Personal Dalam Organisasi

Gambar Personal Dalam Organisasi
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Sejak Muhammadiyah dilahirkan, kepemimpinan di organisasi ini menganut sistem kolegial. Status pimpinan memiliki hak yang sama. Tak ada yang lebih tinggi. Mereka sepakat bahwa kepemimpinan  hanyalah pembagian tugas. Di satu sisi, menurut dinamika organisasi akan sedikit terhambat, karena eksekusi sebuah keputusan akan menunggu saat pimpinan bermusyawarah. Terutama bila menjumpai keputusan yang sangat penting dan harus segera dituntaskan saat itu juga. Dibalik itu semua, ada keuntungan yang didapatkan, bahwa pengambilan keputusan relatif aman, karena semua pimpinan terlibat didalamnya.

Mengambil hikmah dari kondisi di atas secara tidak tertulis dan ini sudah berlangsung secara turun-temurun, menjadi pimpinan harus memiliki ketrampilan yang lengkap. Ia sebagai konseptor tapi sekaligus sebagai pelaku. Sangat berbeda dengan teori organisasi yang menawarkan garis pemisah antara konseptor dengan pelaksana. Dari beberapa pengalaman berorganisasi dalam Muhammadiyah entah itu ortomnya maupun persyarikatannya, mereka yang masuk dalam jajaran pimpinan biasanya memiliki tugas ganda. Mereka harus terampil dalam mengelola sebuah organisasi sekaligus mengelola massa.

Sejak kepemimpinan dari KHA Dahlan sampai dengan DR Dien Samsudin ada kesamaan yang bisa ditarik bahwa meskipun mereka memiliki status yang tinggi dalam persyarikatan, terlibat pergaulan dengan pejabat, dengan tokoh masyarakat atau menjadi salah satu konseptor dalam urusan tata negara, begitu kembali ke pangkuan Muhammadiyah akan mencair dengan sesama pimpinan yang lain. Status pimpinan akan setaraf dengan pimpinan yang lain. Tidak canggung untuk berkiprah di Muhammadiyah meskipun di lingkungan ranting atau dengan masyarakat.

Namun demikian bila kita telusuri lebih lanjut beruntunglah di Muhammadiyah ada berbagai macam sifat dan karakter pimpinannya. Sifat dan karakter inilah yang menyebabkan setiap pimpinan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang berbeda-beda. Ada ahli hukum, sosiologi, agama, sains dll. Secara garis besar pimpinan dapat dikatagorikan menjadi 2 bagian, yaitu konseptor dan pelaksana. Harus diakui memang ada beberapa orang dalam persyarikatan di semua jenjang memiliki kemampuan untuk berfikir. Ia memiliki strategi bagaimana Muhammadiyah harus bergerak dan memposisikan dirinya dalam masyarakat.

Dari konseptor ini lahirlah program unggulan yang sekarang marak diberbagai level pimpinan. Yang tadinya tidak mungkin hidup dalam lingkungan Muhammadiyah, sekarang menjadi idaman dan pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan. Pesantren misalnya. Kegiatan pesantren ini justru sedang tumbuh dan berkembang. Mereka memiliki ghirah untuk menggerakkan dan ingin menunjukkan bahwa pesantrenpun bisa mekar dalam persyarikatan. Bahkan pesantren ini memiliki kelebihan bila dibanding dengan pesantren lainnya. Demikian pula beberapa program yang layak mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Inilah keuntungannya memiliki konseptor dalam organisasi.

Bila dikorelasikan dengan manajemen modern, sesungguhnya Muhammadiyah telah melakukan jauh sebelum ilmu manajemen modern lahir. Karena dalam manajemen organisasi, posisi pemimpin atau jabatan seseorang bisa menempati tiga bagian. Pertama yang sering disebut First Line Management. Di level ini, biasanya orang yang baru masuk. Mereka menempati kelas terbawah karena dianggap pengetahuan perihal organisasi belum mencukupi. Saat pertama kali masuk biasanya mereka mengerjakan sesuatu dengan jumlah terbatas bahkan bisa jadi berhubungan dengan beberapa orang saja.

dalam manajemen organisasi, posisi pemimpin atau jabatan seseorang bisa menempati tiga bagian
dalam manajemen organisasi, posisi pemimpin atau jabatan seseorang bisa menempati tiga bagian (Sumber gambar : klik disini)

Apa yang mereka kuasai? Hanya masalah teknis. Orang-orang ini tidak terlalu memikirkan tentang konsep bagaimana membuat perusahaan bisa berkembang, membuka cabang baru atau membuat kebijakan. Itu bukan wewenang orang di tingkat ini. Bagaimana mereka bisa berhubungan dengan orang lain? Hanya terbatas pada lingkungannya. Karena perusahaan menuntut spesifikasi dalam pekerjaan. Namun secara profesi bukan berarti mereka rendah dalam arti tingkat sosial maupun finansial. Mereka masuk dalam ruang itu karena hanya masalah teknis. Mereka benar-benar ahli dalam bidangnya seperti, akuntan, pemasaran, administrator, teknisi mesin dll. Karena orang-orang seperti ini yang akan mengerjakan instruksi dari supervisor atau manajer. Mereka juga mengerjakan tugas apapun yang diperintahkan oleh atasannya. Dapat dibayangkan bila orang-orang seperti ini tidak memiliki keahlian. Bisa diprediksikan bila mereka tidak mampu membuat perencanaan, mengelola waktu dan meningkatkan skill pribadi. Mereka dipastikan tidak akan meningkatkan kariernya, dan hanya diam di tempat.

Kedua Middle Management. Seiring berjalannya waktu seseorang bisa belajar dengan lingkungannya. Ia tumbuh dan berkembangan sesuai dengan keadaan organisasinya. Ia bisa naik ke posisi yang lebih tinggi. Jabatan yang disandangpun lebih tinggi, dan memiliki tanggung jawab yang lebih luas. Bila dulu ia bekerja secara personal, namun kini telah memiliki anak buah untuk bisa mengeksplore pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Di kelompok ini, orang yang bekerja bisa diibaratkan sebagai penghubung antara top manajer dengan first line management. Mereka yang duduk di level ini harus mampu menerjemahkan visi dan misi organisasi untuk dijabarkan menjadi tujuan yang sangat detail. Ibarat permainan sepak bola bertugas sebagai gelandang. Bila akan menyerang harus dibangun dari gelandang untuk diteruskan kepada penyerang. Namun bila harus bertahan maka gelandang ini adalah pertahanan lapis pertama sebelum lawan berhadapan dengan pemain belakang atau kiper.

Mereka butuh menguasai conceptual skill, sebab kadang mereka ikut membuat peraturan, menetapkan strategi atau mendiagnosa situasi. Karena berada di poros penghubung maka ketrampilan yang harus dikuasai yaitu bisa mengatur waktu, mengatur dirinya sendiri, bijak dalam komunikasi ke atas maupun ke bawah, mampu mengatur prioritas. Tugas yang tak kalah pentingnya adalah memotivasi, melakukan konseling, melaksanakan pelatihan yang terkait dengan skill agar organisasi memiliki profit yang dibanggakan.

Ketiga adalah Top Management. Para pemimpin di puncak organisasi memiliki rangkaian tantangan tersendiri. Ia mampu menerawang jika suatu ketika jalan akan terjal dan berliku. Namun disaat tertentu, ditemui jalan yang lapang, lurus dan halus. Disaat seperti ini justru pemimpin lebih waspada. Pada waktu orang lain tertidur karena jalannya halus pemimpin justru terjaga. Karena disaat organisasi mengalami paceklik ia sendiri yang akan merasakan bukan orang lain. Bukan pula para middle management apalagi mereka yang berada di bawah.

Ia mampu secara sepenuhnya tentang conceptual skill untuk menganalisa, menemukan akar permasalahan, menetapkan visi, mengambil kebijakan baru, mengembangkan strategi dan melakukan perluasan wawasan. Para pemimpin ini mungkin tak tahu banyak tentang technical skill. Tapi tahu banyak tentang human skill. Ia yang akan memberi komando kepada bawahannya dengan konsep yang telah digenggam. Makanya, memilih orang yang tepat pada suatu pekerjaan akan membantu organisasi semakin tumbuh.

Meskipun top management hanya sedikit orangnya tetapi tanggung jawabnya sangat besar. Salah langkah bisa membuat organisasi menjadi berantakan. Menjadi pimpinan ternyata dibutuhkan orang yang tahu tentang kondisi orang lain. Pimpinan dalam organisasi adalah orang yang terpilih bukan hanya dari tingkat prestasi yang telah disandang, namun bagaimana orang itu

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan Februari Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait