkata: “Sakinah merupakan istilah untuk tiga perkara”:

  1. Sakinah Bani Israel yang dimasukkan ke dalam Tabut. Ada perbedaan pendapat, apakah sakinah ini berupa jenis ataukah makna. Kalaupun jenis, bagaimana sifatnya? Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, jenisnya berupa angin yang bertiup kencang, memiliki wajah seperti wajah manusia. Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa rupanya seperti kucing yang mempunyai dua sayap dan mata yang berkilauan. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, jenisnya berupa baskom yang terbuat dari emas surga, yang digunakan untuk mencuci hati para nabi. Jika sakinah ini diartikan makna, maka artinya ketenangan. Taruklah bahwa maknanya adalah yang pertama, maka sakinah di sini adalah Tabut itu sendiri.
  2. Sakinah yang disampaikan kepada orang yang sedang dibicarakan, bukan termasuk sesuatu yang bisa dicari dan dimiliki, tetapi merupakan anugerah dari Allah, yang diturunkan ke lisan orang yang benar, seperti wahyu yang diturunkan ke dalam hati para nabi. Jika sakinah ini turun ke dalam hati seseorang, maka dia menjadi tenang, tunduk dan pasrah, lisannya tidak mengatakan kecuali yang baik, seakan ada penghalang antara lisan itu dan perkataan-perkataan kotor dan kebatilan. Abdullah bin Abbas Radhiyallihu ‘Anhuma berkata, “Kami saling membicarakan bahwa sakinah ini turun ke lisan Umar dan hatinya, lalu dia menyampaikannya.”
  3. Sakinah yang turun ke dalam hati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan hati orang-orang yang beriman. Sakinah ini merupakan sesuatu yang mampu menghimpun kekuatan dan ruh, menenangkan orang yang tadinya dicekam rasa takut, menghibur hati yang sedihdan gelisah serta menenangkan orang yang durhaka, lancang dan enggan.

Syaikh — al-Harawi — menyebutkan bahwa sesuatu yang diturunkan Allah ke dalam hati Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang Mukmin, mencakup tiga makna: Cahaya, kekuatan dan ruh, yang menghasilkan tiga buah: Ketenangan orang yang takut, kegembiraan orang yang sedih dan ketenangan orang yang durhaka, lancang dan enggan. Dengan ruh sakinah ini ada kehidupan hati. Dengan cahayanya hati menjadi bersinar, dan dengan kekuatannya ada keteguhan dan hasrat. Dengan cahaya, seorang hamba bisa menyingkap bukti-bukti iman, hakikat keyakinan, bisa mem-bedakan antara yang haq dan batil, petunjuk dan kesesatan, keraguan dan keyakinan. Dengan kehidupan, menghasilkan kesadaran, pemikiran dan membuatnya waspada terhadap kelalaian. Dengan kekuatan, menghasilkan kelurusan, kejujuran dan ma’rifah yang benar, penguasaan jiwa dan membebaskannya dari aib dan kekurangan. Karena itu sakinah ini bisa menambah keimanan yang sudah ada. Ketenangan kewibawaan yang diturunkan Allah sebagai sifat orang yang memilikinya, merupakan cahaya dari sakinah yang ketiga ini dan merupakan buahnya.

Menurut al-Harawi, ada tiga derajat sakinah, yaitu:

(1) Sakinah kekhusyu’an saat melaksanakan pengabdian,

berupa memenuhi hak, mengagungkan dan menghadirkan hati. Yang dimaksudkan adalah ketenangan, kewibawaan dan kekhusyu’an yang diperoleh pelakunya karena berbuat kebajikan.

Allah berfirman,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS al-Hadld/57 : 16]

Karena iman mengharuskan munculnya kekhusyu’an dan memang iman itu menyeru kepada kekhusyu’an, maka Allah menyeru mereka dari kedudukan iman ke kedudukan kebajikan. Dengan kata lain Allah befirman, “Belumkah tiba saatnya bagi mereka untuk mencapai kebajikan dengan iman?” Untuk mewujudkannya ialah dengan kekhusyu’an mereka saat mengingat apa yang diturunkan Allah kepada mereka.

Memenuhi hak artinya memenuhi hak pengabdian, yang zhahir maupun batin. Pengagungan pengabdian mengikuti pengagungan terhadap Allah yang disembah. Seberapa jauh pengagungan kepada Allah bersemayam di dalam hati hamba, maka sejauh itu pula pengagungannya terhadap pengabdian kepada-Nya. Menghadirkan hati ialah saat menyaksikan Allah yang disembah, seakan-akan dia benar-benar dapat melihat-Nya.

(2) Sakinah saat bermu’amalah,

dengan menghisab diri, lemah lembut terhadap makhluk dan memperhatikan hak Allah. Derajat inilah yang biasa digeluti orang-orang sufi dan yang menjadi ciri mereka dalam bermu’amalah dengan Allah serta dengan makhluk, yang bisa diperoleh dengan tiga perkara:

  • Menghisab (mengevaluasi) diri, sehingga dapat diketahui apa yang menjadi bagiannya dan apa kewajibannya. Kebersihan dan kesuciannya tergantung dari hisab ini. Al-Hasan berkata, “Demi Allah, engkau tidak melihat seorang yang berimanan melainkan dia berdiri di hadapan diri sendiri seraya bertanya, “Apa yang kamu kehendaki dari kata ini? Apa yang kamu kehendaki dari sesuap makanan? Apa yang kamu kehendaki dengan masuk atau keluar dari suatu tempat?” Dengan hisab ini dia bisa mengetahui aib dan kekurangannya, lalu memungkinkan untuk membenahinya.
  • Lemah lembut terhadap makhluk, sesuai dengan kelaziman dalam bermu’amalah dengan mereka, tidak memperlakukan mereka dengan keras dan kaku, karena cara ini justru membuat mereka lari menghindar, merusak hati dan hubungan dengan Allah serta membuang-buang waktu. Tidak ada yang lebih bermanfaat dalam bermu’amalah dengan manusia kecuali dengan lemah lembut. Hal ini haras diterapkan kepada orang asing, sehingga bisa merebut hati dan cintanya, atau terhadap sahabat dan kekasih, untuk menjaga kelangsungan hubungan dan kasih sayang, atau terhadap musuh dan orang yang membenci, untuk memadamkan kekerasannya dan menghentikan kejahatannya.
  • Memperhatikan hak Allah. Hal ini bisa mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan di dunia maupun di akhirat. Dua tingkatan di atas tidak dianggap benar kecuali dengan memenuhi hak Allah.

(3) Sakinah yang menguatkan keridhaan terhadap bagian dirinya,

mencegah dari pembualan dan menempatkan orang yang memilikinya pada batasan ‘ubudiyah. Sakinah ini tidak – begitu saja – ‘turun’ (didapatkan), kecuali ke dalam hati para nabi atau wali Allah.

Orang yang memiliki sakinah ini haras ridha kepada bagiannya dan tidak menoleh ke bagian yang diterima orang lain. Sehingga orang yang memiliki sakinah ini juga tidak membual. Sebab bualan muncul dari hati yang tidak memiliki sakinah. Orang yang memiliki sakinah ini juga tidak melanggar batasan ‘ubudiyah. Jika dikatakan bahwa sakinah ini tidak turun kecuali ke dalam hati nabi atau wali, karena ini merupakan karunia Allah yang paling agung. Maka dari itu Allah tidak menjadikannya kecuali bagi para Nabi/Rasul-Nya dan orang- orang yang beriman, seperti yang disebutkan di dalam al-Qur’an.

Jadi “sakinah” — bagi setiap orang yang beriman — dapat diartikan dengan: “kedamaian, ketenangan dan ketenteraman yang kita peroleh sebagai perwujudan cinta dan kasih-sayang Allah kepada diri kita, yang kita peroleh sebagai anugerah dari-Nya, sebagai balasan atas keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya”.

Insya Allah kita semua pasti memiliki harapan yang sama terhadap masa depan kita, baik yang telah mendapatkan maupun yang akan dan sedang mencari sakinah. Dan semoga makna dari kata-kata ini semakin memberikan motivasi untuk kita semua terutama diri kita, agar menjadi lebih baik dan segera mendapatkan yang lebih baik pula dalam upaya kita untuk mendapatkan sakinah, dengan ‘cara’ mewujudkan ke-Iman-an kita dalam ke- Takwa-an kita, dalam ibadah kita kepada Allah dan mu’amalah kita bersama makhluk-makhluk Allah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait