Pola Asuh dalam Keluarga dan Masyarakat

Fenomena kecenderungan kehidupan bermasyarakat, di satu sisi menunjukkan penurunan tingkat moralitasnya. Gejala demi gejala semakin beragam. Tidak hanya pada naiknya kuantitas namun merambah pada keragaman. Bila merujuk pada garis koordinat akan ditemui sumbu vertical dan horizontal. Vertikal mewakili gejala progres peningkatan kuantitas, sementara horizontal mewakili keanekaragaman kasus.

Kekhawatiran akan terus berlanjut manakala berkaca pada realitas. Kasus dan polanya bisa dibaca. Bahkan di masa depan tingkat kasusnya lebih berwarna, lebih kompleks. Dalam koordinat diwakili sumbu z. Koordinat ini membentuk tiga dimensi. Bukan hanya kuantitas dan kualitas, tapi bisa jadi gabungan antara keduanya. Akan muncul peristiwa yang semula hanya mustahil.

Masih hangat isu LGBT. Hembusan topik LGBT bahkan sempat menutupi kasus nasional yang mestinya menjadi pembicaraan public. Masyarakat berhak tahu kasus-kasus nasional sebagai bagian dari kehidupan bernegara. Tapi luput dari perhatian. Justru LGBT yang menjadi isu nasional. Pernikahan sesama jenis tampak vulgar. Tidak ada yang ditutupi. Semakin berani melawan undang-undang Negara dan merasa nyaman meniadakan aturan agama. Perkawinan sejenis bahkan ditemui justru dipelosok desa.

Marilah garis pembatas kita perpanjang lagi. Kasus budak nafsu yang menyerang anak-anak. Peristiwa ini terjadi bukan hanya ditempat  remang-remang, namun telah merambah di lembaga pendidikan. Sebuah lembaga yang digadang-gadang sebagai tempat untuk mengkader anak bangsa. Seorang psikolog bahkan menengarai bahwa kekerasan seksual (pedofilia) terhadap anak sudah masuk ke katagori siaga satu.

Media asing menulis bahwa Indonesia merupakan Negara dengan tingkat pedofilia paling tinggi di Asia. Setelah kasus Jakarta International School, berturut-turut terungkap kisah Andri Sobari alias emon, tragedi karyawan taman kanak-kanak di Surabaya.

Tulisan berikut bukan menganalisis dari sudut pandang psikologis atau sosial kemasyarakatan, tapi sekedar urun rembug bagaimana cara mengelola asuh anak. Mungkin lebih tepat manajemen optimalisasi karakter anak dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Ada 3 cara yang bisa dijadikan rujukan untuk terapi.

1. Suasana Berprestasi

Memberi peluang anak untuk tidak beraktifitas, akan memantik kejadian-kejadian masa silam. Anak menjadi tidak percaya diri, minder, serba salah. Dalam beberapa situasi boleh jadi anak akan memiliki pikiran “balas dendam”. Lingkungan yang acuh tak acuh memiliki peluang yang besar untuk membentuk pribadi yang acuh, terlena dalam kehidupan sosial.

Masyarakat, terutama orang tua dan lembaga pendidikan mestinya menjadi gerbong untuk mengelola tata kehidupan bermasyarakat. Pemberian informasi yang benar, pemberian materi spiritual yang cukup. Informasi bukan hanya sekedar transfer ilmu belaka. Pemberian pengetahuan haruslah disertai dengan akhlak. Karena akhlak inilah yang mengadili perbedaan perbuatan baik atau buruk, salah atau benar.

Akan lebih sempurna manakala pola asuh anak model seperti ini ditingkatkan statusnya menjadi berprestasi. Sebuah kasus tak sekedar dinilai baik atau buruk, namun bagaimana sebuah kebaikan bisa dibagikan kepada yang lain. Kalau kebaikan-kebaikan ini bisa kita petik maka akan muncul beberapa yang terbaik. Itulah makna berprestasi.

Pendidikan akhlak dalam keluarga hendaknya sudah disusupi arti pentingnya berprestasi Masa depan anak sudah selayaknya diberikan gambaran yang jelas. Sehingga anak akan focus pada bidang yang disukai. Anak juga diberi keleluasaan untuk mengembangkan. Sehingga yang ada dalam benak anak adalah penyimpanan informasi yang benar dan pencurahan fikiran untuk meraih hasil yang terbaik. Tidak ada lagi memikirkan hal-hal yang menyimpang.

2. Kebutuhan Bermasyarakat

Dalam era globalisasi, sendi-sendi kerekatan dalam masyarakat akan memudar. Dahulu, anak tidak bisa bermain sendirian. Bermain bersama menjadi ciri khas keakraban anak tempo dulu. Seorang anak akan terasing bila tak memiliki teman bermain.Orang akan mengangggap aneh manakala dijumpai seorang anak yang menyendiri.

Sekarang, anak bisa bermain dengan seorang diri. Relasi dengan teman sepermainan menjadi berkurang. Di daerah tertentu, tempat yang lazim untuk berkumpul seperti surau, pendopo, lapangan terlihat lengang. Anak menjadi penyendiri. Asyik dengan dunianya sendiri. Pemudaran tali silaturahmi dipicu karena kemajuan teknologi informasi.

Keluarga dan lembaga yang ada di kampung harus mampu mengantisipasi. Bagaimanapun juga bermain dengan teman sebagai bentuk bermasyarakat. Bergaul dengan rekan sejawat sebagai sarana uji, sejauh mana tingkat partisipasi anak dalam pergaulan. Dari pergaulan seperti inilah sebenarnya sifat kepemimpinan dibangun.

Tanamkan jiwa bahwa bermasyarakat merupakan kebutuhan mutlak. Bermasyarakat tidak hanya sekedar hidup bersama, tapi menuai kelebihan dan kekurang dari anggota masyarakat sendiri.  Tidak disarankan, anak untuk menyendiri. Ajak mereka untuk bermain. Ajak mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Berikan kebebasan untuk melakukan eksperiman selama masih dalam koridor kearifan lokal setempat.

3. Memberi Keleluasan untuk Berkuasa

Krisis kepemimpinan sudah dirasakan saat orde baru berjaya. Sistem kepemimpinan tunggal telah memasung kreatifitas calon pemimpin masa depan. Ruang public yang seharusnya untuk menguji seseorang untuk menjadi pemimpin telah terfilter. Tidak ada ruang hampa dari penetrasi pemerintah. Akibatnya ada dua generasi, paling tidak hilang ditelan roda waktu.

Berkaca dari dokumentasi yang terekam dalam era orde baru, pendidikan kepemimpinan dalam keluarga sesungguhnya tidak usang diterpa usia. Keluarga adalah ranah yang hakiki untuk mendapatkan tunas seorang pemimpin. Pola asuh kedua orang tua sangat mempengaruhi dalam menanamkan jiwa pemimpin. Mengajarkan kepemimpinan sesungguhnya menyiapkan seseorang untuk berkuasa, agar kelak mampu mandiri dalam segala hal. Tidak tergantung lagi pada pihak lain.

Berilah kebebasan kepada anak agar mereka mampu mengatur dirinya sendiri. Buatlah kesepakatan bersama dalam hal teknis pengaturan. Pembagian kekuasaan yang ada dalam keluarga sangat disarankan, agar di lingkungan tumbuh kompetisi yang sehat. Tumbuhkan lingkungan kepemimpinan. Memupuk jiwa kepemimpinan yang handal justru tumbuh dalam keluarga dan masyarakat.

Pendidikan akhlak dalam keluarga
Pendidikan akhlak dalam keluarga hendaknya sudah disusupi arti pentingnya berprestasi (Sumber gambar : FB SD Muhammadiyah Sapen)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2016, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait