Perspektif Hikmah dan Baitul Hikmah

Gambar Perspektif Hikmah dan Baitul Hikmah
H Ashad Kusuma Djaya
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2015 - 2020 Membidangi sektor Hukum, HAM, Hikmah dan Kebijakan Publik

Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya ulul albaab-lah yang dapat mengambil pelajaran. (Q.S. al-Baqarah [2]: 269)

Ayat di atas menghubungkan anugerah hikmah yang memiliki banyak karunia dengan sosok yang oleh Allah disebutkan hanya merekalah yang dapat mengambil pelajaran, yaitu sosok ulul albaab. Tentang sosok ulul albaab ini jika kemudian kita menengok QS Ali Imran ayat 190-195, dalam sudut pandang sosiologis, maka kita akan dapati setidaknya ada enam karakter yang melekat padanya, yaitu: 1) Dapat mengambil pelajaran dari penciptaan langit dan bumi serta dalam perguliran siang dan malam. 2) Senantiasa mengingat (berdzikir) kepada Allah dalam segala keadaan. 3) Selalu dapat mengambil manfaat dari setiap keadaan yang diciptakan Allah karena tiada yang sia-sia dari ciptaan Allah. 4)  Menyadari bahwa setiap perbuatan zalim akan menghantarkan pelakunya pada kehinaan di akhirat. 5) Banyak bergaul dengan orang beriman dan memenuhi ajakannya kepada iman dengan senantiasa menyesali dosa-dosanya dan memohon petunjuk Allah agar tidak salah jalan sehingga bisa menggapai khusnul khatimah. 6) Tak pernah putus asa pada anugerah Allah.

Perspektif hikmah atau cara pandang hikmah yang kita bahas dalam tulisan ini, sebagai bagian dari karakter ulul albaab dapat dirumuskan dari dua karakter ulul albaab, yaitu dapat mengambil pelajaran dari penciptaan langit dan bumi serta dalam perguliran siang dan malam (karakter 1) dan selalu dapat mengambil manfaat dari setiap keadaan yang diciptakan Allah karena tiada yang sia-sia dari ciptaan Allah (karakter 3). Ayat “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulul albaab”, menjadi rujukan yang kita gunakan sebagai ciri pertama dari cara pandang hikmah. Selanjutnya doa ulul albaab pada ayat “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia”, menjadi menunjukkan cirri kedua dari cara pandang orang yang dikaruniai hikmah atau ciri kedua dari perspektif hikmah. Dengan demikian dua perspektif atau cara pandang hikmah itu ialah: 1) Segala yang tergelar di langit dan bumi pada siang dan malam merupakan PELAJARAN agar besok lebih baik dari hari ini. 2) Setiap keadaan yang diciptakan Allah selalu ada manfaatnya dan orang yang dikaruniai akal harus mencari MANFAAT dari setiap kejadian yang menimpanya.

A. Perspektif Hikmah

Dua kata kunci dari perspektif atau cara pandang hikmah adalah: pelajaran dan manfaat. Yaitu bahwa dalam semua yang diciptakan Allah itu ada pelajaran dan manfaatnya. Tidak ada ruang bagi ketidaksyukuran atau prasangka buruk kepada Allah pada orang yang memiliki perspektif hikmah sebab orang yang tak bersyukur tak akan bisa mendapat pelajaran dari apa yang terjadi, apalagi mengambil manfaat darinya. Sebab ketaksyukuran membutakan matanya pada adanya pelajaran dan manfaat yang melekat dalam keadaan yang diciptakan Allah itu.

Mentalitas utama dari seorang yang memiliki perspektif hikmah adalah syukur atas segala anugerah Allah. Mereka yang bisa bersyukur pada apa yang diberikan Allah maka Allah akan menambah nikmat yang diberikan, demikian janji Allah dalam QS. Ibrahim ayat ke-7. Sedang orang-orang yang mengingkari adanya nikmat Allah dalam keadaan yang diberikan Allah kepadanya maka akan tersiksa dengan ketidaksyukurannya.

Lalu apakah mereka yang memiliki perspektif hikmah juga harus mensyukuri bencana yang suatu saat melanda hidupnya? Pada prinsipnya bagi mereka yang memiliki perspektif hikmah semuanya akan disyukuri. Hanya saja seringkali ia harus bersabar untuk bisa memahami pelajaran dan manfaat apa yang ada pada keadaan yang dipandang sebagai bencana itu. Kesadarannya pada selalu adanya pelajaran dan manfaat membuatnya harus bersabar untuk mencari pelajaran dan manfaat apa dari peristiwa yang dihadapinya. Karena itulah mentalitas utama lainnya dari seorang yang dikaruniai perspektif  hikmah ialah sabar.

Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, demikian Allah menyuruh kepada Nabi Muhammad SAW dalam QS. Al-Baqarah ayat 155. Orang yang sabar itu apabila menemui keadaan yang disebut dengan musibah segera menyadari bahwa semua yang ada ini datangnya dari Allah dan semuanya harus dikembalikan kepada Allah sebagaimana termaktub dalam kalimat innaa lillaahi wa inna ilaihi rooji’uun. Dengan demikian selanjutnya sabar menjadi mentalitas yang sangat penting sehingga Allah menganugerahinya: “Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-Baqarah [2]: 157). Bandingkan dengan: “…dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS. al-Baqarah [2]: 269).

Syukur dan sabar merupakan mentalitas yang lahir dari perspektif hikmah. Orang yang meyakini bahwa dalam setiap kaadaan yang diberikan Allah ada pelajaran dan manfaat tentu akan selalu bisa bersyukur dan bersabar dalam kehidupannya. Dengan demikian perspektif hikmah akan mengantarkan pada akhalaqul karimah yang terbentuk dari mentalitas syukur dan sabar.

B. Baitul Hikmah

Salah satu tujuan dari Baitul Hikmah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta adalah untuk membangun perspektif hikmah. Metodenya adalah dengan kajian rutin seminggu sekali yaitu setiap ahad malam senin di masjid KHA Dahlan kantor PDM Kota Yogyakarta. Materi kajiannya secara bergantian ialah kitab al-Hikam oleh Ustadz Fathurahman Kamal (Majelis Tabligh PP Muhammadiyah) dan kitab Madarijus Salikin oleh Ustadz Muhsin Haryanto (FAI UMY).

Kitab Al-Hikam adalah karya Syaikh Ibnu Athoillah as-Sakandari berisi petuah-petuah keimanan, kebaikan, dan kebijaksanaan. Di pesantren-pesantren salaf, kitab tersebut sangat terkenal menjadi semacam pedoman moral dan spiritual bagi yang ingin meningkatkan derajat ruhaniahnya agar semakin dekat dengan Allah. Kitab tersebut, meski ditulis oleh seorang tokoh tarekat syadziliyah, diterima secara luas oleh kaum muslimin lintas mazhab dan tarekat. Sebab sosok Ibnu Athoillah dikenal sebagai seorang tokoh sufi yang memahami dan taat menjalani sunnah, tercermin dalam karya-karyanya yang meliputi bidang tasawuf, tafsir, hadits, akidah, nahwu, dan ushul fikih.

Kitab al-Hikam mengandung berbagai pengajaran yang berguna bagi pembentukan akhlakul karimah. Maka tak heran bila KHA Dahlan menjadikan kitab al-Hikam tersebut sebagai rujukan dakwahnya. Musthafa Kamal Pasha dan Adaby Dar­ban mengungkapkan dalam buku Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam bahwa salah satu dari buku-buku peninggalan KHA Dahlan adalah Matan Al-Hikam. Ini bukan berarti jika kita sekarang ini mengkaji kitab Al-Hikam karena taqlid pada KHA Dahlan. Namun dalam konteks ini kita memang perlu mewarisi semangat KHA Dahlan dalam membangun kekuatan ruhaniah untuk menata akhlak ummat. Untuk menata akhlak itulah kajian Kitab al-Hikam diadakan.

Sedang kitab Madarijus Salikin atau lengkapnya Madarijus-Salikin Manazih lyyaka Na’budu wa lyyaka Nasta’in adalah karya Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, salah satu murid dari Ibnu Taimiyyah. Dalam edisi aslinya buku ini diterbitkan dalam 3 jilid tebal. Kitab ini edisi ringkasannya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi dan diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar pada tahun 1998 (edisi pertama). Sekilas jika kita membaca Kitab Madarijus Salikin ini maka akan menemukan dua gagasan utama. Gagasan pertama yang nampak ialah gagasan yang tentang pembahasan makna iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin dan gagasan lain adalah kritik Ibnul Qoyyim untuk meluruskan berbagai pengertian dan kandungan Kitab Manazilus-Sa’irin karangan Abu Isma’il Al-Harawy, sebuah kitab yang membahas masalah thariqah ilallah (perjalanan kepada Allah).

Pada permulaannya Ibnu Qayyim mengupas Al-Fatihah, yang merupakan induk Al-Qur’an dan yang mengintisarikan semua kandungan di dalam Al-Qur’an. Kemudian yang lebih inti lagi adalah pembahasan tentang makna iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, yang menjadi ruh dari keseluruhan kitab ini dengan pengkajian yang begitu mendalam luas pembahasannya. Selanjutnya pada pembahasan berikutnya berkisar pada masalah perjalanan kepada Allah dengan manzilah, etape, tempat persinggahan, keadaan dan kedudukan-kedudukannya. Di antaranya yang dikupas dalam masalah ini, bahwa manusia memiliki dua substansi, sesuai dengan hikmah penciptaan Allah: Substansi rohani dan substansi jasadi. Yang pertama merupakan alam atas/tinggi dengan segala kelembutannya, dan yang kedua merupakan alam bawah/rendah dengan segala kekasatannya. Sementara pada diri manusia juga ada dua kekuatan yang saling menolak. Yang satu menariknya ke atas dan yang satu menariknya ke bawah. Sasaran yang dikehendaki dalam perjalanan ini adalah berpaling dari alam bawah dan membebaskan diri dari daya tariknya, untuk berpindah ke alam atas, agar terjadi penyatuan hati dengan Allah.

Dengan materi dua kitab tersebut diharapkan bukan hanya lahir perspektif hikmah pada Pimpinan dan Kader Muhammadiyah yang menjadi peserta Baitul Hikmah. Harapannya terbentuk 6 karakter ulul albaab secara utuh sebagaimana telah dibicarakan di atas. Selain itu, kegiatan Baitul Hikmah didahului dengan Shalat Isya’ berjamaah, yang kata Rasulullah pahalanya seperti shalat lail separuh malam, dimaksudkan sebagai ajang konsolidasi Pimpinan dan warga Muhammadiyah. Ringkasnya, tujuan dari kegiatan Baitul Hikmah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta adalah untuk:

  1. untuk memba­ngun perspektif hikmah sehingga peserta kajian dapat selalu mengambil pelajaran a­tau manfaat dari seti­ap kejadian dan kon­disi yang ditemuinya.
  2. Membangun kekuatan ruhani sehingga bisa melahirkan sosok ulul albaab, dalam hal ini berupa akhlaq kepemimpinan yang rahmatan lil ‘alamin di Muhammadiyah Kota Yogyakarta.
  3. Melaksanakan konsolidasi ideologis Pimpinan dan Warga Muhammadiyah Kota Yogyakarta dengan Shalat Isya’ berjamaah, seminggu sekali.

Kegiatan Baitul Hikmah ini menjadi menjadi pelengkap dari dua pengajian yang sudah banyak diikuti oleh Pimpinan dan warga Muhammadiyah di kota Yogyakarta dan sekitarnya, yaitu Pengajian di PP Muhammadiyah dan di Madrasah Mualimin Muhammadiyah. Bukan hanya pelengkap dalam waktu dan tempat, tapi juga pelengkap dalam hal tema. Dengan kajian ini tema tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) akan menguat dan diharapkan dapat memberi sumbangan yang berarti untuk menata hati melahirkan akhlak terpuji. Semoga Baitul Hikmah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta ini benar-benar bisa melahirkan akhlak yang rahmatan lil ‘alamin pada pimpinan dan warga Muhammadiyah.

Gambar Perspektif Hikmah dan Baitul Hikmah
Kajian baitul hikmah PDM Kota Yogyakarta sebagai upaya pembinaan akhlak melalu tafsir kitab klasik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait