Penguatan Gerakan Literasi di Sekolah

Rendahanya minat membaca dalam dunia pendidikan dapat menjadi faktor akan penerimaan segala macam informasi, termasuk informasi yang bohong ‘hoax’. Dengan demikian, maka diperlukan penguatan gerakan literasi di sekolah sebagai tameng dan penyaring informasi yang ada.

Hidup di dunia perkembangan teknologi dan informasi menuntuk kehati-hatian bagi para pengguna. Sebagai contoh misalnya dalam dunia informasi pengguna media sosial, maka pengguna media sosial harus cerdas dalam mengonsumsi berita atau informasi yang di sajikan. Jadilah pengguna yang bijaksana, jangan kemudian dengan mudah menerima secara mentah atas informasi yang diterimanya. Oleh karena untuk mengimbangi wacana dalam penggunaan media sosial, perlulah bagi masyarakat untuk meningkatkan minat membaca.

Perilaku instan dalam mengkonsumsi berita di media sosial dibutuhkan kecermatan yang mendalam bagi pengguna. Di dunia maya penyebaran berita bohong yang cepat dan masif. sebab berita hoax bisa menarik pengguna media sosial lebih banyak sebagai strategi untuk meninggatkan reting laman yang dikelolah oleh pemilik tersebut. Ketika pengguna terkendali oleh media sosial, maka akan tercipta masyarakat yang lemah dan ketergantungan akan mesin pencarian.

Dalam dunia maya ada yang dinamakan dengan buzzer yaitu agen yang memiliki pengaruh dan pengikut yang relatif banyak. Mereka terkadang disewa untuk menguasai dan menangani sebuah kompetisi. Buzzer ini akan bekerja dengan terampil bertugas melakukan kontruksi atas sebuah realitas untuk menebar pengaruh.

Maka jelas di tengah arus informasi global ini, masyarakat yang kesadaran literasinya lemah dan rendah akan dapat menjadi ladang subur bagi peredaran berita hoax. Kelatahan ibu jari tanpa melalui pembacaan yang mendalam, maka detik itupulah informasi hoax dapat tersebar dengan luas. Dengan demikian apakah kita bukan dikatakan sebagai masyarakat lemah, sebab dengan mudah begitu saja menyebar informasi tanda di cek kredibilitas dan kebenaran isi berita.

Menurut berbagai penelitian sebagaimana yang dilakukan oleh United Nations Educational, Sceintific, and Cultural Organization (UNESCO, 2012) menilai tingkat membaca masyarakat indonesia masih rendah, baru sebatas 0,001 persen dari total penduduk. maka dengan jumlah 250 juta jiwa, maka hanya ada 250 ribu yang mempunyai minat baca tinggi. Di sisi lain perdasarkan penelitian minat baca perbandingan di berbagai negara yang dilakukan oleh World’s Most Literate Nations, Central Connecticut State University (2015) menempatkan Indonesia dalam rangking 60 dari 61 negara yang diteliti.

Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat maka membangun gerakan literasi di ruang publik baik dalam bentuk digital atau konvensional seperti ruang baca menjadi wajib dilakukan oleh lembaga negara. Dengan demikian akan meningkatkan dan menciptakan masyarakat yang cerdas dan kuat.

Berdasarkan realitas diatas, dan upaya untuk menciptakan masyarakat yang ceras Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) Repeblik Indoensia melakukan berbagai trobosan melalui berbagai kebijakan. Kebijakan yang di cetuskan oleh kemendikbud patut diapresiasi dan dilaksanakan oleh para pemangku pendidikan. karena melalui gerbang pendidikan maka masa depan bangsa akan nampak cerah.

Kebijakan pertama adalah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Tujuan dari kebijakan ini adalah bagaimana menumbuhkan minat baca masyarakat sekolah. Dengan demikian sekolah akan benar-benar menjadi laboratorium dalam pembentukan karakter anak bangsa. GLS merupakan gerakan membaca siswa yaitu dengan meluangkan waktu 15 menit kegiatan belajar mengajar dimulai. Dengan demikian, diharapkan dengan adanya rutinitas yang tersistem seperti ini maka akan terbuka cakrawala berfikir dan meningkatkan kemampuan dan minat baca siswa.

GLS merupakan gerakan membaca siswa yaitu dengan meluangkan waktu 15 menit kegiatan belajar mengajar dimulai
GLS merupakan gerakan membaca siswa yaitu dengan meluangkan waktu 15 menit kegiatan belajar mengajar dimulai (Sumber gambar : Klik disini)

Kebijakan kedua yaitu melalui peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (permendikbud) nomor 8 tahun 2017 tentang petunjuk teknis Bantuan Oprasional Sekolah. Sebagai wujud penguatan literasi dengan serius pemerintah melalui peratuan ini mewajibkan sekurang-kurangnya 20 persen untuk membeli buku, baik buku teks maupun non teks pelajaran. konsekuensi dari adanya peraturan itu maka sekolah wajib mengalokasikan anggaran BOS sebesar 20 persen dari total yang didapat untuk penguatan literasi.

Muhammadiyah sebagai organisasi yang terkenal dalam salah satu bidang garapannya yaitu pendidikan di tuntun untuk taat kepada peraturan pemerintah ini. maka Muhammadiyah harus mempelopori dengan menerapkan kedua kebijakan diatas. Dengan demikian maka sesunggunya Muhammadiyah tengah menaati pemimpin serta mewujudkan masyarakat cerdas dan berilmu. Ketika sekolah Muhammadiyah tidak menaati kebijakan ini, dengan demikian maka telah melakukan perbuatan yang buruk (munkar). Muhammadiyah harus menjadi pelopor dalam menciptakan masyarakat ilmu.

Kedua kebijakan ini sebuah ikhtiar (usaha) pemerintah melalui dunia pendidikan untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Dengan minat baca yang tinggi maka tidak di sangsikan bahwa bangsa Indonesia akan maju dalam berbagai bidang kehidupan, baik sosial, politik, budaya serta ekonomi. Membaca adalah jendela dunia!

 SUMBER  Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Opini Majalah Mentari Bulan 5 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait