Persoalannya pada citra yang telah memasyarakat

Berikut wawancara Reporter Majalah Mentari dengan Drs. Tri Rinto Nugroho selaku Ketua PDM Kota Yogyakarta tentang Sisterm Terpadu Perguruan Muhamadiyah.

Tri Rinto Nugroho - Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta
Tri Rinto Nugroho – Wakil Ketua PDM Kota Yogyakarta

Bagaimana PDM Melihat urgensi Sistem Pendidikan Berkelanjuatan?

Kalau kita amati sebenarnya arah pendidikan kita sudah kesana, tetapi baru fisiknya yang berjalan, contohnya komplek Purwo yang sejak TK sampai SMA berada dalam satu komplek. Sayangnya, sistem tidak terbangun secara terpadu. Sehingga seperti yang kita lihat, di samping banyak orang menganggap sekolah negeri lebih murah, bahkan sekolah negeri lebih baik. Ada pula guru Muhammadiyah yang malah mengarahkan anak didiknya untuk melanjutkan belajar ke sekolah negeri. Misalnya SD tertentu kepada sisiwanya yang lulus mendorong mereka masuk saja masuk ke sekolah negeri ini dan itu. Mereka tidak merekomendasikan sekolah Muhammadiyah. Jadi harus ada kesadaran dari stake holder muhammadiyah. Orang tua guru, harus ada kemauan. Ini sudah tuntutan zaman. Kalau orang lain begitu maka kita harus begitu. Lihat saja di SDIT sampai SMAIT.

Apakah PDM sudah ada political will ke arah situ?

Kita sudah coba mendiskusikan di tingkat pimpinan beberapa waktu lalu, namun ada beberapa yang tidak setuju karena memandang hal tersebut tidak pas. Misalnya kalau nanti SD Sapen mendirikan SMP, alumni SD Muh Sapen yang masuk ke SMP Muhammadiyah lain siapa? Padahal kita tahu alumni Sapen yang pintar pasti masuk ke Negeri, tidak ke sekolah Muhammadiyah. Tentu akan lain kalau Muhammadiyah memiliki SMP Muhammadiyah Sapen dengan penerapan sistem yang sama dengan di tingkat SD. Sekarang ini masih ada penolakan karena itu, tidak dapat jatah dari alumni Sapen. Selama ini dapat tetapi dari kualitas ke-2 dan seterusnya.  Saya bilang jangan khawatir karena jika SMP Sapen berdiri maka yang masuk adalah dari rangking tingkat atas. Selanjutnya akan ke sekolah Muhammadiyah.

Apakah lebih baik mendirikan sekolah baru atau mensinergikan sistem dengan SMP Muhammadiyah yang telah ada?

Persoalannya pada citra yang telah memasyarakat bahwa secara sistem kita bisa tetapi masyarakat terlanjur belum percaya. Apalagi banyak SMP dan SMA Muhammadiyah yang masih bermasalah. Jadi perlu ada idola baru dulu entah apa namanya, kalau di Gunung Kidul ada SMP AL Mujahidin. Begitu sistem ini bagus bisa dipakai untuk SMP yang lain sehingga akan percaya. Atau bisa juga bagi ranking yang tinggi kalau meneruskan sekolah Muh yang tinggi akan mendapat layanan gratis, betul- betul gratis.

Begini, kalau saya orang tua yang anaknya sekolah di Muhammadiyah. Anak saya pinter tetapi ekonomi pas pasan. Hati ingin memasukkan ke Muhammadiyah tetapi biaya tidak cukup maka akan pilih negeri. Ini baru dari segi biaya, belum lagi prestis.

Bukankah kalau prestasi bagus biaya sering tidak jadi soal bagi orang tua?

Itu bagi orang tua dari kalangan berpunya. Tetapi kalangan menengah ke bawah justru butuh sekolah yang murah dan gratis. Saat ini pemerintah telah memberikan BOS, baik dari pusat, Provinsi, dan kota. Menurut pemerintah kalau untuk sekedar operasional sekolah sudah cukup. Jadi kalau Muhammadiyah menarik dana untuk pengembangan sistem. Karena kalau untuk sekedar hidup sudah cukup dari BOS dan dana lain seperti KIP. Yang muncul BOS berjalan SPP masih tinggi. Ini tidak apa- apa kalau untuk pengembangan sistem, walaupun sekarang belum begitu tampak secara detail.

Bukankah persaingan lembaga pendidikan saat ini membutuhkan dana yang tinggi?

Pos dana yang tinggi itu dipakai untuk meningkatkan sistem. Sebenarnya bisa untuk mendidik guru bisa dengan pelatihan. Persoalannya kadang kita sering ada kegiatan yang tak terduga. Mestinya sudah direncakan sejak awal tahun, seperti acara dari PDM dan PWM dimana sekolah harus ikut. Itu dananya banyak. Di awal tahun kita sudah arahkan dan minta kepada sekolah perkirakan program kedepan apa? seperti Milad dan Syawalan; baik untuk hadiah atau pawainya. Kita minta semua itu ditulis di RAPBN, kalau memang tidak relevan kita susun RAB perubahan. Kita dorong agar tertib organisasi, jangan sampai dunia selamat tetapi akhirat tidak selamat. Ini mawas diri kita hati- hati nanti kelihatannya gebyar ternyata akhirat luput kan rugi.

Ada kekhawatiran dengan sekolah baru akan obsesi individu kemudian lepas dari nilai kemuhammadiyahan, menurut Bapak?

Sekarang kita jujur, apakah Sapen mesti tergantung kepala sekolah? Tidak. Beberapa kali ganti kepala tetap berprestasi, tetapi sistem tertanta. Kita harus akui ada sistem bagus meski perlu disempurnakan. Kita kadang suudzhin karena kita tidak mampu, ini penyakit. Kesadaran pimpinan harus kesana.

Apakah merintis sekolah baru akan memakan waktu lama dan biaya yang besar?

Tidak kalau serius sekarang diputuskan tahun depan sudah bisa menerima siswa baru.

Apa kendalanya sehingga gagasan ini belum berjalan?

Kefahaman pimpinan dan guru harus disatukan. Kalau PDM sudah sepakat bisa berjalan begitu saja. Pembicaran di tingkat pimpinan tidak intens. Jika pengin kita fokus bahas itu; apakah membuat sekolah baru atau meningkatkan yang telah ada. Itu semua harus ada putusannya. Tidak hanya omong-omongan, kita sukanya omong- omongan saja. Kita masih suka begitu.

Apakah sekolah sudah siap?

Keinginan sudah ada, mau tidak mau kita bisa kalah dengan yang lain. Banyak fitnah kepada sekolah kita khususnya tawuran. Berita ini dihembuskan secara sengaja untuk menurunkan nama baik sekolah kita. Ini dilakukan bisa islam bisa luar islam. Maka kita coba di SMP mau kita pakai sistem informaasi keungan terpadu. Konsep awalnya sentralisasi keungan sekolah. Harapannya setelah tersentral dapat digunakan untuk menggaji guru dengan standar terntentu. Sehingga perpindahan guru take home sama. Padahal mereka adalah pegawai sekolah. Kita sedang bangun sistem ini. Ada salah paham seakan uang diambil PDM semua sehingga susah sekolah. Dengan sistem ini semua akan terkendali.

Kalau Fokus dan kondisi SDM pimpinan masih memiliki persoalan, bagaimana?

Kalau saya bismillah dorong terus dengan berbagai cara karena tuntutan zaman, apalagi saya. Sistem harus ditingkatkan dengan cara itu. Ini berat karena orang di Muhammadiyah itu samben, namun kerja harus profesional, bukan samben dua- duanya.

Apa saran bapak agar berjalan?

Kalau saya segera diputuskan di tingkat pimpinan 13 untuk mendirikan SMP yang berkualitas, bisa mengguankan Sapen sebagai perantara.


Daftar Laporan Khusus “Sistem Terpadu perguruan Muhammadiyah“.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait