Orang yang miliki makna hidup akan mudah memberikan dan menerima cinta orang lain karena hal itu yang membuat hidupnya lebih bermakna. Ada sebuah keluarga yang tidak terbiasa memberikan dan menerima cinta dari orang di sekitarnya karena terbiasa menjalani kehidupan mereka seputar dengan perintah, amarah, ketegangan dan lain sebagainya. Hal yang terjadi menjadikan kehidupan anak-anaknya menjadi orang yang tidak miliki makna hidup; selalu berpikir negatif pada  orang lain, penuh kecurigaan, dilingkupi kecemasan, dan lain sebagainya.

Seorang nenek pernah bercerita bahwa cucunya justru menjauh pergi saat ia ingin memberikan pelukan kepadanya. Anak tersebut merasa takut ia akan dimarahi oleh neneknya. Begitulah mindset orang-orang yang justru sebenarnya harus memberikan dan menerima cinta, malah sebaliknya.

Memberikan dan menerima cinta orang lain harus kita biasakan dalam kehidupan ini. jika kita bukan orang yang terbiasa menerima cinta orang di sekitar kita, bisa dipastikan kita pun adalah orang yang tidak terbiasa memberikan cinta itu pada orang di sekitar kita. Apa itu cinta?

Jika kita berbicara cinta, siapa yang tidak pernah merasakan cinta? Cinta dalam segala hal. Mencintai orang tua, kakak, adik, kakek, nenek, dan seluruh yang pernah kita temui, apalagi mencintai orang-orang yang seiman bersama kita.

Jika ditanya kepada orang tua yang miliki anak, “Apakah bapak, ibu, mencintai anaknya?” semua orang tua pasti akan mengatakan ya.

Jika kita bertanya juga kepada suami kepada istri, kakek kepada cucu, kakak pada adik, adik pada kakak, paman kepada saudaranya, dan lainnya, ditanya hal serupa: apakah mereka mencintai satu sama lain, maka jawabannya pasti mereka saling mencintai. Namun, apakah arti sebenarnya cinta?

Love is verb. Love -the feeling – is the fruit of love the verb or our loving actions. So love her. Sacrifice. Listen to her. Empathize. Appreciate. Affirm her. – Stephen covey.

Menarik apa yang dikatakan Stephen Covey tentang cinta; bahwa cinta adalah sebuah kata kerja yang harus kita lakukan. Mencintai seseorang adalah bagaimana kita memperlakukan orang lain sebagai orang yang kita cintai sebagaimana seharusnya dengan tindakan mencintai.

Mungkin, saat ini jika kita membicarakannya baru hanya sekedar kata-kata: “aku mencintainya. Aku menyayanginya” namun ternyata jauh dari sikap mencintai: mengabaikan, membentak, menjauhi, meninggakkan, memarahi, mencela, tidak mendengarkan, tidak mempercayai, tidak menghargai, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana cinta seharusnya? Sthephen Covey mengatakan bahwa mencintai adalah sacrifice, listen to her, empathize, appreciate, affirm her yaitu tentang pengorbanan, mendengarkannya, berempati, menghargai, dan menguatkannya.

Pengorbanan

Kita mengetahui bahwa tanda cinta adalah pengorbanan. Ibu, yang rela mengandung puteranya selama sembilan bulan, berjalan, tidur, beraktivitas…sulitnya luarbiasa. Ibu kita pun tahu, betapa sakitnya melahirkan, bahkan saat harus bertaruh nyawa. Bahkan ada yang sudah kepayahan mengandung, ternyata tidak diizinkan puteranya melihat dunia oleh Tuhan-nya. Itulah bukti cinta.

Saat ada seorang ibu lainnya yang sedang mengalami sakit, dengan harus mengurus dua puteranya, dalam keadaan demam dan menahan sakit, berkeringat, wajahnya lesu, berkata dengan lirih, “Yang namanya Mama itu ga boleh sakit.” Merinding. Betapa bahwa cinta itu bisa menguatkan. Tetap tidak boleh terlihat lemah bahkan saat merasakan demikian. Itulah bukti cinta.

Mendengarkan

Tanda cinta juga adalah tentang mendengarkan. Jika saya ditanya, siapa yang dapat menjadi pendengar yang baik? Beliau-lah keluarga kita sendiri. Karena beliau orang yang mencintai kita, sejak kita dalam buaian, beliaulah yang membersamai kita. Beliau paling mengetahui siapa kita, kebutuhan kita, apa yang harus kita lakukan. Beliau yang akan memberikan solusi tanpa akan menjerumuskan, karena cinta mereka tulus.

Seringnya, kita temui bahwa keluarga satu sama lain tidak mampu menjadi pendengar yang baik bagi para anggota keluarga lainnya. Lalu akhirnya mereka tidak mempercayai satu sama lain. Mencari orang yang bisa mendengarkan segala keluhan, cerita, kesusahan pada orang yang mungkin tidak tepat. Akhirnya bisa retak hubungan antara anggota keluarga.

Bukti cinta dengan empati memperlihatkan bahwa kita bisa menjadi diri orang yang kita sayangi dengan memahami yang dirasakannya
Bukti cinta dengan empati memperlihatkan bahwa kita bisa menjadi diri orang yang kita sayangi dengan memahami yang dirasakannya (Sumber gambar : klik disini)

Berempati

Hal yang paling penting adalah bahwa saat bersama orang yang kita cintai adalah kita mampu berempati dengan orang yang kita sayangi. Mungkin kita pernah mendapat teguran dari seseorang karena belum mampu miliki empati yang baik. Contohnya saat ada yang menceritakan pengalaman-pengalamannya di kuliah, organisasi, majelis-majelis lainnya, lalu kita tidak memperhatikannya, malah bermain HP, otomatis ia marah dan memalingkan wajah dan menghentikan ceritanya. Otomatis kita menjadi tahu apa yang terjadi: kita kurang berempati.

Bukti cinta dengan empati memperlihatkan bahwa kita bisa menjadi diri orang yang kita sayangi dengan memahami yang dirasakannya, apa yang menjadi kekecewaan, kesedihan, kekhawatiran, juga kesenangan, kebahagiaan, dan lain sebagainya, tanpa harus kita mengalaminya langsung. Empati adalah memberikan perhatian penuh dengan siapa kita bicara, dengan apa yang mereka rasakan, dengan apa yang sedang mereka alami.

Menghargai

Bukti cinta lainnya adalah menghargai segala -hal terkecil- apapun yang dilakukan oleh orang yang kita sayangi, bahkan hal yang menurut kita tidak terlalu berharga dari apa yang mereka lakukan harus kita hargai. Dalam sebuah penelitian, ternyata orang Indonesia menjadi kurang percaya diri, harga dirinya rendah hanya karena kurang mendapat penghargaan orang disekitarnya; dipuji prestasi dan capaiannya, dan lain sebagainya.

Cobalah berlatih untuk menghargai apa yang dilakukan oleh orang sekitar kita. Jangan miskin penghargaan pada orang di sekitar kita, bahkan saat pekerjaannya belum baik, maka kita wajib menghargai dan mensupportnya untuk bisa lebih baik lagi.

Menguatkan

Pada orang yang kita cintai, maka kita pun harus menguatkannya. Menguatkannya saat ia bersedih, memberikan semangat saat ia terjatuh, tidak memberikan beban lainnya saat mengalami berbagai masalah, dan lain sebagainya. Jangan buat orang yang kita sayangi selalu dalam posisi tertekan karena kehadiran kita.

Maka sangat penting sekali bagi kita untuk memulai rasa cinta terlebih dahulu. Dalam arti, kita harus coba membiasakan memberikan cinta kepada orang di sekitar kita dari hal-hal yang sederhana, misalnya mengatakan: “Ibu, saya menyayangi ibu” sambil memeluk beliau. Peluklah dengan hangat dan ketulusan. Jika kikuk, maka biasakanlah.

Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa seseorang akan terbiasa untuk melakukan hal yang sudah ditetapkankan selama 30 hari. Contohnya saat kita tidak terbiasa mengatakan cinta, kasih sayang, pelukan hangat pada orang di sekitar kita, maka cobalah selama 30 hari secara bertahap, kita tidak akan merasakan canggung lagi.

Bagaimana melakukan secara bertahap? Misal, untuk hari pertama kita coba bertanya kabar ibu kita via sms yang mungkin jarang kita lakukan, “Ma, apa kabar?”, hari kedua, “Ma, apa kabar? Sudah maem?”, hari ketiga, “Ma, apa kabar? Sudah maem? Aku kangen mama.” Dan seterusnya. Jika orang yang di sekitar kita mengatakan, “Tumben?”, tetap saja lanjutkan dengan suka hati. Balas dengan candaan pula, “Iya karena aku sayang mama.” Akan membuat hati orang tua membuncah meskipun sederhana.

Dalam hal menerima cinta orang lain, kita harus wujudkan dengan rasa penghargaan pada orang tersebut. Jika ada keluarga kita yang memberikan rasa cinta, jangan lupa untuk memberikan rasa cinta tersebut pula kepadanya. Sederhananya dengan ucapan terimakasih, dan lain sebagainya.

Hakikat menerima cinta, siapapun itu, orang terdekat kita pasti mencintai kita. Karena mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikannya, maka kita harus menjadi orang yang dapat membiasakan itu semua pada mereka, sehingga mereka tahu “Oh begini mengekspresikan cinta yang ternyata membuatku nyaman.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 10 Tahun 2018, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Tolong masukkan komentar anda
Tolong masukkan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.