Pernikahan

Gambar Pernikahan
Ari Susanto, S.E.I, M.E
Ketua DPD IMM DIY 2016/2018, Anggota MPI PDM Kota Yogyakarta, Peneliti LSM PUNDI Yogyakarta

“nikah” sebagai yang tertuang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan (1) Perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami istri (dengan resmi); (2) Perkawinan. Menurut Prof. Quraish Shihab seorang mufasir dari Indonesia,  Al-Qur’an menggunakan kata ini untuk makna tersebut, di samping – secara majazi (perumpamaan) – diartikan dengan “hubungan seks”,. Yang menurut beliau Kata ini dalam berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 23 kali. Namun jika di tilik Secara bahasa sesungguhnya pada mulanya kata nikah digunakan dalam arti “berhimpun”.

Lanjutnya, sesungguhnya Al-Qur’an juga menggunakan kata zawwaja dari kata zauwj yang berarti “pasangan” untuk makna diatas. Ini karena pernikahan menjadikan seseorang memiliki pasangan. Kata tersebut dalam beberapa bentuk dan maknanya terulang tidak kurang dari 80 kali. Secara umum Al-Qur’an hanya menggunakan dua kata ini untuk menggambarkan terjalinnya hubungan suami istri secara sah. Kata-kata ini, mempunyai implikasi hukum dalam kaitannya dengan ijab kabul (serah terima) pernikahan.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Prof. Quraish Shihab bahwa Pernikahan, atau tepatnya “keberpasangan” merupakan ketetapan Ilahi atas segala makhluk. Berulang-ulang hakikat ini ditegaskan oleh Al-Qur’an antara lain dengan firman-Nya dalam Surah Adzâriyat [5]:49,

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya  : “segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu menyadari (kebesaran Allah)” (QS. Adzâriyat : 49).

Ayat diatas menerangkan bahwa bagaimana manusia hidup berpasang-pasangan, guna melangsungkan generasi kehidupan yang akan datang. Dan dalam surah Yâ-sîn [36]: 36, di tegaskan bahwa semua yang diciptakan telah dianugrahi sifat untuk saling berpasangan.

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ

Artinya  : “Mahasuci Allah yang telah menciptakan semua pasangan, baik dari apa yang tumbuh di bumi, dan dari jenis mereka (manusia) maupun dari (makhluk-makhluk) yang tidak mereka ketahui” (QS. Yâ-sîn : 36).

Berpasangan adalah Fitrah

Prof. Ahmad Azhar Basyir menerangkan bahwa hidup berpasang-pasangan merupakan fitrah, merupakan naluri manusia. “Islam mengajarkan bahwa hidup berpasangan-pasangan dan berketurunan adalah tuntutan fitrah, naluri manusia. QS An-Nisâ [4]:1 menyatakan bahwa Allah menciptakan pasangannya dan dari seorang diri, darinya diciptakan pasangan dan dari keduanya dikembangkan keturunannya. QS An Nahl [16]: 72 mengajarkan bahwa Allah menjadikan istri dari jenis manusia sendiri, dan dai istri itu dijadikannya anak cucunya. QS Ar-Ruum [30]:21 mengajarkan bahwa hidup perkawinan akan datangkan ketentraman dan menumbuhkan rasa cinta serta kasih sayang antara suami, istri dan anggotanya.”

Senada dengan Prof Basyir, Prof Quraish Shihab menerangkan bahwa agama Islam mensyariatkan dijalinnya pertemuan antara pria dan wanita. Jalinan itu hendaknya di pertemukan dalam pelaksanaan “pernikahan”. Sebelum melaksanakan pernikahan maka seringkali kedua insan manusia laki-laki dan perempuan dengan nalurinya mengalami kerisauan. Maka dengan menikah diharapkan akan membawa ketentraman. Ada peralihan dari kerisauan menjadi ketentraman atau sakinah. Kata Sakinah sendiri terambil dari akar kata sakana yang berarti diam/tenangnya sesuatu setelah bergejolak. Itulah sebabnya mengapa pisau dinamai sikkin karena ia adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak bergerak, setelah ia tadinya meronta. Maka Sakinah – karena perkawinan – adalah ketenangan yang dinamis dan aktif, tidak seperti kematian binatang.

Maka dengan menikah diharapkan akan membawa ketentraman. Ada peralihan dari kerisauan menjadi ketentraman atau sakinah
Maka dengan menikah diharapkan akan membawa ketentraman. Ada peralihan dari kerisauan menjadi ketentraman atau sakinah (Sumber gambar : klik disini)

Untuk menuju singgasana pernikahan maka perlulah di siapkan segalanya, mulai dari kesiapan fisik, mental dan ekonomi. Seringkali kondisi ekonomi menjadi kendala dan sumber alasan untuk menunda atau bahkan menolak tawaran peminangan. Kesiapan yang menjadi kendala seperti faktor lemahnya ekonomi, Allah telah menggaransi bahwa akan diberikan kecukupan.

إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ

Artinya  : “kalau mereka (calon-calon menantu) miskin, maka Allah akan menjadikannya mereka kaya (berkecukupan) berkat anungrah-Nya” (QS An-Nûr : 31).

Atau bagi Yang tidak memiliki kemampuan ekonomi dianjurkan untuk menahan diri dan memelihara kesuciannya

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ

Artinya  : “Hendaklah mereka yang belum mampu (kawin) menahan diri, hingga Allah menganugrahkan mereka kemampuan” (QS An-Nûr : 33).

Islam Menganjurkan Perkawinan

Perkawinan merupakan tuntutan fitrah manusia, dalam Islam pernikahan merupakan fitrah dan merupakan nilai dari suatu macam ibadah kepada Allah swt. seperti apa yang terkabarkan dalam Firman-Nya (QS. An-Nur [24]: 32-33):

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya  : “Dan kawinkanlah orang yang sendirian di antara kamu, dan orang yang layak (berkawin) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi mengetahui.” (QS. An-Nur : 32).

Begitu pula yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa nabi bersabda: “hai para pemuda, barang siapa diantara kamu telah mampu memikul beban biaya perkawinan dan berumah tangga, hendaklah ia kawin sebab perkawinan itu lebih mampu menundukan pandangan dan lebih mampu menjaga kehormatan, dan barang siapa masih belum mampu, hendaklah ia berpuasa sebab puasa itu menjadi perisai baginya (dari godaan nafsu birahi)”. “.. demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut diantara kamu kepada Allah, dan yang paling takwa diantara kamu kepada-Nya, tetapi aku perpuasa dan berbuka; akupun sholat dan tidur; akupun juga mengawini perempuan; barang siapa tidak suka kepada sunahku, dia bukan golonganku.”

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Sakinah Majalah Mentari Bulan 12 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...