Perubahan Iklim: Mitigasi atau Adaptasi ?

Perubahan iklim saat ini menjadi isu global yang menjadi nyata, hal ini karena dampak yang ditimbulkan yang begitu luas tidak hanya pada lingkungan namun juga pada kehidupan manusia. Peningkatan ekonomi global yang memicu industrialisasi bak dua buah mata pisau yang berlawanan, disisi lain kemajuan itu bermanfaat untuk manusia namun juga menimbulkan degradasi lingkungan seperti halnya perubahan iklim.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa beberapa bukti bahwa iklim berubah antara lain, meningkatnya suhu permukaan bumi, naiknya permukaan air laut dan terjadinya cuaca ekstrim. Indonesia sebagai negara kepulauan sudah terpapar oleh tanda-tanda tersebut.

Perubahan iklim akan berdampak pada semua sektor kehidupan manusia dan lingkungan. Dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim akan mengakibatkan kerugian baik harta maupun nyawa. Dalam bencana yang terjadi di negara tropis termasuk Indonesia terdapat andil perubahan iklim seperti hujan yang tinggi akan memicu terjadinya banjir dan tanah longsor, cuaca yang ekstrim (sangat panas atau sangat dingin) akan memicu orang dengan penyakit tertentu seperti asma dan saluran pernafasan menjadi terancam kematian.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 berjumlah 255 juta jiwa, tersebar pada kondisi wilayah yang beragam serta dengan karakteristik negara kepulauan membuat Indonesia rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kerentanan ini juga ditambah dengan angka kemiskinan di Indonesia yang tinggi.  Indonesia melalui Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) sudah melakukan tindakan yang bersifat pencegahan maupun rehabilitasi melalui sejumlah rencana aksi perubahan iklim, termasuk di dalamnya adalah pilihan adaptasi atau mitigasi. Lalu apa beda adaptasi dan mitigasi?

Dalam buku Rencana Aksi Nasional Adaptasi Nasional Perubahan Iklim (RAN-API) Bappenas 2014 menyebutkan Adaptasi sebagai suatu usaha baik alam maupun manusia untuk menyesuaikan diri dalam rangka mereduksi atau mengurangi dampak perubahan iklim yang mungkin terjadi sehingga meminimalisir korban. Dalam sumber yang sama mitigasi disebutkan sebagai suatu usaha untuk mengurangi gas rumah kaca di atmosfer.

Lalu pilihan mana yang tepat untuk menghadapi perubahan iklim di Indonesia? Memilih salah satu antara adaptasi atau mitigasi adalah pilihan yang sulit, karena itu mitigasi harus dilakukan yang diikuti dengan adaptasi. Mitigasi yang berarti memperlambat perubahan iklim dengan mengurangi emisi gas rumah kaca. Dalam buku petunjuk mitigasi yang diluncurkan oleh UNEP  tahun 2008 menyebutkan terdapat  empat tahap yang bisa dilakukan dalam usaha mitigasi yaitu: menghilangkan alat-alat penghasil gas rumah kaca, misalnya menghindari piranti boros listrik, mengurangi peralatan lama dan memanfaatkan sistem yang sudah ada, misalnya penggunaan energi seperlunya, substitusi dengan penggunaan energi terbarukan serta yang terakhir adalah offsett yang biasanya ditujukan pada sektor kehutanan (penghijauan atau penanaman kembali).

Adaptasi idealnya dijalankan sesudah mitigasi dan terus berkelanjutan, di Indonesia beberapa kearifan lokal sudah menunjukkan adaptasi terhadap perubahan iklim contohnya di wilayah pesisir atau lokasi yang rawan banjir maka warga masyarakat membangun rumah anti banjir dengan membuat rumah panggung. Di beberapa wilayah yang rawan kekeringan telah dipersiapkan infrastruktur untuk menampung air hujan sebagai persediaan saat musim kemarau tiba.  Namun demikian tidak semua solusi adaptasi dapat diterima oleh masyarakat, misal pilihan relokasi dari daerah rawan cuaca ekstrim tidak bisa serta merta diimplementasikan, sehingga pilihan mitigasi harus tetap dijalanan.

Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia tahun 2014, Indonesia masuk dalam negara berkembang (Developing Country) yang artinya memiliki pertumbuhan ekonomi yang lambat sehingga pendapatan perkapita juga rendah (≤ US$ 11.905), hal ini berakibat kemampuan untuk adaptasi maupun mitigasi juga rendah. Pilihan strategi adaptasi dan mitigasi perlu direncanakan oleh pemegang kebijakan dalam segala aspek namun secara terarah dan terukur di semua sektor pembangunan, hal ini mengingat dua usaha ini memerlukan alokasi dana yang tidak sedikit.

Perubahan iklim saat ini menjadi isu global yang menjadi nyata
Perubahan iklim saat ini menjadi isu global yang menjadi nyata (Sumber gambar : klik disini)

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Lingkungan Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2015, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait