Reformulasi Dakwah Muhammadiyah

Gambar Reformulasi Dakwah Muhammadiyah
Margianto, S.Ag, MA
Majelis Tabligh PDM Kota Yogyakarta, Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Abad modern yang ditandai dengan melesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi  mengakibatkan terjadinya perubahan tata nilai dan budaya manusia ke arah tatanan kehidupan yang lebih bersifat rasional dan objektif. Manusia banyak mendapatkan keberkahan dari era tehnologi seperti saat ini. Sekat-sekat kehidupan manusia mulai terbuka luas bahkan simpul-simpul kehidupan yang selama ini menjadi belenggu terhadap peradaban mulai terurai. Dengan tehnologi manusia dengan lebih cepat bisa berkomunikasi tanpa terhalang oleh dimensi ruang dan waktu. Dibalik keberkahan abad modern, ternyata manusia harus lebih ekstra hati-hati dalam merespon abad ini. Abad modern mampu meningkatkan demoralisasi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan seluruh usia dari kanak-kanak hingga orang tua. Perubahan perilaku manusia yang dramatis ini diperlukan satu metode dakwah  yang jitu sehingga mampu menjadi solusi dari setiap  masalah yang dihadapi.

Semaraknya kehidupan keagamaan merupakan prestasi kegiatan dakwah islam melalui  berbagai bentuk dan model yang selama ini dilakukan oleh seluruh kekuatan islam di Indonesia.  Sementara meluasnya demoralisasi ekonomi, sosial, politik dan budaya, merupakan sisi-sisi negatif perkembangan masyarakat yang semakin modern disamping manfaat yang tak dapat dibantah. Dakwah Muhammadiyah harus dapat memperbesar manfaat dan meminimalisasi dampak negatif modernisasi tersebut.

Tujuan dan pola pengelolaan ataupun prinsip-prinsip prilaku pelaku dakwah secara normatif dimuat secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai rujukan utama. Namun perumusan tujuan dan pola pengelolaan sehingga menjadi petunjuk operasional bagi pelaku atau subyek dakwah seperti da’i dan mubaligh merupakan suatu keniscayaan. Setiap rumusan mengandung sifat kesejarahan, dalam arti dipengaruhi lingkungan sosial dan budaya yang berkembang pada saat rumusan itu dibuat. Karenanya, rumusan tujuan dan pengelolaan dakwah sebagai hasil pemahaman atas norma-norma spiritual yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah terus-menerus memerlukan pembaharuan sesuai perkembangan masyarakat dan persoalan dakwah yang dihadapi dalam suatu kurun sejarah tertentu.

Dalam perspektif kesejarahan, dua kecenderungan dakwah dan perkembangan masyarakat yang seolah saling bertentangan di atas dengan sendirinya memerlukan sistem pengelolaan dakwah secara lebih terencana dan terprogram sehingga dapat dicapai tahapan perkembangan dakwah yang lebih tinggi. Pengelolaan dakwah secara konvensional sudah saatnya dimodifikasi dan dikembangkan sesuai tingkat perkembangan pemikiran dan kebutuhan masyarakat. Searah dengan kemajuan masyarakat yang semakin terdidik dengan tingkat kehidupan ekonomi yang lebih baik serta pengelolaan, bentuk dan model kegiatan dakwah disempurnakan sehingga tujuan dapat dicapai secara lebih optimal. Secara khusus, isi atau materi dakwah disajikan secara lebih terstruktur dan sistematis dalam uraian bahasa yang jelas dan jernih sesuai tingkat intelektual dan pemikiran masyarakat.

Penyusunan dan pilihan materi disesuaikan dengan kebutuhan umat sehingga dakwah dapat berfungsi sebagai bimbingan dan penyuluhan hidup meliputi bidang ibadah hingga keterampilan kerja dan pengembangan pemikiran. Seluruhnya merupakan bagian dari usaha mengembangkan mutu sumber daya umat, sehingga dapat menempatkan dan memfungsikan dirinya sebagai khaira ummah  yang secara individual maupun kolektif memiliki kewibawaan sosial dalam membawa perkembangan masyarakat kearah tujuan yang dikehendaki oleh syaraiat agama.

Penyusunan dan pilihan materi disesuaikan dengan kebutuhan umat sehingga dakwah dapat berfungsi sebagai bimbingan dan penyuluhan hidup
Penyusunan dan pilihan materi disesuaikan dengan kebutuhan umat sehingga dakwah dapat berfungsi sebagai bimbingan dan penyuluhan hidup (Sumber gambar : klik disini)

Konsep dan strategi dakwah pemecahan masalah yang dimaksudkan bahwa kegiatan dakwah harus merupakan usaha memecahkan atau menyelesaikan persoalan kehidupan  umat di bidang sosial-budaya, ekonomi dan politik dalam kerangka masyarakat modern. Dakwah pemecahan masalah diharapkan menghasilkan tiga kondisi :

  1. Tumbuhnya kepercayaan dan kemandirian umat sehingga berkembang sikap optimis.
  2. Tumbuhnya kepercayaan terhadap kegiatan dakwah guna mencapai tujuan kehidupan yang lebih ideal.
  3. Berkembangnya suatu kondisi sosial-ekonomi, budaya, politik sebagai landasan peningkatan  kualitas hidup atau peningkatan kualitas sumber daya umat.

Memperhatikan kondisi obyektif umat, pendekatan dakwah perlu diubah dari indoktrinasi menjadi dialog kreatif. Dakwah harus dikembangkan dalam usaha peningkatan ketrampilan sehingga mampu memenuhi tuntutan kehidupan obyektif di mana secara terprogram dan bertahap akan menuju idealitas kehidupan yang di samping memenuhi tuntutan normatif Islam juga mampu menjawab tantangan sosiologis masyarakat modern. Kepekaan terhadap penyelesaian masalah umat dan juga pencapaian kebenaran pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunah sebagaimana telah dikemukakan, merupakan ideologisasi yang mampu menggerakan seluruh lembaga dakwah serta lapisan umat secara kritis dan dinamis untuk tujuan dan maksud dakwah. Karena itu dakwah pemecahan masalah merupakan demokratisasi yang berarti  pengembangan kualitas hidup sebagai bagian pemberdayaan manusia dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.

Dalam hubungan itulah, perlu disadari bahwa berbagai organisasi dakwah seperti masjid dan majelis taklim yang tersebar dalam berbagai wilayah dengan kekayaan sumber daya umat memiliki peluang melakukan peran dalam menyelsaikan berbagai masalah kemanusian. Gerakan dakwah perlu dikembangkan sebagai sistem dan mekanisme kerja dinamis sehingga setiap pihak dapat mengambil prakarsa secara mandiri dan kreatif. Dengan demikian dapat dibangkitkan kembali dua semangat ideologis dakwah yang pernah menggerakkan kehidupan dunia Islam dalam seluruh perjalanan hidupnya. Apa yang dimaksud dengan semangat ideologis dakwah tersebut adalah spiritualitas yang memberi daya hidup yang berdimensi ganda yaitu semangat pencarian kebenaran Islam (intelektual) dan semangat kemanusian.

Dakwah dengan maksud pengembangan masyarakat sehingga berkehidupan lebih sejahtera sesuai tuntutan dan kebutuhan hidup kemanusian memerlukan keterlibatan sebanyak mungkin personil jamaah. Bersamaan dengan itu, perlunya uapaya secara terus-menerus peningkatan mutu dan kemampuan personil jamaah mengkordinasi, memobilsasi dan mengendalikan seluruh bahan material dakwah khususnya bagi peningkatan mutu kemampuan profesi mubaligh sebagai pelaku dakwah.

Disadari sepenuhnya bahwa faktor terpenting keberhasilan pelaksanaan dakwah ialah tingginya keterlibatan seluruh personil jamaah dan masyarakat luas dalam setiap gerak dan dinamika dakwah. Suatu kegiatan dakwah secara terlembaga tidak mungkin terus dapat bertahan hidup dan berkembang menyebarkan kerahmatan dan kesejahteraan, kecuali adanya jaminan kebersamaan, kekompakan dan saling pengertian setiap unsur dan personil jamaah beserta keterlibatan setiap warga masyarakat secara kreatif. Wajar, jika perjalanan waktu muncul perbedaan pendapat dan pemahanan di antara jamaah justru dalam usaha mereka memenuhi tuntutan dan tanggungjawab dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Karena itu hendaknya terus dikembangkan kesediaan memahami serta mengerti  pendapat dan pandangan orang lain sehingga tidak muncul konflik.

Dalam kerangka demikian itulah kegiatan dakwah merupakan usaha penciptaan strategi pengembangan masyarakat yang terarah sesuai dengan jiwa dan pesan ajaran Islam. Dakwah yang demikian bertumpu pada pandangan dasar bahwa perubahan dan perkembangan meruapakan ciri umum yang utama dari kehidupan bermasyarakat. Disadari sepenuhnya bahwa perubahan masyarakat di abad modern sebagai keniscayaan sejarah, semakin mempermudah manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun demikian sepenuhnya juga disadari bahwa kecenderungan sejarah demikian itu juga dapat mengakibatkan ketimpangan sosial dan ekonomi.

Dalam hubungan demikian itulah diperlukan ideologisasi dan humanisasi yang menumbuhkan suatu etos baru gerakan dakwah sehingga dapat memberikan pengarahan gerak perubahan masyarakat sebagaimana pesan universal ajaran Islam. Etos baru dakwah diharapkan dapat menggerakkan setiap individu muslim untuk mampu melakukan perubahan mendasar ditengah masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat. Dengan demikian gerakan dakwah dalam upaya sosialisasi Islam dapat tetap mempertimbangkan persoalan obyektif umat sehingga menumbuhkan daya panggil yang sekaligus menumbuhkan daya hidup umat dalam ditengah balutan kehidupan modern.

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di , dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tabligh Majalah Mentari Bulan 3 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...