Rekam Jejak Hidup Intelektual Sang Pencerah

Gambar Rekam Jejak Hidup Intelektual Sang Pencerah
Saladin Albany, S.Pd, M.Pd
Pendidik SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta, Wakil Sekretaris Majelis Pendidikan Kader PDM Kota Yogyakarta

KH. Ahmad Dahlan lahir pada tahun 1868 di kampung Kauman Yogyakarta dengan nama Muhammad Darwisy. mata rantai silsilah  Muhammad Darwisy adalah putra K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim.[1] Permulaan pendidikan KH. Ahmad Dahlan adalah diajar mengaji oleh ayah beliau, KH. Abu Bakar dirumah sendiri. Pada usia 8 tahun beliau telah lancar membaca Al-Qur’an dan sudah khatam. Masa kanak-kanak beliau sudah menunjukan beberapa kelebihan. Beliau mempunyai banyak akal, daya upaya. Orang-orang menamakan beliau sebagai dregil, anak yang ulet dan pandai memanfaatkan sesuatu juga pandai mendapat sebutan wasis, pandai. Beliau mempunyai otak yang cerdas.[2]

Setelah agak dewasa KH. Ahmad Dahlan mulai belajar ilmu fiqh kepada KH. Muhammad Saleh dan menuntut ilmu Nahwu kepada KH. Muhsin, kedua guru tersebut adalah kakak Iparnya. Guru-guru yang lain adalah KH. Abdul Hamid dari Lempuyangan dan KH. Muhammad Nur. Disamping itu beliau belajar ilmu-ilmu lain namun tidak ada keterangan kapan beliau belajar ilmu-ilmu tersebut. Beliau belajar Ilmu Falak kepada KH. Dahlan putra Kyai Termas. Dalam Ilmu Hadits beliau belajar kepada Kyai Mahfudz dan Syaikh Khayyat. Beliau belajar Ilmu Qiraah membaca alquran kepada Syaikh Amin dan Sayyid Bakri Satock. Beliau juga belajar ilmu bisa, racun binatang gurunya adalah R. Wedana Dwijosewoyo dan Syaikh M. Jamil Jambk dari Bukit Tinggi.[3]

Muhammad Darwisy mendapat pendidikan dalam lingkungan pesantren sejak kecil, dan sekaligus menjadi tempatnya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Jiwa dan pemikiran disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat Ortodoks.[4]

Pemikiran dunia Islam
KHAD berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah (Sumber gambar : klik disini)

Pada tahun 1903 KH. Ahmad Dahlan pergi ke Makkah untuk kedua kalinya dengan membawa puteranya, Muhammad Siraj yang sedang berumur 6 tahun. Beliau tingal disana selama satu setengah tahun dan belajar kepada beberapa guru. Dalam ilmu fiqh beliau berguru kepada Kyai Makhful Termas, Said Babusyel dan kepada Mufti Syafi’i dalam Ilmu Hadits. Beliau belajar Ilmu Falak kepada Kyai Asy’ari Baceyan dan berguru kepada syaikh Ali Mishri Makkah dalam Ilmu Qiraah. Disamping itu beliau berteman dengan orang-orang Indonesia disana yaitu syaikh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten Jawa Barat, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya dan Kyai Fakih Maskumambang dari Gresik.[5]

Pada mulanya kitab-kitab yang dipelajari KH. Ahmad Dahlan adalah kitab-kitab yang biasa dipelajari oleh kebanyakan Ulama di Indonesia dan ulama Mekkah. Misalnya, dalam ilmu ‘Aqaid ialah kitab-kitab yang beraliran ahlus sunnah wal jama’ah, Ilmu Fiqh menggunakan kitab-kitab dari madzhab Syafi’iyah dan dalam hal Ilmu Tasawuf beliau merujuk kepada Imam Al-Ghazali. Kemudiaan setelaah itu beliau mempelajari tafsir Al-Manar karya Rasyid Ridha, majalah Al-Manar dan Tafsir Juz ‘Amma karya Muhammad Abduh serta menelaah kitab Urwatul Wutsqa karya Jamaludin Al-Afghani. Selain itu beberapa kitab yang sering menjadi rujukan beliau diantaranya Kitab Tauhid karya Muhamad Abduh, Tafsir Juz Amma Muhammad Abduh, Kitab Kanzul Ulum, Dairatul Ma’Arif karya Farid Wajdi, kitab-kitab fil Bid’ah karya Ibnu Taimiyah, Kitab Al-Islam Wan Nasraniyah karya Muhammad Abduh, Krya Idharul Haq Karya Rahmatullah Al-Hindi dan Kitab Hadits karya ulama Madzhab Hambali[6]. Beliau juga merujuk Matan Al-Hikam karangan Ibnu ‘Athailah dan Al-Qashaid Al-‘Aththasiyah karangan Abdul Aththas.[7] 

Inti dari Jejak intelektual KH. Ahmad Dahlan sebagai pengetahuan warga persyarikatan akan pentingnya menuntut ilmu. Keteladanan dari beliau dalam hal menuntut ilmu sangat perlu untuk kita lakukan terhadap kualitas hidup kita dan kualitas hidup dalam keluarga kita. Bahwa manusia akan dinaikan derajat oleh Allah swt dengan Ilmu, berkat ilmu kita bisa hidup dengan benar, berkat ilmu kita bisa hidup dengan baik, berkat ilmu kita dapat menjalankan roda kehidupan dan menjawab tantangan kehidupan. Keistimewaan kita secara pribadi dan dalam keluarga adalah bagaimana mengindahkan ilmu, bagaimana menghormati ilmu. Maka manusia secara pribadi akan dilihat sejauh mana ilmunya dan keluarga yang berkualitas akan menghargai pancaran ilmu dalam lingkup anggota keluarganya, khususnya kita sebagai warga dan keluarga persyarikatan. Menelaah keteladanan beliau dalam aspek intelektual ini diharapkan dapat mencerahkan kita semua bahwa manusia yang ikhlas dan berjiwa besar adalah ia yang akan meningkatkan kualitas keilmuanya dan yang akan menghargai ilmu dan yang mengamalkan ilmunya.

Catatan Kaki :
  • [1] Yunus Salam, KH. Ahmad Dahlan Amal dan Perdjoangannja (Jakarta : Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968), hlm. 6.
  • [2] Yusron Asrofi, Kyai Haji  …, hlm. 22
  • [3] Ibid.
  • [4] Muhammadiyah.or.id akses 10 April 2017
  • [5] Ibid., hlm. 25
  • [6] KRH. Hadjid, Peajaran KH. Ahmad Dahlan 7 fasafah Ajaran dan 17 kelompok ayat Al-Qur’an (Yogyakarta : MPI PP Muhammadiyah, 2011), hlm. 3
  • [7] Yusron Asrofi, Kyai Haji  …, hlm. 25

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Kader Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2018 dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...