Posisi Tangan Saat I’tidal

Gambar Posisi Tangan Saat I’tidal
Wahyu Wijayanta, S.Sy, S.Pd.I
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta periode 2010 - 2015

PERTANYAAN : Saya sering melihat ada orang yang shalat, saat i’tidal membaca “sami’allahu liman hamidah” lalu posisi tangan bersedekap. Padahal yang pernah diajarkan oleh guru saya tidak bersedekap, tetapi kedua tangan posisi  lurus, bagaimana menurut Muhammadiyah?

Pertanyaan yang saudara sampaikan merupakan hal yang sering dijumpai  di masyarakat, dimana terjadi perbedaan dalam melakukan tata cara beribadah, baik dalam berwudhu maupun shalat, baik gerakan-gerakan maupun bacaan-bacaannya. Perbedaan ini terjadi tidak lepas dari pemahaman hasil ijtihad oleh para ulama-ulama fiqih baik dikalangan ulama madzhab yang empat maupun ulama-ulama kontemporer.

Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid dalam kontek pemurnian terhadap ajaran-ajaran agama, berusaha mengamalkan ajaran sesuai apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw serta merujuk pada sumber utama, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah al- Maqbullah, Sehingga Muhammadiyah tidak bermadzhab (artinya tidak mengikuti salah satu ulama madzhab dalam beribadah), tetapi Muhammadiyah juga tidak menolak pendapat-pendapat ulama madzhab.

Paham keagamaan yang menjadi pedoman merupakan hasil dari ijtihad ulama-ulama Muhammadiyah dengan berlandaskan pada manhaj tarjih sebagai pedoman dalam berijtihad.

Berkaitan dengan pertanyaan saudara, perlu kita kemukakan beberapa pendapat tentang posisi tangan setelah I’tidal, sebagai berikut :

(1) Pendapat Syaikh Bin Bazz, Syaikh Utsaimin dll.

Saat i’tidal posisi tangan bersedekap, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Pendapat ini berdasarkan hadits :

a. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ

Artinya :Berkata Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya: “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, ia berkata dari Malik, ia berkata dari Abu Hazm, ia berkata dari Sahl bin Sa’d ia berkata: “Adalah orang-orang (para shahabat) diperintah (oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) agar seseorang meletakkan tangan kanannya atas lengan kirinya dalam sholat.” (HR Bukhari).

b. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i

قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ أَخْبَرَهُ قَالَ قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ فَقَامَ فَكَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا بِأُذُنَيْهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ مِثْلَهَا ….

Artinya : Kata Ashim bin Kulaib: Aku pernah diberitahu oleh ayahku bahwa Wail bin Hujr berkata: Pada suatu kali aku ingin melihat Rasulullah saw shalat. Aku lihat, ketika sedang shalat beliau mengawali shalatnya dengan takbir sambil mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya. Kemudian beliau meletakkan  tangan kanannya di atas pergelangan tangan kirinya dan lengan bawahnya. Bila hendak ruku’, maka beliau mengangkat kedua tangannya seperti ketika beliau bertakbir di awal shalat. Kemudian beliau meletakkan tangannya diatas kedua lututnya ketika ruku’. Bila bangkit dari ruku’, maka beliau mengangkat kedua tangannya seperti yang tadi…. (HR Nasa’i).

c. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنِي سُفْيَانُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِذَاءَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ حِينَ رَكَعَ ثُمَّ حِينَ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَأَيْتُهُ مُمْسِكًا يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ فِي الصَّلَاةِ

Artinya :Dari Wail bin Hujr ia mengatakan “saya melihat Nabi saw ketika takbir mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dua telinganya kemudian ketika ruku lalu ketika mengucapkan samiallahuliman hamidah mengangkat kedua tangannya. Dan saya melihat beliaumenggenggamkan tangan kanan pada tangan kiri beliau di dalam salat…” (H.R Ahmad).

(2) Pendapat Muhammad Nashiruddin al-Bani

Saat i’tidal posisi tangan tidak bersedekap tapi melepaskan kedua belah tangan dan meluruskannya kebawah. Pendapat ini mendasarkan pada hadits :

a. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

…ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

b. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari lainnya:

….فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ …..

Artinya : “…Apabila mengangkat kepalanya (bangkit dari ruku’), maka beliau saw meluruskan (badannya) hingga semua rangkaian tulang belakangnya kembali keposisinya…”

c. Berdasarkan hadits riwayat Ahmad

….فَإِذَا رَفَعْتَ رَأْسَكَ فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ إِلَى مَفَاصِلِهَا ….

Artinya : “…Apabila kamu mengangkat kepalamu maka tegakkanlah tulang punggungmu (sulbi-mu) hingga kembali tulang tersebut kepersendiannya…”

(3) Pendapat imam Ahmad dan madzab Hambali

Bersedekap dan tidak bersedekap dalam i’tidal hukumnya sama, sehingga diperbolehkan memilih salah satunya. Mereka berargumen, tidak ada dalam sunnah Rasulullah saw yang secara jelas, sehingga keduanya diperbolehkan.

Kesimpulan

Menurut pendapat Muhammadiyah sendiri tentang sikap tangan setelah i’tidal, merujuk pada buku Tanya Jawab Agama III, Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, 1995: 89-92). Menyatakan bahwa dalam HPT belum dituntunkan secara tegas mengenai sikap atau posisi kedua belah tangan pada saat i’tidal. Demikian pula halnya dalam hadits-hadits yang dijadikan dasar dalam HPT  tersebut tidak secara tegas menyebutkan sikap atau posisi pada kedua belah tangan pada saat i’tidal itu. Hadits yang pertama menegaskan sikap i’tidal secara umum yaitu berdiri tegak, demikian halnya pada hadits kedua, di dalamnya hanya dijelaskan adanya i’tidal, yaitu bangkit dari ruku’  (mengangkat tulang punggung) sambil membaca “sami’allahu liman hamidah”. Dan kemudian berdiri tegak, apabila sudah berdiri tegak maka hendaklah membaca “Rabbana wa laka al-hamdu”.  Pada hadits yang dikutip berikutnya terdapat ungkapan :

فإذارفع رأسه استوى حتّى كلّ فقارمكانه

Artinya  : “Apabila mengangkat kepalanya ia berdiri tegak, sehingga setiap tulang kembali ketempatnya seperti semula.”

Dan ungkapan itu dapat dipahami, bahwa yang dimaksud semua tulang termasuk tulang-tulang kedua belah tangan. Agar tulang-tulang kedua belah tangan kembali ketempatnya seperti semula, maka kedua belah tangan itu tentu saja harus dilepaskan lurus ke bawah.

Menurut penulis, pendapat Muhammadiyah dalam Tanya jawab tersebut lebih menerima pendapat dari Muhammad Nasiruddin al-Bani.

Itidal dalam sholat
Perlu kita kemukakan beberapa pendapat tentang posisi tangan setelah I’tidal (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Tarjih Majalah Mentari Bulan 11 Tahun 2014, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...