Politik Tjokroaminoto : Teori dan Praktik Sosialisme Islam

Gambar Politik Tjokroaminoto : Teori dan Praktik Sosialisme Islam
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882 anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo. Pada awalnya, ia juga mengikuti jejak kepriyayian ayah dan kakeknya sebagai pejabat pangreh pradja. Pada tahun 1907, ia keluar dari kedudukannya sebagai pangreh pradja karena ia muak praktik feodalisme di pangreh praja. Ia kemudian hijrah ke Surabaya, ikut sekolah malam tehnisi dan kemudian bekerja menjadi tehnisi di pabrik gula Rogojampi. Setelah SI berdiri, ia keluar dari pekerjaan dan menjadi pemimpin pergerakan di Surabaya. Dari pergerakan inilah lewat memimpin SI dan Perusahaan Setia Oesaha ia mampu mencukupi kehidupannya. (Dalam: Amelz, 1952, H.O.S Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya, Jakarta: Bulan Bintang, 1952)

Sebagai tokoh pergerakan nasional yang memimpin Sarekat Islam, ia dijuluki De Ongekroonde van Java atau “Raja Jawa Tanpa Mahkota”. Tjokro pada awalnya mulai dikenal sebagai pemimpin lokal Sarekat Islam (SI) di Surabaya. Dalam aktivitas-aktivitas SI, Tjokroaminoto yang kemudian menduduki posisi sentral di tingkat pusat, menjadi demikian berpengaruh bukan hanya karena ia adalah redaktur Suara Hindia, tetapi juga karena tidak adanya orator saingan dalam cabang-cabang SI yang sanggup mengalahkan “suara baritonnya yang berat dan dapat didengar ribuan orang tanpa mikrofon”. Di bawah kepemimpinannya, Sarekat Islam menjadi organisasi yang besar dan bahkan mendapat pengakuan dari pemerintahan kolonial. Hal ini tidak lain, adalah sebagai hasil pendekatan kooperatif yang dijalankan Tjokroaminoto. (Dalam Takashi Shiraishi, 1997, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Grafiti Press.)

Pada September 1922, ia mulai menerbitkan artikel berseri “Islam dan Sosialisme” di Soeara Boemiputera dan mencoba mendasarkan pandangan sosialismenya pada Islam. Dalam buku Islam & Sosialisme, Tjokroaminoto menyampaikan ide-idenya mengenai paham sosialisme yang dapat dibentuk dari esensi ajaran Islam. Buku yang masih dipenuhi oleh gaya bahasa dan susunan kalimat tempo doeloe ini mungkin akan sedikit membingungkan bagi pembaca modern, terlebih lagi istilah asing yang banyak ia gunakan berasal dari Bahasa Belanda, bukan Bahasa Inggris seperti yang biasa kita jumpai di buku-buku zaman sekarang. Konteks buku ini juga tampaknya lebih dikhususkan kepada pembaca muslim (terutama anggota SI pada zamannya), karena di dalamnya mengandung wacana yang berangkat dari titik tolak keimanan dan doktrin agama.

Menurut Tjokroaminoto, dalam bukunya Islam dan Sosialisme, Islam adalah sebenar-benarnya agama yang bersifat demokratis dan telah menetapkan dasar-dasar hukum yang bersifat sosialistik bagi tiap pemeluknya. Islam secara agama tidak membeda-bedakan manusia dari ras, suku, bahasa, warna kulit, dan status sosial seseorang. Islam sebagai agama, sebagaimana yang diyakini oleh dirinya adalah penghormatan setinggi-tingginya terhadap persamaan hak dan derajat manusia di hadapan Tuhan. Islam tidak mengkultuskan adanya kasta, bahkan mengutuk keras terhadap sikap membeda-bedakan manusia berdasarkan kelas sosial. Dalam intisari pemikiran Sosialisme Islam yang diyakini oleh Tjokroaminoto. Ada tiga bentuk yang menjadi pondasi Sosialisme Islam secara fundamental, yaitu; kemerdekaan (vrijheid-liberty), persamaan (gelijk-qualty), dan persaudaraan (broederchap-fraternity).

Dalam bukunya Tjokroaminoto berkali-kali menekankan bahwa sosialisme Islam yang ia maksud berbeda dengan sosialisme yang berakar dari materialisme, seperti misalnya Marxisme. Menurutnya sosialisme yang berasal dari ajaran Islam memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri dan lebih cocok untuk dijalani oleh kaum muslim daripada sosialisme materialis. Untuk mendukung argumen itu, ia memberikan banyak sekali contoh-contoh ajaran Islam mengenai persaudaraan, sedekah, persamaan dan kesetaraan derajat, kesederhanaan, serta keadilan ekonomi bagi masyarakat.

Namun jika dicermati tulisan-tulisannya tampak bahwa kadar pemahaman Tjokro mengenai Islam tidaklah mendalam, cenderung biasa-biasa saja. Ia menjadikan Islam hanya sebatas klaim legitimasi, tetapi ia lupa mendasarkan klaimnya dari kitab apa, ayat apa. Ia mengutip contoh tanpa menyebutkan perawi hadits serta ayat dan surat apa pada al-Qur’an.

Meskipun berusaha membedakan sosialisme yang ia maksud dengan sosialisme materialis dan berusaha menunjukkan keunggulan-keunggulan ajaran Islam, ia juga menekankan bahwa pemikirannya tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pemikiran-pemikiran lain.

“Dengan uraian ini tidak sekali-kali bermaksud mengecilkan jasa guru-guru sosiallis Barat seperti Karl Marx dan Friedrich Engels tentang perbaikan kaum miskin di negeri-negeri Barat… Maksud saya pertama-tama sekali hanyalah menunjukkan duduk persoalan dan sikap wetenschappeliik socialisme atau moren socialisme atau Marxisme terhadap keyakinan agama, terutama sekali kepada keyakinan dan pelajaran agama Islam kita, dengan harapan agar saudara-saudara kaum muslimin jangan sampai tersesat oleh karenanya.”

Menurut Tjokroaminoto, dasar Sosialisme Islam terletak pada keutamaan nilai persamaan dan persaudaraan dalam kemerdekaan bagi setiap manusia di hadapan Penciptanya. Sosialisme Islam tidak pernah melakuan tindakan pemaksaan terhadap setiap orang. Hal terpenting dalam ajaran Sosialisme Islam menurutnya adalah persoalan etika dan perangai tingkah laku seseorang dengan adanya perbaikan terhadap prilaku dan nafsu yang tidak baik di dalam sistem masyarakat. Sebab dirinya yakin bahwa kesejahteraan dan keadilan akan timbul melalui sifat dan perangai yang baik di dalam kehidupan. Sebab asas-asas sosialis dapat tumbuh dan berkembang dengan baik ketika adanya anjuran dan tindakan yang perilaku baik melalui individu dalam membentuk sistem kemasyarakatan yang sosial-religius dengan susunan pemerintahan yang bersendikan demokrasi, dan musyawarah untuk mufakat serta tidak berdasarkan kepada aturan pertentangan kelas yang justru dipakai sebagai sarana penindasan di negara-negara Barat akibat adanya konflik dan gesekan kelas di dalamnya.

Tjokroaminoto menjelaskan bahwa sosialisme dan komunisme itu berbeda. Menurutnya, sosialisme menghendaki suatu cara hidup bahwa setiap individu memikul tanggung jawab terhadap manusia-manusia lain. Ia mempertentangkan istilah ini dengan individualisme yang berarti setiap individu cenderung mementingkan dirinya sendiri. Secara singkat, ia juga membahas berbagai pemikiran sosialisme yang ketika itu tengah berkembang di Eropa, antara lain social-democratie, anarchisme, staats-socialisme, dan akker-socialisme.

Tjokroaminoto menegaskan bahwa ajaran Islam, seperti halnya banyak paham sosialisme, sangat bertentangan dengan sistem kapitalisme. Menurutnya, kapitalisme berawal dari benih pemakanan riba (bunga), dan telah menyebabkan kerusakan dan kebinasaan dunia serta perikemanusiaan. Islam dengan keras melarang praktik riba, dengan kata lain memerintahkan untuk mencegah munculnya kapitalisme dan berusaha memeranginya. Islam yang sangat keras mengharamkan riba, menurutnya, menegaskan sikap Islam terhadap tata-cara hidup masyarakat yang sosialistis.

Gagasan Sosialisme Islam Tjokroaminoto bisa jadi merupakan respon terhadap dinamika yang terjadi dalam tubuh Sarekat Islam yang mulai disusupi orang-orang berpaham komunis yang mendapat pengaruh dari H.J.F.M Sneevliet, pendiri ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) pada tahun 1914. ISDV yang gagal menyebarkan pengaruhnya karena paham yang mereka anut tidak berakar di dalam masyarakat Indonesia, lalu menggunakan taktik infiltrasi. Mereka berhasil menyusup ke dalam tubuh SI oleh karena dengan tujuan yang sama yaitu membela rakyat kecil dan menentang kapitalisme.

Menurut Dawan Raharjo, secara umum gagasan sosialisme Islam memang sulit dikembangkan. Kesulitan untuk berbicara apalagi mengembangkan teori sosialis, sekalipun berdasarkan Islam, adalah kenyataan bahwa gerakan politik, organisasi sosial dan kegiatan dakwah Islam di Indonesia, dari segi finansial, didukung oleh pengusaha dan pedagang yang beraspirasi ingin bisa meningkatkan skala ekonomi mereka. Dalam proses peningkatan itu mereka mengharapkan perangsang-perangsang moneter, fiskal dan institusional dalam kerangka sistem kapitalis yang berlaku.

Menurut Dawam Raharjo (1993) dalam bukunya Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa, upaya merealisasikan gagasan sosialisme Islam ala Tjokro semakin sulit mengingat kondisi politik yang berkembang pada dekade tahun 1930-an mengalami perubahan. Dalam dasawarsa 1930-an, pergerakan tidak berbicara lagi mengenai sosialisme. Buku Tjokro gagal mengajak golongan terpelajar muslim, baik yang bergabung dalam Jong Islamisten Bond, maupun Studenten Islam Studieclub yang berdiri pada tahun 1936 untuk menggali ajaran sosial Islam dalam kerangka sosialisme.

Lukisan Foto Cokroaminoto
Lukisan Foto Cokroaminoto (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Siyasah Majalah Mentari Bulan 8 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait