Revitalisasi dan Perkaderan Cabang IPM, Usaha PD IPM Kota Yogyakarta dalam Memperlebar Sayap Dakwah Muhammadiyah

Kontributor : Nabhan Mudrik Alyaum (Ketua Umum PD IPM Kota Yogyakarta Periode 2017/2019)
Penulis : Nabhan Mudrik Alyaum (Ketua Umum PD IPM Kota Yogyakarta Periode 2017/2019)

Baru-baru ini, PD IPM Kota Yogyakarta meresmikan pendirian PC IPM Ngampilan.  Pendirian dilakukan melalui serangkaian mekanisme mulai dari koordinasi,, Musyawarah Cabang, hingga pengesahan secara de jure melalui pelantikan pada Jumat, 1 Desember 2017. Sebelumnya juga telah dilakukan revitalisasi PC IPM Wirobrajan dengan penyelenggaraan Musyawarah Cabang II yang dimajukan ­pelaksanaannya pada 9-10 September 2017 lalu (semestinya Musycab tersebut dilaksanakan pada awal 2018 sesuai dengan 2 tahun masa jabatan PC IPM). Penegasan eksistensi cabang dapat ditelaah secara lebih luas dan memiliki peran yang perlu ditengok secara lebih mendalam.

Urgensi Keberadaan PC IPM

Revitalisasi dan pendirian Cabang dalam kultur PD IPM Kota Yogyakarta terkini merupakan barang baru. Dahulu PD IPM Kota Yogyakarta memiliki beberapa cabang di bawah naungannya[1]. Namun setidaknya selama tiga periode ke belakang PD IPM Kota Yogyakarta memutuskan untuk tidak memiliki Cabang IPM, dengan argumentasi bahwa luas wilayah Kota Yogyakarta tergolong sempit sehingga tidak dibutuhkan cabang, cukup dengan koordinasi langsung ranting – daerah.

Namun pendirian tersebut justru terbantahkan dengan Amanah Konpiwil IPM Tahun 2016 di Surabaya dan Muktamar XX IPM di Samarinda. Selain itu dalam AD/ART IPM termaktubkan bahwa “Daerah sekurang-kurangnya mempunyai dua cabang” (Pasal 11 ayat 2). Terlebih lagi dengan 27 ranting (dan dapat terus bertambah), PD IPM Kota Yogyakarta memiliki kegiatan dan tanggungjawab yang begitu menyita waktu dan tenaga. Hal ini menguatkan keperluan adanya cabang baik melalui tuntutan keorganisasian maupun kebutuhan PD IPM Kota Yogyakarta sendiri.

Keberadaan IPM yang tidak terbatas mewadahi pelajar dari sekolah Muhammadiyah perlu dipertegas. Cabang menjadi mutlak diperlukan dalam mendukung pandangan ini karena dapat menerima kader-kader IPM non-sekolah Muhammadiyah secara terbuka. Cabang IPM menjadi jalan untuk memfasilitasi kader yang tidak mengenyam pendidikan formal di sekolah Muhammadiyah. Sehingga dengan adanya cabang, memperlihatkan bahwa gerakan Muhammadiyah dalam IPM tidak eksklusif bagi siswa sekolah Muhammadiyah, namun juga berlaku bagi pelajar secara umum.

Pada akhirnya kemunculan kembali cabang IPM menjadi salah satu jalan untuk membuat perjuangan IPM tidak sempit dan eksklusif, sehingga dapat mengakomodir pelajar Indonesia secara keseluruhan. Terlebih lagi, IPM di Kota Yogyakarta menjadi satu-satunya organisasi pelajar yang kuat dalam keorganisasiannya sekaligus tanggap isu-isu umum dalam masyarakat maupun dalam lingkup pelajar. Organisasi-organisasi pelajar lain yang eksis di Kota Yogyakarta seringkali tidak terlalu dekat dengan masyarakat. Atau jikapun tanggap isu-isu dan permasalahan dalam masyarakat, organisasi-organisasi tersebut seringkali tidak memiliki budaya keorganisasian dan perkaderan sebaik IPM.

Penyusunan Pola Perkaderan

Tentunya keharusan yang dialami PD IPM Kota Yogyakarta terkait cabang tidak hanya berhenti hingga pendirian dan regenerasi. Cabang sebagai “anggota keluarga” baru dalam lingkup PD IPM Kota Yogyakarta juga perlu diorganisir dengan baik. Tentunya perkaderan patut menjadi perhatian dan perlu dipertimbangkan secara masak karena berkaitan dengan urusan-urusan teknis yang menentukan kualitas PC IPM.

Kenyataan lain yang mesti dihadapi PC IPM adalah adanya perbedaan latar belakang yang dimiliki oleh personalia cabang. Sebelum kemunculan PC IPM, latar belakang kader IPM cenderung seragam, yaitu siswa sekolah Muhammadiyah dengan sedikit sekali variasi siswa sekolah negeri. Namun begitu cabang eksis, latar belakang kader dan personalia IPM menjadi lebih beragam, asal sekolah, lingkungan, hingga keadaan ekonomi menjadi sangat beragam sehingga kultur perlu diperhatikan.

Sebagai langkah awal, PC IPM diusahakan untuk segera menyelenggarakan Pelatihan Kader Taruna Melati 1 demi keberlanjutan organisasi di masa mendatang, serta untuk membentuk kultur khas PC IPM dari keberagaman yang telah dijelaskan. Kematangan personalia akan ditentukan dari Taruna Melati 1 tersebut dengan melalui segenap proses yang ada di dalamnya. Taruna Melati 1 pun dapat menjadi langkah untuk berkhidmat dalam perjuangan menghasilkan pelajar-pelajar yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil sesuai lokasi kedudukan PC IPM tersebut.

IPM memiliki perkaderan yang telah tersistem, tentunya menjadi bagian dari perkaderan Muhammadiyah. Hal ini memerlukan dukungan agar perkaderan formal IPM menjadi agenda utama dalam periodisasi PC IPM –bahkan sebisa mungkin segera dilaksanakan, sehingga melalui proses-proses tersebut keberlangsungan PC IPM beserta inovasi-inovasi dapat muncul dan menjamin eksistensi PC IPM.

Kebutuhan Dukungan

Dukungan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Ortom tingkat cabang mutlak diperlukan. Dukungan moril maupun materiil menjadi bekal yang sangat penting bagi PC IPM mengarungi amanah yang diemban kini dan di masa depan. Pendampingan dan bimbingan dari PCM dan Ortom sangat berguna untuk memberi panduan bagi cabang IPM terutama dalam urusan yang bersinggungan dengan masyarakat –karena koordinasi dengan PD IPM umumnya hanya berkisar pada urusan keorganisasian. Kader-kader IPM di Kota Yogyakarta yang didominasi pelajar dari berbagai daerah di luar Kota Yogyakarta dengan kultur yang beragam membuat IPM menjadi terkesan kurang akrab dengan masyarakat Jogja, padahal semua yang dipelajari selama menjadi kader IPM tak lain adalah untuk terjun di masyarakat pada masa depan.

Dukungan moril maupun materiil menjadi bekal yang sangat penting bagi PC IPM mengarungi amanah yang diemban
Dukungan moril maupun materiil menjadi bekal yang sangat penting bagi PC IPM mengarungi amanah yang diemban (Sumber gambar : IG @ipmjogja)

Terakhir, dengan keberadaan cabang yang telah cukup lama menghilang dari perjalanan IPM di Kota Yogyakarta, tentunya timbul ketakutan-ketakutan akan keberlangsungan PC IPM yang bisa jadi hanya seumur jagung dan tidak terawat eksistensinya. Namun ketika segala hal terkait dengan perkaderan dijamin dan dukungan moril-materiil disediakan secara mantap, keberlangsungan PC IPM merupakan sebuah keniscayaan. Bahkan menjadi jalan yang menguatkan ketersediaan kader dan juga melebarkan sayap dakwah IPM kepada pelajar, serta dakwah Muhammadiyah kepada seluruh masyarakat khususnya di Kota Yogyakarta.

Semoga Allah meridhoi perjuangan kita semua.

[1] Berdasarkan pembicaraan Bapak Jamaluddin Ahmad pada 21 November 2017

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Kader Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait