Penyakit – Penyakit yang Menyerang Guru

PENULIS Nini S (Pengajar SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta)

Berdasarkan hasil survai di berbagai daerah di Indonesia, ternyata banyak penyakit yang menyerang para guru. Bagi para guru yang merasa menderita penyakit berikut, mari segera periksakan ke ‘dokter’ sebelum menular kepada guru yang lain. Sedikit celotehan yang mungkin bisa dijadikan bahan introspeksi para guru dan para calon guru di masa kini !!!!

  1. Kudis (Kurang Disiplin)

Penyakit ini lebih sering menyerang para guru dan cepat menular. Bayangkan saja, jika jam bel masuk sudah berbunyi kebanyakan guru masih meneruskan kegiatannya seperti ngobrol dengan teman sebangku, masih asyik main komputer, bahkan ada yang menikmati menu makan siangnya. Oleh karena itu seharusnya dalam dunia ‘guru’ dicanangkan budaya malu, seperti : Malu datang terlambat, Malu tidak mengajar, Malu pulang duluan, Malu tidak disiplin, Malu tidak membuat RPP, Proter (Program Semester) dsb.

  1. Kutil (Kurang Teliti)

Kurang teliti contoh saat mengoreksi lembar jawab ulangan. Terkadang ada saja yang salah dalam menghitung jumlah, atau menyalahkan jawaban yang sebenarnya betul, atau sebaliknya. Membenarkan jawaban yang salah. Hal ini tentu merugikan peserta didiknya.

  1. Kuman 1 (Kurang Iman)

Penyakit lain yang sering menggerogoti guru adalah kuman (kurang iman). Tidak sedikit guru yang goyah imannya ketika melihat dana bantuan cair. Apalagi guru yang merangkap tugasnya sebagai bendahara sekolah, tentu akan lebih memiliki kesempatan untuk menguji kadar imannya.

  1. Kuman 2 (Kurang Amanah)

Kuman lain yang mengancam bapak ibu guru adalah kurang amanah. Bapak ibu guru di sekolah adalah orangtua bagi anak di sekolah. Jadi seharusnya bapak dan ibu guru menjaga anak didiknya seperti merawat anaknya sendiri di rumah.

  1. Kurap (Kurang Rapi)

Penyakit guru yang masih berhubungan dengan kepribadian adalah kurap (kurang rapi). Misalnya pada pakaian. Tak jarang kita melihat guru dengan baju kumal atau lusuh karena tidak pernah tercium setrika. Tentu hal ini akan mengganggu konsentrasi anak saat mengikuti pelajaran.

  1. TBC 1 ( Tidak Bisa Computer)

Dalam hubungannya dengan ketrampilan, banyak juga guru yang mengidap penyakit TBC alias tidak bisa computer. Setiap menjalankan tugasnya hanya bermodalkan buku pegangan (modul), spidol, dan papan tulis. Tidak mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi yang semakin maju. Hal ini tentu akan menghambat pengetahuan para peserta didik. Mengingat kemajuan teknologi yang begitu pesat, mau tidak mau dunia pendidikan harus mengimbanginya agar tidak ketinggalan ilmu pengetahuan.

  1. TBC 2 (Tidak Banyak Cara)

Guru dengan penyakit TBC dalam mengajar hanya asal tanpa memerhatikan bagaimana reaksi anak didik. Padahal banyak cara yang bisa dilakukan guru dalam menyalurkan ilmunya kepada anak didik. Seperti metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), Resitasi, Eksperimen, Demonstrasi, Outbond, Analisa Data, LCD, Powerpoint dan masih banyak metode pembelajaran yang masih bisa digunakan.

  1. Asma 1 ( Asal Masuk Kelas)

Penyakit asma (asal masuk kelas) juga tidak kalah banyaknya menggerogoti para guru. Mereka tidak memperhatikan lagi untuk apa masuk kelas, materinya sampai mana, sekarang mau membahas apa dan sebagainya. Para guru yang berpenyakit asma juga tidak peduli dengan keadaan kelas yang ramai, anak-anak yang belum siap diberi ilmu tetapi langsung saja ‘nyerocos’ memberikan materi.

  1. Asma 2 (Asal Materi Habis)

Penyakit asma berikutnya yang juga banyak menyerang bapak ibu guru adalah asal materi habis. Kebanyakan mereka mengajar dengan cepat, monoton, dan tidak pernah mengubah gaya mengajar. Mereka tidak memedulikan apakah anak-anak bisa mengikuti, mengerti, memahami materi yang diberikan. Yang ada dalam benaknya hanyalah yang penting materi habis sehingga bisa mengadakan ulangan (evaluasi).

  1. Tipus (Tidak Punya Selera)

Penyakit guru selanjutnya adalah “Tipus” tidak punya selera. Ibarat orang sakit yang tidak punya selera utuk makan. Begitu juga dengan guru yang berpenyakit tipus. Mereka tidak punya selera untuk mengajar. Apalagi untuk mendidik anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya.

  1. Mual (Mutu Amat Lemah)

Mutu pendidikan tergantung dari mutu pelajaran yang diberikan guru. Seandainya guru tidak bisa meningkatkan mutu pendidikan kita maka akan memengaruhi mutu pendidikan anak didik. Oleh karena itu guru harus  meningkatkan mutu pendidikan yang ada. Misalnya dengan sering mengikuti workshop, pelatihan program bermutu, sering berdikusi sesama sejawat di forum/KKG membagi masalah atau pengalaman pada sesama sejawat, agar semua poblem permasalahan dapat diatasi, setidaknya akan menambah mutu pendidikan kita.

  1. Kusta (Kurang Strategi)

Guru yang terserang penyakit kusta masuk kelas mengajar dengan tanpa strategi. Hal ini sering ditandai dengan banyaknya siswa yang keluar masuk saat guru mengajar. Dalam hal ini guru belum mampu menunjukkan kompetensi-kompetensi yang diharapkan oleh siswanya sehingga dapat menjadikan proses belajar mengajar terganggu. Sebab, tugas guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik serta menjadi seorang manajer di suatu kelas.

  1. Kram (Kurang Terampil)

Sebagai guru kita harus terampil dalam banyak hal. Seperti dalam menggunakan model pengajaran, strategi, atau memanfaatkan teknologi yang lebih canggih sekali pun. Kita tahu guru masih ada yang tidak bisa komputer, gagap internet. Padahal sebenarnya guru bisa memanfaatkan teknologi untuk mengganti kita, agar anak didik kita lebih jelas/memahami pelajaran.

  1. Asam Urat (Asal Sampaikan Materi Urutan Kurang Akurat)

Dalam dunia pembelajaran dan pendidikan, guru tidak hanya mengajar seenaknya sendiri. Asal masuk tanpa persiapan khusus. Sebagai guru profesional seharusnya merencanakan apa yang akan diajarkan seperti membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), membuat program yang akan dilakukan selama satu semester atau dalam waktu satu tahun. Dalam pembuatan RPP, Promes, Prota juga tidak bisa asal, semua ada sistimatika yang sudah diatur secara lengkap dan berpedoman pada silabus yang ada.

  1. Lesu (Lemah Sumber)

Guru yang lemah sumber niscaya dalam pelajaran berlangsung kurang bahan yang diajarkan kepada anak didiknya. Hal ini akan berakibat pada sedikitnya pengetahuan anak didik kita. Maka dari itu sebagai pengajar harus banyak memiliki sumber baik dari membaca berbagai buku/modul pelajaran, dari koran, majalah, dan sebagainya.

  1. Diare (Di Kelas Anak Diremehkan)

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pembelajaran di kelas. Salah satu faktor yang paling berperan atau sangat penting adalah guru. Sikap seorang guru sangat berpengaruh terhadap jalannya proses suatu pembelajaran. Berbagai pengalaman positif maupun negatif yang dialami siswa di dalam kelas, tidak pernah terlepas dari tindakan dan sikap guru. Apalagi jika pengalaman negatif, akan meninggalkan bekas bagi emosi siswa.

  1. Ginjal (Gaji Nihil Jarang Aktif Kerja Lamban)

Guru dengan gaji yang minim sehingga lebih memilih mencari bisnis tambahan di luar jam mengajar dibanding aktif mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan masalah pendidikan. Banyak kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan namun hanya beberapa guru yang mengikuti seperti seminar guru profesional, diklat yang berhubungan dengan pembelajaran, atau work shop pendidikan.

  1. Sembelit (Sedikit Membaca Literature)

Penyakit sembelit hampir sama dengan lesu. Untuk memberikan pelajaran pada anak kebanyakan guru malas mencari literaturenya. Padahal literature tidak harus berupa buku-buku tebal pendukung materi pelajaran. Literature bisa didapatkan dari dunia maya seperti internet. Jadi tidak perlu susah payah ke perpustakaan atau toko buku untuk menambah ilmu pengetahuan. Tinggal membuka internet dan mencari apa yang dibutuhkan.

  1. Batuk (Belajar Atau Tidak Urusan Kemudian)

Bagaimana jika seorang guru mengajar tanpa pernah memahami apa yang akan disampaikan. Tentu anak-anak yang akan menjadi korban. Bapak ibu bisa berdalih dengan seribu cara untuk menutupi kesalahan, namun lagi-lagi anak didiklah yang dijadikan korban. Maka dari itu sebelum mengajar usahakan sebelumnya sudah membuka-buka literature dan memahami apa yang akan disampaikan kepada anak didiknya.

  1. Sariawan (Siapkan Anak-Anak Dengan Ringkasan, Aman Waktu Ujian)

Terkadang ada juga guru yang sengaja menyiapkan ringkasan untuk belajar anak didiknya agar saat ujian bisa dijadikan alat untuk ‘menyontek’. Kalau memang tujuan membuat ringkasan adalah agar belajarnya menjadi lebih mudah memang itu akan sangat membantu para siswa. Namun ketika ringkasan dipersiapkan oleh guru dengan tujuan biar aman saat menghadapi ujian kelak, maka itu merupakan suatu kesalahan besar.

  1. Mencret (Mengajar Ceramah Terus)

Mengajar dengan ceramah terus juga sering kita jumpai. Guru tidak lagi peduli dengan keadaanan kelas. Apakah anak-anak sudah paham dengan apa yang diberikan atau belum. Semua itu bukanlah menjadi beban bagi guru. Dalam pikiran mereka hanya terbersit ‘saya sudah menyampaikan materi ini”.

  1. Salesma (Sangat Lemah Sekali Membaca)

Umumnya guru jarang suka membaca. Padahal untuk menambah ilmu pengetahuan yang dimiliki guru, mau tidak mau harus membaca (memang tidak hanya dengan membaca, bisa dengan melihat televisi atau mendengarkan radio). Namun membaca adalah gudangnya ilmu karena dengan membacalah jendela dunia menjadi luas terbuka. Jika para guru saja berpenyakit salesma (sangat lemah dalam membaca) bagaimana dengan murid-muridnya? Tentu pengetahuan mereka tidak akan bertambah secara maksimal karena gurunya saja tidak memiliki pengetahuan yang optimal.

  1. Struke (Suka Terlambat, Rupanya Kebiasaan)

Penyakit yang juga umum menyerang hampir sebagian besar guru di Indonesia adalah kebiasaan terlambat. Suatu perbuatan yang tidak baik namun menjadi kebiasaan. Parahnya lagi dibuat sebagai sesuatu yang wajar dan dimaklumi. Jadi bukan suatu hal yang perlu dijadikan beban jika ada guru terlambat jam saat mengajar.

  1. THT (Tukang Hitung Transport)

Guru yang profesional seharusnya tidak mempermasalahkan soal transportasi atau uang sampingan lain seperti honor koreksi, wali kelas, pengawas ujian, akomodasi, dan lain sebagainya. Semua sudah ada aturan yang mengurusi masalah yang berhubungan dengan keuangan. Namun kenyataannya tidak sedikit guru yang mempunyai penyakit THT, tukang menghitung transportasi.

  1. Hipertensi (Hiruk Persoalkan Tentang Sertifikasi)

Akhir-akhir ini dunia sekolah baru disibukkan dengan masalah sertifikasi. Banyak guru yang sibuk mengurusi sertifikasi sehingga melupakan kewajibannya mengajar di kelas.

  1. Diabed (Datang Inginnya Absen Tok, Baru Kemudian Etung-etungan Duit)

Banyak guru yang hanya memikirkan masalah kehadirannya di sekolah bukan kinerjanya dalam membangun anak didik. Jika mereka lupa tidak absen sepertinya sudah kelhilangan sesuatu yang besar karena akan ada potongan honor. Tetapi sebaliknya jika lupa tidak mengajar di kelas atau tidak mendidik siswanya menganggap sebagai masalah yang ringan.

  1. WTS (Wawasan Tidak Luas)

Guru yang profesional dituntut mempunyai wawasan lebih luas. Guru harus mengetahui banyak hal  untuk mengajar seperti macam model-model pelajaran, materi-materi yang berkaitan dengan pelajaran dan sebagainya. Guru juga harus mengikuti perkembangan teknologi agar tidak ketinggalan zaman.

  1. Gaptek (Gagap Teknologi)

Sekarang ini masih saja ada guru yang gaptek (gagap teknologi). Tidak mengenal komputer, apalagi membuat program pembelajaran dengan memanfaatkan komputer. Memegang mouse saja masih kaku sehingga jangankan membuat powerpoint, menulis RPP saja tidak bisa. Mengingat perkembangan teknologi yang begitu pesatnya mau tidak mau memaksa guru untuk mengikuti perkembangannya. Guru harus mau belajar bagaimana memakai komputer dalam pembelajaran, menggunakan powerpoint untuk presentasi dan sebagainya. Jangan sampai guru kalah sama muridnya yang lebih canggih dalam mengoperasikan komputer.

Inovasi mengajar guru
Dalam mengajar diperlukan inovasi cara mengajar agar murid tidak bosan (Sumber gambar : klik disini)

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 2 Tahun 2013, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

Gambar Penyakit - Penyakit yang Menyerang Guru
Jurnalis Jamaah
Jamaah Muhammadiyah (pimpinan, anggota, simpatisan dan pegawai) yang mengirim artikel dan berita ke redaksi Majalah Mentari dan PDMJOGJA.ORG. Artikel dan berita ini ditulis oleh penulis lepas / kontributor tidak tetap | Artikel dan berita yang ditulis adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi. Untuk mengirim tulisan silahkan kunjungi link berikut : pdmjogja.org/kirim-tulisan/.

UPDATE

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...