Quo Vadis Hizbul Wathan

Gambar Quo Vadis Hizbul Wathan
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Sebagai salah satu organisasi otonom yang ada dalam tubuh Muhammadiyah, Hizbul Wathan mestinya berbangga. Karena tidak semua ortom didirikan, disaksikan dan dilantik langsung oleh sang pendiri Muhammadiyah, KHA Dahlan. Bahkan beliau sendiri yang memiliki inisiatif. Dalam bayangannya, Muhammadiyah mesti memiliki pasukan yang siap diterjunkan di segala medan. Tim yang pantas untuk menjadi pembuka lahan agar Muhammadiyah dapat memasuki wilayah-wilayah yang baru sebagai penyebar semangat berdakwah. Beramar ma’ruf nahi mungkar. Sebagimana dulu Rasulullah juga memiliki sekelompok pemuda yang menjadi kelompok inti dalam melakukan ekspansi dakwahnya.

Hizbul Wathan adalah wadah sebuah organisasi kepanduan, yang kala itu bisa dikatakan memiliki ketrampilan serba bisa. Bahkan, penggerak awal Muhammadiyah di tanah air ini sebagian berasal dari kalangan Hizbul Wathan. Mereka yang dikirim ke seluruh pelosok umumnya dari kesatuan HW. Atau paling tidak telah mengenal ritme kehidupan HW. Ada rasa kebanggaan, karena kiprah mereka dalam rangka menggerakkan panji-panji Islam dan turut mempopulerkan Muhammadiyah. Secara fisik telah teruji, secara mental telah tertata, secara intelektual juga telah terpola. Sehingga Muhammadiyah mengandalkan kinerja Hizbul Wathan.

Fenomena kehidupan organisasi masyarakat, kala itu, adalah bagaimana mendapatkan massa yang sebanyak-banyaknya. Mereka melakukan ekspansi sesuai dengan misinya. Tampak tidak ada perbedaan yang nyata antara organisasi masyarakat dengan organisasi politik. Hampir setiap ormas dan orpol memiliki Gerakan kepanduan. Kepanduan menjadi wadah yang digandrungi, terutama kaum muda. Persaingan antar kepanduan tidak bisa dihindari. Tidak sedikit terjadi gesekan massa. Saling lempar isu menjadi pemandangan sehari-hari. Nada ejekan bagaikan nafas. Tidak heran bila dalam satu keluarga bisa retak kekerabatannya hanya karena perbedaan kepanduan.

Akhirnya, penguasa orde baru meleburkan semua gerakan kepanduan menjadi satu kesatuan yaitu Pramuka. Inilah wadah organisasi yang harus diikuti oleh semua lapisan masyarakat bila ingin aktif dalam kegiatan kepanduan. Ormas tidak lagi memiliki kewenangan untuk menggerakkan kepanduan. Kala itu menjadi anti klimak dari sebuah kebanggan yang bernama kepanduan. Tak terkecuali Hizbul Wathan. Di dalam HW sendiri terjadi dua perbedaan. Ada yang keluar dan non aktif dalam kegiatan kepanduan, ada yang tetap meneruskan beraktifitas dengan kendaraan Pramuka.

Hilangnya ciri khas kepanduan, diikuti dengan memudarnya sistim pengkaderan. Muhammadiyah pernah mengalami kesulitan menemukan kader yang militan. Idealisme yang terpatri dalam gerakan HW berkarat. Rasa memiliki jiwa berMuhammadiyah luntur. Akibatnya bisa diduga, pragmatisme. Dahulu, untuk menjadi Pimpinan di Muhammadiyah harus punya pengalaman di salah satu ortom atau aktif di tingkat pimpinan yang paling bawah. Keadaan yang tidak bisa dijumpai saat ini.

Jatuhnya penguasa orde baru, sedikit membawa berkah bagi Hizbul Wathan dan juga kepanduan yang lain. Kran kebebasan bersyarikat bersemai lagi. Simpul-simpul demokrasi yang terbelenggu tiba-tiba memudar. Tak ubahnya seperti Hizbul Wathan. Aura aktifitas kepanduan hendak diputar seperti semula. Mantan aktifis HW seperti bangun dari tidur panjang. Berbagai upaya dikonstruksi ulang. Menggali kenangan yang terpendam. Rindu saat perjuangan.

Tapi mereka lupa. Zaman sudah jauh berbeda. Kristalisasi nilai-nilai dalam tubuh pramuka rupanya telah terbentuk. Sikap terhadap Agama mungkin sedikit memudar. Barang kali toleransi beragama berlebihan. Sehingga dasar-dasar Hizbul Wathan menjadi buram. Untuk mengembalikan jati diri HW, terutama di amal usaha Muhammadiyah, barangkali langkah berikut bisa dilakukan.

Pembinaan mental Aqidah, muamalah, dan akhlak.

Ciri khas pengkaderan di Muhammadiyah yang paling dasar adalah pembinaan aqidah, muamalah dan akhlak. Ketiga materi ini akan selalu ada dalam setiap jenjang pengkaderan, ataupun pengajian pimpinan. Mengapa demikian? Salah satu sebab Muhammadiyah berdiri, karena ingin memurnikan aqidah Islam yang waktu itu digerogoti oleh umat Islam sendiri. Sehingga kalau Muhammadiyah selalu mengaktualisasi diri dalam gerakan pemurnian tauhid secara terus menerus, tidak salah. Mentradisikan ibadah muamalah sesuai tuntunan rasulullah selayaknya seperti orang bernafas. Beribadah bagi Muhammadiyah ibarat pualam yang harus selalu dibersihkan dari segala kotoran. Adapun akhlak, Muhammadiyah memandang sebagai pakian. Akhlak akan menghiasi manusia agar tampak anggun. Orang lain akan merasa segan bukan lantaran kedudukan dan pangkat, tapi karena akhlaknya.

Mengelola Kepanduan Hizbul Wathan ibarat menanam benih yang hasilnya akan dinikmati bukan hanya untuk Muhammadiyah sendiri, tapi juga untuk orang lain. Pembinaan ini ditujukan untuk pengembangan sumber daya manusia. Sehingga sangat tepat, bila aqidah, muamalah dan akhlak diletakkan sebagai dasar mental manusia. Apapun profesinya, apapun kedudukannya kelak, ketiga materi pokok ini akan melandasi manusia dalam berperilaku.

Memiliki hubungan organisatoris dengan Pramuka

Sekarang, pramuka masih menjadi ajang untuk meraih prestasi dan ketrampilan yang diproduksi oleh Negara. Artinya bahwa wadah pembinaan generasi muda lewat gerakan kepanduan adalah pramuka. Pemerintah juga telah menetapkan bahwa pramuka merupakan kegiatan ekstra kurikuler wajib dalam bidang pendidikan. Muhammadiyah yang memiliki amal usaha yang berupa sekolah mesti berkiprah dalam setiap agenda kepramukaan. Sehingga ruh Hizbul Wathan dapat diserap oleh kepanduan yang lain termasuk pramuka. Ini dapat terjadi manakala, Hizbul Wathan juga aktif di gerakan Pramuka.

Beberapa personal aktifis Hizbul Wathan telah tercatat namanya dalam deretan Kwartir Nasional. Mereka bahkan memiliki keleluasaan dalam mengelola Pramuka. Suasana seperti ini hendaknya juga bisa dilakukan untuk masing-masing tingkatan. Mulai dari Kwaran sampai Kwarda. Sehingga hubungan horizontal dengan sesama gerakan kepanduan bisa serasi. Luka sejarah boleh diingat, masa lalu bolehlah menjadi catatan. Bukankah membalut luka lebih baik untuk kesembuhan generasi berikutnya?

Proporsional umur

Akankah Hizbul Wathan akan tetap menjadi organisasi nostalgia? Akankah pengelolaan Hizbul Wathan akan mengandalkan generasi lanjut usia? Sebagaimana organisasi otonom lainnya, penulis yakin bahwa HW juga bisa melakukan regenerasi. Karena eranya sudah berubah. Kalau Pemuda Muhammadiyah bisa melewati beberapa kali zaman, mestinya HW bisa. Kalau Ikatan Pelajar Muhammadiyah telah mampu beradaptasi dengan perubahan, mestinya HW juga bisa. Relakah generasi pendahulu menyerahkan tongkat estafeta kepemimpinan kepada generasi sekarang?

Sebagaimana organisasi otonom lainnya, setiap jenjang kepemimpinan memiliki batas umur yang proporsional. Usia di kisaran rata-rata dapat menunjukkan bahwa pengalaman berorganisasinya merata. Dengan tingkat pengalaman dan ketrampilan berorganisasi yang relatif seimbang akan mampu menyelesaikan permasalahan yang mudah.

HW adalah Salah Satu Ortom Muhammadiyah di Bidang Kepanduan
HW adalah Salah Satu Ortom Muhammadiyah di Bidang Kepanduan (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...