Potret Pelayanan Sosial Muhammadiyah

Pada zaman penjajahan kondisi umat sangat memprihatinkan. Kemiskinan dan kebodohan adalah dua permasalahan akut yang diamali kaum muslimin. Penyebab hal ini ada dua faktor baik dari dalam dan luar. Dari dalam karena runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani, kejumudan dalam beragama. Sedangkan dari luar karena penjajahahan, penjajah  meminta upeti tinggi kepada petani dan membatasi kesempatan pendidikan bagi pribumi.

Nasib umat yang kurang baik ini akhirnya menggugah hati dan pikiran seorang pemuda bernama Muhammad Darwis dari kampung Kauman di Yogyakarta. Atas dasar pengalaman belajar agama di timur tengah, bersentuhan dengan pemikiran cendikiawan muslim seperti Muhammad Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afghani dan perenungan yang mendalama maka pemuda tersebut pada tanggal 18 November 1912 berijtihad mendirikan organisasi islam modern yang diberi nama dengan Muhammadiyah. Yang berarti pengikut Nabi Besar Muhammad SAW.

Dari Muhammadiyah sang pemuda ingin berkontribusi untuk kebangkitan umat Islam keluar dari lubang kebodohan dan kemiskinan. Langkah pertama dilakukan pemuda yang akhirnya dikenal dengan sebutan KH. Ahmad Dahlan ini mengajarkan kepada santri beberapa tafsir surat kepada santri-santrinya. Dan cara pengajaran Kiai Dahlan berbeda dengan kiai lainnya.

Apabila Kiai selain Kiai Dahlan mengajarkan sebuah surat mulai dari tahfidz, menjelaskan artinya hingga tafsirnya. Sedangkan bagi KH. Ahmad Dahlan mengajarkan surat dalam Al-Qur’an sampai melaksanakan pesan dalam surat tersebut. Dikisahkan Kiai Dahlan mengajarkan surat Al-Maun itu sampai sekitar tiga sampai empat bulan. Padahal Al-Maun hanya terdiri sekitar 7 ayat.

Karena lama belajar surat  pernah salah seorang santri tidak sabar dan ingin beralih kepada surat. Lantas santri tersebut bertanya kepada sang santri tersebut bertanya kepada KH. Ahmad Dahlan “ Kiai kenapa belajar suratnya hanya itu-itu saja? “ sahut santri. Kemudian Kiai Dahlan balik bertanya kepada santrinya “ Apakah kalian sudah mengamalkan isi surat tersebut?

Para santripun akhir terdiam, lantas KH.Ahmad Dahlan mengajak para santrinya untuk mencari gelandangan, tunawisma di seputaran malioboro. Setelah mendapatkan mereka maka santri diajak untuk memandikan para tunawisma tersebut, memberikan wangi-wangian, memberikan baju dan makan untuk mereka. Bagi seorang Dahlan belajar surat dalam Qur’an itu tidak cukup dihafal dan difahami. Yang jauh lebih penting adalah diamalkan.

Selain itu dari uraian kisah di atas menunjukan bahwa sejak awal pendirian persyarikatan Muhammadiyah telah melakukan praktek-praktek pelayanan sosial kepada masyarakat sebelum bangsa ini merdeka.  Selajutnya karena karakter Muhammadiyah sebagai gerakan islam yang modern, maka pola pelayanan sosial Muhammadiyah mengalami perkembangan. Atas dasar al-maun, Kiai Dahlan melakukan berbagai model tajdid (pembaharuan) dalam hal pelayanan sosial.

Tajdid yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan adalah mengorganisir dari amal yang sifat individu menjadi amal yang dikelola berjamaah. Setelah itu membuat perangkat dalam menangani kaum mustad’afiin agar lebih tersistematis dan terorganisir. Oleh karena itu, pada tahun 1912 didirikanlan Panti Asuhan  Muhammadiyah. Dan panti asuhan ini merupan panti yang tertua yang ada di Indonesia.

Kemudian pada tahun 1920 didirikanlah PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) yang dipimpin oleh H.M. Syujda. PKO ini dalam struktur organisasi Muhammadiyah levelnya seperti majelis.  Haedar Nasir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, menandaskan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional Majelis Pelayanan Sosial (MPS) (18-21/8) di Jakarta, bahwa PKO saat itu menolong siapa saja yang merasa sengsara tanpa melihat suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Menurut Haedar, itu menunjukan sifat pelayanan sosial Muhammadiyah sudah insklusif kepada siapa saja.

Dalam perkembangannya, PKO melahirkan beberapa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di beberapa bidang. Pada tahun 1923 dibentuklah Rumah Sakit Islam PKO atau AUM dibidang kesehatan. Setelah itu lahir pula AUM di bidang sosial seperti rumah miskin, rumah yatim. Sedangkan Panti Asuhan Muhammadiyah yang khusus menangani anak yatim piatu  pada tahun 1928 dipecah menjadi 2 yakni Panti Asuhan Putra Muhammadiyah yang berada di Lowanu Tamansiswa Kota Yogyakarta. Kedua Panti Asuhan Putri Aisyiyah yang berada di Ngampilan Kota Yogyakarta.

Dalam perkembangannya PKU menjadi rumah sakit umum Muhammadiyah yang menangani kesehatan. Sekarang RSU PKU Muhammadiyah menjadi rumah sakit yang berkembang dan tersebar hampir di seantero Indonesia. Begitu juga panti asuhan Muhammadiyah yang berjumlah  lebih tiga ratusan itu telah menyantuni ribuan anak yaitu piatu, dhuafa yang tersebar di seluruh negeri dari Sabang sampai Merauke.

Langkah Tajdid yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan di bidang pelayanan sosial itu luar biasa. Menurut cendikiawan muslim Nurcholis Majid, itu merupakan terobosan visioner.  Oleh sebab itu Kiai Dahlan kemudian terkenal sebagai salah seorang mujadid (pembaharu) dalam faham keagamaan  supaya ajaran Islam selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Akan tetapi dalam perkembangannya model pelayanan sosial Muhammadiyah mengalami kondisi yang stagnan. Pelayanan sosial Muhammadiyah hanya bergerak dan bekerja yang sifatnya statis dan rutinitas. Misalnya hanya mengurusi panti asuhan. Padahal panti asuhan adalah produk amal usaha Muhammadiyah di bidang sosial yang merupakan produk tajdid sebelum kemerdekaan.

Oleh sebab itu sungguh ironi kenapa Muhammadiyah selama berpuluh tahun tidak melakukan kembali tajdid di bidang pelayanan sosial. Padahal permasalah sosial kian kompleks.  Keprihatinan itupun akhirnya di respon dengan dibentuk Majelis Pelayanan Sosial (MPS) dalam muktamar 1 abad Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 2010 silam. MPS ini memasuki periode kedua dan sampai kini pun sudah melakukan langkah pembaharuan dalam model pelayanan sosial.

Ini patut diapresiasi namun tetap masih butuh dukungan dari berbagai agar pelayanan sosial kembali menjadi ujung gerakan persyarikatan Muhammadiyah seperti dalam periode awal dahulu.

PAY Muhammadiyah Lowanu
Panti asuhan adalah salah satu AUM bidang sosial (Sumber gambar : klik disini)

Daftar Laporan Khusus “Potret Pelayanan Sosial Muhammadiyah“.

Reporter : Dani Kurniawan

Liputan ini pernah dimuat di Rubrik Fokus Majalah Mentari Bulan 9 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Potret Pelayanan Sosial Muhammadiyah
Dani Kurniawan, S.Kom.I
Anggota Majelis Pustaka Informasi PDM Kota Yogyakarta periode 2015 - 2020, Pengelola Portal Berita redaksi.net dan website pmdiy.or.id, Redaksi Majalah Mentari

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...