Refleksi Gerakan Perempuan Muda (Kajian Gerakan NA di Tingkat Akar Rumput)

Kontributor : Rina Lusiana Ariyanti, S.Pd.I (Ketua Umum Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Yogyakarta)
Kontributor : Rina Lusiana Ariyanti, S.Pd.I (Ketua Umum Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kota Yogyakarta)

Gerakan perempuan muda menjadi isu yang seksi dikalangan masyarakat sosial. Begitu kompleks dan ruwet ketika membahas tentang perempuan, dari pembahasan tentang permasalahan gender, ketimpangan sosial, budaya diskriminasi terhadap perempuan, hingga perempuan yang menjadi bisnis prostitusi. Di zaman yang terus berganti ini isu keperempuanan akan terus semakin menarik dan penting untuk dibahas, dan bahkan nantinya akan melahirkan beberapa gerakan disebut sebagai Feminisme dalam Islam (Fazlur Rahman: 2009). Terbukti beberapa organisasi masyarakat, LSM bahkan komunitas perempuan ikut untuk memberikan kontribusi perubahan untuk perempuan pada umumnya. Salah satu gerakan perempuan muda yang sudah lama berdiri bernama Nasyiatul Aisyiyah. Berawal dari sekelompok perempuan muslim dengan pemikiran revolusioner dan/kritis ketika menghadapi permasalahan gender dan budaya patriarki yang kental pada masa itu. Tentunya pemikiran itu tidak berhenti pada era itu saja, malah semakin ber-gairah mendatangkan gagasan baru yang perlu untuk diperhatikan secara khusus demi kemajuan bangsa.

Kemunculan Nasyiatul Aisyiyah telah merubah sebagian paradigma perempuan pada masa itu, seperti: kebebasan perempuan untuk menuntut ilmu di ruang publik, sholat subuh berjama’ah di masjid, menambah keterampilan, berjama’ah memberantas kemiskinan, mendirikan pendidikan non formal untuk anak usia 4-5 tahun, dan cakap dalam ber-etika. Paradigma yang paling rumit adalah merubah pola pikir untuk mengedepankan gerakan kemanusiaan yang merupakan ikhtiar berjalan bersama Tuhan (Tan Malaka: 1943). Gerakan ini kemudian merambah untuk mendirikan organisasi tingkat akar rumput (ranting) di sebagian wilayah Yogyakarta yang menjadi basis utama gerakan pada masa itu. Sebuah gerakan akan menjadi besar dan tersistem jika sudah sampai akar rumput, karena didalamnya pasti akan menemukan banyak permasalahan. Tingkat akar rumput (ranting) yang dimaksud adalah suronatan, karangkajen, bausasran, dan kotagede.

Namun saat ini Nasyiatul Aisyiyah telah mengalami banyak kemunduran di sebagian tingkat cabang dan ranting. Salah satu akar permasalahannya adalah kurangnya kader perempuan muda (regenerasi) yang peduli akan gerakan ini. Masih ada cabang dan ranting yang saat ini belum terbentuk, padahal ketika ditingkat atas gaung Nasyiatul Aisyiyah sangatlah eksis bahkan banyak gagasan yang sesuai mengarah pada permasalahan masyarakat bawah. Ini seharusnya menjadi perhatian khusus bagi tingkatan atas agar gerakan Nasyiatul Aisyiyah  sampai pada sasaran yang tepat dan menjadi paralel gagasan sampai pada tingkat ranting. Memang ada pula cabang dan ranting yang secara gerakan aktif di ranah perkaderan tetapi sifat ekslusif (kurang berbagi) yang menjadi penyakit bawaan agar segera dibenarkan. Ini menjadi persaingan tidak sehat dalam organisasi di ranah internal Nasyiatul Aisyiyah.

Permasalahan lainnya kader “konsep” yang belum tersistem melalui proses perkaderan yang benar karena budaya tingkat cabang maupun ranting jarang mengadakan perkaderan formal (Darul Arqom). Ruh Nasyiatul Aisyiyah menjadi luntur, arahnya menjadi melantur, dan kurang berdaya guna untuk masyarakat sekitar. Sangat disayangkan ketika kembali melihat lagi ke belakang betapa gerakan Nasyiatul Aisyiyah yang mampu mendobrak paradigma sekarang hanyalah sebuah wacana yang terus bergulir tanpa ada penyelesaian. Ini merupakan autokritik yang seharusnya mencambuk Nasyiatul Aisyiyah bahwa pentingnya mempunyai ideologi yang jelas agar selanjutnya sesuai dengan cita-cita Nasyiatul Aisyiyah dan mampu bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Kesadaran pentingnya transfer kader dari ortom lain yang harusnya juga dapat ditarik menjadi kader. Kesadaran ini sudah dilakukan pada tingkatan atas, tetapi belum dilakukan dan dipahami pada tingkat cabang dan/ranting. Sebaiknya pemikiran eksklusif mampu dihilangkan kemudian mencari/memetakan kader yang se-ideologi agar dapat bersama menjadi kader Nasyiatul Aisyiyah di tingkatan cabang dan/ranting. Begitu pula sebaliknya, untuk kader perempuan pada ortom lain juga semestinya mempunyai kesadaran dan kemauan untuk tetap melanjutkan perkaderan di Nasyiatul Aisyiyah sebelum berproses di Aisyiyah.

Kesadaran pentingnya transfer kader dari ortom lain yang harusnya juga dapat ditarik menjadi kader
Kesadaran pentingnya transfer kader dari ortom lain yang harusnya juga dapat ditarik menjadi kader (Sumber gambar : IG @pdnayk)

Masa periode (empat tahun) yang panjang ditingkat cabang dan ranting menjadi permasalahan juga karena banyak kepengurusan yang sudah menikah kemudian mempunyai anak sehingga organisasi menjadi pasif. Pada usia produktif ini, sebagai gerakan yang peduli pada perempuan, tidak dapat menyalahkan ruang gerak perempuan yang perannya sudah lebih di keluarga. Di masa itu juga, Nasyiatul Aisyiyah juga perlu memberikan waktu yang lebih kadernya untuk mendidik putra-putrinya agar menjadi manusia yang beradab. Selanjutnya semua kader Nasyiatul Aisyiyah juga akan menjadi seorang ibu yang harapannya dapat menjunjung tinggi tugasnya merawat dan mencintai keluarga, mencita-citakan kaum perempuan yang islami, sekaligus aktif di ranah sosial, merdeka secara ekonomi, dan berpengetahuan luas (Siti Syamsiyatun:2016). Kedepannya ini supaya menjadi perhatian yang penting agar regenerasi cepat terjadi di tingkat cabang dan/ranting sehingga dapat melanjutkan gerakan agar semakin progresif.

Harapannya kepedulian ini bukan hanya menjadi perhatian dari pihak internal saja melainkan dari persyarikatan Muhammadiyah atau Aisyiyah yang memang sadar akan pentingnya gerakan perempuan muda ini. Sehingga mampu selalu berintegrasi antara Nasyiatul Aisyiyah dengan Muhammadiyah atau Aisyiyah baik melalui program atau proses pendidikan kader. Sebuah refleksi ini tentunya menjadi autokritik  dan rekonstruksi pemikiran sekaligus penyadaran bersama gerakan ber-Muhammadiyah, bahwa perempuan muda mampu mempunyai bargaining power dengan caranya sendiri berdasarkan ideologi yang dipegang selama ini.

Referensi :
  1. Fazlur Rahman, Tentang Wanita
  2. Tan Malaka, Madilog
  3. Siti Syamsiyatun, Pergolakan Putri Islam

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Bina Kader Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Artikel SebelumnyaDistribusi Bagi Hasil
Artikel BerikutnyaMeneguhkan Etos Kerja

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait