Pesan Ramah Di Tempat Ibadah

Rasulullah  Muhammad SAW telah terang menuturkan bahwa tugas utama diutusnya diri beliau sebagai Rasul adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Karena itu, ia mendakwahkan islam dengan cara dan akhlak yang mulia. Sejarah pun mencatat, Islam diterima secara luas oleh banyak negeri melalui para ulama dan pedagang dengan akhlak yang mulia; santun, jujur, dan empatik. Dengan kata lain, islam tidak berkembang melalui peperangan, ancaman, atau pemaksaan kepada umat lain.

Pendekatan islam yang simpatik, yang tercermin dari akhlak  para muballigh atau dai, menyebabkan kalangan non-muslim terkesan dan akhirnya menerima kebenarannya. Pendekatan ini pun sangat identik dengan model dakwah Islam di nusantara yang diperankan oleh para wali. Dakwah kultural mereka perankan terbukti mampu menjadikan Islam sebagai agama dengan jumlah pemeluk terbesar di nusantara ini. Singkat kata, sikap santun dan ramah telah menjadi bagian yang melekat pada eksistensi dakwah Islam.

Namun, citra dakwah islam masa kini, seakan berbalik sedemikian tajam. Di berbagai negeri, meski diperdebatkan, Islam banyak dicitrakan sebagai agama yang mendorong umatnya untuk melakukan kekerasan demi mengamalkan ajarannya. Bahkan beberapa kelompok islam dianggap sebagai pengusung gerakan menentang pemerintahan yang sah, serta berupaya mengganti ideologi negara yang menjadi kesepakatan bersama. Maka jadilah islam selalu menjadi pihak tertuduh dalam tiap kasus- kasus kekerasan yang membawa sentimen agama.

Seruan Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, beberapa pekan yang lalu seakan menjadi sebentuk penegasan tuduhan tersebut. Sembilan seruan terkait ceramah di tempat ibadah tersebut seakan menjadi tuduhan bahwa ceramah di masjid-masjid, walaupun tidak secara langsung, adalah penyebab keresahan warga untuk melawan ideologi negara. Anngapan ini semakin relevan, mengingat seruan itu muncul sesaat setelah usainya gonjang- ganjing PILKADA Jakarta. Seperti diketahui, PILKADA Jakarta telah melibatkan unsur kekuatan umat islam untuk menghadang calon yang telibat kasus penodaan agama Islam.

Seruan Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, beberapa pekan yang lalu seakan menjadi sebentuk penegasan tuduhan tersebut
Seruan Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin, beberapa pekan yang lalu seakan menjadi sebentuk penegasan tuduhan tersebut (Sumber gambar : klik disini)

Sekilas, seruan itu menunjukkan itikad positif pemerintah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang rukun, damai, dan penuh dengan toleransi di atas perbedaan. Namun, seruan yang disampaikan pasca riuhnya PILKADA Jakarta, sarat dengan tuduhan politisasi masjid oleh para muballigh.

Umat islam sepaham dengan pemerintah, dalam hal ini menteri agama, bahwa dakwah harus dapat membawa umat manusia kepada solidaritas dalam membangun masyarakat yang beradab. MUI pun mendukung upaya pemerintah tersebut walau dengan beberapa catatan. Dengan demikian, dakwaah keagamaan harus disampaikan dengan cara ramah dan menampilkan wajah agama yang penuh cinta kasih, serta memberikan rahmat bagi semua pihak.

Hanya saja, seruan itu tetap saja mengundang tanya. Perlukah ceramah agama di tempat ibadah diawasi, dan diatur sedemikian rupa? Bagaimanakah teknis mengatur dan mengawasi materi yang disampaikan oleh para penceramah di tempat ibadah? Kenapa seruan tersebut dikeluarkan sekarang setelah semua riuh rendah telah usai digelar? Allih- alih memberikan dampak positif, bukankah seruan ini justru akan mengundang pro kontra?

Kita tetap berpandangan positif dengan maksud seruan menteri agama tersebut. Kita yakin seruan itu disampaikan dengan pertimbangan matang dan niat yang mulia untuk menyikapi kondisi kerukunan bangsa yang cukup memprihatinkan. Kita menganggap bahwa seruan tersebut adalah pesan moral, kritik membangun, dan kekhawatiran kita semua melihat realitas keutuhan bangsa yang tercabik karena pertarungan politik. Kita juga memiliki impian yang sama bahwa tempat ibadah harus kembali kepada fungsi pemersatu bangsa untuk menciptakan kerukunan umat manusia.


Daftar Laporan Khusus “Pesan Ramah Di Tempat Ibadah”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait