Pengembangan Muhammadiyah di Pakualaman

Gambar Pengembangan Muhammadiyah di Pakualaman
Drs. AMK Affandi
Staff pengajar di SMP 4 Muhammadiyah Kota Yogyakarta

Geliat Muktamar dan Musyawarah masih terasa dalam kehidupan bermuhammadiyah di setiap lini. Ada yang grafiknya terlihat naik, ada yang konstan namun acap kali menurun. Ghirah dalam bermuhammadiyah memang berbeda-beda, tergantung penggeraknya. Hampir semua pimpinan telah sah untuk menjadi driver bermuhammadiyah. Namun dari sekian pimpinan pasti ada mesin penggerak. Andai penggerak mengalami kelunturan iman, bisa jadi aura bermuhammadiyah akan meredup.

Tak terkecuali kehidupan bermuhammadiyah di Pakualaman Yogyakarta. Maju mundurnya aktifitas Muhammadiyah di Pakualaman memang dibebankan pada Pimpinan yang sekarang. Namun itu tidak mutlak karena masih ada grade Pimpinan yang diatas maupun yang di bawah, juga ada faktor eksternal yang turut mewarnai persyarikatan.

Pakualaman, secara geografis masih termasuk di jantung kota Yogyakarta. Lokasi ini sangat strategis yang masuk dalam jalur H. Disamping tentu saja sebagai salah satu pusat budaya. Pakualaman memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh wilayah lain se Kota Yogyakarta, yaitu wilayah tersempit. Saat ini apa yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah Pakualaman untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik, terutama dalam bermuhammadiyah.

Pakualaman, secara geografis masih termasuk di jantung kota Yogyakarta. Lokasi ini sangat strategis yang masuk dalam jalur H. Disamping tentu saja sebagai salah satu pusat budaya.
Pakualaman, secara geografis masih termasuk di jantung kota Yogyakarta. Lokasi ini sangat strategis yang masuk dalam jalur H. Disamping tentu saja sebagai salah satu pusat budaya (Sumber gambar : klik disini)

Proporsional Pimpinan Ranting

Pimpinan Ranting se-Pakualaman ada 7, yaitu Pimpinan Ranting : Gunung Ketur, Margoyasan, Kauman, Kepatihan, Jagalan Beji, Jagalan Ledoksari, Purwokinanti. Itu pembagian Ranting yang sudah lama sekali yang tidak pernah dievaluasi. Baik oleh Pimpinan Cabang maupun Pimpinan Ranting sendiri. Apakah keberadaan Ranting masih relevan ataukah memang sudah harus dipikirkan ulang. Pimpinan belum tanggap terhadap perkembangan jumlah penduduk yang bermukim di suatu tempat. Sehingga ada Ranting tertentu yang tergopoh-gopoh untuk membimbing keluarga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya di satu wilayah.

Proporsionalnya tidak seimbang

Salah satu keputusan penting dalam Rapat Kerja Pimpinan Cabang beberapa waktu yang lalu adalah ada keinginan yang kuat untuk membagi ulang Pimpinan Ranting Gunung Ketur. Alasannya adalah : perkembangan penduduk di daerah ini cukup pesat, Gunung Ketur sendiri areanya cukup luas. Keberadaan amal usahanya di wilayah ini cukup berkembang. Hasil keputusan yang kuat, wilayah Gunung Ketur akan dibagi menjadi 3 bagian. Yaitu, daerah selatan dengan pusat kegiatannya di Masjid al-Falah. Wilayah timur dengan pusatnya di Masjid Banaran dan area Barat dengan pusat aktifitasnya di Masjid Al-Asri.

Mudah-mudahan Pimpinan Ranting di Gunung Ketur menjadi lebih merata. Beban kerjanya menjadi lebih ringan. Konsolidasi organisasipun lebih mudah. Secara proporsional antara 1 dengan 1/3 lebih kecil yang 1/3. Wilayah yang kecil mudah dijangkau, mudah melakukan silaturahmi. Hanya saja ada sebuah rekomendasi, bahwa ketiga Ranting tersebut setelah terbentuk harus saling bantu-membantu dalam setiap kegiatan. Saling tolong-menolong dalam kegiatan administrasi.

Dalam Anggaran Dasar Rumah Tangga Muhammadiyah diharapkan bahwa setiap Ranting memiliki sebuah amal usaha. Ukuran yang paling mudah untuk mendeteksi amal usaha, yaitu dengan adanya Masjid atau Musholla. Sebab Rasulullah sendiri, ketika berhijrah ke Madinah, yang pertama kali dibangun adalah Masjid. Bukan hanya membangun semata, namun memakmurkannya. Muhammadiyah, sangat ingin menuru kehidupan Nabi Muhammad saw. Masjid atau Musholla yang dimiki agar senantiasa digerakkan kegiatannya. Tak cukup jika hanya untuk memenuhi ibadah sholat saja. Dari Masjid atau Musholla hendaknya terlahir pencerahan umat, seperti pembinaan generasi muda, santunan pendidikan yang terus  berkesinambungan, mengembangkan wawasan politik, sosial dan budaya, disamping peningkatan iman taqwa.

Pengembangan Talenta

Proporsional Pimpinan Ranting di Cabang sebenarnya adalah untuk pembinaan di lingkungan masing-masing agar tidak terlalu berat beban kerjanya. Semakin banyak Ranting yang terbentuk di suatu wilayah tertentu, maka pembinaan umat untuk bermuhammadiyah lebih merata. Jadi intinya adalah pemerataan secara kuantitatif. Pimpinan Cabang harus berfikir ulang, bahwa di jaman kompetisi seperti sekarang ini yang dibutuhkan adalah talenta setiap pimpinan atau anggota. Bila berbicara masalah persaingan, kuantitatif tidak begitu penting. Justru kualitatif yang dibutuhkan. Kualitatif yang harus diciptakan.

Ada orang yang mendefinisikan talen dengan bakat. Formula itu tidak sepenuhnya salah. Bakat itu kepemilikan potensi atau anugerah. Tetapi bakat tanpa digerakkan adalah sia-sia, mubadhir. Orang yang tidak berbakat, tetapi melakukan usaha yang sungguh-sungguh hasilnya akan lebih baik dari pada orang berbakat tetapi diam.

Mengembangkan talenta termasuk usaha. Bakat harus diproses sebagaimana layaknya mengelola manajemen. Ada tiga proses untuk mendapatkan insan yang unggul. Pertama, mengembangkan dan memperkuat pimpinan dan anggota saat menjadi manusia yang baru. Kenapa dikatan baru dan kapan waktunya? Yaitu setelah melaksanakan musyawarah. Pimpinan berganti. Penguatan disini bisa melalui konsolidasi organisasi, musyawarah, rapat kerja, atau kursus, pelatihan dan lain sebagainya. Pimpinan melakukan charge.

Kedua, memelihara dan mengembangkan pimpinan maupun anggota. Inilah bagian yang paling sulit. Karena mereka harus mampu mengaplikasikan dalam kegiatan ke umatan setelah melalui bagian yang pertama. Sebagimana seperti pada saat melakukan out bond atau achievement motivation training (AMT). Saat kegiatan ini berlangsung peserta memiliki motivasi yang tinggi dan sejenak angan-angannya akan menerapkan materinya kedalam lingkungannya. Tapi setelah terjun langsung ke masyarakat, cita-citanya hilang bahkan kembali pada kebiasaan semula. Hanya orang yang memiliki talenta yang tinggi, yang mampu merubah kebiasaan menuju arah yang lebih baik.

Ketiga, memikat sebanyak mungkin orang yang memiliki kompetensi, komitmen dan karakter. Tahap ini adalah keberanian Pimpinan untuk menarik menjadi kader persyarikatan. Orang yang termasuk didalamnya seperti : orang yang berpengaruh di suatu kampung, pemuda dan pemudi, Ibu-ibu rumah tangga yang aktif. Perekrutan potensi masyarakat disini bukan asal comot. Karena berorganisasi itu butuh kerja sama disatu pihak. Di lain pihak persyarikatan juga membutuhkan amunisi untuk menggerakkan mesin agar lebih cepat dan terarah tujuannya. Menimbang dengan bijaksana sangat diperlukan oleh Pimpinan.

Pengembangan Budaya

Pakualaman adalah bagian dari sejarah yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semula Pakualaman merupakan Negara dependen. Tahun 1950 status Negara dependen berubah menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta, bersama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebagai sebuah yang tadinya berstatus Negara pastilah ia memiliki budaya. Tak sedikit budaya yang ditelurkan oleh Pakualaman menjadi panutan masyarakat yang merasa menjadi warganya. Adat istiadat yang secara turun temurun, menjadi budaya di masyarakat setempat.

Diantara kebiasaan tersebut, ada yang sejalan dengan Muhammadiyah, dan ada pula yang tidak sepaham. Muhammadiyah melakukan gerakan amar makruf nahi munkar melalui pendekatan persuatif dengan pihak keluarga Pakualaman dan masyarakat seputar.

Ada kebiasaan di masyarakat yang benar-benar pudar, namun ada pula yang masih dipertahankan. Sebagai gerakan dengan pendekatan kultur, Muhammadiyah mulai masuk dalam sel-sel budaya silaturrahmi. Terbukti beberapa personal Pimpinan telah dipercaya untuk menjadi bagian dari kekuasaan Pakualaman. Bahkan tidak sedikit keluarga Pakualaman menempuh pendidikan di sekolah Muhammadiyah. Berdirinya masjid, musholla, sekolah dan amal usaha lainnya juga atas restu dari Pakualaman.

Masuknya personal Pimpinan, anggota atau simpatisan Muhammadiyah di kalangan Pakualaman akan mewarnai kehidupan Islami versi Muhammadiyah. Mereka terpilih karena memiliki kompetensi dan talenta yang dibutuhkan. Mereka lebur dengan keluarga Pakualaman karena saling membutuhkan.

Artikel ini pernah dimuat di Rubrik Manajemen Majalah Mentari Bulan 4 Tahun 2017, dimuat kembali untuk tujuan dakwah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru

Komitmen

Apakah berorganisasi perlu komitmen? Tentu. Dengan adanya komitmen, organisasi akan selalu terjaga dari marwahnya. Bahkan dengan komitmen antara pimpinan...

Bahasa Komunikasi Dakwah (Guyon Ning Maton)

Dakwah merupakan titah agama untuk setiap pemeluknya dijalankan  secara perorangan maupun lembaga. Dakwah merupakan misi utama dari setiap nabi dan...

Inilah Visi (Kader)

Suatu hari ada tugas mata pelajaran Kemuhammadiyahan untuk siswa siswi kelas 9. Mata pelajaran yang saya ampu di...

Menanamkan Percaya Diri Pada Anak

Percaya diri merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa percaya diri, seseorang akan mengalami berbagai masalah termasuk...

Akreditasi Organisasi

Beberapa bulan terakhir ini, sekolah di lingkungan Kota Yogyakarta disibukkan dengan akreditasi. Sekolah negeri maupun swasta, tak terkecuali sekolah...

Artikel Terkait